Entri Populer

Selasa, 01 Februari 2011

Dusta adalah Pangkal Semua Kejahatan

Imam Muslim pernah
meriwayatkan sebuah hadist
tentang Pentingnya kejujuran
dan dusta yang menyatakan
bahwa Rasulullah saw pernah
bersabda ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 591] Namun sayang banyak orang
meremehkan peringatan
tersebut. Mereka terlanjur biasa
berdusta, sehingga kejujuran
semakin langka. Padahal
pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu
berusaha menutupi
kedustaannya dengan berbagai
macam cara. Sehingga sebuah
dusta berpotensi melahirkan
banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga
berpotensi melahirkan
kecurangan, kekerasan,
kejahatan, bahkan pembunuhan
yang semuanya itu merupakan
bentuk kedurhakaan (ketidak- taatan) kepada Allah. Kasus Bibit-Chandra yang
melibatkan KPK, Mabes Polri, dan
Kejaksaan Agung menjadi
semakin ruwet karena ada
pihak-pihak yang berdusta. AW
berniat menyuap sejumlah pejabat KPK dan merasa uang
suapnya sudah sampai kepada
mereka. Sedang para pejabat
KPK mengklaim tidak ada
seorangpun yang menerima uang
suap itu. Pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain
merupakan indikasi adanya
kedustaan. Dugaan rekayasa
kriminalisasi KPK yang mengarah
ke penutupan lembaga itu
terungkap dalam rekaman pembicaraan AW dan OYG. Bahkan
dalam rekaman tersebut sempat
disinggung nama RI1. Sedang RI1
sendiri dengan tegas
membantahnya. Maka dapat
dipastikan ada pihak yang berdusta. Kasus yang
membengkak menjadi masalah
nasional tersebut mengundang
perhatian Presiden SBY
membentuk Tim Pencari Fakta
untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dibalik
kedustaan. Saudaraku, sebagai orang
beriman kita mestinya menyadari
Allah mengawasi seluruh aktifitas
hidup kita. Ketika mendefinisikan
ihsan Rasulullah saw mengatakan ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َناَك ُّيِبَّنلا ص اًزِراَب اًمْوَي ِساَّنلِل ُهاَتَاَف ٌلُجَر َلاَقَف : اَم ؟ُناَمْيِالْا َلاَق : ُناَمْيِالَْا ْنَا َنِمْؤُت ِهللاِب َو ِهِتَكِئَالَم َو ِهِئاَقِلِب َو ِهِلُسُر َو َنِمْؤُت ِثْعَبلْاِب . َلاَق : اَم ؟ُمَالْسِالْا َلاَق : ُمَالْسِالْاَ ْنَا َدُبْعَت َهللا َو َال َكِرْشُت ِهِب َو َمْيِقُت َةَالَّصلا َو َيّدَؤُت َةاَكَّزلا َةَضْوُرْفَملْا َو َمْوُصَت َناَضَمَر . َلاَق : َو اَم ؟ُناَسْحِالْا َلاَق : ْنَا َدُبْعَت َهللا َكَّنَاَك ُهاَرَت ، ْنِاَف ْمَل ْنُكَت ُهاَرَت ُهَّنِاَف َكاَرَي . َلاَق : ىَتَم ؟ُةَعاَّسلا َلاَق : اَم ُلُؤْسَملْا َمَلْعَاِب َنِم ِلِئاَّسلا َو َكُرِبْخُاَس ْنَع اَهِطاَرْشَا . اَذِا ِتَدَلَو ُةَمَالْا اَهَّبَر َو اَذِا َلَواَطَت ُةاَعُر ِلِبِالْا ُمْهُبلْا ىِف ِناَيْنُبلْا ىِف ٍسْمَخ َال َّنُهُمَلْعَي َّالِا ُهللا . َّمُث َالَت ُّيِبَّنلا ص } َّنِا َهللا هَدْنِع ُمْلِع ِةَعاَّسلا { َّمُث َرَبْدَا . َلاَقَف : ُهْوُّدُر ْمَلَف اْوَرَي اًئْيَش . َلاَقَف : اَذه ُلْيِرْبِج َءاَج ُمّلَعُي َساَّنلا ْمُهَنْيِد . ىراخبلا Dari Abu Hurairah RA, ia
berkata : Pada suatu hari
Rasulullah SAW berada di tengah-
tengah shahabatnya, lalu ada
seorang laki-laki datang seraya
bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, bertemu dengan-
Nya, (iman kepada) rasul-rasul-
Nya, dan kamu percaya kepada
hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak
mensekutukan-Nya, kamu
mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardlukan dan
puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat- Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”. Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
bertanya ?. Namun aku
beritahukan kepadamu tentang
tanda-tandanya. Yaitu : apabila
budak perempuan melahirkan
tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-
mewah dan bermegah-megah
dengan bangunan rumahnya.
Dalam lima hal tidak ada yang
mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca
ayat yang artinya
(Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya
lah pengetahuan tentang hari
qiyamat). Kemudian oang yang
bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi,
lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk
mengajar manusia tentang
agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18] Rasulullah saw mengingatkan
bahwa Allah selalu hadir dalam
seluruh aktifitas hidup kita.
Kehadiran Allah itulah yang akan
menumbuhkan pengawasan
melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat
yang muncul karena iman kepada
Allah dan hari akhir itu akan
menjaga setiap muslim untuk
tidak melanggar aturan Allah dan
Rasul-Nya termasuk larangan berdusta. Apalagi Allah sendiri berfirman:
“Nahnu aqrabu ilaihi min hablil- warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.)
Andai setiap orang Islam
berkomitmen kuat untuk tidak
berdusta, maka sudah lebih dari
88% dari populasi negeri ini
berkontribusi positif terhadap pencegahan terjadinya kasus-
kasus serupa. Andai semua orang tidak
berdusta, maka berbagai
persoalan korupsi, kolusi, dan
nepotisme akan segera bisa kita
tuntasan. Andai tidak ada dusta,
sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu
terjadi. Kita terlalu banyak
membuang energi, yang
seharusnya bisa dipergunakan
untuk mempercepat
pembangunan negeri. Dalam hadis yang sama Rasulullah
saw mengingatkan: ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Sumber kebaikan yang akan
membawa kepada keberhasilan
dunia akherat adalah jujur.
Sedang pangkal kejahatan
adalah dusta. Maka demi
kejayaan bangsa ini, mari kita bangun komitmen bersama untuk
meninggalkan dusta dan
memegang teguh nilai-nilai
kejujuran. Di atas landasan kejujuran inilah
keadilan kita tegakkan,
kemakmuran dan kesejehteraan
kita upayakan. Bukan tidak
mungkin Allah akan
menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang
tata titi tentrem kerta raharja
gemah ripah loh jinawi di bawah
naungan dan ampunan Ilahi.
Semoga Allah memudahkan hati
kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar