Segala puji bagi Allah, shalawat
dan salam semoga senantiasa
tercurah kepada Rasulullah
Muhammad SAW. keluarga,
sahabat dan seluruh pengikutnya
yang selalu sabar di jalan-Nya. Pernahkah anda melihat orang
mabuk, mabuk karena minuman
keras, atau mabuk karena obat
bius, tentu kesadaran-nya
menjadi hilang dan bahkan bisa
tidak sadar sama sekali. Baik apa yang dilakukan olehnya atau apa
yang dilakukan oleh orang lain
padanya maka tidak akan dapat
direspon dengan tepat dan
benar. Allah SWT memberitahu kepada
kita tentang bahaya mabuk
dunia, seberapa besar
kemabukan kita kepada
kehidupan dunia akan dapat
diukur dengan firman Allah yang artinya . Sesungguhnya orang yang
tidak mengharapkan (tidak
percaya akan) pertemuan
dengan Kami, dan merasa
puas dengan kehidupan di
dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan
itu dan orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat kami,
(QS. 10:7)
mereka itu tempatnya ialah
neraka, disebabkan apa yang selalu mereka
kerjakan. (QS. 10:8) . Salah satu bahaya besar bagi
orang-orang yang sedang mabuk
dunia adalah kehilangan
kesadaran untuk mempersiapkan
dan menggapai kebahagiaan
mereka di akherat. Mungkin saja ilmu agama sedikit mereka miliki
namun kemauan dan kesadaran
untuk berbuat hal-hal yang
membawa kepada kebahagiaan
kehidupan di akherat sangat-
sangat minim bahkan tidak ada. Mereka lebih suka hidup
bersenang-senang melampaoi
batas dan ditipu oleh syaitan dan
angan-angan kosong belaka. Diantara tanda-tandanya adalah
mereka sangat memandang
rendah tentang pengamalan
agama dan memandang rendah
orang-orang beriman . Dan tinggalkanlah orang-
orang yang menjadikan
agama mereka sebagai main
main dan sendau gurau, dan
mereka telah ditipu oleh
kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka)
dengan al-Qur’ an itu agar masing-masing diri tidak
dijerumuskan ke dalam
neraka, karena
perbuatannya sendiri. Tidak
akan ada baginya pelindung
dan tidak (pula) pemberi syafa’ at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus
dengan segala macam
tebusan-pun, niscaya tidak
akan diterima itu
daripadanya. Mereka itulah
orang-orang yang dijerumuskan ke dalam
neraka, disebabkan
perbuatan mereka sendiri.
Bagi mereka (disediakan)
minuman dari air yang
sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan
kekafiran mereka dahulu.
(QS. 6:70) Kehidupan dunia dijadikan
indah dalam pandangan
orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina
orang-orang yang beriman.
Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia
dari pada mereka di hari
Kiamat. Dan Allah memberi
rezki kepada orang-orang
yang dikehendaki-Nya
tanpa batas. (QS. 2:212) (yaitu) orang-orang yang
menjadikan agama mereka
sebagai main-main atau
senda gurau, dan kehidupan
dunia telah menipu
mereka”. Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami
melupakan mereka
sebagaimana mereka
melupakan pertemuan
mereka dengan hari ini, dan
(sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-
ayat Kami. (QS. 7:51) . Dalam dinamika maju mundurnya peradaban manusia, naik turunnya kejayaan dan kemunduran bangsa-bangsa di muka bumi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadarannya dalam memegang teguh pengamalan agama yang benar, kesung- sungguhan mereka mentaati kepada Allah Tuhan pemilik segala sumber Kebenaran. Bangsa-bangsa yang bersusah
payah mendidik diri untuk
mengikuti kedisiplinan dalam
kebenaran maka secara perlahan
mereka akan menjadi bangsa
yang maju dan jaya, sebaliknya bangsa-bangsa yang sudah mulai
menempuh jalan kelalaian,
kelengahan dengan bersenang-
senang memperturutkan hawa
nafsu, secara perlahan tapi pasti
mereka sedang menuju jalan turun menuju kemunduran dan
kehancuran. Bila berbagai pelanggaran
kebenaran telah terjadi diantara
mereka, maka mereka tidak lagi
suka untuk saling tolong-
menolong dan saling kuat
menguatkan, atau saling mengasihi diantara mereka,
namun yang terjadi adalah
mereka malah akan saling
memusuhi, saling mengutuk,
saling mencaci, saling menjegal,
saling menghambat, dan saling menghancurkan. Banyaknya masalah hukum yang
bertumpuk-tumpuk di negri kita,
dan sekaligus munculnya
berbagai penyimpangan yang
oleh aparat-aparat penegak
hukum tanpa diwarnai dengan rasa malu dan menyesal,
merupakan sinyal merah, sinyal
bahaya yang sudah
mengkhawatirkan. Kita sudah
memasuki fase bahaya. Pendiri bangsa kita telah
mewariskan sebuah simbul
berdera yang sarat makna, yaitu
bendera merah putih perlambang
sebuah ungkapan berani karena benar. Orang memiliki keberanian karena membela
kebenaran yang harus
ditegakkan. Keberanian diatas
kesucian, keberanian dengan
berdasar akhlaq dan moral yang
mulia. Namun yang muncul di hari ini banyak orang yang berani
membela orang-orang yang
salah. Dan berani melakukan
kesalahan tanpa lagi mengingat
balasan-balsan dosa yang akan
diterima. Wal hasil benarlah pepatah “ayam mati di lumbung padi”. Ketika manusia telah meninggalkan cakrawala
kebahagiaan kehidupan akherat
yang luas dan mulia maka
manusia akan masuk kedalam
kehinaan dan kehancuran. Orang-orang yang selalu ingat
kehidupan akherat dan berbuat
dengan akhlaq-akhlaq mulia,
akan menjadi manusia yang
sadar dalam mengisi kehidupan
dunia dengan kebaikan-kebaikan yang akan dibawanya ke
akherat kelak. Sebaliknya orang yang sedang
mabuk dengan kehidupan dunia,
dan terus memuja hawa
nafsunya, telah menjadi mabuk
dan lalai dengan segala apa yang
diperbuatnya. Pebuatan jahat dan kelicikan yang terus
menerus membuahkan dosa
terus menerus dilakukan dan
semakin hari semakin banyak
membuahkan dosa-dosa yang
menutupi hatinya dan menjadikan mereka menuju akherat tanpa
bekal kebaikan, bahkan dengan
memikul dosa yang bertimbun-
timbun. Walaupun umur sudah tinggal sebentar namun tetap saja lupa dengan amal-amal kebaikan… .Na’ udzubillahi min dzalika… . Wallahu a’ lam
Entri Populer
-
Kemewahan dan gemerlapnya dunia telah mampu memperdaya banyak manusia. Membelokkan mereka dari penghambaan kepada Alllah menuju pengagungan ...
-
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini d...
-
Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan ...
-
saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga ...
-
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para istri ...
-
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35...
-
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacakan firman Allah berikut ini; "Mereka menjadikan para pendeta, dan rahib-...
-
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya y...
-
Sungguh keadaan kaum muslimin di zaman kita sekarang ini telah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian kaum muslimin terjerum...
-
Adalah Abdullah bin Umar ra, seorang sahabat nabi SAW yang kala itu masih remaja. Didalam sebuah mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat....
Kamis, 24 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
Rasulullah Tidak Pernah Mensunnahkan Atau Memerintahkan Ummatnya Untuk Melakukan Kirim Pahala Bacaan Qur'an [Tafsir Ibnu Katsir]
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35 ( ْﻡَﺃ ْﻢَﻟ ْﺄَّﺒَﻨُﻳ ﺎَﻤِﺑ ﻲِﻓ ِﻒُﺤُﺻ ﻰَﺳﻮُﻣ ) 36 ( َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇَﻭ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻓَﻭ ) 37 ( ﺎَّﻟَﺃ ُﺭِﺰَﺗ ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ َﺭْﺯِﻭ ﻯَﺮْﺧُﺃ ) 38 ( ْﻥَﺃَﻭ َﺲْﻴَﻟ ِﻥﺎَﺴْﻧِﺈْﻠِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻣ ﻰَﻌَﺳ ) 39 ( َّﻥَﺃَﻭ ُﻪَﻴْﻌَﺳ َﻑْﻮَﺳ ﻯَﺮُﻳ ) 40 ( َّﻢُﺛ ُﻩﺍَﺰْﺠُﻳ َﺀﺍَﺰَﺠْﻟﺍ ﻰَﻓْﻭَﺄْﻟﺍ ) 41 ( } َﻥﺎَﺤْﺒُﺴَﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻦﻴِﺣ َﻥﻮُﺴْﻤُﺗ َﻦﻴِﺣَﻭ ﻥﻮُﺤِﺒْﺼُﺗ { ] ﻡﻭﺮﻟﺍ : 17 [ ﻰﺘﺣ ﻢﺘﺧ ﺔﻳﻵﺍ . ﻩﺍﻭﺭﻭ ﻦﺑﺍ ﺮﻳﺮﺟ ﻦﻋ ﻲﺑﺃ ﺐْﻳَﺮُﻛ ، ﻦﻋ ﻦﻳِﺪْﺷِﺭ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ، ﻦﻋ ) 1 ( ﻥﺎَّﺑَﺯ ، ﻪﺑ ) 2 ( . ﻢﺛ ﻉﺮﺷ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻦﻴﺒﻳ ﺎﻣ ﻥﺎﻛ ﻩﺎﺣﻭﺃ ﻲﻓ ﻒﺤﺻ ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﺇ ﻰﺳﻮﻣﻭ ﻝﺎﻘﻓ : } ﻻَﺃ ُﺭِﺰَﺗ ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ َﺭْﺯِﻭ ﻯَﺮْﺧُﺃ { ﻱﺃ : ﻞﻛ ﺲﻔﻧ ﺖﻤﻠﻇ ﺎﻬﺴﻔﻧ ﺮﻔﻜﺑ ﻭﺃ ﺀﻲﺷ ﻦﻣ ﺏﻮﻧﺬﻟﺍ ﺎﻤﻧﺈﻓ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺎﻫﺭﺯﻭ ، ﻻ ﻪﻠﻤﺤﻳ ﺎﻬﻨﻋ ﺪﺣﺃ ، ﺎﻤﻛ ﻝﺎﻗ : } ْﻥِﺇَﻭ ُﻉْﺪَﺗ ٌﺔَﻠَﻘْﺜُﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺎَﻬِﻠْﻤِﺣ ﻻ ْﻞَﻤْﺤُﻳ ُﻪْﻨِﻣ ٌﺀْﻲَﺷ ْﻮَﻟَﻭ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫ ﻰَﺑْﺮُﻗ { ] ﺮﻃﺎﻓ : 18 [ ، } ْﻥَﺃَﻭ َﺲْﻴَﻟ ِﻥﺎَﺴْﻧﻺِﻟ ﻻِﺇ ﺎَﻣ ﻰَﻌَﺳ { ﻱﺃ : ﺎﻤﻛ ﻻ ﻞﻤﺤﻳ ﻪﻴﻠﻋ ﺭﺯﻭ ﻩﺮﻴﻏ ، ﻚﻟﺬﻛ ﻻ ﻞﺼﺤﻳ ﻦﻣ ﺮﺟﻷﺍ ﻻﺇ ﺎﻣ ﺐﺴﻛ ﻮﻫ ﻪﺴﻔﻨﻟ . ﻦﻣﻭ ﻩﺬﻫﻭ ﺔﻳﻵﺍ ﺔﻤﻳﺮﻜﻟﺍ ﻂﺒﻨﺘﺳﺍ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ، ﻪﻤﺣﺭ ﻪﻠﻟﺍ ، ﻦﻣﻭ ﻪﻌﺒﺗﺍ ﻥﺃ ﺓﺀﺍﺮﻘﻟﺍ ﻻ ﻞﺼﻳ ﺀﺍﺪﻫﺇ ﺎﻬﺑﺍﻮﺛ ﻰﻟﺇ ؛ﻰﺗﻮﻤﻟﺍ ﻪﻧﻷ ﺲﻴﻟ ﻦﻣ ﻢﻬﻠﻤﻋ ﻻﻭ ؛ﻢﻬﺒﺴﻛ ﺍﺬﻬﻟﻭ ﻢﻟ ﺏﺪﻨﻳ ﻪﻴﻟﺇ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﺘﻣﺃ ﻻﻭ ﻢﻬﺜﺣ ﻪﻴﻠﻋ ، ﻻﻭ ﻢﻫﺪﺷﺭﺃ ﻪﻴﻟﺇ ﺺﻨﺑ ﻻﻭ ﺀﺎﻤﻳﺇ ، ﻢﻟﻭ ﻞﻘﻨﻳ ﻚﻟﺫ ﻦﻋ ﺪﺣﺃ ﻦﻣ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ، ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻬﻨﻋ ، ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ ، ﺏﺎﺑﻭ ﺕﺎﺑﺮﻘﻟﺍ ﺮﺼﺘﻘﻳ ﻪﻴﻓ ﻰﻠﻋ ﺹﻮﺼﻨﻟﺍ ، ﻻﻭ ﻑﺮﺼﺘﻳ ﻪﻴﻓ ﻉﺍﻮﻧﺄﺑ ﺔﺴﻴﻗﻷﺍ ﺀﺍﺭﻵﺍﻭ ، ﺎﻣﺄﻓ ﺀﺎﻋﺪﻟﺍ ﺔﻗﺪﺼﻟﺍﻭ ﻙﺍﺬﻓ ﻊﻤﺠﻣ ﻰﻠﻋ ﺎﻤﻬﻟﻮﺻﻭ ، ﺹﻮﺼﻨﻣﻭ ﻦﻣ ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﺎﻤﻬﻴﻠﻋ . ﺎﻣﺃﻭ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ ﻱﺬﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ﻢﻠﺴﻣ ﻲﻓ ﻪﺤﻴﺤﺻ ، ﻦﻋ ﻲﺑﺃ ﺓﺮﻳﺮﻫ ﻝﺎﻗ : ﻝﺎﻗ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ : " ﺍﺫﺇ ﺕﺎﻣ ﻥﺎﺴﻧﻹﺍ ﻊﻄﻘﻧﺍ ﻪﻠﻤﻋ ﻻﺇ ﻦﻣ ﺙﻼﺛ : ﻦﻣ ﺪﻟﻭ ﺢﻟﺎﺻ ﻮﻋﺪﻳ ﻪﻟ ، ﻭﺃ ﺔﻗﺪﺻ ﺔﻳﺭﺎﺟ ﻦﻣ ﻩﺪﻌﺑ ، ﻭﺃ ﻢﻠﻋ ﻊﻔﺘﻨﻳ ﻪﺑ " ) 3 ( ، ﻩﺬﻬﻓ ﺔﺛﻼﺜﻟﺍ ﻲﻓ ﺔﻘﻴﻘﺤﻟﺍ ﻲﻫ ﻦﻣ ﻪﻴﻌﺳ ﻩﺪﻛﻭ ﻪﻠﻤﻋﻭ ، ﺎﻤﻛ ﺀﺎﺟ ﻲﻓ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ : " ﻥﺇ ﺐﻴﻃﺃ ﺎﻣ ﻞﻛﺃ ﻞﺟﺮﻟﺍ ﻦﻣ ﻪﺒﺴﻛ ، ﻥﺇﻭ ﻩﺪﻟﻭ ﻦﻣ ﻪﺒﺴﻛ " ) 4 ( . ﺔﻗﺪﺼﻟﺍﻭ ﺔﻳﺭﺎﺠﻟﺍ ﻒﻗﻮﻟﺎﻛ ﻩﻮﺤﻧﻭ ﻲﻫ ﻦﻣ ﺭﺎﺛﺁ ﻪﻠﻤﻋ ﻪﻔﻗﻭﻭ ، ﺪﻗﻭ ﻝﺎﻗ ﻰﻟﺎﻌﺗ : } ﺎَّﻧِﺇ ُﻦْﺤَﻧ ﻲِﻴْﺤُﻧ ﻰَﺗْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺐُﺘْﻜَﻧَﻭ ﺎَﻣ ﺍﻮُﻣَّﺪَﻗ ﻢُﻫَﺭﺎَﺛﺁَﻭ { ) 5 ( ﺔﻳﻵﺍ ] ﺲﻳ : 12 [ . ﻢﻠﻌﻟﺍﻭ ﻱﺬﻟﺍ ﻩﺮﺸﻧ ﻲﻓ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻯﺪﺘﻗﺎﻓ ﻪﺑ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻩﺪﻌﺑ ﻮﻫ ﺎﻀﻳﺃ ﻦﻣ ﻪﻴﻌﺳ ﻪﻠﻤﻋﻭ ، ﺖﺒﺛﻭ ﻲﻓ ﺢﻴﺤﺼﻟﺍ : " ﻦﻣ ﺎﻋﺩ ﻰﻟﺇ ﻯﺪﻫ ﻥﺎﻛ ﻪﻟ ﻦﻣ ﺮﺟﻷﺍ ﻞﺜﻣ ﺭﻮﺟﺃ ﻦﻣ ﻪﻌﺒﺗﺍ ، ﻦﻣ ﺮﻴﻏ ﻥﺃ ﺺﻘﻨﻳ ﻦﻣ ﻢﻫﺭﻮﺟﺃ ﺎﺌﻴﺷ " . ﻪﻟﻮﻗﻭ : } َّﻥَﺃَﻭ ُﻪَﻴْﻌَﺳ َﻑْﻮَﺳ ﻯَﺮُﻳ { ﻱﺃ : ﻡﻮﻳ ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ، ﺎﻤﻛ ﻝﺎﻗ ﻰﻟﺎﻌﺗ : } ِﻞُﻗَﻭ ﺍﻮُﻠَﻤْﻋﺍ ﻯَﺮَﻴَﺴَﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻜَﻠَﻤَﻋ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍَﻭ َﻥﻭُّﺩَﺮُﺘَﺳَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻢِﻟﺎَﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ ِﺓَﺩﺎَﻬَّﺸﻟﺍَﻭ ْﻢُﻜُﺌِّﺒَﻨُﻴَﻓ ﺎَﻤِﺑ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﺗ { ] ﺔﺑﻮﺘﻟﺍ : 105 [ ﻱﺃ : ﻢﻛﺮﺒﺨﻴﻓ ﻪﺑ ، ﻢﻜﻳﺰﺠﻳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﺗﺃ ﺀﺍﺰﺠﻟﺍ ، ﻥﺇ ﺍﺮﻴﺧ ﺮﻴﺨﻓ ، ﻥﺇﻭ ﺍﺮﺷ ﺮﺸﻓ . ﺍﺬﻜﻫﻭ ﻝﺎﻗ ﺎﻨﻫﺎﻫ : } َّﻢُﺛ ُﻩﺍَﺰْﺠُﻳ َﺀﺍَﺰَﺠْﻟﺍ ﻰَﻓْﻭﻷﺍ { ﻱﺃ : ﺮﻓﻭﻷﺍ . _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ) 1 ( ﻲﻓ ﻡ : " ﻦﺑ " . ) 2 ( ﺮﻴﺴﻔﺗ ﻱﺮﺒﻄﻟﺍ ) 27/43 ( ﻩﺍﻭﺭﻭ ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ ﻲﻓ ﻢﺠﻌﻤﻟﺍ ﺮﻴﺒﻜﻟﺍ ) 20/192 ( ﻦﻣ ﻼﻛ ﻦﻴﻘﻳﺮﻄﻟﺍ ﻝﺎﻗﻭ ﻲﻤﺜﻴﻬﻟﺍ ﻲﻓ ﻊﻤﺠﻤﻟﺍ ) 10/117 ( : " ﻪﻴﻓ ﺀﺎﻔﻌﺿ ﺍﻮﻘﺛﻭ " . ﺖﻠﻗ ﻲﻓ ﻰﻟﻭﻷﺍ : ﻦﺑﺍ ﺔﻌﻴﻬﻟ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ﻲﻓﻭ ﺔﻴﻧﺎﺜﻟﺍ : ﻦﻳﺪﺷﺭ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ﺎﻤﻬﻴﻓﻭ : ﻥﺎﻳﺯ ﻦﺑ ﺪﺋﺎﻓ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ) 3 ( ﺢﻴﺤﺻ ﻢﻠﺴﻣ ﻢﻗﺮﺑ ) 1631 ( . ) 4 ( ﻩﺍﻭﺭ ﺪﻤﺣﺃ ﻲﻓ ﺪﻨﺴﻤﻟﺍ ) 6/31 ( ﻮﺑﺃﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ﻢﻗﺮﺑ ) 3528 ( ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ﻢﻗﺮﺑ ) 1358 ( ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ) 7/240 ( ﻦﻣ ﺚﻳﺪﺣ ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻬﻨﻋ / ﻝﺎﻗﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ : " ﺍﺬﻫ ﺚﻳﺪﺣ ﻦﺴﺣ ﺢﻴﺤﺻ ". ARTI BERBAHASA INDONESIA Dari ayat ini pula Imam Syafi'i dan
para pengikutnya menyimpulkan
bahwa pengiriman pahala bacaan
Al Qur'an itu tidak akan sampai
kepada orang yang sudah
meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha
mereka. Oleh karena itu,
Rasulullah tidak pernah
mensunnahkan atau
memerintahkan ummatnya untuk
melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah
membimbing ummatnya berbuat
demikian, baik dalam bentuk nash
maupun melalui isyarat. Dan
perbuatan itu juga tidak pernah
dinukil dari para sahabat. ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ Sekirannya hal itu merupakan suatu hal yang
baik, niscaya mereka akan
mendahului kita semua dalam
mengamalkannya. Dan cara-cara
mendekatkan diri kepada Allah
harus didasarkan pada nash- nash, tidak boleh berdasarkan
pada berbagai qiyas dan
pendapat semata. Sedangkan
do'a dan amal jariyah sudah
menjadi kesepakatan para ulama
dan ketetapan nash syari'at bahwa hal itu akan sampai
kepada si mayit.
para pengikutnya menyimpulkan
bahwa pengiriman pahala bacaan
Al Qur'an itu tidak akan sampai
kepada orang yang sudah
meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha
mereka. Oleh karena itu,
Rasulullah tidak pernah
mensunnahkan atau
memerintahkan ummatnya untuk
melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah
membimbing ummatnya berbuat
demikian, baik dalam bentuk nash
maupun melalui isyarat. Dan
perbuatan itu juga tidak pernah
dinukil dari para sahabat. ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ Sekirannya hal itu merupakan suatu hal yang
baik, niscaya mereka akan
mendahului kita semua dalam
mengamalkannya. Dan cara-cara
mendekatkan diri kepada Allah
harus didasarkan pada nash- nash, tidak boleh berdasarkan
pada berbagai qiyas dan
pendapat semata. Sedangkan
do'a dan amal jariyah sudah
menjadi kesepakatan para ulama
dan ketetapan nash syari'at bahwa hal itu akan sampai
kepada si mayit.
Fanatik Buta Kepada Kyai, Habib, Tuan Guru dan Dampak Negatifnya
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam membacakan firman
Allah berikut ini; "Mereka
menjadikan para pendeta, dan
rahib-rahibnya sebagai tuhan
selain Allah...(QS. At Taubah : 31), Adi bin Hatim berkata: "Kami dulu
orang-orang Nasrani tidak
menyembah mereka [para
pendeta dan pemuka agama
Nasrani]. Kemudian Rasulullah
berkata : "Bukankah mereka
menghalalkan apa yang
diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah, lalu kalian
mengikutinya ? Jawab Adi bin Hatim : "Ya, benar. Kata Nabi : "Itulah bentuk
penyembahan [kalian]
terhadap mereka" . (HR. Tirmidzi dari Adi bin Hatim). *Adi
bin Hatim sebelum masuk Islam,
beliau dahulunya beragama
Nasrani. Fanatik terhadap kyai, Habib,
ulama, atau ustadz memang
telah mendarah daging dalam
tubuh umat ini. Yang jadi masalah
bukanlah sekedar mengikuti
pendapat orang yang berilmu. Namun yang menjadi masalah
adalah ketika pendapat para
ulama tersebut jelas-jelas
menyelisihi Al Qur’ an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian.
Yang penting kata mereka ‘ sami’ na wa atho’ na’ (apa yang dikatakan oleh kyai kami, tetap
kami dengar dan kami taat).
Entah pendapat kyai tersebut
merupakan perbuatan syirik
atau bid’ ah, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru
kami. Fenomena Fanatik Buta Fanatik -dalam bahasa Arab
disebut ta’ ashub - adalah sikap mengikuti seseorang tanpa
mengetahui dalilnya, selalu
menganggapnya benar, dan
membelanya secara membabi
buta. Fanatik terhadap kyai,
ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi
sejak dahulu seperti yang terjadi
di kalangan para pengikut
madzhab (ada 4 madzhab yang
terkenal yaitu Hanafi, Hanbali,
Maliki, dan Syafi’ i). Di mana para pengikut madzhab tersebut
mengklaim bahwa kebenaran
hanya pada pihak mereka
sendiri, sedangkan kebathilan
adalah pada pihak (madzhab)
yang lain. Banyak contoh yang dapat
diambil dari para pengikut
madzhab tersebut. Di antara
contoh perkataan bathil di
antara mereka adalah ucapan
Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di
kalangan Hanafiyyah). Beliau
mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut
madzhab kami (Hanafiyyah),
maka harus diselewengkan
maknanya atau dihapus
hukumnya.” Syaikh Al Albani rahimahullah juga
mengisahkan, bahwa ada
seorang bermadzhab Hanafiyah
mengharamkan pria dari
kalangan mereka menikah
dengan wanita bermadzhab Syafi’ iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli
kitab dianalogikan dengan wanita
Yahudi dan Nasrani!! Hal ini masih
terjadi hingga sekarang. Seperti
ada seorang bermadzhab Hanafi
dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani
Umayyah di Damaskus, dia
mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’ i, niscaya aku akan nikahkan dia
dengan anak perempuanku!” Imam Adz Dzahabi dalam Siyar
A’ lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad
bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid
Abdullah selama 60 puluh tahun
lamanya. Beliau bermadzhab
Syafi’ i dan melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam sholat
diambil alih oleh seseorang yang
bermadzhab Maliki dan tidak
melakukan qunut shubuh. Karena
hal ini menyelisihi tradisi
masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan
imam yang tidak melakukan
qunut shubuh ini, seraya
berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”. Inilah contoh yang terjadi di
kalangan pengikut madzhab.
Begitu juga yang terjadi pada
umat Islam sekarang ini, banyak
sekali di antara mereka membela
secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru
mereka (seperti membela
kesyirikan, kebid’ ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan
guru-guru tersebut), padahal
jelas-jelas bertentangan dengan
ayat dan hadits yang shohih. Mempertentangkan
Perkataan Allah dan Rasul-
Nya dengan Perkataan
Kyai/Ulama. Banyak dari umat Islam saat ini,
apabila dikatakan kepada
mereka, “Allah telah berfirman” atau kita sampaikan “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam telah bersabda …” , mereka malah menjawab, “Namun, kyai/ustadz kami berkata demikian …” . Apakah mereka belum pernah
mendengar firman Allah (yang
artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-
Nya” (Al Hujurat : 1) Yaitu janganlah kalian mendahulukan
perkataan siapapun dari
perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dan perhatikan pula ayat
selanjutnya dari surat ini. Allah
Ta’ ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak
hapus (pahala) amalanmu,
sedangkan kamu tidak
menyadari.” (Al Hujurot : 2). Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam
I’ lamul Muwaqi’ in mengatakan, “Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara Rasul
saja dapat menyebabkan
terhapusnya amalan
mereka. Lantas bagaimana
kiranya dengan
mendahulukan pendapat, akal, perasaan, politik, dan
pengetahuan di atas ajaran
rasul. Bukankah ini lebih
layak sebagai penghapus
amalan mereka “ Ibnu ‘ Abbas radiyallahu ‘ anhuma mengatakan, “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari
langit. Aku ,‘ Rasulullah bersabda demikian lantas
kalian membantahnya
dengan mengatakan, ‘ Abu Bakar dan Umar berkata
demikian.’ “ (Shohih. HR. Ahmad) . Dari perkataan ini, wajib bagi
seorang muslim jika dia
mendengar hadits Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam dan dia paham maksudnya/penjelasannya dari
ahli ilmu, tidaklah boleh bagi dia
menolak hadits tersebut karena
perkataan seorang pun. Tidak
boleh dia menentangnya karena
perkataan Abu Bakar dan Umar - radiyallahu ‘ anhuma- (yang telah kita ketahui bersama kedudukan
mereka berdua), atau sahabat
Nabi yang lain, atau orang-orang
di bawah mereka, apalagi dengan
perkataan seorang kyai atau
ustadz. Dan para ulama juga telah sepakat bahwa
barangsiapa yang telah
mendapatkan penjelasan dari
hadits Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak boleh
baginya meninggalkan hadits
tersebut dikarenakan perkataan
seorang pun, siapa pun dia. Dan
perkataan seperti ini selaras
dengan perkataan Imam Syafi’ i - semoga Alloh merahmati beliau-.
Beliau rahimahullah mengatakan; “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang
telah jelas baginya ajaran
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak halal
baginya untuk
meninggalkannya karena
perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul
Kutub Al ‘ Arobi. Lihat juga Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil
‘ Aqoid wal Ahkam, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy
Syamilah) Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Seandainya Musa hadir di
tengah kalian dan kalian
mengikutinya dan
meninggalkanku, maka
sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang
lurus. Sekiranya Musa hidup
kembali dan menjumpai
kenabianku, dia pasti
mengikutiku.” (Hasan, HR. Ad Darimi dan Ahmad). Maksudnya apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti Musa, seorang Nabi
yang mulia yang pernah diajak
bicara oleh Allah, maka kita akan
tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat
saudara sekalian, apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti para kyai, habib, tokoh
agama, ustadz, mubaligh,
cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila
dibandingkan Nabi Musa ‘ alaihis salaam??! Renungkanlah hal ini. Dampak Fanatik Buta Fanatik memunculkan berbagai
dampak negatif yang sangat
berbahaya bagi pribadi secara
khusus dan masyarakat secara
umum. Berikut ini kami paparkan
beberapa dampak yang terjadi karena fanatik buta. [1] Memejamkan mata
dari dalil yang kuat dan
berpegang dengan dalil
yang rapuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan,
“Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak
mendalami Al Qur’ an dan As Sunnah kecuali segilintir
orang saja. Sandaran
mereka hanyalah hadit-
hadits yang rapuh atau
hikayat-hikayat dari para
tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong.” [2] Merubah dalil untuk
membela pendapatnya Contohnya adalah atsar
tentang qunut shubuh yang
diriwayatkan oleh Ahmad,
Ibnu Majah, Tirmidzi, dan
beliau menshahihkannya. Dari
Malik Al Asyja’ i radiyallahu ‘ anhu berkata, “Saya pernah bertanya kepada
ayahku,’ Wahai ayahku! Sesungguhnya engkau
pernah sholat di belakang
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar,
Utsman, dan Ali di sini -di
Kufah-. Apakah mereka
melakukan qunut shubuh?’ Jawab beliau,’ Wahai anakku, itu merupakan perkara
muhdats (perkara baru yang
diada-adakan dalam agama -
pen)’ “ . Tetapi seorang tokoh
bermadzhab Syafi’ i di Mesir malah mengganti hadits
tersebut dengan lafadz yang
artinya, ‘ Wahai anakku, ceritakanlah (kata muhdats
diganti dengan fahaddits
yang berarti ceritakanlah-
pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga mengatakan, “Sholatnya orang yang meninggalkan
qunut shubuh secara
sengaja, maka sholatnya
batal yaitu tidak sah.” Sungguh perbuatan tokoh ini
dikarenakan sikap fanatik
beliau pada madzhabnya
yang mengakar kuat pada
dirinya. Tetapi lihatlah
perbedaan yang sangat menonjol dengan orang yang
mengikuti kebenaran,
walaupun madzhabnya sama
dengan tokoh fanatik di
atas. Beliau -Abul Hasan Al
Kurjiy Asy Syafi’ i- tidak pernah melakukan qunut
shubuh dan beliau pernah
berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu (yaitu
qunut shubuh,-pen).” [3] Sering memalsukan
hadits Di antara hadits palsu hasil
rekayasa orang-orang yang
fanatik madzhab untuk
membela madzhabnya, yaitu
dari Ahmad bin Abdilllah bin
Mi’ dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang pada umatku seorang yang
bernama Muhammad bin Idris
(yakni Imam Syafi’ i-pen), dia lebih berbahaya bagi umatku
daripada Iblis. Dan akan
datang pada umatku
seorang bernama Abu
Hanifah, dia adalah pelita
umatku”. Hadits ini selain palsu, juga
bertentangan dengan nash
yang menyatakan bahwa
pelita umat ini adalah Nabi
Muhammad shollallohu ‘ alaihi wa sallam, sebagaimana yang
terdapat dalam surat Al
Ahzab ayat 46. [4] Menfatwakan bahwa
taqlid hukumnya wajib Para fanatisme madzhab
atau kelompok akan
menyerukan kepada
pengikutnya tentang
kewajiban taqlid yaitu
mengambil pendapat seseorang tanpa mengetahui
dalilnya. Hal ini sebagaimana yang
diwajibkan organisasi Islam
terbesar di Indonesia. Salah
seorang tokoh organisasi
tersebut mengatakan,
“Sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang
sebagian besar umat Islam di
seluruh dunia yang termasuk
dalam golongan Ahlus Sunnah
wal Jama’ ah membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi
orang yang tidak memenuhi
syarat untuk berijtihad …” Ini adalah ucapan yang bathil.
Tidak pernah ada kewajiban
seperti ini dari Allah,
Rasulullah, sampai-sampai
imam madzhab sekalipun.
Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala
benar dan kadangkala juga
salah. Seringkali para imam
madzhab berpegang pada
suatu pendapat dan beliau
meralat pendapatnya tersebut. Dan para imam itu
sendiri melarang untuk taqlid
kepadanya, sebagaimana
Imam Syafi’ i rahimahullah (imam madzhab yang
organisasi ini ikuti)
mengatakan; “Setiap yang aku katakan, kemudian ada
hadits shahih yang
menyelisihinya, maka
hadits Nabi tersebut
lebih utama untuk
diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. Janganlah Menolak
Kebenaran Sesungguhnya Allah telah
mengutus para rasul untuk
segenap manusia. Allah mengutus
para rasul untuk mendakwahi
manusia agar mereka beribadah
dan menyembah kepada Allah semata. Akan tetapi kebanyakan
mereka mendustakan rasul-rasul
utusan Alloh itu; mereka tolak
kebenaran yang dibawanya,
yaitu ketauhidan. Akhirnya
mereka pun menemui kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya ada kesombongan
meskipun sebesar biji sawi.” Kemudian beliau
melanjutkan hadits ini
dengan berkata,
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang
lain.” (HR. Muslim) Berdasarkan hadits di atas, tidak
diperbolehkan bagi seorang
mukmin menolak kebenaran atau
nasehat yang disampaikan
kepadanya. Karena jika demikian
berarti mereka telah menyerupai orang-orang kafir dan telah
menjerumuskan dirinya ke dalam
sifat sombong yang bisa
menghalanginya masuk surga.
Maka, sikap hikmah (yaitu sikap
menerima kebenaran dan tidak meremehkan siapapun yang
menyampaikannya -pen) menjadi
senjata yang ampuh bagi
seorang mukmin yang selalu siap
digunakan. Maka dari itu, kita
wajib menerima kebenaran dari siapapun datangnya, bahkan dari
setan sekalipun. Ya Allah, tunjukilah -
dengan izin-Mu- bagi
kami pada kebenaran
dalam perkara yang
kami perselisihkan.
Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki siapa
yang Engkau kehendaki
ke jalan yang lurus. [Disarikan oleh Abu Isma'il
Muhammad Abduh Tuasikal dari
Majalah Al Furqon ed.11/Th.II, At
Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhid-
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, al
Firqotun Najiyah-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu] Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ Tulisan di masa silam, wisma MTI,
Pogung Kidul Repost by Anwar Baru Belajar [Gambar buku di atas ; Ditulis
oleh Hartono Ahmad Jaiz dan
Abduh Zulfidar Akaha, penerbit
Pustaka Al Kautsar] Ilustrasi : Dialoq antara seorang Kyai
atau Habib dengan seorang
anggota jama'ah pengajian
[sebutlah si fulan]. Fulan : [si fulan berkata kepada Kyai atau Habib] Pak Yai… atau Bib… Tolong saya diberi amalan, yang dengan
amalan itu saya bisa ini… .bisa itu… ..! Kyai / Habib : Silahkan amalkan bacaan ini…… ..dibaca sekian kali…… .[misalnya 1000 x] Seandainya perintah si Kyai
atau Habib tersebut
menyalahi tuntunan
Rasulullah dan tidak pernah
dicontohkan oleh Rasulullah,
maka si Kyai atau si Habib tersebut telah membuat syari'at baru, dan bagi si fulan yang telah menuruti
perintah si Kyai atau Habib
tersebut secara tidak sadar
telah menuhankannya. Yang berhak membuat
syari'at dalam agama
hanyalah Allah. Adapun
melakukan ibadah adalah
dengan cara
ittiba' (mengikuti) Rasulullah dalam beribadah kepada
Allah.
Wasallam membacakan firman
Allah berikut ini; "Mereka
menjadikan para pendeta, dan
rahib-rahibnya sebagai tuhan
selain Allah...(QS. At Taubah : 31), Adi bin Hatim berkata: "Kami dulu
orang-orang Nasrani tidak
menyembah mereka [para
pendeta dan pemuka agama
Nasrani]. Kemudian Rasulullah
berkata : "Bukankah mereka
menghalalkan apa yang
diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah, lalu kalian
mengikutinya ? Jawab Adi bin Hatim : "Ya, benar. Kata Nabi : "Itulah bentuk
penyembahan [kalian]
terhadap mereka" . (HR. Tirmidzi dari Adi bin Hatim). *Adi
bin Hatim sebelum masuk Islam,
beliau dahulunya beragama
Nasrani. Fanatik terhadap kyai, Habib,
ulama, atau ustadz memang
telah mendarah daging dalam
tubuh umat ini. Yang jadi masalah
bukanlah sekedar mengikuti
pendapat orang yang berilmu. Namun yang menjadi masalah
adalah ketika pendapat para
ulama tersebut jelas-jelas
menyelisihi Al Qur’ an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian.
Yang penting kata mereka ‘ sami’ na wa atho’ na’ (apa yang dikatakan oleh kyai kami, tetap
kami dengar dan kami taat).
Entah pendapat kyai tersebut
merupakan perbuatan syirik
atau bid’ ah, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru
kami. Fenomena Fanatik Buta Fanatik -dalam bahasa Arab
disebut ta’ ashub - adalah sikap mengikuti seseorang tanpa
mengetahui dalilnya, selalu
menganggapnya benar, dan
membelanya secara membabi
buta. Fanatik terhadap kyai,
ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi
sejak dahulu seperti yang terjadi
di kalangan para pengikut
madzhab (ada 4 madzhab yang
terkenal yaitu Hanafi, Hanbali,
Maliki, dan Syafi’ i). Di mana para pengikut madzhab tersebut
mengklaim bahwa kebenaran
hanya pada pihak mereka
sendiri, sedangkan kebathilan
adalah pada pihak (madzhab)
yang lain. Banyak contoh yang dapat
diambil dari para pengikut
madzhab tersebut. Di antara
contoh perkataan bathil di
antara mereka adalah ucapan
Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di
kalangan Hanafiyyah). Beliau
mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut
madzhab kami (Hanafiyyah),
maka harus diselewengkan
maknanya atau dihapus
hukumnya.” Syaikh Al Albani rahimahullah juga
mengisahkan, bahwa ada
seorang bermadzhab Hanafiyah
mengharamkan pria dari
kalangan mereka menikah
dengan wanita bermadzhab Syafi’ iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli
kitab dianalogikan dengan wanita
Yahudi dan Nasrani!! Hal ini masih
terjadi hingga sekarang. Seperti
ada seorang bermadzhab Hanafi
dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani
Umayyah di Damaskus, dia
mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’ i, niscaya aku akan nikahkan dia
dengan anak perempuanku!” Imam Adz Dzahabi dalam Siyar
A’ lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad
bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid
Abdullah selama 60 puluh tahun
lamanya. Beliau bermadzhab
Syafi’ i dan melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam sholat
diambil alih oleh seseorang yang
bermadzhab Maliki dan tidak
melakukan qunut shubuh. Karena
hal ini menyelisihi tradisi
masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan
imam yang tidak melakukan
qunut shubuh ini, seraya
berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”. Inilah contoh yang terjadi di
kalangan pengikut madzhab.
Begitu juga yang terjadi pada
umat Islam sekarang ini, banyak
sekali di antara mereka membela
secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru
mereka (seperti membela
kesyirikan, kebid’ ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan
guru-guru tersebut), padahal
jelas-jelas bertentangan dengan
ayat dan hadits yang shohih. Mempertentangkan
Perkataan Allah dan Rasul-
Nya dengan Perkataan
Kyai/Ulama. Banyak dari umat Islam saat ini,
apabila dikatakan kepada
mereka, “Allah telah berfirman” atau kita sampaikan “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam telah bersabda …” , mereka malah menjawab, “Namun, kyai/ustadz kami berkata demikian …” . Apakah mereka belum pernah
mendengar firman Allah (yang
artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-
Nya” (Al Hujurat : 1) Yaitu janganlah kalian mendahulukan
perkataan siapapun dari
perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dan perhatikan pula ayat
selanjutnya dari surat ini. Allah
Ta’ ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak
hapus (pahala) amalanmu,
sedangkan kamu tidak
menyadari.” (Al Hujurot : 2). Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam
I’ lamul Muwaqi’ in mengatakan, “Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara Rasul
saja dapat menyebabkan
terhapusnya amalan
mereka. Lantas bagaimana
kiranya dengan
mendahulukan pendapat, akal, perasaan, politik, dan
pengetahuan di atas ajaran
rasul. Bukankah ini lebih
layak sebagai penghapus
amalan mereka “ Ibnu ‘ Abbas radiyallahu ‘ anhuma mengatakan, “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari
langit. Aku ,‘ Rasulullah bersabda demikian lantas
kalian membantahnya
dengan mengatakan, ‘ Abu Bakar dan Umar berkata
demikian.’ “ (Shohih. HR. Ahmad) . Dari perkataan ini, wajib bagi
seorang muslim jika dia
mendengar hadits Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam dan dia paham maksudnya/penjelasannya dari
ahli ilmu, tidaklah boleh bagi dia
menolak hadits tersebut karena
perkataan seorang pun. Tidak
boleh dia menentangnya karena
perkataan Abu Bakar dan Umar - radiyallahu ‘ anhuma- (yang telah kita ketahui bersama kedudukan
mereka berdua), atau sahabat
Nabi yang lain, atau orang-orang
di bawah mereka, apalagi dengan
perkataan seorang kyai atau
ustadz. Dan para ulama juga telah sepakat bahwa
barangsiapa yang telah
mendapatkan penjelasan dari
hadits Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak boleh
baginya meninggalkan hadits
tersebut dikarenakan perkataan
seorang pun, siapa pun dia. Dan
perkataan seperti ini selaras
dengan perkataan Imam Syafi’ i - semoga Alloh merahmati beliau-.
Beliau rahimahullah mengatakan; “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang
telah jelas baginya ajaran
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak halal
baginya untuk
meninggalkannya karena
perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul
Kutub Al ‘ Arobi. Lihat juga Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil
‘ Aqoid wal Ahkam, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy
Syamilah) Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Seandainya Musa hadir di
tengah kalian dan kalian
mengikutinya dan
meninggalkanku, maka
sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang
lurus. Sekiranya Musa hidup
kembali dan menjumpai
kenabianku, dia pasti
mengikutiku.” (Hasan, HR. Ad Darimi dan Ahmad). Maksudnya apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti Musa, seorang Nabi
yang mulia yang pernah diajak
bicara oleh Allah, maka kita akan
tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat
saudara sekalian, apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti para kyai, habib, tokoh
agama, ustadz, mubaligh,
cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila
dibandingkan Nabi Musa ‘ alaihis salaam??! Renungkanlah hal ini. Dampak Fanatik Buta Fanatik memunculkan berbagai
dampak negatif yang sangat
berbahaya bagi pribadi secara
khusus dan masyarakat secara
umum. Berikut ini kami paparkan
beberapa dampak yang terjadi karena fanatik buta. [1] Memejamkan mata
dari dalil yang kuat dan
berpegang dengan dalil
yang rapuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan,
“Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak
mendalami Al Qur’ an dan As Sunnah kecuali segilintir
orang saja. Sandaran
mereka hanyalah hadit-
hadits yang rapuh atau
hikayat-hikayat dari para
tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong.” [2] Merubah dalil untuk
membela pendapatnya Contohnya adalah atsar
tentang qunut shubuh yang
diriwayatkan oleh Ahmad,
Ibnu Majah, Tirmidzi, dan
beliau menshahihkannya. Dari
Malik Al Asyja’ i radiyallahu ‘ anhu berkata, “Saya pernah bertanya kepada
ayahku,’ Wahai ayahku! Sesungguhnya engkau
pernah sholat di belakang
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar,
Utsman, dan Ali di sini -di
Kufah-. Apakah mereka
melakukan qunut shubuh?’ Jawab beliau,’ Wahai anakku, itu merupakan perkara
muhdats (perkara baru yang
diada-adakan dalam agama -
pen)’ “ . Tetapi seorang tokoh
bermadzhab Syafi’ i di Mesir malah mengganti hadits
tersebut dengan lafadz yang
artinya, ‘ Wahai anakku, ceritakanlah (kata muhdats
diganti dengan fahaddits
yang berarti ceritakanlah-
pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga mengatakan, “Sholatnya orang yang meninggalkan
qunut shubuh secara
sengaja, maka sholatnya
batal yaitu tidak sah.” Sungguh perbuatan tokoh ini
dikarenakan sikap fanatik
beliau pada madzhabnya
yang mengakar kuat pada
dirinya. Tetapi lihatlah
perbedaan yang sangat menonjol dengan orang yang
mengikuti kebenaran,
walaupun madzhabnya sama
dengan tokoh fanatik di
atas. Beliau -Abul Hasan Al
Kurjiy Asy Syafi’ i- tidak pernah melakukan qunut
shubuh dan beliau pernah
berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu (yaitu
qunut shubuh,-pen).” [3] Sering memalsukan
hadits Di antara hadits palsu hasil
rekayasa orang-orang yang
fanatik madzhab untuk
membela madzhabnya, yaitu
dari Ahmad bin Abdilllah bin
Mi’ dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang pada umatku seorang yang
bernama Muhammad bin Idris
(yakni Imam Syafi’ i-pen), dia lebih berbahaya bagi umatku
daripada Iblis. Dan akan
datang pada umatku
seorang bernama Abu
Hanifah, dia adalah pelita
umatku”. Hadits ini selain palsu, juga
bertentangan dengan nash
yang menyatakan bahwa
pelita umat ini adalah Nabi
Muhammad shollallohu ‘ alaihi wa sallam, sebagaimana yang
terdapat dalam surat Al
Ahzab ayat 46. [4] Menfatwakan bahwa
taqlid hukumnya wajib Para fanatisme madzhab
atau kelompok akan
menyerukan kepada
pengikutnya tentang
kewajiban taqlid yaitu
mengambil pendapat seseorang tanpa mengetahui
dalilnya. Hal ini sebagaimana yang
diwajibkan organisasi Islam
terbesar di Indonesia. Salah
seorang tokoh organisasi
tersebut mengatakan,
“Sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang
sebagian besar umat Islam di
seluruh dunia yang termasuk
dalam golongan Ahlus Sunnah
wal Jama’ ah membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi
orang yang tidak memenuhi
syarat untuk berijtihad …” Ini adalah ucapan yang bathil.
Tidak pernah ada kewajiban
seperti ini dari Allah,
Rasulullah, sampai-sampai
imam madzhab sekalipun.
Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala
benar dan kadangkala juga
salah. Seringkali para imam
madzhab berpegang pada
suatu pendapat dan beliau
meralat pendapatnya tersebut. Dan para imam itu
sendiri melarang untuk taqlid
kepadanya, sebagaimana
Imam Syafi’ i rahimahullah (imam madzhab yang
organisasi ini ikuti)
mengatakan; “Setiap yang aku katakan, kemudian ada
hadits shahih yang
menyelisihinya, maka
hadits Nabi tersebut
lebih utama untuk
diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. Janganlah Menolak
Kebenaran Sesungguhnya Allah telah
mengutus para rasul untuk
segenap manusia. Allah mengutus
para rasul untuk mendakwahi
manusia agar mereka beribadah
dan menyembah kepada Allah semata. Akan tetapi kebanyakan
mereka mendustakan rasul-rasul
utusan Alloh itu; mereka tolak
kebenaran yang dibawanya,
yaitu ketauhidan. Akhirnya
mereka pun menemui kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya ada kesombongan
meskipun sebesar biji sawi.” Kemudian beliau
melanjutkan hadits ini
dengan berkata,
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang
lain.” (HR. Muslim) Berdasarkan hadits di atas, tidak
diperbolehkan bagi seorang
mukmin menolak kebenaran atau
nasehat yang disampaikan
kepadanya. Karena jika demikian
berarti mereka telah menyerupai orang-orang kafir dan telah
menjerumuskan dirinya ke dalam
sifat sombong yang bisa
menghalanginya masuk surga.
Maka, sikap hikmah (yaitu sikap
menerima kebenaran dan tidak meremehkan siapapun yang
menyampaikannya -pen) menjadi
senjata yang ampuh bagi
seorang mukmin yang selalu siap
digunakan. Maka dari itu, kita
wajib menerima kebenaran dari siapapun datangnya, bahkan dari
setan sekalipun. Ya Allah, tunjukilah -
dengan izin-Mu- bagi
kami pada kebenaran
dalam perkara yang
kami perselisihkan.
Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki siapa
yang Engkau kehendaki
ke jalan yang lurus. [Disarikan oleh Abu Isma'il
Muhammad Abduh Tuasikal dari
Majalah Al Furqon ed.11/Th.II, At
Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhid-
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, al
Firqotun Najiyah-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu] Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ Tulisan di masa silam, wisma MTI,
Pogung Kidul Repost by Anwar Baru Belajar [Gambar buku di atas ; Ditulis
oleh Hartono Ahmad Jaiz dan
Abduh Zulfidar Akaha, penerbit
Pustaka Al Kautsar] Ilustrasi : Dialoq antara seorang Kyai
atau Habib dengan seorang
anggota jama'ah pengajian
[sebutlah si fulan]. Fulan : [si fulan berkata kepada Kyai atau Habib] Pak Yai… atau Bib… Tolong saya diberi amalan, yang dengan
amalan itu saya bisa ini… .bisa itu… ..! Kyai / Habib : Silahkan amalkan bacaan ini…… ..dibaca sekian kali…… .[misalnya 1000 x] Seandainya perintah si Kyai
atau Habib tersebut
menyalahi tuntunan
Rasulullah dan tidak pernah
dicontohkan oleh Rasulullah,
maka si Kyai atau si Habib tersebut telah membuat syari'at baru, dan bagi si fulan yang telah menuruti
perintah si Kyai atau Habib
tersebut secara tidak sadar
telah menuhankannya. Yang berhak membuat
syari'at dalam agama
hanyalah Allah. Adapun
melakukan ibadah adalah
dengan cara
ittiba' (mengikuti) Rasulullah dalam beribadah kepada
Allah.
Selasa, 01 Februari 2011
Dusta adalah Pangkal Semua Kejahatan
Imam Muslim pernah
meriwayatkan sebuah hadist
tentang Pentingnya kejujuran
dan dusta yang menyatakan
bahwa Rasulullah saw pernah
bersabda ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 591] Namun sayang banyak orang
meremehkan peringatan
tersebut. Mereka terlanjur biasa
berdusta, sehingga kejujuran
semakin langka. Padahal
pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu
berusaha menutupi
kedustaannya dengan berbagai
macam cara. Sehingga sebuah
dusta berpotensi melahirkan
banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga
berpotensi melahirkan
kecurangan, kekerasan,
kejahatan, bahkan pembunuhan
yang semuanya itu merupakan
bentuk kedurhakaan (ketidak- taatan) kepada Allah. Kasus Bibit-Chandra yang
melibatkan KPK, Mabes Polri, dan
Kejaksaan Agung menjadi
semakin ruwet karena ada
pihak-pihak yang berdusta. AW
berniat menyuap sejumlah pejabat KPK dan merasa uang
suapnya sudah sampai kepada
mereka. Sedang para pejabat
KPK mengklaim tidak ada
seorangpun yang menerima uang
suap itu. Pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain
merupakan indikasi adanya
kedustaan. Dugaan rekayasa
kriminalisasi KPK yang mengarah
ke penutupan lembaga itu
terungkap dalam rekaman pembicaraan AW dan OYG. Bahkan
dalam rekaman tersebut sempat
disinggung nama RI1. Sedang RI1
sendiri dengan tegas
membantahnya. Maka dapat
dipastikan ada pihak yang berdusta. Kasus yang
membengkak menjadi masalah
nasional tersebut mengundang
perhatian Presiden SBY
membentuk Tim Pencari Fakta
untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dibalik
kedustaan. Saudaraku, sebagai orang
beriman kita mestinya menyadari
Allah mengawasi seluruh aktifitas
hidup kita. Ketika mendefinisikan
ihsan Rasulullah saw mengatakan ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َناَك ُّيِبَّنلا ص اًزِراَب اًمْوَي ِساَّنلِل ُهاَتَاَف ٌلُجَر َلاَقَف : اَم ؟ُناَمْيِالْا َلاَق : ُناَمْيِالَْا ْنَا َنِمْؤُت ِهللاِب َو ِهِتَكِئَالَم َو ِهِئاَقِلِب َو ِهِلُسُر َو َنِمْؤُت ِثْعَبلْاِب . َلاَق : اَم ؟ُمَالْسِالْا َلاَق : ُمَالْسِالْاَ ْنَا َدُبْعَت َهللا َو َال َكِرْشُت ِهِب َو َمْيِقُت َةَالَّصلا َو َيّدَؤُت َةاَكَّزلا َةَضْوُرْفَملْا َو َمْوُصَت َناَضَمَر . َلاَق : َو اَم ؟ُناَسْحِالْا َلاَق : ْنَا َدُبْعَت َهللا َكَّنَاَك ُهاَرَت ، ْنِاَف ْمَل ْنُكَت ُهاَرَت ُهَّنِاَف َكاَرَي . َلاَق : ىَتَم ؟ُةَعاَّسلا َلاَق : اَم ُلُؤْسَملْا َمَلْعَاِب َنِم ِلِئاَّسلا َو َكُرِبْخُاَس ْنَع اَهِطاَرْشَا . اَذِا ِتَدَلَو ُةَمَالْا اَهَّبَر َو اَذِا َلَواَطَت ُةاَعُر ِلِبِالْا ُمْهُبلْا ىِف ِناَيْنُبلْا ىِف ٍسْمَخ َال َّنُهُمَلْعَي َّالِا ُهللا . َّمُث َالَت ُّيِبَّنلا ص } َّنِا َهللا هَدْنِع ُمْلِع ِةَعاَّسلا { َّمُث َرَبْدَا . َلاَقَف : ُهْوُّدُر ْمَلَف اْوَرَي اًئْيَش . َلاَقَف : اَذه ُلْيِرْبِج َءاَج ُمّلَعُي َساَّنلا ْمُهَنْيِد . ىراخبلا Dari Abu Hurairah RA, ia
berkata : Pada suatu hari
Rasulullah SAW berada di tengah-
tengah shahabatnya, lalu ada
seorang laki-laki datang seraya
bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, bertemu dengan-
Nya, (iman kepada) rasul-rasul-
Nya, dan kamu percaya kepada
hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak
mensekutukan-Nya, kamu
mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardlukan dan
puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat- Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”. Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
bertanya ?. Namun aku
beritahukan kepadamu tentang
tanda-tandanya. Yaitu : apabila
budak perempuan melahirkan
tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-
mewah dan bermegah-megah
dengan bangunan rumahnya.
Dalam lima hal tidak ada yang
mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca
ayat yang artinya
(Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya
lah pengetahuan tentang hari
qiyamat). Kemudian oang yang
bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi,
lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk
mengajar manusia tentang
agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18] Rasulullah saw mengingatkan
bahwa Allah selalu hadir dalam
seluruh aktifitas hidup kita.
Kehadiran Allah itulah yang akan
menumbuhkan pengawasan
melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat
yang muncul karena iman kepada
Allah dan hari akhir itu akan
menjaga setiap muslim untuk
tidak melanggar aturan Allah dan
Rasul-Nya termasuk larangan berdusta. Apalagi Allah sendiri berfirman:
“Nahnu aqrabu ilaihi min hablil- warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.)
Andai setiap orang Islam
berkomitmen kuat untuk tidak
berdusta, maka sudah lebih dari
88% dari populasi negeri ini
berkontribusi positif terhadap pencegahan terjadinya kasus-
kasus serupa. Andai semua orang tidak
berdusta, maka berbagai
persoalan korupsi, kolusi, dan
nepotisme akan segera bisa kita
tuntasan. Andai tidak ada dusta,
sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu
terjadi. Kita terlalu banyak
membuang energi, yang
seharusnya bisa dipergunakan
untuk mempercepat
pembangunan negeri. Dalam hadis yang sama Rasulullah
saw mengingatkan: ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Sumber kebaikan yang akan
membawa kepada keberhasilan
dunia akherat adalah jujur.
Sedang pangkal kejahatan
adalah dusta. Maka demi
kejayaan bangsa ini, mari kita bangun komitmen bersama untuk
meninggalkan dusta dan
memegang teguh nilai-nilai
kejujuran. Di atas landasan kejujuran inilah
keadilan kita tegakkan,
kemakmuran dan kesejehteraan
kita upayakan. Bukan tidak
mungkin Allah akan
menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang
tata titi tentrem kerta raharja
gemah ripah loh jinawi di bawah
naungan dan ampunan Ilahi.
Semoga Allah memudahkan hati
kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.
meriwayatkan sebuah hadist
tentang Pentingnya kejujuran
dan dusta yang menyatakan
bahwa Rasulullah saw pernah
bersabda ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 591] Namun sayang banyak orang
meremehkan peringatan
tersebut. Mereka terlanjur biasa
berdusta, sehingga kejujuran
semakin langka. Padahal
pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu
berusaha menutupi
kedustaannya dengan berbagai
macam cara. Sehingga sebuah
dusta berpotensi melahirkan
banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga
berpotensi melahirkan
kecurangan, kekerasan,
kejahatan, bahkan pembunuhan
yang semuanya itu merupakan
bentuk kedurhakaan (ketidak- taatan) kepada Allah. Kasus Bibit-Chandra yang
melibatkan KPK, Mabes Polri, dan
Kejaksaan Agung menjadi
semakin ruwet karena ada
pihak-pihak yang berdusta. AW
berniat menyuap sejumlah pejabat KPK dan merasa uang
suapnya sudah sampai kepada
mereka. Sedang para pejabat
KPK mengklaim tidak ada
seorangpun yang menerima uang
suap itu. Pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain
merupakan indikasi adanya
kedustaan. Dugaan rekayasa
kriminalisasi KPK yang mengarah
ke penutupan lembaga itu
terungkap dalam rekaman pembicaraan AW dan OYG. Bahkan
dalam rekaman tersebut sempat
disinggung nama RI1. Sedang RI1
sendiri dengan tegas
membantahnya. Maka dapat
dipastikan ada pihak yang berdusta. Kasus yang
membengkak menjadi masalah
nasional tersebut mengundang
perhatian Presiden SBY
membentuk Tim Pencari Fakta
untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dibalik
kedustaan. Saudaraku, sebagai orang
beriman kita mestinya menyadari
Allah mengawasi seluruh aktifitas
hidup kita. Ketika mendefinisikan
ihsan Rasulullah saw mengatakan ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َناَك ُّيِبَّنلا ص اًزِراَب اًمْوَي ِساَّنلِل ُهاَتَاَف ٌلُجَر َلاَقَف : اَم ؟ُناَمْيِالْا َلاَق : ُناَمْيِالَْا ْنَا َنِمْؤُت ِهللاِب َو ِهِتَكِئَالَم َو ِهِئاَقِلِب َو ِهِلُسُر َو َنِمْؤُت ِثْعَبلْاِب . َلاَق : اَم ؟ُمَالْسِالْا َلاَق : ُمَالْسِالْاَ ْنَا َدُبْعَت َهللا َو َال َكِرْشُت ِهِب َو َمْيِقُت َةَالَّصلا َو َيّدَؤُت َةاَكَّزلا َةَضْوُرْفَملْا َو َمْوُصَت َناَضَمَر . َلاَق : َو اَم ؟ُناَسْحِالْا َلاَق : ْنَا َدُبْعَت َهللا َكَّنَاَك ُهاَرَت ، ْنِاَف ْمَل ْنُكَت ُهاَرَت ُهَّنِاَف َكاَرَي . َلاَق : ىَتَم ؟ُةَعاَّسلا َلاَق : اَم ُلُؤْسَملْا َمَلْعَاِب َنِم ِلِئاَّسلا َو َكُرِبْخُاَس ْنَع اَهِطاَرْشَا . اَذِا ِتَدَلَو ُةَمَالْا اَهَّبَر َو اَذِا َلَواَطَت ُةاَعُر ِلِبِالْا ُمْهُبلْا ىِف ِناَيْنُبلْا ىِف ٍسْمَخ َال َّنُهُمَلْعَي َّالِا ُهللا . َّمُث َالَت ُّيِبَّنلا ص } َّنِا َهللا هَدْنِع ُمْلِع ِةَعاَّسلا { َّمُث َرَبْدَا . َلاَقَف : ُهْوُّدُر ْمَلَف اْوَرَي اًئْيَش . َلاَقَف : اَذه ُلْيِرْبِج َءاَج ُمّلَعُي َساَّنلا ْمُهَنْيِد . ىراخبلا Dari Abu Hurairah RA, ia
berkata : Pada suatu hari
Rasulullah SAW berada di tengah-
tengah shahabatnya, lalu ada
seorang laki-laki datang seraya
bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, bertemu dengan-
Nya, (iman kepada) rasul-rasul-
Nya, dan kamu percaya kepada
hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak
mensekutukan-Nya, kamu
mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardlukan dan
puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat- Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”. Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
bertanya ?. Namun aku
beritahukan kepadamu tentang
tanda-tandanya. Yaitu : apabila
budak perempuan melahirkan
tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-
mewah dan bermegah-megah
dengan bangunan rumahnya.
Dalam lima hal tidak ada yang
mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca
ayat yang artinya
(Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya
lah pengetahuan tentang hari
qiyamat). Kemudian oang yang
bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi,
lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk
mengajar manusia tentang
agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18] Rasulullah saw mengingatkan
bahwa Allah selalu hadir dalam
seluruh aktifitas hidup kita.
Kehadiran Allah itulah yang akan
menumbuhkan pengawasan
melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat
yang muncul karena iman kepada
Allah dan hari akhir itu akan
menjaga setiap muslim untuk
tidak melanggar aturan Allah dan
Rasul-Nya termasuk larangan berdusta. Apalagi Allah sendiri berfirman:
“Nahnu aqrabu ilaihi min hablil- warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.)
Andai setiap orang Islam
berkomitmen kuat untuk tidak
berdusta, maka sudah lebih dari
88% dari populasi negeri ini
berkontribusi positif terhadap pencegahan terjadinya kasus-
kasus serupa. Andai semua orang tidak
berdusta, maka berbagai
persoalan korupsi, kolusi, dan
nepotisme akan segera bisa kita
tuntasan. Andai tidak ada dusta,
sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu
terjadi. Kita terlalu banyak
membuang energi, yang
seharusnya bisa dipergunakan
untuk mempercepat
pembangunan negeri. Dalam hadis yang sama Rasulullah
saw mengingatkan: ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Sumber kebaikan yang akan
membawa kepada keberhasilan
dunia akherat adalah jujur.
Sedang pangkal kejahatan
adalah dusta. Maka demi
kejayaan bangsa ini, mari kita bangun komitmen bersama untuk
meninggalkan dusta dan
memegang teguh nilai-nilai
kejujuran. Di atas landasan kejujuran inilah
keadilan kita tegakkan,
kemakmuran dan kesejehteraan
kita upayakan. Bukan tidak
mungkin Allah akan
menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang
tata titi tentrem kerta raharja
gemah ripah loh jinawi di bawah
naungan dan ampunan Ilahi.
Semoga Allah memudahkan hati
kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)