Segala puji hanya bagi Allah,
shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW,
keluarga, sahabat dan seluruh
pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuknya. Karakter mulia pada pribadi
seseorang atau sering disebut
dengan manusia yang
berkepribadian, atau dalam
bahasa sederhana yang lebih
luas sering dikatakan sebagai manusia yang ber- adab. Atau dalam bahasa pergaulan
dikatakan manusia beretika dan
manusia yang bersopan santun. Dalam zaman modern, ketika
manusia otaknya semakin dibikin
sibuk dngan berbagai macam
kesibukan ilmu dan teknologi,
maka manusia modern kehilangan
waktu untuk membangun kepribadiannya. Apalagi zaman
serba cepat yang dibantu
dengan bantuan komputer yang
super cepat, manusia sering
tidak mampu untuk
menggunakan alat itu untuk membangun pribadi yang lebih
mulia dan beradap, namun sering
hanyut mengikuti bujukan
hawanafsunya untuk selalu dan
selalu bersikap salah, salah dan
salah dan akhirnya menjadi robot-robot bernyawa. Ibarat
tanah-tanah hidup yang
bergentayangan kesana kemari
dengan aktifitas yang tidak
berkwalitas dan merusak diri
serta merusak lingkungannya. . 1. Manusia yang ber-Etika
benar kepada Allah. Membangun karakter dapat
dimulai dengan menyadarkan
manusia, bahwa dirinya adalah
makhluq ciptaan Allah SWT dan
memiliki kewajiban beribadah
kepada Allah SWT. Para orangtua-lah yang harus
menyadarkan bayi-bayi yang
dilahirkannya untuk memahami
kenapa anaknya lahir di dunia
dan untuk apa dia dilahirkan.
Beberapa firman Allah yang perlu direnungi antara lain, yang
artinya
. Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia
dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. (QS.
23:12)
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). (QS.
23:13)
Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik. (QS. 23:14) .
Manusia yang memiliki etika dan
sopan santun kepada Allah Tuhan
yang telah menciptakannya
tentu akan berusaha bersyukur
dan berterimakasih kepada Allah, nikmat-nikmat Allah yang
dicurahkan kepada mereka
menjadi daya dorong untuk rajin
beribadah kepada Allah, rajin
mendidik diri untuk mengetahui
petunjuknya dan rajin mendidik diri untuk menjalankan perintah-
Nya dan menjaui larangan-Nya. Zaman modern, zaman penuh
teknologi canggih, banyak muncul
manusia-manusia atheis, sebuah
bukti bahwa banyak manusia
modern yang tidak beretika dan
tidak punya sopan santun kepada yang telah
menciptakannya. Bagi Allah hal
tersebut tidak merugikan sama
sekali namun akan menjadi
kerugian yang besar bagi diri
manusia sendiri. . Dan kepunyaan Allah-lah
apa yang di langit dan yang
di bumi, dan sungguh Kami
telah memerintahkan
kepada orang-orang yang
diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;
bertaqwalah kepada Allah.
Tetapi jika kamu kafir maka
(ketahuilah), sesungguhnya
apa yang di langit dan apa
yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah
Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (QS. 4:131) Jika kamu kafir maka
sesungguhnya Allah tidak
memerlukan (iman)mu dan
Dia tidak meridhai kekafiran
bagi hamba-Nya; dan jika
kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu
kesyukuranmu itu; dan
seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang
lain.Kemudian kepada
Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan.Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang
tersimpan dalam (dada)mu.
(QS. 39:7) .
Dan (ingatlah juga), takala
Tuhanmu
mema’ lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Dan Musa berkata:”Jika kamu dan orang-orang yang ada di
muka bumi semuanya
mengingkari (nikmat Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya
lagi Maha Terpuji”. (QS. 14:8) Mendidik anak-anak kita untuk
tekun beribadah dan mengetahui
aturan-aturan yang ada dalam
Al-Qur’ an dan As-Sunnah adalah wujud syukurnya para Orang tua
kepada Allah. Bila para orang tua
sudah bisa mendidik anak-
anaknya untuk belajar aturan-
aturan Allah dan Rasulnya, dan
anaknya telah nampak bersemanat untuk beribadah
kedaNya, itu semua adlah wujud
nyata bahwa anaknya memiliki
sopansanukepada Allah Tuhan
yang telah menciptakan mereka.
Ketinggian, iman dan amal sholihnya serta ketaqwaannya
kepada Allah adalah ukuran
kemuliaan karakter seorang
manusia.
. 2. Beretika dengan sesama
manusia Sikap mulia yang harus segera
nampak pada seorang anak
manusia adalah sikap sopan
santun kepada orang tuanya.
Sikap Mulia kepada orang tuanya
adalah jalan pertama membangun sikap mulia kepada orang lain.
. Kami perintahkan kepada
manusia supaya berbuat
baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula)
.Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga
apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdo’ a:”Ya Tuhanku, tunjukilah aku
untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku da
kepada ibu bapakku dan
supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang
Engkau ridhai; berilah
kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada
anak cucuku.Sesungguhnya
aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang-orang
yang berserah diri”. (QS. 46:15) Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang
ibubapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepada-
Ku dan kepada dua orang
ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14) .
Sering dikatakan orangtua-lah
yang “ mengukir” jiwa dan raga seorang anak. Bila orang
tua sudah memiliki kepribadian
yang mulia dan tinggi, maka
tangung jawab yang pertama
adalah diarahkan kepada anak-
anaknya. Orang tua yang sholih dan sholihah dan perpendidikan
biasanya akan pula memiliki
anak-anak yang memiliki pribadi
yang sama. Karena orang tua
akan mengajari degan teliti dan
telaten setiap langkah yang dilakukan oleh anak-anak dalam
kehidupan sehari-hari. Berbahagialah para orang tua
yang tidak membiarkan anak-
anaknya bergaul dengan
sumber-sumber kejahatan, baik
dalam pergaulan dengan manusia
atau pula sarana-sarana kehidupan semacam SIARAN TELEVISI dan MULTIMEDIA
HIBURAN yang berisi dengan campur aduk antara kebaikan
dan kejahatan. Jiwa yang masih
rapuh dapat dipastikan lebih
suka menempuh jalan-jalan yang
disenangi hawa nafsu. Dan bila
diperbuat maka dipastikan sopan santun dan etika anak tersebut
akan jatuh dan menjadi manusia
berkwalitas sopan-santun yang
rendah dan hina sebagaimana
tingkah laku binantang yang
tidak berhati-dan berakal. . Terangkanlah kepadaku
tentang orang yang
menjadikan hawa nafsunya
sebagai Ilahnya.Maka
apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
atau apakah kamu mengira
bahwa kebanyakan mereka
itu mendengar atau
memahami.Mereka itu tidak
lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya
dari binatang ternak itu).
(QS. 25:44) .
Bila manusia telah suka di
tempat-tempat yang rendah,
maka dapat dikatakan manusia
telah turun derajad. Dan pasti
sifat-sifat mulia yang dimilikinya akan terhapus dan akan
tergantikan dengan sifat-sifat
buruk yang akan merugikan bagi
dirinya dan bagi orang lain. Dan
ini semua menjadi sumber
kesusahan dan kekacauan pergaulan diantara manusia.
. Mereka diliputi kehinaan di
mana saja mereka berada,
kecuali jika mereka
berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan mereka
kembali mendapat
kemurkaan dari Allah dan
mereka diliputi kerendahan.
Yang demikian itu karena
mereka kafir kepada ayat- ayat Allah dan membunuh
para nabi tanpa alasan
yang benar. Yang demikian
itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui
batas. (QS. 3:112) .
Bila manusia sudah menolak
sumber-sumber keselamatan dan
kebahagiaan, tentu akan
mendapatkan hal ang sebaliknya,
yaitu kesulitan, kesusahan dan siksaan. . 3. Beretika kepada Alam
Lingkungan .
Alam raya sungguh amat luas tak
terbatas, namun hingga saat ini
ilmu manusia belum menemukan
tempat sejenis bumi yang dapat
ditempati oleh manusia, atau manusia belum juga dapat
menciptakan pesawat ruang
angkasa yang membawa manusia
kesana. Para ahli sudah memprediksi, bila
perilaku manusia tetap saja
seperti sekarang ini,
menggunakan alam, meng-
ekplorasi alam untuk bermewah-
mewah memanjakan diri di dunia ini, dan milyaran manusia yang
diatas bumi ini bergerak kearah
yang sama, yaitu ingin hidup
bermanja-manja, bersenang-
senang tanpa batas. Maka bumi
kan menjadi hunian yang tidak lagi nyaman bagi umat manusia. Para ahli sudah sering membuat
animasi-animasi apa yang terjadi
jika segala ekosistem di bumi
menjadi rusak, dalam bahasa
mudah mereka mengatakan,
manusia bisa memproduksi dan memiliki berbagai macam sarana-
sarana kemewahan, namun
kemewahan itu tidak ada
gunanya karena tidak lagi
nyaman di huni. Bukti-bukti awal sudah nampak
mengemuka dihadapan umat
manusia. Secara materiil misalnya,
sudah sering terjadi kebakaran
hutan akibat musim kering yang
sangat ekstrim, atau badai yang menghancurkan dengan banjir
dan tanah longsor. Atau badai
salju yang melumpuhkan. Secara
nyata Es di kutup-kutup dunia
benar-benar telah mencair dan
telah pula banjir akibat pasang naik air laut sudah semakin
sering terjadi. Ada lagi keanehan yang
kontradiktif dan menggelikan.
Masih ada-ada saja di hari ini
orang-orang yang memasang
sesaji kepada sesuatu yang tidak
jelas dengan tujuan agar alam tidak rusak, karena mereka
menyangka bahwa kerusakan
alam ini dilakukan oleh makhluq-
makluq ghaib. Sehingga dengan
sesaji yang diberikan itu
kerusakan alam lingkungan dapat teratasi. Namun disisi lain lagi manusia
tetap saja mengkonsumsi budaya
serakah, budaya mengumbar
hawa nafsu dan budaya merusak
lingkungan. Sungguh kebodohan
yang bertumpuk-tumpuk yang pasti kerusakan-kerusakan itu
akan terus berjalan dan tidak
memiliki jalan keluar dan jalan
penyelesaian. Yang telah merusak alam adalah
manusia, dan pasti yang akan
menderita akibat buruknya juga
mansia, sebagaimana firman Allah
. Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut
disebabkan karena
perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang
benar). (QS. 30:41) .
Ketika manusia kehilangan etika
kepada Allah Tuhan Sang Maha
Pencipta maka dua hal lagi, yaitu
etika kepada sesama manusia
dan etika kepada alam lingkungan menjadi rusak dan
kacau balau. Karena kerusakan
tersebut mengakibatkan pula
kerusakan jiwa yang
berkepanjangan bagi umat
manusia dan manusia kemudian menjadi manusia-manusia yang
berlepribadian rusak dan kacau
balau. Dapat disimpulkan, bahwa yang
bisa memperbaiki keadaan
kekacauan di zaman hari ini pada
masing-masing manusia adalah,
dengan menyadarkan manusia
kembali kepada tujuan yang sebenarnya tentang terciptanya
manusia di alam dunia dan di bumi
ini. Ketika jiwa-jiwa manusia sudah terus berlatih dan berlatih untuk bisa ber sopan santun kepada Allah dan terus berusaha memiliki sopan santun yang tinggi dan mulia, maka manusia akan memiliki jiwa yang mulia dan agung. Dan manusia-manusia yang semacam inilah yang dapat hidup di muka bumi unuk selalu berbuat kebaikan dan memperkecil dari sikap-sikap merusak, baik merusak diri, merusak orang lain, atau merusak alam lingkungan… . Wallahu a’ lam
Entri Populer
-
Kemewahan dan gemerlapnya dunia telah mampu memperdaya banyak manusia. Membelokkan mereka dari penghambaan kepada Alllah menuju pengagungan ...
-
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini d...
-
Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan ...
-
saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga ...
-
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para istri ...
-
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35...
-
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacakan firman Allah berikut ini; "Mereka menjadikan para pendeta, dan rahib-...
-
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya y...
-
Sungguh keadaan kaum muslimin di zaman kita sekarang ini telah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian kaum muslimin terjerum...
-
Adalah Abdullah bin Umar ra, seorang sahabat nabi SAW yang kala itu masih remaja. Didalam sebuah mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat....
Senin, 31 Januari 2011
Sabtu, 29 Januari 2011
Rusaknya Akhlaq Membawa Kehancuran Bangsa
Seorang cendekiawan muslim
yang terkenal “Imam Asy-Syauki” mengatakan, mengatakan :
“Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya, bila rusak
akhlaqnya maka rusaklah bangsa
itu”
َو اَمَّنِا ُمَمُالْا ُقَالْخَالْا اَم ْتَيِقَب ْنِاَف ْوُمُه ْتَبَهَذ ْمُهُقَالْخَا اْوُبَهَذ
Apabila akhlaqnya rusak, maka
rusaklah bangsa itu”. Perlu kita cermati ucapan tersebut, serta
kita perhatikan tanda-tanda
rusaknya akhlaq berdasarkan
petunjuk-petunjuk Rasulullah
SAW dan Allah SWT, antara lain : Pertama, Banyaknya
kejahatan dan perbuatan
jahat, serta merosotnya
nilai keislaman pada bangsa
itu. Rasulullah SAW bersabda,
َّنِا َشْحَفلْا َو َشُّحَفَّتلا اَسْيَل َنِم ِمَالْسِالْا ىِف ٍءْيَش َو َّنِا َنَسْحَا ِساَّنلا اًمَالْسِا ْمُهُنَسْحَا اًقُلُخ . ىذمرتل
ا “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama
sekali bukan ajaran Islam, dan
bahwasanya orang yang paling
baik Islamnya ialah yang paling
baik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi] Kedua, suka berdebat. Ujung-ujungnya hawa nafsu yang
akan menguasai dirinya,
sedangkan hawa nafsu itu akan
mengarah kepada kejahatan. اَمَو ُئِّرَبُأ يِسْفَن َّنِإ َسْفَّنلا ٌةَراَّمأل ِءوُّسلاِب الِإ اَم َمِحَر يِّبَر َّنِإ يِّبَر ٌروُفَغ ٌميِحَر ” dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf : 53]. Rasulullah SAW bersabda, اوُرَذ َءاَرِملْا َّنِاَف َلَّوَا اَم ىِناَهَن ُهْنَع ىّبَر َدْعَب ِةَداَبِع ِناَثْوَالْا ُءاَرِملْا . ىناربطلا “Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali
disampaikan kepadaku oleh
Tuhanku setelah menyembah
berhala adalah perdebatan.” [HR. Thabrani] Ketiga, penyakit dengki dan
suka permusuhan serta
hilangnya rasa kasih
sayang. Sabda Rosululloh SAW, ِنَع ِنْبا ِرْيَبُّزلا ضر َّنَا َلْوُسَر ِهللا َلاَق : َّبَد ْمُكْيَلِا ُءاَد ِمَمُالْا ْمُكَلْبَق . ُءاَضْغَبْلَا َو ُدَسَحلْا ، َو ُءاَضْغَبلْا َيِه ُةَقِلاَحلْا ، َسْيَل ُةَقِلاَح ِرْعَّشلا ، َو ْنِكل ُةَقِلاَح ِنْيّدلا ، َو ْىِذَّلا ىِسْفَن ِهِدَيِب َال َنْوُلُخْدَت َةَّنَجلْا ىَّتَح اْوُنِمْؤُت ، َو َال اْوُنِمْؤُت ىَّتَح اْوُّباَحَت . َالَا ْمُكُئّبَنُا اَمِب ُتِبْثُي ْمُكَل ؟َكِلذ اوُشْفَا َمَالَّسلا ْمُكَنْيَب . رازبلا دانساب ديج Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjangkiti kepada kalian
penyakit ummat-ummat sebelum
kalian. Yaitu kebencian dan
kedengkian. Kebencian itu adalah
pencukur. Bukan pencukur
rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kamu sekalian tidak
akan masuk surga sehingga
kalian beriman. Dan kalian tidak
beriman sehingga saling
mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa
memantapkan kalian pada yang
demikian itu ? Yaitu tebarkanlah
salam diantara kalian”. [HR. Al- Bazzar dengan sanad jayyid] Kalau kita perhatikan petunjuk-
petunjuk di atas, tanda-tanda
rusaknya akhlaq bangsa ini
sudah nampak jelas, dari
kalangan bawah sampai kalangan
atas, bahkan para wakil rakyat yang mulia pun sudah
menunjukkan rusaknya akhlaq
pada mereka. Disaksikan jutaan mata, baik
rakyat Indonesia sendiri, maupun
mata dunia, tawuran dalam
persidangan dan sesekali
terdengar suara seperti urakan
(orang-orang yang tidak berpendidikan), sudah tidak ada
rasa malu lagi, walaupun sangat
memuakkan dan memprihatinkan
bagi rakyat bangsa ini yang
melihatnya. Tawuran antar mahasiswa/
rakyat dengan aparat penegak
hukum (polisi, kejaksaan, dan
satpol PP) terjadi dimana-mana.
Korupsi yang dilakukan oleh
Bupati, Gubernur, Lembaga Tinggi Negara dan mafia peradilan
merupakan kejahatan yang kita
saksikan lewat layar kaca, sudah
menjadi hal yang biasa. Yang kita saksikan semua itu
menunjukkan telah rusaknya
akhlaq bangsa ini, dan kalau kita
tidak menyadari, kehancuran
bangsa ini tinggal tunggu
saatnya saja. Mari kita perhatikan petunjuk
Allah dalam QS. Al-Israa’ : 16, اَذِإَو اَنْدَرَأ ْنَأ َكِلْهُن ًةَيْرَق اَنْرَمَأ اَهيِفَرْتُم اوُقَسَفَف اَهيِف َّقَحَف اَهْيَلَع ُلْوَقْلا اَهاَنْرَّمَدَف اًريِمْدَت yang artinya “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup
mewah/para pejabat tinggi
negara di negeri itu (supaya
mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah
sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan
(ketentuan Kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya“. Oleh karena itu marilah kita
bangun akhlaq bangsa ini sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-
Nya agar bangsa ini selamat dari
kehancuran yang tidak kita
inginkan bersama. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini
dengan petunjuk-Nya, aamiin.
yang terkenal “Imam Asy-Syauki” mengatakan, mengatakan :
“Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya, bila rusak
akhlaqnya maka rusaklah bangsa
itu”
َو اَمَّنِا ُمَمُالْا ُقَالْخَالْا اَم ْتَيِقَب ْنِاَف ْوُمُه ْتَبَهَذ ْمُهُقَالْخَا اْوُبَهَذ
Apabila akhlaqnya rusak, maka
rusaklah bangsa itu”. Perlu kita cermati ucapan tersebut, serta
kita perhatikan tanda-tanda
rusaknya akhlaq berdasarkan
petunjuk-petunjuk Rasulullah
SAW dan Allah SWT, antara lain : Pertama, Banyaknya
kejahatan dan perbuatan
jahat, serta merosotnya
nilai keislaman pada bangsa
itu. Rasulullah SAW bersabda,
َّنِا َشْحَفلْا َو َشُّحَفَّتلا اَسْيَل َنِم ِمَالْسِالْا ىِف ٍءْيَش َو َّنِا َنَسْحَا ِساَّنلا اًمَالْسِا ْمُهُنَسْحَا اًقُلُخ . ىذمرتل
ا “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama
sekali bukan ajaran Islam, dan
bahwasanya orang yang paling
baik Islamnya ialah yang paling
baik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi] Kedua, suka berdebat. Ujung-ujungnya hawa nafsu yang
akan menguasai dirinya,
sedangkan hawa nafsu itu akan
mengarah kepada kejahatan. اَمَو ُئِّرَبُأ يِسْفَن َّنِإ َسْفَّنلا ٌةَراَّمأل ِءوُّسلاِب الِإ اَم َمِحَر يِّبَر َّنِإ يِّبَر ٌروُفَغ ٌميِحَر ” dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf : 53]. Rasulullah SAW bersabda, اوُرَذ َءاَرِملْا َّنِاَف َلَّوَا اَم ىِناَهَن ُهْنَع ىّبَر َدْعَب ِةَداَبِع ِناَثْوَالْا ُءاَرِملْا . ىناربطلا “Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali
disampaikan kepadaku oleh
Tuhanku setelah menyembah
berhala adalah perdebatan.” [HR. Thabrani] Ketiga, penyakit dengki dan
suka permusuhan serta
hilangnya rasa kasih
sayang. Sabda Rosululloh SAW, ِنَع ِنْبا ِرْيَبُّزلا ضر َّنَا َلْوُسَر ِهللا َلاَق : َّبَد ْمُكْيَلِا ُءاَد ِمَمُالْا ْمُكَلْبَق . ُءاَضْغَبْلَا َو ُدَسَحلْا ، َو ُءاَضْغَبلْا َيِه ُةَقِلاَحلْا ، َسْيَل ُةَقِلاَح ِرْعَّشلا ، َو ْنِكل ُةَقِلاَح ِنْيّدلا ، َو ْىِذَّلا ىِسْفَن ِهِدَيِب َال َنْوُلُخْدَت َةَّنَجلْا ىَّتَح اْوُنِمْؤُت ، َو َال اْوُنِمْؤُت ىَّتَح اْوُّباَحَت . َالَا ْمُكُئّبَنُا اَمِب ُتِبْثُي ْمُكَل ؟َكِلذ اوُشْفَا َمَالَّسلا ْمُكَنْيَب . رازبلا دانساب ديج Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjangkiti kepada kalian
penyakit ummat-ummat sebelum
kalian. Yaitu kebencian dan
kedengkian. Kebencian itu adalah
pencukur. Bukan pencukur
rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kamu sekalian tidak
akan masuk surga sehingga
kalian beriman. Dan kalian tidak
beriman sehingga saling
mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa
memantapkan kalian pada yang
demikian itu ? Yaitu tebarkanlah
salam diantara kalian”. [HR. Al- Bazzar dengan sanad jayyid] Kalau kita perhatikan petunjuk-
petunjuk di atas, tanda-tanda
rusaknya akhlaq bangsa ini
sudah nampak jelas, dari
kalangan bawah sampai kalangan
atas, bahkan para wakil rakyat yang mulia pun sudah
menunjukkan rusaknya akhlaq
pada mereka. Disaksikan jutaan mata, baik
rakyat Indonesia sendiri, maupun
mata dunia, tawuran dalam
persidangan dan sesekali
terdengar suara seperti urakan
(orang-orang yang tidak berpendidikan), sudah tidak ada
rasa malu lagi, walaupun sangat
memuakkan dan memprihatinkan
bagi rakyat bangsa ini yang
melihatnya. Tawuran antar mahasiswa/
rakyat dengan aparat penegak
hukum (polisi, kejaksaan, dan
satpol PP) terjadi dimana-mana.
Korupsi yang dilakukan oleh
Bupati, Gubernur, Lembaga Tinggi Negara dan mafia peradilan
merupakan kejahatan yang kita
saksikan lewat layar kaca, sudah
menjadi hal yang biasa. Yang kita saksikan semua itu
menunjukkan telah rusaknya
akhlaq bangsa ini, dan kalau kita
tidak menyadari, kehancuran
bangsa ini tinggal tunggu
saatnya saja. Mari kita perhatikan petunjuk
Allah dalam QS. Al-Israa’ : 16, اَذِإَو اَنْدَرَأ ْنَأ َكِلْهُن ًةَيْرَق اَنْرَمَأ اَهيِفَرْتُم اوُقَسَفَف اَهيِف َّقَحَف اَهْيَلَع ُلْوَقْلا اَهاَنْرَّمَدَف اًريِمْدَت yang artinya “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup
mewah/para pejabat tinggi
negara di negeri itu (supaya
mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah
sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan
(ketentuan Kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya“. Oleh karena itu marilah kita
bangun akhlaq bangsa ini sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-
Nya agar bangsa ini selamat dari
kehancuran yang tidak kita
inginkan bersama. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini
dengan petunjuk-Nya, aamiin.
Rabu, 26 Januari 2011
Pemerintah yang Baik, Memiliki Pembantu Baik Pula
Imam Abu Dawud meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw bersabda
jika Allah menghendaki kebaikan
atas satu Pemerintah, maka
Pemerintah itu akan diberi
pembantu yang baik, jika lupa diingatkan dan jika ingat dibantu.
Seorang Pemimpin yang
bertanggung jawab akan
senantiasa sibuk memikirkan
kemajuan dan kesejahteraan
umatnya. Tugas dan kesibukannya yang banyak
menjadikannya kadang lupa
melaksanakan sesuatu. اَذِا َداَرَا ُهللا ِرْيِمَالْاِب اًرْيَخ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍقْدِص ، ْنِا َيِسَن ُهَرَّكَذ َو ْنِا َرَكَذ ُهَناَعَا . َو اَذِا َداَرَا ِهِب َرْيَغ َكِلذ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍءْوُس ، ْنِا َيِسَن ْمَل ُهْرّكَذُي َو ْنِا َرَكَذ ْمَل ُهْنِعُي . وبا دواد Jika Allah menghendaki kebaikan
seorang penguasa, maka
diberinya pembantu (menteri)
yang baik (jujur), jika lupa
diingatkan dan jika ingat dibantu.
Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah
memberi padanya pembantu
(menteri) yang jelek (tidak jujur)
, jika lupa tidak diingatkan, jika
ingat tidak dibantu. [HR. Abu
Dawud] Andai dibiarkan lupa, maka dia
akan termasuk lalai dalam
melaksanakan tugas. Apa jadinya
kalau tugas yang dilupakannya
itu menyangkut keamanan dan
kesejahteraan orang banyak. Tentu dia akan mengalami
kesulitan dalam bertanggung-
jawab di hadapan Allah. Seorang
Pemimpin betapapun hebatnya,
tidak akan mampu melaksanakan
semua tugasnya sendiri. Sebagian tugas akan
didelegasikan kepada para
pembantunya. Tentu saja
Pemimpin akan berprestasi jika
dia dibantu oleh para pembantu
yang baik. Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa pembantu yang
baik adalah yang siap
mengingatkan bila Pemimpinnya
lupa. Sayang sekali sekarang ini
banyak pembantu yang bersikap
ABS (Asal Bapak Senang). Orang- orang seperti ini tidak memiliki
keberanian untuk menegur atau
mengingatkan pemimipin mereka. Terhadap hal-hal yang sekiranya
tidak disukai oleh Pemimpin,
mereka akan mengambil sikap
diam. Sebaliknya terhadap hal-hal
yang menyenangkan pemimpin,
mereka akan mengingatkan dengan muka manis. Meskipun
Pemimpin telah berbuat maksiat
para pembantu tidak berani
mengingatkan. Mereka lebih suka
mengambil sikap diam. Mencari
amannya sendiri. Aman dari kemarahan Pemimpin yang
mungkin berakibat terhadap
pencopotan posisinya. Disamping selalu siap
mengingatkan Pemimpin, seorang
pembantu yang baik selalu siap
membantu pelaksanaan tugas
Pemimpinnya. Dia akan curahkan
seluruh potensinya untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dalam melaksanakan tugas
tersebut. Setiap tugas yang
diserahkan kepadanya akan
disikapi sebagai satu kesempatan
yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal shaleh. Dia laksanakan tugas itu karena
Allah, bukan karena Pemimpin.
Meskipun secara lahiriyah
Pemimpin yang memberi tugas,
tetapi secara batiniyah dia
merasa bertanggung-jawab kepada Allah atas keberhasilan
pelaksanaan tugas tersebut.
Para pembantu yang seperti
inilah yang bisa diandalkan oleh
seorang Pemimpin untuk
melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Sebaliknya dalam hadist yang
sama dikisahkan bahwa bila Allah
menghendaki kejelakan seorang
Pemimpin, maka dia diberi
pembantu yang jelek. Tanda-
tandanya adalah bila Pemimpinnya lupa, maka dia tidak
mengingatkan. Di akan mengambil
sikap pura-pura lupa. Meskipun
dia ingat, dia akan berlindung diri
dengan mengambil sikap seperti
itu. Dia khawatir, kalau mengingatkan malah diperintah
untuk melaksanakan tugas itu.
Kemalasan sebagai satu bentuk
ketidak-ikhlasan ini pulalah yang
menyebabkan seorang pembantu
yang jelek tidak membantu pelaksanaan tugas Pemimpinnya,
meskipun dia tahu, mampu, dan
benar-benar iingat akan tugas
tersebut. Kalau kita melakukan
perenungan terhadap perjalanan
Pemerintahan selama ini, maka
kita akan mendapatkan bahwa
mayoritas pembantu Pemerintah
adalah orang-orang jelek. Artinya kalau kecenderungan
model kehidupan Pemerintahan di
negeri ini dilanjutkan, maka
bukan kebaikan yang didapat,
namun kejelekan. Banyak aparat penegak hukum
sejak dari kejaksaan, kepolisian,
sampai kehakiman bermasalah.
Banyak anggota parlemen
bermasalah. Banyak pemimpin
eksekutif bermasalah. Negeri ini memerlukan Pemimpin yang baik
yang dibantu oleh para
pembantu yang baik pula. Tentu
saja para pembantu yang
memiliki kapasitas intelektual
yang memadai dan integritas moral yang handal. Bukan para
pembantu yang maju tak gentar membela yang
bayar.
bahwa Rasulullah saw bersabda
jika Allah menghendaki kebaikan
atas satu Pemerintah, maka
Pemerintah itu akan diberi
pembantu yang baik, jika lupa diingatkan dan jika ingat dibantu.
Seorang Pemimpin yang
bertanggung jawab akan
senantiasa sibuk memikirkan
kemajuan dan kesejahteraan
umatnya. Tugas dan kesibukannya yang banyak
menjadikannya kadang lupa
melaksanakan sesuatu. اَذِا َداَرَا ُهللا ِرْيِمَالْاِب اًرْيَخ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍقْدِص ، ْنِا َيِسَن ُهَرَّكَذ َو ْنِا َرَكَذ ُهَناَعَا . َو اَذِا َداَرَا ِهِب َرْيَغ َكِلذ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍءْوُس ، ْنِا َيِسَن ْمَل ُهْرّكَذُي َو ْنِا َرَكَذ ْمَل ُهْنِعُي . وبا دواد Jika Allah menghendaki kebaikan
seorang penguasa, maka
diberinya pembantu (menteri)
yang baik (jujur), jika lupa
diingatkan dan jika ingat dibantu.
Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah
memberi padanya pembantu
(menteri) yang jelek (tidak jujur)
, jika lupa tidak diingatkan, jika
ingat tidak dibantu. [HR. Abu
Dawud] Andai dibiarkan lupa, maka dia
akan termasuk lalai dalam
melaksanakan tugas. Apa jadinya
kalau tugas yang dilupakannya
itu menyangkut keamanan dan
kesejahteraan orang banyak. Tentu dia akan mengalami
kesulitan dalam bertanggung-
jawab di hadapan Allah. Seorang
Pemimpin betapapun hebatnya,
tidak akan mampu melaksanakan
semua tugasnya sendiri. Sebagian tugas akan
didelegasikan kepada para
pembantunya. Tentu saja
Pemimpin akan berprestasi jika
dia dibantu oleh para pembantu
yang baik. Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa pembantu yang
baik adalah yang siap
mengingatkan bila Pemimpinnya
lupa. Sayang sekali sekarang ini
banyak pembantu yang bersikap
ABS (Asal Bapak Senang). Orang- orang seperti ini tidak memiliki
keberanian untuk menegur atau
mengingatkan pemimipin mereka. Terhadap hal-hal yang sekiranya
tidak disukai oleh Pemimpin,
mereka akan mengambil sikap
diam. Sebaliknya terhadap hal-hal
yang menyenangkan pemimpin,
mereka akan mengingatkan dengan muka manis. Meskipun
Pemimpin telah berbuat maksiat
para pembantu tidak berani
mengingatkan. Mereka lebih suka
mengambil sikap diam. Mencari
amannya sendiri. Aman dari kemarahan Pemimpin yang
mungkin berakibat terhadap
pencopotan posisinya. Disamping selalu siap
mengingatkan Pemimpin, seorang
pembantu yang baik selalu siap
membantu pelaksanaan tugas
Pemimpinnya. Dia akan curahkan
seluruh potensinya untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dalam melaksanakan tugas
tersebut. Setiap tugas yang
diserahkan kepadanya akan
disikapi sebagai satu kesempatan
yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal shaleh. Dia laksanakan tugas itu karena
Allah, bukan karena Pemimpin.
Meskipun secara lahiriyah
Pemimpin yang memberi tugas,
tetapi secara batiniyah dia
merasa bertanggung-jawab kepada Allah atas keberhasilan
pelaksanaan tugas tersebut.
Para pembantu yang seperti
inilah yang bisa diandalkan oleh
seorang Pemimpin untuk
melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Sebaliknya dalam hadist yang
sama dikisahkan bahwa bila Allah
menghendaki kejelakan seorang
Pemimpin, maka dia diberi
pembantu yang jelek. Tanda-
tandanya adalah bila Pemimpinnya lupa, maka dia tidak
mengingatkan. Di akan mengambil
sikap pura-pura lupa. Meskipun
dia ingat, dia akan berlindung diri
dengan mengambil sikap seperti
itu. Dia khawatir, kalau mengingatkan malah diperintah
untuk melaksanakan tugas itu.
Kemalasan sebagai satu bentuk
ketidak-ikhlasan ini pulalah yang
menyebabkan seorang pembantu
yang jelek tidak membantu pelaksanaan tugas Pemimpinnya,
meskipun dia tahu, mampu, dan
benar-benar iingat akan tugas
tersebut. Kalau kita melakukan
perenungan terhadap perjalanan
Pemerintahan selama ini, maka
kita akan mendapatkan bahwa
mayoritas pembantu Pemerintah
adalah orang-orang jelek. Artinya kalau kecenderungan
model kehidupan Pemerintahan di
negeri ini dilanjutkan, maka
bukan kebaikan yang didapat,
namun kejelekan. Banyak aparat penegak hukum
sejak dari kejaksaan, kepolisian,
sampai kehakiman bermasalah.
Banyak anggota parlemen
bermasalah. Banyak pemimpin
eksekutif bermasalah. Negeri ini memerlukan Pemimpin yang baik
yang dibantu oleh para
pembantu yang baik pula. Tentu
saja para pembantu yang
memiliki kapasitas intelektual
yang memadai dan integritas moral yang handal. Bukan para
pembantu yang maju tak gentar membela yang
bayar.
ISLAM MENJADI ASING KEMBALI
Sebelum
kedatangan Islam, bangsa Arab
terkenal sebagai bangsa padang
pasir yang yang suka berperang,
saling menyerang dan menjadikan
tawanan dan budak belian pihak yang kalah perang. Membunuh
anak perempuan merupakan hal
yang biasa. Meminum minuman
keras, berjudi, berdusta, dan
berzina sudah menjadi kebiasaan. Menyembah berhala menjadi
ritual yang kental dalam
keseharian. Tidak ada panas,
tidak ada hujan, tidak ada
halilintar yang menyambar, tiba-
tiba mereka dikejutkan oleh Muhammad SAW yang menyeru
untuk meninggalkan kebiasaan
buruk mereka. Beliau menyeru manusia untuk
bertauhid dan meninggalkan
syirik termasuk menyembah
berhala. Beliau menyeru manusia
untuk berpegang teguh pada
agama Allah dan tidak bercerai berai. Beliau memuliakan wanita.
Melarang membunuh nyawa
kecuali dalam keadaan tertentu,
termasuk melarang mencabut
nyawa sendiri. Beliau melarang umat Islam
meminum minuman keras, berjudi,
berdusta, dan berzina. Sudah
pasti ajaran yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW mereka
pandang dengan sebelah mata. Mereka merasa ajaran itu asing
karena banyak hal yang mereka
gemari justru dilarang. Memang benar bahwa datangnya
Islam itu pada mulanya asing,
seperti apa yang pernah
diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah SAW bersabda: َّنِا َمَالْسِالْا َأَدَب اًبْيِرَغ َو ُدْوُعَيَس اًبْيِرَغ اَمَك َأَدَب ، ىَبْوُطَف ِءاَبَرُغْلِل . َلْيِق : اَي َلْوُسَر ِهللا ، َو اَم ؟ُءاَبَرُغلْا َلاَق : َنْيِذَّلَا َنْوُحِلْصُي َدْنِع ِداَسَف ِساَّنلا . و ىف ةياور ، َلاَقَف : َنْيِذَّلَا َنْوُيْحُي اَم َتاَمَا ُساَّنلا ْنِم ىِتَّنُس . ملسم و نبا هجام و ىناربطلا “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing
(tidak umum), dan akan kembali
dengan asing lagi seperti pada
mulanya datang. Maka
berbahagialah bagi orang-orang
yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang
yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya
manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-
orang yang asing), beliau
menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-
apa yang telah dimatikan
manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani] “Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’ uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing
seperti datangnya.) Sebagai
akibatnya orang yang
mengamalkan ajaran Islam akan
terasing di tengah-tengah
masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan
dan terkucilkan. Akan tetapi Rasulullah SAW
menggembirakan orang-orang
yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang- orang yang terasing.) Siapakah
orang-orang yang terasing itu?
Menurut sebuah hadist yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim
mereka itu adalah orang-orang
yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia. Dalam hadist lain disebutkan
mereka itu adalah orang-orang
yang menghidupkan sunnah
Rasulullah SAW di saat orang-
orang lain mematikannya. Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu
Wahab, beliau SAW bersabda : ىَبْوُط ِءاَبَرُغْلِل َنْيِذَّلا َنْوُكِسْمُي َباَتِك ِهللا َنْيِح ُكَرْتُي َو َنْوُلَمْعَي ِةَّنُّسلاِب َنْيِح ىَفْطُت . Kebahagiaan bagi orang-orang
yang asing, yaitu mereka yang
berpegang teguh dengan kitab
Allah ketika ditinggalkan orang
banyak dan mengerjakan dengan
sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak. Saat ini di negeri ini sulit mencari
orang yang jujur, padahal
mayoritas penduduk beragama
Islam dan Islam mengajarkan
kejujuran. Dalam berbagai
persidangan kita saksikan banyaknya saksi maupun
tersangka yang mengubah-ubah
kesaksian, seolah-olah mereka
belum pernah disumpah. Maka wajar kalau ada orang
yang mengatakan bahwa hukum
bisa dibeli. Saat ini di negeri ini
sulit mencari wakil rakyat yang
amanah, meskipun mayoritas
wakil rakyat beragama Islam dan Islam mengajarkan sikap amanah.
Yang banyak adalah wakil rakyat
yang sibuk memikirkan
bagaimana caranya
mempermainkan aturan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi merasa
bertanggung jawab terhadap
Allah. Saat ini di negeri ini Islam
telah kembali asing meskipun
berada di tengah masyarakat
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun
berbahagialah orang yang asing,
karena menegakkan sunnah di
masa seperti ini Allah menjanjikan
pahala 50 kali pahala para
sahabat Rasulullah SAW. ْنَع ىِبَا َةَّيَمُا ّيِناَبْعَّشلا ، َلاَق : ُتْلَأَس اَبَا َةَبَلْعَث َّيِنَشُخلْا ُتْلُقَف : اَي اَبَا َةَبَلْعَث ، َفْيَك ُلْوُقَت ىِف ِهِذه ِةَيالْا ْمُكْيَلَع ْمُكَسُفْنَا . َلاَق : اَمَا َو ِهللا ْدَقَل َتْلَأَس اَهْنَع اًرْيِبَخ ُتْلَأَس اَهْنَع َلْوُسَر ِهللا ص َلاَقَف : ْلَب اْوُرِمَتْئِا ِفْوُرْعَملْاِب َو اْوَهاَنَت ِنَع ِرَكْنُملْا ىَّتَح اَذِا َتْيَأَر اًّحُش اًعاَطُم َو ىًوَه اًعَبَّتُم َو اَيْنُد ًةَرَثْؤُم َباَجْعِاَف ّلُك ىِذ ٍيْأَر ِهِيْأَرِب َكْيَلَعَف ىِنْعَي َكِسْفَنِب َو ْعَد َكْنَع َّماَوَعلْا ، َّنِاَف ْنِم ْمُكِئاَرَو َماَّيَا ِرْبَّصلا . ُرْبَّصلا ِهْيِف ُلْثِم ٍضْبَق ىَلَع ِرْمَجلْا ، ِلِماَعْلِل ْمِهْيِف ُلْثِم ِرْجَا َنْيِسْمَخ ًالُجَر َنْوُلَمْعَي َلْثِم ِهِلَمَع . َو ىِناَداَز ُهُرْيَغ . اَي َلْوُسَر ِهللا ، ُرْجَا َنْيِسْمَخ ؟ْمُهْنِم َلاَق : ُرْجَا َنْيِسْمَخ ْمُكْنِم . وبا دواد Dari Abu Umayyah Asy-Sya‘ baniy, ia berkata : Saya pernah
bertanya kepada Abu Tsa‘ labah, aku bertanya, “Hai Abu Tsa‘ labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ‘ alaikum anfusakum ? - Al- Maaidah : 105“. Ia berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan
sesuatu yang aku pernah
menanyakannya kepada
Rasulullah SAW“, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma‘ ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat
kebakhilan ditha‘ ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah
mewarnai, dan orang bangga
dengan pendapatnya, maka wajib
atasmu (yakni menjaga dirimu),
tinggalkanlah keumuman orang,
karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran.
Shabar pada waktu itu seperti
orang yang menggenggam bara
api. Bagi orang yang melakukan
(amar ma‘ ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari
itu akan mendapat pahala lima
puluh orang yang beramal
seperti dia“. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku
selain dia, ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima
puluh orang dari mereka ?“. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian“. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123] Semoga Allah memilih kita menjadi
bagian dari para penegak sunnah
Rasulullah SAW, sehingga berhak
mendapatkan janji-Nya, aamiin.
kedatangan Islam, bangsa Arab
terkenal sebagai bangsa padang
pasir yang yang suka berperang,
saling menyerang dan menjadikan
tawanan dan budak belian pihak yang kalah perang. Membunuh
anak perempuan merupakan hal
yang biasa. Meminum minuman
keras, berjudi, berdusta, dan
berzina sudah menjadi kebiasaan. Menyembah berhala menjadi
ritual yang kental dalam
keseharian. Tidak ada panas,
tidak ada hujan, tidak ada
halilintar yang menyambar, tiba-
tiba mereka dikejutkan oleh Muhammad SAW yang menyeru
untuk meninggalkan kebiasaan
buruk mereka. Beliau menyeru manusia untuk
bertauhid dan meninggalkan
syirik termasuk menyembah
berhala. Beliau menyeru manusia
untuk berpegang teguh pada
agama Allah dan tidak bercerai berai. Beliau memuliakan wanita.
Melarang membunuh nyawa
kecuali dalam keadaan tertentu,
termasuk melarang mencabut
nyawa sendiri. Beliau melarang umat Islam
meminum minuman keras, berjudi,
berdusta, dan berzina. Sudah
pasti ajaran yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW mereka
pandang dengan sebelah mata. Mereka merasa ajaran itu asing
karena banyak hal yang mereka
gemari justru dilarang. Memang benar bahwa datangnya
Islam itu pada mulanya asing,
seperti apa yang pernah
diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah SAW bersabda: َّنِا َمَالْسِالْا َأَدَب اًبْيِرَغ َو ُدْوُعَيَس اًبْيِرَغ اَمَك َأَدَب ، ىَبْوُطَف ِءاَبَرُغْلِل . َلْيِق : اَي َلْوُسَر ِهللا ، َو اَم ؟ُءاَبَرُغلْا َلاَق : َنْيِذَّلَا َنْوُحِلْصُي َدْنِع ِداَسَف ِساَّنلا . و ىف ةياور ، َلاَقَف : َنْيِذَّلَا َنْوُيْحُي اَم َتاَمَا ُساَّنلا ْنِم ىِتَّنُس . ملسم و نبا هجام و ىناربطلا “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing
(tidak umum), dan akan kembali
dengan asing lagi seperti pada
mulanya datang. Maka
berbahagialah bagi orang-orang
yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang
yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya
manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-
orang yang asing), beliau
menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-
apa yang telah dimatikan
manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani] “Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’ uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing
seperti datangnya.) Sebagai
akibatnya orang yang
mengamalkan ajaran Islam akan
terasing di tengah-tengah
masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan
dan terkucilkan. Akan tetapi Rasulullah SAW
menggembirakan orang-orang
yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang- orang yang terasing.) Siapakah
orang-orang yang terasing itu?
Menurut sebuah hadist yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim
mereka itu adalah orang-orang
yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia. Dalam hadist lain disebutkan
mereka itu adalah orang-orang
yang menghidupkan sunnah
Rasulullah SAW di saat orang-
orang lain mematikannya. Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu
Wahab, beliau SAW bersabda : ىَبْوُط ِءاَبَرُغْلِل َنْيِذَّلا َنْوُكِسْمُي َباَتِك ِهللا َنْيِح ُكَرْتُي َو َنْوُلَمْعَي ِةَّنُّسلاِب َنْيِح ىَفْطُت . Kebahagiaan bagi orang-orang
yang asing, yaitu mereka yang
berpegang teguh dengan kitab
Allah ketika ditinggalkan orang
banyak dan mengerjakan dengan
sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak. Saat ini di negeri ini sulit mencari
orang yang jujur, padahal
mayoritas penduduk beragama
Islam dan Islam mengajarkan
kejujuran. Dalam berbagai
persidangan kita saksikan banyaknya saksi maupun
tersangka yang mengubah-ubah
kesaksian, seolah-olah mereka
belum pernah disumpah. Maka wajar kalau ada orang
yang mengatakan bahwa hukum
bisa dibeli. Saat ini di negeri ini
sulit mencari wakil rakyat yang
amanah, meskipun mayoritas
wakil rakyat beragama Islam dan Islam mengajarkan sikap amanah.
Yang banyak adalah wakil rakyat
yang sibuk memikirkan
bagaimana caranya
mempermainkan aturan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi merasa
bertanggung jawab terhadap
Allah. Saat ini di negeri ini Islam
telah kembali asing meskipun
berada di tengah masyarakat
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun
berbahagialah orang yang asing,
karena menegakkan sunnah di
masa seperti ini Allah menjanjikan
pahala 50 kali pahala para
sahabat Rasulullah SAW. ْنَع ىِبَا َةَّيَمُا ّيِناَبْعَّشلا ، َلاَق : ُتْلَأَس اَبَا َةَبَلْعَث َّيِنَشُخلْا ُتْلُقَف : اَي اَبَا َةَبَلْعَث ، َفْيَك ُلْوُقَت ىِف ِهِذه ِةَيالْا ْمُكْيَلَع ْمُكَسُفْنَا . َلاَق : اَمَا َو ِهللا ْدَقَل َتْلَأَس اَهْنَع اًرْيِبَخ ُتْلَأَس اَهْنَع َلْوُسَر ِهللا ص َلاَقَف : ْلَب اْوُرِمَتْئِا ِفْوُرْعَملْاِب َو اْوَهاَنَت ِنَع ِرَكْنُملْا ىَّتَح اَذِا َتْيَأَر اًّحُش اًعاَطُم َو ىًوَه اًعَبَّتُم َو اَيْنُد ًةَرَثْؤُم َباَجْعِاَف ّلُك ىِذ ٍيْأَر ِهِيْأَرِب َكْيَلَعَف ىِنْعَي َكِسْفَنِب َو ْعَد َكْنَع َّماَوَعلْا ، َّنِاَف ْنِم ْمُكِئاَرَو َماَّيَا ِرْبَّصلا . ُرْبَّصلا ِهْيِف ُلْثِم ٍضْبَق ىَلَع ِرْمَجلْا ، ِلِماَعْلِل ْمِهْيِف ُلْثِم ِرْجَا َنْيِسْمَخ ًالُجَر َنْوُلَمْعَي َلْثِم ِهِلَمَع . َو ىِناَداَز ُهُرْيَغ . اَي َلْوُسَر ِهللا ، ُرْجَا َنْيِسْمَخ ؟ْمُهْنِم َلاَق : ُرْجَا َنْيِسْمَخ ْمُكْنِم . وبا دواد Dari Abu Umayyah Asy-Sya‘ baniy, ia berkata : Saya pernah
bertanya kepada Abu Tsa‘ labah, aku bertanya, “Hai Abu Tsa‘ labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ‘ alaikum anfusakum ? - Al- Maaidah : 105“. Ia berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan
sesuatu yang aku pernah
menanyakannya kepada
Rasulullah SAW“, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma‘ ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat
kebakhilan ditha‘ ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah
mewarnai, dan orang bangga
dengan pendapatnya, maka wajib
atasmu (yakni menjaga dirimu),
tinggalkanlah keumuman orang,
karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran.
Shabar pada waktu itu seperti
orang yang menggenggam bara
api. Bagi orang yang melakukan
(amar ma‘ ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari
itu akan mendapat pahala lima
puluh orang yang beramal
seperti dia“. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku
selain dia, ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima
puluh orang dari mereka ?“. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian“. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123] Semoga Allah memilih kita menjadi
bagian dari para penegak sunnah
Rasulullah SAW, sehingga berhak
mendapatkan janji-Nya, aamiin.
Selasa, 25 Januari 2011
A K H L A K
Globalisasi telah membawa
dampak buruk berupa masuknya
berbagai jenis narkoba ke negari
kita. Sangsi yang lebih ringan
dari negeri tetangga,
menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan negeri
ini sorga bagi pemasaran
produknya. Menurut Badan
Narkotika Nasional (BNN) saat ini
tercatat ada 3,6 juta pecandu
narkoba. Yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi. Tidak
kurang 41 orang meninggal
setiap hari karena penyalah-
gunaan narkoba. Trilyunan rupiah
per tahun harus dikeluarkan oleh
Pemerintah untuk menangani narkoba. Derasnya arus informasi dan
komunikasi ternyata juga
membawa dampak negatif yang
lain, seperti penyalah-gunaan
seksual. Semakin lancarnya arus
transportasi manusia antar negara, juga menyebabkan
semakin pesatnya penyebaran
HIV/AIDS. Lagi-lagi Pemerintah
harus menyisihkan trilyunan
rupiah untuk mengatasi dampak
HIV/AIDS. Penyalah-gunaan narkoba dan
penyalah-gunaan seksual hanya
bisa diatasi secara efektif
dengan pembangunan akhlak
seluruh komponen bangsa.
Sayang pembangunan akhlak bangsa ini tidak menjadi prioritas
utama, sehingga berbagai
prestasi pembangunan fisik yang
dicapai digerogoti oleh orang-
orang yang rusak akhlaknya. KKN
tumbuh subur dimana-mana. Meskipun kaya, negara ini bisa
bangkrut karenanya. Anggaran
pemerintah yang bocor, harta
milik negara yang dikuras
koruptor, kekayaan alam yang
dibawa lari pencuri dari luar negeri, dan bahan tambang yang
dikeruk perusahaan asing lebih
dari cukup untuk memakmurkan
bangsa. Saudaraku, jangan tunda lagi
untuk membangun akhlak sendiri.
Gunakan kesempatan Ramadhan
tahun ini untuk memperbaiki diri.
Perbaikilah akhlak kita kepada
Allah, tingkatkan ketakwaan, taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Selalu segarkan
dalam ingatan bahwa kita ini
hanyalah pelayan, budak, dan
hamba Allah. Seorang budak
tidak patut kiranya bermaksiat kepada Tuhannya. Allah yang
memegang kunci keberuntungan
dan kebuntungan kita dalam
kehidupan kekal, kelak di
akherat. Demi keberuntungan
pegang erat dan perkuatlah hablum minalloohi. Perbaiki akhlak kita kepada
sesama. Kepada yang lebih tua
kita menghormat, kepada yang
lebih muda kita menyayanginya.
Tanamkan di dalam diri, bahwa
yang paling mulia di antara manusia adalah yang bertakwa.
“Inna akramakum ‘ indalloohi atqookum“. … .Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
adalah orang yang bertakwa… ( QS Al Hujurat 49 : 13). Yang menjadi pejabat jangan
sombong dan merasa besar
kepada rakyat jelata. Orang
sombong tidak akan masuk
surga. Namun bagi rakyat juga
jangan merasa minder dan merasa rendah diri kepada para
pejabat. Karena minder dan
merasa rendah diri termasuk
syirik. Dekatkan diri dengan
orang-orang beriman,
tumbuhkan kasih sayang sesama mereka. Jaga jarak dengan
orang-orang yang memilih jalan
kekafiran dari pada keimanan.
Pegang erat dan perkuatlah
hablum minannaasi. Hanya dengan memegang erat
hablum minalloohi (tali agama
Allah) dan hablum minannaasi (tali
perjanjian dengan manusia),
maka orang beriman akan
terhindar dari kehinaan Mereka diliputi kehinaan di mana
saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka
diliputi kerendahan. Yang
demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi tanpa
alasan yang benar. Yang
demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui batas.
(QS Ali Imran 3: 112). Sambil memperkuat diri, mari kita
tingkatkan dakwah kepada
orang-orang di sekitar kita. Tak
peduli kaya atau miskin, pejabat
atau rakyat, tua atau muda,
kita ajak mereka untuk bertaubat, kembali ke jalan Allah,
jalan kebaikan dan kebenaran. Kita sambut limpahan ampunan
Allah, karena Allah berjanji akan
mengampuni dosa-dosa
semuanya Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS Az Zumar 39: 53). Kita sadarkan mereka agar lebih
peduli terhadap perbaikan akhlak
bangsa. Masa depan negeri ini
tergantung kualitas akhlak para
penghuninya, tergantung akhlak
bangsanya. Mari kita arahkan pembangunan
negeri ini dengan
mengedepankan pembangunan
jiwa, pembangunan akhlak.
Sebagaimana tercermin dalam
lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah bandannya,
untuk Indonesia Raya“. Membangun jiwa hendaknya lebih
diutamakan dari pada badan.
Semoga Allah memudahkan
langkah kita untuk memperbaiki
diri dan memperbaiki akhlak
bangsa ini, Aamiin.
dampak buruk berupa masuknya
berbagai jenis narkoba ke negari
kita. Sangsi yang lebih ringan
dari negeri tetangga,
menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan negeri
ini sorga bagi pemasaran
produknya. Menurut Badan
Narkotika Nasional (BNN) saat ini
tercatat ada 3,6 juta pecandu
narkoba. Yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi. Tidak
kurang 41 orang meninggal
setiap hari karena penyalah-
gunaan narkoba. Trilyunan rupiah
per tahun harus dikeluarkan oleh
Pemerintah untuk menangani narkoba. Derasnya arus informasi dan
komunikasi ternyata juga
membawa dampak negatif yang
lain, seperti penyalah-gunaan
seksual. Semakin lancarnya arus
transportasi manusia antar negara, juga menyebabkan
semakin pesatnya penyebaran
HIV/AIDS. Lagi-lagi Pemerintah
harus menyisihkan trilyunan
rupiah untuk mengatasi dampak
HIV/AIDS. Penyalah-gunaan narkoba dan
penyalah-gunaan seksual hanya
bisa diatasi secara efektif
dengan pembangunan akhlak
seluruh komponen bangsa.
Sayang pembangunan akhlak bangsa ini tidak menjadi prioritas
utama, sehingga berbagai
prestasi pembangunan fisik yang
dicapai digerogoti oleh orang-
orang yang rusak akhlaknya. KKN
tumbuh subur dimana-mana. Meskipun kaya, negara ini bisa
bangkrut karenanya. Anggaran
pemerintah yang bocor, harta
milik negara yang dikuras
koruptor, kekayaan alam yang
dibawa lari pencuri dari luar negeri, dan bahan tambang yang
dikeruk perusahaan asing lebih
dari cukup untuk memakmurkan
bangsa. Saudaraku, jangan tunda lagi
untuk membangun akhlak sendiri.
Gunakan kesempatan Ramadhan
tahun ini untuk memperbaiki diri.
Perbaikilah akhlak kita kepada
Allah, tingkatkan ketakwaan, taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Selalu segarkan
dalam ingatan bahwa kita ini
hanyalah pelayan, budak, dan
hamba Allah. Seorang budak
tidak patut kiranya bermaksiat kepada Tuhannya. Allah yang
memegang kunci keberuntungan
dan kebuntungan kita dalam
kehidupan kekal, kelak di
akherat. Demi keberuntungan
pegang erat dan perkuatlah hablum minalloohi. Perbaiki akhlak kita kepada
sesama. Kepada yang lebih tua
kita menghormat, kepada yang
lebih muda kita menyayanginya.
Tanamkan di dalam diri, bahwa
yang paling mulia di antara manusia adalah yang bertakwa.
“Inna akramakum ‘ indalloohi atqookum“. … .Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
adalah orang yang bertakwa… ( QS Al Hujurat 49 : 13). Yang menjadi pejabat jangan
sombong dan merasa besar
kepada rakyat jelata. Orang
sombong tidak akan masuk
surga. Namun bagi rakyat juga
jangan merasa minder dan merasa rendah diri kepada para
pejabat. Karena minder dan
merasa rendah diri termasuk
syirik. Dekatkan diri dengan
orang-orang beriman,
tumbuhkan kasih sayang sesama mereka. Jaga jarak dengan
orang-orang yang memilih jalan
kekafiran dari pada keimanan.
Pegang erat dan perkuatlah
hablum minannaasi. Hanya dengan memegang erat
hablum minalloohi (tali agama
Allah) dan hablum minannaasi (tali
perjanjian dengan manusia),
maka orang beriman akan
terhindar dari kehinaan Mereka diliputi kehinaan di mana
saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka
diliputi kerendahan. Yang
demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi tanpa
alasan yang benar. Yang
demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui batas.
(QS Ali Imran 3: 112). Sambil memperkuat diri, mari kita
tingkatkan dakwah kepada
orang-orang di sekitar kita. Tak
peduli kaya atau miskin, pejabat
atau rakyat, tua atau muda,
kita ajak mereka untuk bertaubat, kembali ke jalan Allah,
jalan kebaikan dan kebenaran. Kita sambut limpahan ampunan
Allah, karena Allah berjanji akan
mengampuni dosa-dosa
semuanya Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS Az Zumar 39: 53). Kita sadarkan mereka agar lebih
peduli terhadap perbaikan akhlak
bangsa. Masa depan negeri ini
tergantung kualitas akhlak para
penghuninya, tergantung akhlak
bangsanya. Mari kita arahkan pembangunan
negeri ini dengan
mengedepankan pembangunan
jiwa, pembangunan akhlak.
Sebagaimana tercermin dalam
lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah bandannya,
untuk Indonesia Raya“. Membangun jiwa hendaknya lebih
diutamakan dari pada badan.
Semoga Allah memudahkan
langkah kita untuk memperbaiki
diri dan memperbaiki akhlak
bangsa ini, Aamiin.
MEMEGANG TEGUH ALQURAN DAN AS-SUNAH
Keterpurukan dan kondisi umat
Islam saat ini, bukan disebabkan
karena kehebatan dan kemajuan
umat lain. Namun disebabkan oleh
kesalahan kita sendiri dalam
memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Sebagian pemuka agama ada
yang berperilaku seperti perilaku
pemuka agama Yahudi dan
Nasrani. Mereka menyembunyikan yang
haq, karena alasan yang bersifat
pribadi. Bahkan sebagian yang
lain menyembunyikannya karena
alasan rejeki. Padahal Ar Razaq
itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang
barakah kalau jalannya dengan
menyembunyikan yang haq?
Sebagian yang lain suka
mencampur adukkan yang haq
dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas
mana yang halal dan mana yang
haram. Kebenaran yang
seharusnya disampaikan dengan
jelas menjadi kabur, kelihatan
samar-samar. Sedangkan sebagian besar
rakyat jelata malas mempelajari
kebenaran langsung dari
sumbernya Al Qur’ an dan As Sunnah. Sehingga apa yang
mereka dapatkan kebatilan yang
dipoles sehingga seolah-olah
nampak benar. Yang mereka
jadikan rujukan hanya mitos,
tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’ an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat
menjamin kebenaran dari
ketiganya? Tidak ada sama
sekali. Apalagi sebagian yang lain lebih
suka hiburan, foya-foya, dan
memuaskan hawa nafsu dari
pada menuntut ilmu. Panggung-
panggung hiburan yang
menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi
oleh anak-anak muda, laki-laki
maupun perempuan yang
bercampur baur. Sedang
pengajian yang mengajarkan Al
Qur’ an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka
tidak suka dibimbing untuk
menjadi bangsa yang maju
terpimpin. Mereka lebih suka
hidup bebas untuk memuaskan
hawa nafsu. Maka tidak heran kalau yang
kita lihat bukan kemajuan tapi
kemerosotan, bukan prestasi
tapi dekadensi, bukan kehidupan
yang aman, tenteram, damai,
dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh
kebencian dan kedengkian. Bagaimana kita dapat
memperbaiki-nya? Sudahkah kita
terlambat untuk berbuat? Tidak
ada kata terlambat untuk
bertaubat. Selama hayat masih
dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah
tetap akan menghargai
pertaubatan kita. Sebagai orang
awam sebaiknya segera kita
berusaha untuk mempelajari Al
Qur’ an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan
tersesat dalam beramal.
Rasulullah saw berwasiat dalam
sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil
Barr : “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang
kamu tidak akan sesat selama
kamu berpegang teguh kepada
keduanya, yaitu Kitab Allah dan
Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’ an dan As Sunnah segera kita amalkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan inilah yang memungkinkan
terjadinya proses perubahan
karakter kita yang jelek manjadi
baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak
menjadi ikhlas. Dalam hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Hakim dari Hudzaifah
Rasulullah saw berpesan: Duru
ma’ a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian
beredar bersama kitab Allah
kemana saja dia beredar).
Rasulullah saw mengajak kita
semua untuk senantiasa
mengikuti Al Qur’ an. Menjadikan Al Qur’ an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan
menjadikannya sebagai rujukan
atas kebenaran, karena Al
Qur’ an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakangnya (TQS
41: 42). اَذَهَو ٌباَتِك ُهاَنْلَزْنَأ ٌكَراَبُم ُهوُعِبَّتاَف اوُقَّتاَو ْمُكَّلَعَل َنوُمَحْرُت Dan Al Qur’ an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang
diberkati, maka ikutilah dia dan
bertakwalah agar kamu diberi
rahmat (TQS 6: 155) Ayat yang dikutip di atas
mengingatkan kepada kita semua
untuk mengikutinya, mengikuti
aturan, tata kehidupan dan nilai-
nilai moral yang diajarkan Allah di
dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita
mendapatkan kasih sayang-Nya. Begitu pentingnya bertakwa
sehingga beliau saw juga
berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.)
Umat ini terpuruk dan hina
karena jauh dari cinta dan kasih
sayang-Nya. Untuk itu hanya
dengan kembali bertaat kepada-
Nya dan mengikuti sunnah nabi- Nya kita akan mendapatkan
cinta dan kasih sayangnya (QS 3:
31). Bahkan dengan jalan
berbuat taat kepada Allah dan
Rasul-Nya inilah kita akan
mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi
sebaliknya kalau kita durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya yang
akan kita peroleh tiada lain
kecuali neraka dan siksa yang
menghinakan (QS 4: 14). Sebagai tokoh masyarakat,
pemuka agama, atau orang yang
dituakan di lingkungannya,
hendaklah kita berusaha untuk
senantiasa meningkatkan
kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan
senantiasa mengoreksi pikiran,
ucapan, dan amalan kita dengan
ayat-ayat Al Qur’ an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita
syukuri dengan terus
meningkatkan diri dan apa yang
tidak sesuai segera kita
tinggalkan. Dunia ini bergerak dengan cepat,
anak muda maju dengan pesat
didukung oleh berbagai fasilitas
baru seperti CD, komputer,
televisi, dan internet. Sebagai
orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup
ilmu yang dimiliki, maka kita akan
tertinggal dari yang muda. Bukan
masanya lagi kita
memperdebatkan khilafiyyah.
Dengan semangat kembali kepada Al Qur’ an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati.
Lana a’ maluna walakum a’ malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang
tidak bisa mari kita sama-sama
bekerja
Islam saat ini, bukan disebabkan
karena kehebatan dan kemajuan
umat lain. Namun disebabkan oleh
kesalahan kita sendiri dalam
memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Sebagian pemuka agama ada
yang berperilaku seperti perilaku
pemuka agama Yahudi dan
Nasrani. Mereka menyembunyikan yang
haq, karena alasan yang bersifat
pribadi. Bahkan sebagian yang
lain menyembunyikannya karena
alasan rejeki. Padahal Ar Razaq
itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang
barakah kalau jalannya dengan
menyembunyikan yang haq?
Sebagian yang lain suka
mencampur adukkan yang haq
dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas
mana yang halal dan mana yang
haram. Kebenaran yang
seharusnya disampaikan dengan
jelas menjadi kabur, kelihatan
samar-samar. Sedangkan sebagian besar
rakyat jelata malas mempelajari
kebenaran langsung dari
sumbernya Al Qur’ an dan As Sunnah. Sehingga apa yang
mereka dapatkan kebatilan yang
dipoles sehingga seolah-olah
nampak benar. Yang mereka
jadikan rujukan hanya mitos,
tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’ an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat
menjamin kebenaran dari
ketiganya? Tidak ada sama
sekali. Apalagi sebagian yang lain lebih
suka hiburan, foya-foya, dan
memuaskan hawa nafsu dari
pada menuntut ilmu. Panggung-
panggung hiburan yang
menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi
oleh anak-anak muda, laki-laki
maupun perempuan yang
bercampur baur. Sedang
pengajian yang mengajarkan Al
Qur’ an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka
tidak suka dibimbing untuk
menjadi bangsa yang maju
terpimpin. Mereka lebih suka
hidup bebas untuk memuaskan
hawa nafsu. Maka tidak heran kalau yang
kita lihat bukan kemajuan tapi
kemerosotan, bukan prestasi
tapi dekadensi, bukan kehidupan
yang aman, tenteram, damai,
dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh
kebencian dan kedengkian. Bagaimana kita dapat
memperbaiki-nya? Sudahkah kita
terlambat untuk berbuat? Tidak
ada kata terlambat untuk
bertaubat. Selama hayat masih
dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah
tetap akan menghargai
pertaubatan kita. Sebagai orang
awam sebaiknya segera kita
berusaha untuk mempelajari Al
Qur’ an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan
tersesat dalam beramal.
Rasulullah saw berwasiat dalam
sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil
Barr : “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang
kamu tidak akan sesat selama
kamu berpegang teguh kepada
keduanya, yaitu Kitab Allah dan
Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’ an dan As Sunnah segera kita amalkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan inilah yang memungkinkan
terjadinya proses perubahan
karakter kita yang jelek manjadi
baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak
menjadi ikhlas. Dalam hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Hakim dari Hudzaifah
Rasulullah saw berpesan: Duru
ma’ a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian
beredar bersama kitab Allah
kemana saja dia beredar).
Rasulullah saw mengajak kita
semua untuk senantiasa
mengikuti Al Qur’ an. Menjadikan Al Qur’ an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan
menjadikannya sebagai rujukan
atas kebenaran, karena Al
Qur’ an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakangnya (TQS
41: 42). اَذَهَو ٌباَتِك ُهاَنْلَزْنَأ ٌكَراَبُم ُهوُعِبَّتاَف اوُقَّتاَو ْمُكَّلَعَل َنوُمَحْرُت Dan Al Qur’ an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang
diberkati, maka ikutilah dia dan
bertakwalah agar kamu diberi
rahmat (TQS 6: 155) Ayat yang dikutip di atas
mengingatkan kepada kita semua
untuk mengikutinya, mengikuti
aturan, tata kehidupan dan nilai-
nilai moral yang diajarkan Allah di
dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita
mendapatkan kasih sayang-Nya. Begitu pentingnya bertakwa
sehingga beliau saw juga
berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.)
Umat ini terpuruk dan hina
karena jauh dari cinta dan kasih
sayang-Nya. Untuk itu hanya
dengan kembali bertaat kepada-
Nya dan mengikuti sunnah nabi- Nya kita akan mendapatkan
cinta dan kasih sayangnya (QS 3:
31). Bahkan dengan jalan
berbuat taat kepada Allah dan
Rasul-Nya inilah kita akan
mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi
sebaliknya kalau kita durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya yang
akan kita peroleh tiada lain
kecuali neraka dan siksa yang
menghinakan (QS 4: 14). Sebagai tokoh masyarakat,
pemuka agama, atau orang yang
dituakan di lingkungannya,
hendaklah kita berusaha untuk
senantiasa meningkatkan
kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan
senantiasa mengoreksi pikiran,
ucapan, dan amalan kita dengan
ayat-ayat Al Qur’ an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita
syukuri dengan terus
meningkatkan diri dan apa yang
tidak sesuai segera kita
tinggalkan. Dunia ini bergerak dengan cepat,
anak muda maju dengan pesat
didukung oleh berbagai fasilitas
baru seperti CD, komputer,
televisi, dan internet. Sebagai
orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup
ilmu yang dimiliki, maka kita akan
tertinggal dari yang muda. Bukan
masanya lagi kita
memperdebatkan khilafiyyah.
Dengan semangat kembali kepada Al Qur’ an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati.
Lana a’ maluna walakum a’ malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang
tidak bisa mari kita sama-sama
bekerja
KATAKAN YANG BENAR SEKALIPUN PAHIT
Kemewahan dan gemerlapnya
dunia telah mampu memperdaya
banyak manusia. Membelokkan
mereka dari penghambaan
kepada Alllah menuju
pengagungan kepada harta dunia. Pola kehidupan
materialistis telah menyeret
banyak orang untuk bangga,
cinta dan menghamba kepada
harta, tahta dan wanita. Mereka
yang licik menggunakan akalnya untuk mbrobosi aturan agar
mendapatkan keuntungan. Mereka yang kuat/berkuasa
menggunakan ototnya untuk
mengeruk kekayaan tanpa kenal
halal haram. Mereka sikut kanan
kiri, mereka singkirkan orang-
orang yang baik, mereka tendang orang-orang yang
berpotensi yang mereka anggap
akan mengancam posisinya.
Mereka rangkul kroni-kroni dan
orang-orang yang bermental ABS
(Asal Bapak Senang) untuk meneguhkan kedudukannya. Mereka kedepankan kebengisan
untuk menunjukkan bahwa dialah
yang berkuasa. Mereka sebarkan
intimidasi agar orang tidak
mengusik kemaksiatan yang
sedang mereka nikmati. Mereka tampilkan kebijakan tangan besi
terhadap orang yang lemah dan
tidak berdaya untuk melakukan
perlawanan. Prita Mulyasari yang di meja
hijaukan karena curhat melalui
email di Jakarta, mbah Minah
yang mengambil 3 biji kakao di
Banyumas, Basar dan Kholik yang
mengambil satu biji semangka di Kediri menjadi bukti pendekatan
tangan besi yang dilakukan oleh
orang kuat terhadap yang
lemah. Sedang mereka yang
membawa lari milyaran bahkan
trilyunan uang rakyat, menghirup udara segar di
berbagai belahan dunia. Sedang
yang masuk penjarapun mampu
membeli perlakuan khusus, kamar
khusus, dan fasilitas khusus
selama tidak ada kunjungan pejabat tinggi. Para pengusaha dan pejabat
menjadi hamba harta dunia
Hukum dan keadilan bisa mereka
perjual belikan. Mafia peradilan
dan makelar kasus merajalela.
Maka pantas kalau Rasulullah saw pernah memberitakan
bahwa di antara tiga hakim, ada
dua yang masuk neraka dan
hanya satu yang masuk sorga.
Dalam situasi seperti ini
kebanyakan manusia menjadi takut mendapatkan resiko yang
berat untuk menyuarakan
kebenaran. Padahal Islam
mengajarkan kepada kita semua
bahwa kehidupan dunia ini hanya
sementara. Sedang yang kekal adalah kehidupan akherat. Maka
mestinya kita tidak takut
mendapatkan resiko dalam
kehidupan yang hanya
sementara ini, tetapi lebih takut
mendapatkan resiko dalam kehidupan yang kekal di akherat. Imam Baihaqi meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw pernah
berpesan kepada Abu Dzar Al
Ghifari agar mencintai orang
miskin dan lemah dan supaya
mengatakan yang benar meskipun pahit. ْنَع ىِبَا ٍّرَذ ضر َلاَق : ىِناَصْوَا ىِلْيِلَخ ص ٍلاَصِخِب َنِم ِرْيَخلْا . ىِناَصْوَا ْنَا َال َرُظْنَا ىَلِا ْنَم َوُه ىِقْوَف ، َو ْنَا َرُظْنَا ْنَم َوُه ىِنْوُد . َو ىِناَصْوَا ِّبُحِب ِنْيِكاَسَملْا َو ِّوُنُّدلا ْمُهْنِم ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َلِصَا ىِمِحَر َو ْنِا ْتَرَبْدَا ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َال َفاَخَا ىِف ِهللا َةَمْوَل ٍمِءَال ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َلْوُقَا َّقَحلْا َو ْنِا َناَك اًّرُم ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َرِثْكُا ْنِم َال َلْوَح َو َال َةَّوُق َّالِا ِهللاِب . اَهَّنِاَف ٌزْنَك ْنِم ِزْوُنُك ِةَّنَجلْا . ىناربطلا و نبا نابح ىف هحيحص و ظفللا هل ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Dzarr RA, ia berkata,
“Kekasihku Rasulullah SAW mewashiyatkan kepadaku
dengan beberapa kebaikan.
Beliau mewashiyatkan kepadaku
agar tidak melihat kepada orang
yang diatasku dan supaya aku
melihat kepada orang yang di bawahku. Beliau mewashiyatkan kepadaku
supaya mencintai orang-
orang miskin dan orang-
orang yang lemah. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar
aku menyambung hubungan
sanak saudaraku meskipun
mereka berpaling. Beliau
mewashiyatkan kepadaku supaya
karena Allah aku tidak takut celaan orang yang mencela. Beliau mewashiyatkan
kepadaku supaya aku
mengatakan yang benar
meskipun pahit (akibatnya). Dan beliau mewashiyatkan
kepadaku supaya memperbanyak
ucapan “Laa haula walaa quwwata illa billaah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali atas
pertolongan Allah), karena
ucapan itu merupakan simpanan
dari simpanan-simpanan surga”. [HR. Thabrani dan Ibnu Hibban di
dalam shahihnya dan lafadh ini
baginya, dalam Targhib wat
Tarhib 3: 337] Sebagai pemeluk agama Islam,
kita telah dimuliakan Allah
dengan iman. Allah telah membeli
diri dan harta kita dengan sorga
[QS. At-Taubah : 111]. َّنِإ َهَّللا ىَرَتْشا َنِم َنيِنِمْؤُمْلا ْمُهَسُفْنَأ ْمُهَلاَوْمَأَو َّنَأِب ُمُهَل َةَّنَجْلا َنوُلِتاَقُي يِف ِليِبَس ِهَّللا َنوُلُتْقَيَف َنوُلَتْقُيَو اًدْعَو ِهْيَلَع اًّقَح يِف ِةاَرْوَّتلا ِليِجْنإلاَو ِنآْرُقْلاَو ْنَمَو ىَفْوَأ ِهِدْهَعِب َنِم ِهَّللا اوُرِشْبَتْساَف ُمُكِعْيَبِب يِذَّلا ْمُتْعَياَب ِهِب َكِلَذَو َوُه ُزْوَفْلا ُميِظَعْلا “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk
mereka. mereka berperang pada
jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil
dan Al Quran. dan siapakah yang
lebih menepati janjinya (selain)
daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
Itulah kemenangan yang besar.” Maka tidak layak bagi kita untuk
membeo, mengamini kedzoliman
para penguasa terhadap orang-
orang yang lemah. Kita harus
berani tampil di barisan depan
dalam menyuarakan kebenaran. Bangsa ini sedang diseret oleh
para penguasa dan pengusaha
kaya yang jahat menuju
kehancuran untuk kepentingan
pribadi mereka masing-masing.
Siapa lagi kalau bukan kita yang harus tampil di depan
membelokkan arah kehidupan
bangsa ini menuju jalan
keselamatan dengan
memperjuangkan dan
menegakkan kebenaran. Semangat para facebookers
dalam membela Bibit S Riyanto
dan Chandra M Chamsyah dan
para pengumpul koin untuk
mendukung Prita Mulyasari patut
kita hargai. Cara-cara damai untuk memperjuangkan
kebenaran yang mereka lakukan
patut kita acungi jempol. Mari
kita jaga lentera kebenaran
yang sudah terang menyala ini
demi kejayaan bangsa. Di depan badai mungkin
menghadang. Namun dengan
kebersamaan dan persatuan
yang lemah akan menjadi kuat,
yang kecil akan menjadi besar,
yang berat akan menjadi ringan, dan yang sulit akan menjadi
mudah. Dalam kebersamaan yang
pahitpun akan terasa menjadi
manis. Semoga Allah menguatkan
hati kita semua untuk senantiasa
berkata yang benar meskipun akibatnya terasa pahit.
4 AMANAH ISTIMEWA
Sudah sewajarnya dan memang
itu adalah sunnatullah, ketika
seseorang berjalan menuju
syurga PASTI akan menemui
rintangan dan halangan.
Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau
beranggapan neraka hanyalah
sebagai cerita fiktif dari
Rosululloh SAW, maka menuju
kesana terasa mudah, ringan,
nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun. Manusia atau lazimnya dalam Al
Qur’ an disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama
bahwa hidup didunia adalah
sebagai lading pencarian bekal
hidup di akherat. Kehidupan
akherat yang abadi, penuh
dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan
buruk, nikmat atau siksa. Sebagai orang beriman yang
sedang berusaha KERAS menuju
taqwa, kita diberi amanah, dan
ciri-ciri manusia bertaqwa adalah
mampu mengemban amanah
dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah
untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT, menjadi
khalifah di muka bumi dan
berdakwah kepada yang ma’ ruf serta menjauhi dengan sangat
semua hal kemungkaran. اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع ُتاَواَمَّسلا ُضْرألاَو ْتَّدِعُأ َنيِقَّتُمْلِل - ١٣٣ َنيِذَّلا َنوُقِفْنُي يِف ِءاَّرَّسلا ِءاَّرَّضلاَو َنيِمِظاَكْلاَو َظْيَغْلا َنيِفاَعْلاَو ِنَع ِساَّنلا ُهَّللاَو ُّبِحُي َنيِنِسْحُمْلا - ١٣٤ َنيِذَّلاَو اَذِإ اوُلَعَف ًةَشِحاَف ْوَأ اوُمَلَظ ْمُهَسُفْنَأ اوُرَكَذ َهَّللا اوُرَفْغَتْساَف ْمِهِبوُنُذِل ْنَمَو ُرِفْغَي َبوُنُّذلا الِإ ُهَّللا ْمَلَو اوُّرِصُي ىَلَع اَم اوُلَعَف ْمُهَو َنوُمَلْعَي - ١٣٥ 133. dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema’ afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau Menganiaya
diri sendiri[229], mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. [229] Yang dimaksud perbuatan
keji (faahisyah) ialah dosa besar
yang mana mudharatnya tidak
hanya menimpa diri sendiri tetapi
juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana
mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau
kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135) Dari berbagai amanat dan
kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang
terasa berat dan susah
untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau
sulit) dan Allah SWT memberikan
derajat yang mulia jika kita bisa
melaksanakannya dengan baik
dan maksimal. Empat Amanat
yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut
adalah : 1. Memberi Maaf ketika
Marah … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’ afkan (kesalahan) orang. Seringkali kita merasakan
sesaknya dada, panasnya pikiran
dan tergesanya indera-indera
lainnya dalam memutuskan
sesuatu ketika sedang marah. Marah dalam hal baikpun perlu
control management, karena
seperti yang telah disampaikan
dalam kajian bahwa marah
adalah jalan favorit syetan
untuk gencar membisiki manusia. Nah, ketika kondisi seperti itu
terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika
emosi marah terjadi, kadang kita
malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri
ini dengan sesuatu yang lebih
dholim. Dipukul sekali rasanya ingin
membalas dengan pukulan
berkali-kali dengan dalih agar
jera. Berkata buruk dan kasar
karena merasa didholimi, dan
terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk
yang kita terima. Itulah sebabnya
memberikan maaf ketika marah
sepertinya sulit diwujudkan.
Padahal Allah SWT telah
mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih
baik, dan itulah ciri-ciri hati
manusia taqwa. Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan
waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW
dalam sirah selalu mencontohkan
untuk memberikan maaf dengan
atau tanpa permintaan dari sang
pelaku. Dan dalam ilmu psikologi,
memberikan maaf akan
memberikan rasa tentram di hati
dan memberikan kesejukan dalam
bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah tidak ada manusia
yang bersih dari dosa?? Jadi
seseorang yang bersalah kepada
kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa
melakukan hal yang sama. 2. Berderma ketika Miskin … (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, Kenapa hal ini berat dilakukan?
Karena banyak sekali diantara
kita menganggap status miskin
adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah.
Untuk makanpun susah, apalagi
harus berbagi dengan orang lain. Ketika kita dan keluarga ini
miskin seolah-seolah semua yang
tersisa adalah barang berharga.
Jadi imposible untuk
memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek
kedermawanan bukan sebagai
subjek. Maka betul sekali! Bahwa
ketika miskin atau susah, itulah
kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq
sedekah. Tetapi bagi sebagain
orang yang nilai keimanannya
kebih mantap, kemiskinan bukan
menjadi masalah. Semua harta
adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki
kepada hambanya bahkan
dengan tiba-tibapun. Tidak ada istilah merasa bahwa
“saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih
susah dari kita. Nikmat Iman dan
kesehatan adalah sesuatu yang
tidak ternilai apalagi untuk
diuangkan. Allah Maha Kaya,
tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang
secara maksimal mendermakan
hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk
kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh
SAW bukanlah seseorang yang
kaya? Dan bagi yang kaya,
kebakhilan dan kesombongan
mengancam dirimu dan tidak ada
jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena
itulah jalan yang lurus menuju
syurga. 3. Meninggalkan yang Haram
dan Dholim ketika sendirian … Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya. Jika engkau tidak bisa
melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”… ( [HR. Muslim juz 1, hal. 40] Hal ketiga yang susah dilakukan
adalah meninggalkan kedholiman
ketika sendirian. Bukankah kita
setiap tahun selama sebulan
(ramadhan) kita ditempa untuk
jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya
diketahui oleh kita sendiri dan
Allah SWT. Meninggalkan kedholiman atau
kemaksiatan secara bersama-
sama di lingkungan sholeh adalah
mudah, selain malu kepada Allah
SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain. Tetapi ketika sendirian, syetan
lebih hebat lagi beraksi.
Menjadikan akal sehat kita lupa,
sesuatu yang haram ‘ dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-
jelas maksiyat bisa dilakukan
dengan ringan dengan dalih tidak
ada yang melihat, tidak ada yang
dirugikan, darurat dan
sebagainya. Ingatlah selalu bahwa Allah
itu Maha Melihat, Maha
Tahu, Tidak Tidur dan
semua yang bergerak
didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar
daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT
Hadir sebagai yang ketiga. Ketika
kita sendiri, Allah menjadi yang
kedua. Maka betul sekali bahwa
tingkatan ihsan adalah tertinggi,
dimana kita selalu merasa dilihat
oleh Allah SWT sehingga apa yang
dilakukan dan apa yang
disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang
dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT. 4. Berkata jujur kepada
siapapun ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Lawannya jujur adalah dusta,
pembohong. Berkata benar dan
jujur kepada teman-teman
sefaham di barisan kita mungkin
hal yang sangat mudah. Tetapi berkata benar dan jujur
kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan
adalah hal yang sulit. Kita harus
berani mengatakan bahwa itu
salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang
yang kita cintai atau seseorang
yang kita hormati. Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘ oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti
itu”…” saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman,
harus berani berkata benar
kepada siapapun dan dengan
resiko apapun. Kejujuran yag
menyakitkan lebih baik daripada
kebohongan yang menipu dan menyenangkan. Keberanian Abu bakar
mengatakan kebenaran 100%
terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru,
padahal hampir semua penduduk
Mekah tidak percaya dan
menertawakan Rosululloh SAW
sebagai yang mengada-adakan
cerita bohong. Keberanian seorang anak
gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab
mencoba merayu ingin membeli
domba diantara ratusan yang
ada. Dan dipastikan itu tidak
akan diketahui oleh siapapun
termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan
berani. Keberanian pemimpin Turki ketika
mengatakan kebohongan dan
kekejian negara Israel dalam
dialog dengan pemimpinnya
langsung ketika event negara-
negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah
dicari, padahal saat itu tidak
satu negarapun yang berani
menyinggung ataupun membahas
perkara ’ sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the
real terrorist). Jadi saatnya kita harus berlaku
dan berkata jujur, kapanpun- dimanapun dan kepada
siapapun. Semoga kita termasuk manusia
yang mampu memegang amanah.
Amiin
itu adalah sunnatullah, ketika
seseorang berjalan menuju
syurga PASTI akan menemui
rintangan dan halangan.
Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau
beranggapan neraka hanyalah
sebagai cerita fiktif dari
Rosululloh SAW, maka menuju
kesana terasa mudah, ringan,
nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun. Manusia atau lazimnya dalam Al
Qur’ an disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama
bahwa hidup didunia adalah
sebagai lading pencarian bekal
hidup di akherat. Kehidupan
akherat yang abadi, penuh
dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan
buruk, nikmat atau siksa. Sebagai orang beriman yang
sedang berusaha KERAS menuju
taqwa, kita diberi amanah, dan
ciri-ciri manusia bertaqwa adalah
mampu mengemban amanah
dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah
untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT, menjadi
khalifah di muka bumi dan
berdakwah kepada yang ma’ ruf serta menjauhi dengan sangat
semua hal kemungkaran. اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع ُتاَواَمَّسلا ُضْرألاَو ْتَّدِعُأ َنيِقَّتُمْلِل - ١٣٣ َنيِذَّلا َنوُقِفْنُي يِف ِءاَّرَّسلا ِءاَّرَّضلاَو َنيِمِظاَكْلاَو َظْيَغْلا َنيِفاَعْلاَو ِنَع ِساَّنلا ُهَّللاَو ُّبِحُي َنيِنِسْحُمْلا - ١٣٤ َنيِذَّلاَو اَذِإ اوُلَعَف ًةَشِحاَف ْوَأ اوُمَلَظ ْمُهَسُفْنَأ اوُرَكَذ َهَّللا اوُرَفْغَتْساَف ْمِهِبوُنُذِل ْنَمَو ُرِفْغَي َبوُنُّذلا الِإ ُهَّللا ْمَلَو اوُّرِصُي ىَلَع اَم اوُلَعَف ْمُهَو َنوُمَلْعَي - ١٣٥ 133. dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema’ afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau Menganiaya
diri sendiri[229], mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. [229] Yang dimaksud perbuatan
keji (faahisyah) ialah dosa besar
yang mana mudharatnya tidak
hanya menimpa diri sendiri tetapi
juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana
mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau
kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135) Dari berbagai amanat dan
kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang
terasa berat dan susah
untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau
sulit) dan Allah SWT memberikan
derajat yang mulia jika kita bisa
melaksanakannya dengan baik
dan maksimal. Empat Amanat
yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut
adalah : 1. Memberi Maaf ketika
Marah … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’ afkan (kesalahan) orang. Seringkali kita merasakan
sesaknya dada, panasnya pikiran
dan tergesanya indera-indera
lainnya dalam memutuskan
sesuatu ketika sedang marah. Marah dalam hal baikpun perlu
control management, karena
seperti yang telah disampaikan
dalam kajian bahwa marah
adalah jalan favorit syetan
untuk gencar membisiki manusia. Nah, ketika kondisi seperti itu
terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika
emosi marah terjadi, kadang kita
malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri
ini dengan sesuatu yang lebih
dholim. Dipukul sekali rasanya ingin
membalas dengan pukulan
berkali-kali dengan dalih agar
jera. Berkata buruk dan kasar
karena merasa didholimi, dan
terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk
yang kita terima. Itulah sebabnya
memberikan maaf ketika marah
sepertinya sulit diwujudkan.
Padahal Allah SWT telah
mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih
baik, dan itulah ciri-ciri hati
manusia taqwa. Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan
waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW
dalam sirah selalu mencontohkan
untuk memberikan maaf dengan
atau tanpa permintaan dari sang
pelaku. Dan dalam ilmu psikologi,
memberikan maaf akan
memberikan rasa tentram di hati
dan memberikan kesejukan dalam
bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah tidak ada manusia
yang bersih dari dosa?? Jadi
seseorang yang bersalah kepada
kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa
melakukan hal yang sama. 2. Berderma ketika Miskin … (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, Kenapa hal ini berat dilakukan?
Karena banyak sekali diantara
kita menganggap status miskin
adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah.
Untuk makanpun susah, apalagi
harus berbagi dengan orang lain. Ketika kita dan keluarga ini
miskin seolah-seolah semua yang
tersisa adalah barang berharga.
Jadi imposible untuk
memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek
kedermawanan bukan sebagai
subjek. Maka betul sekali! Bahwa
ketika miskin atau susah, itulah
kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq
sedekah. Tetapi bagi sebagain
orang yang nilai keimanannya
kebih mantap, kemiskinan bukan
menjadi masalah. Semua harta
adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki
kepada hambanya bahkan
dengan tiba-tibapun. Tidak ada istilah merasa bahwa
“saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih
susah dari kita. Nikmat Iman dan
kesehatan adalah sesuatu yang
tidak ternilai apalagi untuk
diuangkan. Allah Maha Kaya,
tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang
secara maksimal mendermakan
hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk
kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh
SAW bukanlah seseorang yang
kaya? Dan bagi yang kaya,
kebakhilan dan kesombongan
mengancam dirimu dan tidak ada
jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena
itulah jalan yang lurus menuju
syurga. 3. Meninggalkan yang Haram
dan Dholim ketika sendirian … Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya. Jika engkau tidak bisa
melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”… ( [HR. Muslim juz 1, hal. 40] Hal ketiga yang susah dilakukan
adalah meninggalkan kedholiman
ketika sendirian. Bukankah kita
setiap tahun selama sebulan
(ramadhan) kita ditempa untuk
jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya
diketahui oleh kita sendiri dan
Allah SWT. Meninggalkan kedholiman atau
kemaksiatan secara bersama-
sama di lingkungan sholeh adalah
mudah, selain malu kepada Allah
SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain. Tetapi ketika sendirian, syetan
lebih hebat lagi beraksi.
Menjadikan akal sehat kita lupa,
sesuatu yang haram ‘ dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-
jelas maksiyat bisa dilakukan
dengan ringan dengan dalih tidak
ada yang melihat, tidak ada yang
dirugikan, darurat dan
sebagainya. Ingatlah selalu bahwa Allah
itu Maha Melihat, Maha
Tahu, Tidak Tidur dan
semua yang bergerak
didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar
daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT
Hadir sebagai yang ketiga. Ketika
kita sendiri, Allah menjadi yang
kedua. Maka betul sekali bahwa
tingkatan ihsan adalah tertinggi,
dimana kita selalu merasa dilihat
oleh Allah SWT sehingga apa yang
dilakukan dan apa yang
disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang
dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT. 4. Berkata jujur kepada
siapapun ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Lawannya jujur adalah dusta,
pembohong. Berkata benar dan
jujur kepada teman-teman
sefaham di barisan kita mungkin
hal yang sangat mudah. Tetapi berkata benar dan jujur
kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan
adalah hal yang sulit. Kita harus
berani mengatakan bahwa itu
salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang
yang kita cintai atau seseorang
yang kita hormati. Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘ oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti
itu”…” saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman,
harus berani berkata benar
kepada siapapun dan dengan
resiko apapun. Kejujuran yag
menyakitkan lebih baik daripada
kebohongan yang menipu dan menyenangkan. Keberanian Abu bakar
mengatakan kebenaran 100%
terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru,
padahal hampir semua penduduk
Mekah tidak percaya dan
menertawakan Rosululloh SAW
sebagai yang mengada-adakan
cerita bohong. Keberanian seorang anak
gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab
mencoba merayu ingin membeli
domba diantara ratusan yang
ada. Dan dipastikan itu tidak
akan diketahui oleh siapapun
termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan
berani. Keberanian pemimpin Turki ketika
mengatakan kebohongan dan
kekejian negara Israel dalam
dialog dengan pemimpinnya
langsung ketika event negara-
negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah
dicari, padahal saat itu tidak
satu negarapun yang berani
menyinggung ataupun membahas
perkara ’ sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the
real terrorist). Jadi saatnya kita harus berlaku
dan berkata jujur, kapanpun- dimanapun dan kepada
siapapun. Semoga kita termasuk manusia
yang mampu memegang amanah.
Amiin
UJIAN KESABARAN
saat menanti hujan reda, apa
yang biasa dirasakan orang?
Terasa lama? Mungkin. Hujan
mengguyur selama tiga puluh
menit saja serasa tiga puluh jam
lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian
kesabaran itu. Banyak orang mengatakan,
kesabaran ada batasnya. Bila
ujian kesabaran diibaratkan
dengan menanti hujan reda,
apakah orang akan
menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang
tengah menerpa bumi? Sedang
hujan hanyalah merupakan
makhluk ‘ pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan
rintihan kekesalan orang. Ia
mengguyur ke bumi atas
perintah-Nya. Tak peduli orang
mengeluh kesal kepadanya, atau
bahkan memaki akan kedatangannya yang tak
kunjung pergi. Sayangnya, hujan terlalu biasa
untuk dikeluhkan orang. Di awal
kedatangannya, orang akan
nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah
menunjukkan betapa awal ujian
kesabaran itu sudah
terpatahkan oleh rasa tidak
bersyukurnya akan turunnya
nikmat hujan. Belum lagi di benaknya masih
membayangkan bagaimana nasib
jemuran bajunya di rumah. Sudah
pasti akan basah kuyub, setelah
sebelumnya tak sempat
‘ diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana
nasib kendaraannya yang
berkilau lantaran baru dicuci
kemarin sore, lagi-lagi harus
terkena cipratan air hujan yang
bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah. Ini baru contoh sederhana, belum
contoh-contoh lain yang amat
menguji kesabaran. Misalnya
ketika urusan duniawi yang
menurutnya sangat urgen untuk
segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda
lantaran hujan. Di saat air hujan semakin deras
mengguyur, tak kunjung reda,
saat inilah kesabaran orang
benar-benar berada di titik
kulminasi. Terbayang di
benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan
duniawinya banyak yang
terbengkalai. Saat itu juga, emosi
kian tak terbendung. Umpatan-
umpatan kekesalan pun keluar
dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan,
seolah hujan adalah makhluk
serupa dengannya. َوُهَو يِذَّلا ُلِسْرُي َحاَيِّرلا اًرْشُب َنْيَب ْيَدَي ِهِتَمْحَر ىَّتَح اَذِإ ْتَّلَقَأ اًباَحَس الاَقِث ُهاَنْقُس ٍدَلَبِل ٍتِّيَم اَنْلَزْنَأَف ِهِب َءاَمْلا اَنْجَرْخَأَف ِهِب ْنِم ِّلُك ِتاَرَمَّثلا َكِلَذَك ُجِرْخُن ىَتْوَمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُرَّكَذَت “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang
yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’ raaf 57) Hujan diturunkan sebagai
pembawa berita gembira, namun
yang terjadi justru malah
sebaliknya. Orang malah berkeluh
kesah dengan hadirnya hujan.
Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya
hujan tengah menghambat
urusan duniawinya. Tidak
tahukah orang, untuk apa hujan
diturunkan? ُهَّللاَو َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم اَيْحَأَف ِهِب َضْرألا َدْعَب اَهِتْوَم َّنِإ يِف َكِلَذ ًةَيآل ٍمْوَقِل َنوُعَمْسَي “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah
matinya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang- orang yang mendengarkan
(pelajaran).” (QS An-Nahl 65) Bayangkan jika hujan tidak
diturunkan ke bumi, tidak akan
mungkin ada kehidupan di sini.
Bumi akan mengering, dan semua
makhluk hidup akan mati. Dalam
ayat lain Allah juga berfirman. َوُه يِذَّلا َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم ْمُكَل ُهْنِم ٌباَرَش ُهْنِمَو ٌرَجَش ِهيِف َنوُميِسُت Dia-lah, Yang telah menurunkan
air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman
dan sebahagiannya
(menyuburkan) tumbuh-
tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10) Hujan yang membawa berkah,
menghidupkan serta
menyuburkan tanaman-tanaman
yang hijau lagi banyak buahnya.
Inilah ibarat ujian kesabaran itu,
layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran
yang teramat berat, terlebih
ketika harus merelakan hal-hal
yang menyangkut duniawi. Hujan yang dinyana sebagai
penghambat pada urusan
duniawi, sesungguhnya
merupakan berkah dari-Nya.
Kehadirannya akan menghijaukan
tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan
mata air yang jernih yang
sangat bermanfaat bagi semua
makhluk yang hidup di bumi ini. Demikian halnya dengan ujian
kesabaran itu. Meski dinyana
sebagai sesuatu yang pahit
dirasa, atau bahkan berat didaki,
namun sesungguhnya Allah akan
menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar. ْمَأ ْمُتْبِسَح نَأ ْاوُلُخْدَت َةَّنَجْلا اَّمَلَو ِمَلْعَي ُهّللا َنيِذَّلا ْاوُدَهاَج ْمُكنِم َمَلْعَيَو
َنيِرِباَّصلا Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad diantaramu
dan belum nyata orang-orang
yang sabar. (QS Ali Imran 142) Ujian dari Allah tak hanya berupa
kesedihan, tapi juga mencakup
kebahagiaan. Sayangnya, ketika
orang diuji dengan kebahagiaan,
orang lupa jika itu hanyalah
sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah
berpikir bahwa itu adalah
keberuntungan. Padahal,
keberuntungan di dunia ini
hanyalah merupakan tipuan. الْيَكِل اْوَسْأَت ىَلَع اَم ْمُكَتاَف الَو اوُحَرْفَت اَمِب ْمُكاَتآ ُهَّللاَو ال ُّبِحُي َّلُك ٍلاَتْخُم ٍروُخَف “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-
Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan
diri.” (QS Al Hadiid 23) Seperti halnya ketika menanti
hujan reda. Meski hujan
mengguyur deras, tak kunjung
reda, hingga menyebabkan
banjir, tanah longsor ataupun
bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa
tiap-tiap orang yang beriman.
Bagaimanapun hujan adalah
berkah dari-Nya, meski
kehadirannya terkadang
mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para
hamba-Nya agar bersyukur. اَّم ُلَعْفَي ُهّللا ْمُكِباَذَعِب نِإ ْمُتْرَكَش ْمُتنَمآَو َناَكَو ُهّللا ًارِكاَش ًاميِلَع “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.” (QS An- Nisaa’ 147) Maka bersabarlah, karena Allah
beserta orang-orang yang
sabar. Ujian kesabaran itu ibarat
menanti hujan reda. Terasa lama
untuk dinanti redanya, hingga
terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak
memberi mudharat pada urusan
duniawi. Namun, tidak bagi orang-orang
yang bersabar. Ia akan memaknai
hujan sebagai berkah dari-Nya,
berapapun lamanya dan
banyaknya curah hujan yang
diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia
akan tetap bersabar, karena di
balik ujian pastilah mengandung
hikmah. Dan semestinyalah, orang-orang
yang beriman akan mengambil
hikmah di balik cobaan itu. Ia
akan senantiasa bersabar dan
bersyukur di kala sedih ataupun
bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan
ujian dari-Nya, agar nyatalah
siapa sesungguhnya hamba-
hamba-Nya yang terpilih itu.
yang biasa dirasakan orang?
Terasa lama? Mungkin. Hujan
mengguyur selama tiga puluh
menit saja serasa tiga puluh jam
lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian
kesabaran itu. Banyak orang mengatakan,
kesabaran ada batasnya. Bila
ujian kesabaran diibaratkan
dengan menanti hujan reda,
apakah orang akan
menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang
tengah menerpa bumi? Sedang
hujan hanyalah merupakan
makhluk ‘ pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan
rintihan kekesalan orang. Ia
mengguyur ke bumi atas
perintah-Nya. Tak peduli orang
mengeluh kesal kepadanya, atau
bahkan memaki akan kedatangannya yang tak
kunjung pergi. Sayangnya, hujan terlalu biasa
untuk dikeluhkan orang. Di awal
kedatangannya, orang akan
nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah
menunjukkan betapa awal ujian
kesabaran itu sudah
terpatahkan oleh rasa tidak
bersyukurnya akan turunnya
nikmat hujan. Belum lagi di benaknya masih
membayangkan bagaimana nasib
jemuran bajunya di rumah. Sudah
pasti akan basah kuyub, setelah
sebelumnya tak sempat
‘ diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana
nasib kendaraannya yang
berkilau lantaran baru dicuci
kemarin sore, lagi-lagi harus
terkena cipratan air hujan yang
bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah. Ini baru contoh sederhana, belum
contoh-contoh lain yang amat
menguji kesabaran. Misalnya
ketika urusan duniawi yang
menurutnya sangat urgen untuk
segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda
lantaran hujan. Di saat air hujan semakin deras
mengguyur, tak kunjung reda,
saat inilah kesabaran orang
benar-benar berada di titik
kulminasi. Terbayang di
benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan
duniawinya banyak yang
terbengkalai. Saat itu juga, emosi
kian tak terbendung. Umpatan-
umpatan kekesalan pun keluar
dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan,
seolah hujan adalah makhluk
serupa dengannya. َوُهَو يِذَّلا ُلِسْرُي َحاَيِّرلا اًرْشُب َنْيَب ْيَدَي ِهِتَمْحَر ىَّتَح اَذِإ ْتَّلَقَأ اًباَحَس الاَقِث ُهاَنْقُس ٍدَلَبِل ٍتِّيَم اَنْلَزْنَأَف ِهِب َءاَمْلا اَنْجَرْخَأَف ِهِب ْنِم ِّلُك ِتاَرَمَّثلا َكِلَذَك ُجِرْخُن ىَتْوَمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُرَّكَذَت “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang
yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’ raaf 57) Hujan diturunkan sebagai
pembawa berita gembira, namun
yang terjadi justru malah
sebaliknya. Orang malah berkeluh
kesah dengan hadirnya hujan.
Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya
hujan tengah menghambat
urusan duniawinya. Tidak
tahukah orang, untuk apa hujan
diturunkan? ُهَّللاَو َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم اَيْحَأَف ِهِب َضْرألا َدْعَب اَهِتْوَم َّنِإ يِف َكِلَذ ًةَيآل ٍمْوَقِل َنوُعَمْسَي “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah
matinya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang- orang yang mendengarkan
(pelajaran).” (QS An-Nahl 65) Bayangkan jika hujan tidak
diturunkan ke bumi, tidak akan
mungkin ada kehidupan di sini.
Bumi akan mengering, dan semua
makhluk hidup akan mati. Dalam
ayat lain Allah juga berfirman. َوُه يِذَّلا َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم ْمُكَل ُهْنِم ٌباَرَش ُهْنِمَو ٌرَجَش ِهيِف َنوُميِسُت Dia-lah, Yang telah menurunkan
air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman
dan sebahagiannya
(menyuburkan) tumbuh-
tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10) Hujan yang membawa berkah,
menghidupkan serta
menyuburkan tanaman-tanaman
yang hijau lagi banyak buahnya.
Inilah ibarat ujian kesabaran itu,
layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran
yang teramat berat, terlebih
ketika harus merelakan hal-hal
yang menyangkut duniawi. Hujan yang dinyana sebagai
penghambat pada urusan
duniawi, sesungguhnya
merupakan berkah dari-Nya.
Kehadirannya akan menghijaukan
tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan
mata air yang jernih yang
sangat bermanfaat bagi semua
makhluk yang hidup di bumi ini. Demikian halnya dengan ujian
kesabaran itu. Meski dinyana
sebagai sesuatu yang pahit
dirasa, atau bahkan berat didaki,
namun sesungguhnya Allah akan
menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar. ْمَأ ْمُتْبِسَح نَأ ْاوُلُخْدَت َةَّنَجْلا اَّمَلَو ِمَلْعَي ُهّللا َنيِذَّلا ْاوُدَهاَج ْمُكنِم َمَلْعَيَو
َنيِرِباَّصلا Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad diantaramu
dan belum nyata orang-orang
yang sabar. (QS Ali Imran 142) Ujian dari Allah tak hanya berupa
kesedihan, tapi juga mencakup
kebahagiaan. Sayangnya, ketika
orang diuji dengan kebahagiaan,
orang lupa jika itu hanyalah
sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah
berpikir bahwa itu adalah
keberuntungan. Padahal,
keberuntungan di dunia ini
hanyalah merupakan tipuan. الْيَكِل اْوَسْأَت ىَلَع اَم ْمُكَتاَف الَو اوُحَرْفَت اَمِب ْمُكاَتآ ُهَّللاَو ال ُّبِحُي َّلُك ٍلاَتْخُم ٍروُخَف “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-
Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan
diri.” (QS Al Hadiid 23) Seperti halnya ketika menanti
hujan reda. Meski hujan
mengguyur deras, tak kunjung
reda, hingga menyebabkan
banjir, tanah longsor ataupun
bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa
tiap-tiap orang yang beriman.
Bagaimanapun hujan adalah
berkah dari-Nya, meski
kehadirannya terkadang
mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para
hamba-Nya agar bersyukur. اَّم ُلَعْفَي ُهّللا ْمُكِباَذَعِب نِإ ْمُتْرَكَش ْمُتنَمآَو َناَكَو ُهّللا ًارِكاَش ًاميِلَع “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.” (QS An- Nisaa’ 147) Maka bersabarlah, karena Allah
beserta orang-orang yang
sabar. Ujian kesabaran itu ibarat
menanti hujan reda. Terasa lama
untuk dinanti redanya, hingga
terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak
memberi mudharat pada urusan
duniawi. Namun, tidak bagi orang-orang
yang bersabar. Ia akan memaknai
hujan sebagai berkah dari-Nya,
berapapun lamanya dan
banyaknya curah hujan yang
diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia
akan tetap bersabar, karena di
balik ujian pastilah mengandung
hikmah. Dan semestinyalah, orang-orang
yang beriman akan mengambil
hikmah di balik cobaan itu. Ia
akan senantiasa bersabar dan
bersyukur di kala sedih ataupun
bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan
ujian dari-Nya, agar nyatalah
siapa sesungguhnya hamba-
hamba-Nya yang terpilih itu.
Rabu, 19 Januari 2011
HADITS DHO'IF
Kaum muslimin yang semoga
dirahmati Allah. Saat ini telah
tersebar berbagai macam
perkara baru dalam agama ini
(baca: bid’ ah). Seperti contohnya adalah acara tahlilan/yasinan
yang tidak pernah dicontohkan
oleh Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam dan tidak pernah pula
dilakukan oleh para sahabatnya.
Dan kebanyakan bid’ ah saat ini terjadi dikarenakan tersebarnya
hadits dho’ if/lemah di tengah- tengah umat. Contoh dari hadits
dho’ if tersebut adalah tentang keutamaan surat yasin sehingga
orang-orang membolehkan
adanya yasinan. Hadits tersebut
adalah, “Bacakanlah surat yasin untuk orang mati di antara
kalian“. (Hadits ini dho’ if (lemah) diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu
Majah, dan Nasa’ i. Imam Nawawi mengatakan bahwa dalam hadits
ini terdapat 2 perawi majhul
(tidak dikenal)). Selain itu juga, hadits dho’ if digunakan oleh sebagian orang
untuk menjelaskan fadh’ ail a’ mal yaitu mendorong umat untuk
melakukan kebaikan dan
menakut-nakuti mereka agar
tidak melakukan kejelekaan.
Hadits dho’ if (bahkan palsu) ini semakin tersebar -di zaman yang
penuh kebodohan mengenai
derajat hadits saat ini- baik
melalui tulisan atau pun melalui
lisan para da’ i. Namun menjadi suatu pertanyaan penting,
apakah hadits dho’ if (atau bahkan palsu) boleh dijadikan
sandaran hukum?! Simaklah
pembahasan berikut ini. Larangan Berdusta Atas
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam Kaum muslimin yang semoga
selalu ditunjuki oleh Allah menuju
kebenaran. Perlu diketahui,
bahwa berdusta atas nama
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam termasuk dosa besar
karena beliau shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengancam orang
yang demikian dengan neraka.
Sebagaimana sabda beliau
shallallahu ‘ alaihi wa sallam yang artinya, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan
sengaja, maka hendaknya dia
mengambil tempat duduknya di
neraka.” (HR. Bukhari & Muslim). Dari hadits ini terlihat jelas
bahwasanya seseorang yang
menyandarkan sesuatu kepada
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam tanpa mengetahui
keshohihannya, dia terancam
masuk neraka. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia
menceritakan setiap yang dia
dengar.” (HR. Muslim). Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau-
mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak
akan selamat jika dia
menceritakan setiap yang
didengarnya, dan dia tidak layak
menjadi seorang imam (yang
menjadi panutan, pen), sedangkan dia selalu
menceritakan setiap yang
didengarnya. (Dinukil dari
Muntahal Amani bi Fawa’ id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits
Al Albani). Dari perkataan Imam Malik ini
terlihat bahwasanya walaupun
seseorang tidak dikatakan
berdusta secara langsung namun
dia dapat dikatakan mendukung
kedustaan karena menukil banyak hadits lalu
mendiamkannya, padahal bisa
saja hadits yang disampaikan
dho’ if atau dusta. (Lihat Muntahal Amani) Hukum Memakai Hadits
Dho’ if Setelah penjelasan larangan
berdusta atas Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam yaitu seseorang tidak boleh menyampaikan suatu
hadits tanpa tahu terlebih
dahulu keshohihannya, maka
perlu kita ketahui pula hukum
menggunakan hadits dho’ if dengan melihat perkataan Imam
Muslim -semoga Allah merahmati
beliau- berikut ini. Imam Muslim -rahimahullah-
berkata, “Ketahuilah -semoga Allah memberikan taufiq padamu-
bahwasaya wajib atas setiap
orang yang mengerti pemilahan
antara riwayat yang shohih dari
riwayat yang lemah dan antara
perowi yang tsiqoh (terpercaya, pen) dari perowi yang tertuduh
(berdusta, pen); agar tidak
meriwayatkan dari riwayat-
riwayat tersebut melainkan yang dia ketahui keshohihan periwatnya dan terpercayanya para penukilnya, dan hendaknya dia menjauhi riwayat-riwayat
yang berasal dari orang-orang
yang tertuduh dan para ahli
bid’ ah (yang sengit permusuhannya terhadap ahlus
sunnah). Dalil dari perkataan
kami ini adalah firman Allah yang
artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat: 6) Ayat yang kami sebutkan ini
menunjukkan bahwa berita
orang yang fasik gugur dan
tidak diterima dan persaksian
orang yang tidak adil adalah
tertolak.” (Muqoddimah Shohih Muslim, dinukil dari Majalah Al
Furqon). Maka dapat disimpulkan
bahwa hadits dho’ if tidak boleh dijadikan sandaran hukum
karena periwayat hadits dho’ if termasuk orang yang fasik. Bolehkah Hadits Dho’ if Digunakan Dalam Fadho’ il A’ mal?! Ada sebagian kaum muslimin yang
sering membawakan hadits dho’ if (bahkan sangat dho’ if/lemah) tentang fadha’ il a’ amal (keutamaan berbagai amal)
dalam dakwah mereka. Mereka
beralasan bahwa para ulama
telah sepakat bolehnya
menggunakan hadits dho’ if dalam fadha’ il a’ mal. Padahala di pihak lain, banyak ulama yang
menyatakan hadits dho’ if tidak boleh diamalkan secara mutlak
meskipun di dalam masalah
fadha’ il a’ mal. Perlu kaum muslimin ketahui,
bahwa maksud sebagian ulama
yang membolehkan menggunakan
hadits dho’ if bukanlah yang dimaksudkan mereka
menggunakan hadits dho’ if serampangan begitu saja. Namun,
maksud mereka adalah
bahwasanya dibolehkan
menggunakan hadits dho’ if untuk menjelaskan fadha’ il a’ mal (keutamana amalan) dalam
amalan yang telah disyari’ atkan dalam syari’ at dengan dalil-dalil yang shohih seperti dzikir, puasa,
dan shalat. Hal ini dimaksudkan agar jiwa manusia selalu
mengharapkan pahala dari
amalan-amalan tersebut
atau menjadi takut untuk
melaksanakan suatu
kejelekan. Para ulama tidak menghendaki penetapan hukum
syar’ i dengan hadits-hadits yang dho’ if/lemah yang tidak memiliki landasan pokok dari hadits yang
shohih. Seperti yasinan/tahlilan
tidak memiliki dalil dari hadits
yang shohih sama sekali yang
menjadi landasan pokok dalam
penetapan hukum. Para ulama yang membolehkan
beramal dengan hadits dho’ if di dalam fadho’ il a’ mal juga memberikan persyaratan bagi
hadits yang boleh diamalkan
dalam hal tersebut. Syarat-
syarat tersebut adalah: (1)
Hendaknya hadits tersebut
bukanlah hadits yang sangat dho’ if/lemah, (2). Hendaknya hadits tersebut masuk di bawah
hadits shohih (atau hasan, pen)
yang umum, (3) Di dalam
mengamalkannya tidak diyakini
keshohihannya, (4) Hadits ini
tidak boleh dipopulerkan. Syarat-syarat di atas di dalam
prakteknya sulit sekali diterapkan oleh kebanyakan kaum muslimin. Kebanyakan dari
mereka tidak bisa memilah
antara hadits dho’ if dengan hadits yang dho’ if jiddan (lemah sekali) dan antara hadits yang di
dalamnya memiliki landasan dari
hadits yang shohih dengan yang
tidak. (Lihat Majalah Al Furqon,
thn.6, ed.2 dan Ilmu Ushul Bida’ ) Maka pendapat terkuat dalam
hal ini adalah bahwa hadits dho’ if tidak boleh digunakan secara
mutlak termasuk juga dalam
fadha’ il a’ mal. Allahumma sholli ‘ ala Muhammad wa ‘ ala alihi wa shohbihi wa sallam. *** Disusun oleh: Muhammad Abduh
Tuasikal
Muroja’ ah: Ustadz Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id
dirahmati Allah. Saat ini telah
tersebar berbagai macam
perkara baru dalam agama ini
(baca: bid’ ah). Seperti contohnya adalah acara tahlilan/yasinan
yang tidak pernah dicontohkan
oleh Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam dan tidak pernah pula
dilakukan oleh para sahabatnya.
Dan kebanyakan bid’ ah saat ini terjadi dikarenakan tersebarnya
hadits dho’ if/lemah di tengah- tengah umat. Contoh dari hadits
dho’ if tersebut adalah tentang keutamaan surat yasin sehingga
orang-orang membolehkan
adanya yasinan. Hadits tersebut
adalah, “Bacakanlah surat yasin untuk orang mati di antara
kalian“. (Hadits ini dho’ if (lemah) diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu
Majah, dan Nasa’ i. Imam Nawawi mengatakan bahwa dalam hadits
ini terdapat 2 perawi majhul
(tidak dikenal)). Selain itu juga, hadits dho’ if digunakan oleh sebagian orang
untuk menjelaskan fadh’ ail a’ mal yaitu mendorong umat untuk
melakukan kebaikan dan
menakut-nakuti mereka agar
tidak melakukan kejelekaan.
Hadits dho’ if (bahkan palsu) ini semakin tersebar -di zaman yang
penuh kebodohan mengenai
derajat hadits saat ini- baik
melalui tulisan atau pun melalui
lisan para da’ i. Namun menjadi suatu pertanyaan penting,
apakah hadits dho’ if (atau bahkan palsu) boleh dijadikan
sandaran hukum?! Simaklah
pembahasan berikut ini. Larangan Berdusta Atas
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam Kaum muslimin yang semoga
selalu ditunjuki oleh Allah menuju
kebenaran. Perlu diketahui,
bahwa berdusta atas nama
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam termasuk dosa besar
karena beliau shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengancam orang
yang demikian dengan neraka.
Sebagaimana sabda beliau
shallallahu ‘ alaihi wa sallam yang artinya, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan
sengaja, maka hendaknya dia
mengambil tempat duduknya di
neraka.” (HR. Bukhari & Muslim). Dari hadits ini terlihat jelas
bahwasanya seseorang yang
menyandarkan sesuatu kepada
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam tanpa mengetahui
keshohihannya, dia terancam
masuk neraka. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia
menceritakan setiap yang dia
dengar.” (HR. Muslim). Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau-
mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak
akan selamat jika dia
menceritakan setiap yang
didengarnya, dan dia tidak layak
menjadi seorang imam (yang
menjadi panutan, pen), sedangkan dia selalu
menceritakan setiap yang
didengarnya. (Dinukil dari
Muntahal Amani bi Fawa’ id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits
Al Albani). Dari perkataan Imam Malik ini
terlihat bahwasanya walaupun
seseorang tidak dikatakan
berdusta secara langsung namun
dia dapat dikatakan mendukung
kedustaan karena menukil banyak hadits lalu
mendiamkannya, padahal bisa
saja hadits yang disampaikan
dho’ if atau dusta. (Lihat Muntahal Amani) Hukum Memakai Hadits
Dho’ if Setelah penjelasan larangan
berdusta atas Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam yaitu seseorang tidak boleh menyampaikan suatu
hadits tanpa tahu terlebih
dahulu keshohihannya, maka
perlu kita ketahui pula hukum
menggunakan hadits dho’ if dengan melihat perkataan Imam
Muslim -semoga Allah merahmati
beliau- berikut ini. Imam Muslim -rahimahullah-
berkata, “Ketahuilah -semoga Allah memberikan taufiq padamu-
bahwasaya wajib atas setiap
orang yang mengerti pemilahan
antara riwayat yang shohih dari
riwayat yang lemah dan antara
perowi yang tsiqoh (terpercaya, pen) dari perowi yang tertuduh
(berdusta, pen); agar tidak
meriwayatkan dari riwayat-
riwayat tersebut melainkan yang dia ketahui keshohihan periwatnya dan terpercayanya para penukilnya, dan hendaknya dia menjauhi riwayat-riwayat
yang berasal dari orang-orang
yang tertuduh dan para ahli
bid’ ah (yang sengit permusuhannya terhadap ahlus
sunnah). Dalil dari perkataan
kami ini adalah firman Allah yang
artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al Hujurat: 6) Ayat yang kami sebutkan ini
menunjukkan bahwa berita
orang yang fasik gugur dan
tidak diterima dan persaksian
orang yang tidak adil adalah
tertolak.” (Muqoddimah Shohih Muslim, dinukil dari Majalah Al
Furqon). Maka dapat disimpulkan
bahwa hadits dho’ if tidak boleh dijadikan sandaran hukum
karena periwayat hadits dho’ if termasuk orang yang fasik. Bolehkah Hadits Dho’ if Digunakan Dalam Fadho’ il A’ mal?! Ada sebagian kaum muslimin yang
sering membawakan hadits dho’ if (bahkan sangat dho’ if/lemah) tentang fadha’ il a’ amal (keutamaan berbagai amal)
dalam dakwah mereka. Mereka
beralasan bahwa para ulama
telah sepakat bolehnya
menggunakan hadits dho’ if dalam fadha’ il a’ mal. Padahala di pihak lain, banyak ulama yang
menyatakan hadits dho’ if tidak boleh diamalkan secara mutlak
meskipun di dalam masalah
fadha’ il a’ mal. Perlu kaum muslimin ketahui,
bahwa maksud sebagian ulama
yang membolehkan menggunakan
hadits dho’ if bukanlah yang dimaksudkan mereka
menggunakan hadits dho’ if serampangan begitu saja. Namun,
maksud mereka adalah
bahwasanya dibolehkan
menggunakan hadits dho’ if untuk menjelaskan fadha’ il a’ mal (keutamana amalan) dalam
amalan yang telah disyari’ atkan dalam syari’ at dengan dalil-dalil yang shohih seperti dzikir, puasa,
dan shalat. Hal ini dimaksudkan agar jiwa manusia selalu
mengharapkan pahala dari
amalan-amalan tersebut
atau menjadi takut untuk
melaksanakan suatu
kejelekan. Para ulama tidak menghendaki penetapan hukum
syar’ i dengan hadits-hadits yang dho’ if/lemah yang tidak memiliki landasan pokok dari hadits yang
shohih. Seperti yasinan/tahlilan
tidak memiliki dalil dari hadits
yang shohih sama sekali yang
menjadi landasan pokok dalam
penetapan hukum. Para ulama yang membolehkan
beramal dengan hadits dho’ if di dalam fadho’ il a’ mal juga memberikan persyaratan bagi
hadits yang boleh diamalkan
dalam hal tersebut. Syarat-
syarat tersebut adalah: (1)
Hendaknya hadits tersebut
bukanlah hadits yang sangat dho’ if/lemah, (2). Hendaknya hadits tersebut masuk di bawah
hadits shohih (atau hasan, pen)
yang umum, (3) Di dalam
mengamalkannya tidak diyakini
keshohihannya, (4) Hadits ini
tidak boleh dipopulerkan. Syarat-syarat di atas di dalam
prakteknya sulit sekali diterapkan oleh kebanyakan kaum muslimin. Kebanyakan dari
mereka tidak bisa memilah
antara hadits dho’ if dengan hadits yang dho’ if jiddan (lemah sekali) dan antara hadits yang di
dalamnya memiliki landasan dari
hadits yang shohih dengan yang
tidak. (Lihat Majalah Al Furqon,
thn.6, ed.2 dan Ilmu Ushul Bida’ ) Maka pendapat terkuat dalam
hal ini adalah bahwa hadits dho’ if tidak boleh digunakan secara
mutlak termasuk juga dalam
fadha’ il a’ mal. Allahumma sholli ‘ ala Muhammad wa ‘ ala alihi wa shohbihi wa sallam. *** Disusun oleh: Muhammad Abduh
Tuasikal
Muroja’ ah: Ustadz Aris Munandar Artikel www.muslim.or.id
AkHLAK WANITA
Dari Asma’ binti Yazid, bahwa Rasulullah SAW keluar menemui
para wanita di dalam masjid. Aku
juga ada ditengah mereka. Beliau
mendengar perkataan mereka.
Lalu beliau bersabda, “Wahai para wanita, kalian adalah
mayoritas kayu bakar neraka.” Aku berseru kepada beliau, dan
aku termasuk wanita yang
berani berkata dihadapan beliau,
“Wahai Rasulullah, mengapa begitu?” Beliau menjawab, “Sebab kalian tidak bersyukur jika diberi,
kalian tidak sabar jika tidak
ditimpa musibah dan kalian
mengeluh jika tidak diberi rizki.
Janganlah kalian mengingkari
orang-orang yang telah memberi nikmat.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengingkari orang-
orang yang telah memberi
nikmat itu?” Beliau menjawab, “Seorang wanita menjadi istri seorang laki-
laki dan sudah melahirkan dua
atau tiga anaknya, lalu dia
berkata kepada suami, ’ Aku tidak melihat satu kebaikan pun
pada dirimu’ .” (Diriwayatkan Ath-Thabrany, di dalamnya ada
Syahr bin Hausyab, dia dha’ if dan sebagian ada yang
mentsiqatkanya). Berbuat Baik kepada
Wanita Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempunyai tiga anak
putrid lalu dia bersabar atas
cobaan, kesempitan dan
kelapangan mereka, maka Allah
memasukkannya ke dalam surga,
karena kasih sayangnya kepada mereka.” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan dua anak putri wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Begitu pula dengan dua anak putri.” Ada pula yang bertanya,
“Bagaimana dengan satu anak putri (Diriwayatkan Al-Hakim dan
dia menshahihkannnya).
Ibnu Hiban meriwayatkan di
dalam Shahih-Nya, bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mengasuh dua atau tiga
orang anak putri, dua atau tiga
orang saudara putri, hingga
mereka menikah atau dia mati
meninggalkan mereka, maka aku
dan dia berada disurga seperti dua jari ini”, lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan
jari tengah.
Ath-Thabrany dan Asy-
Syaikhany mentakhrij yang
serupa dengan ini, “Tangan yang diatas (yang memberi) lebih baik
daripada tangan yang dibawah
(yang diberi), dan mulailah dari
orang-orang yang seharusnya
engkau cukupi kebutuhannya,
yaitu ibumu, ayahmu, saudaramu laki-laki dan wanita, orang yang
lebih dekat dengan dirimu, lalu
berikutnya lagi.” Abu Daud dan Al-Hakim
meriwayatkan, “Siapa yang memiliki anak putri dan dia tidak
menguburnya hidup-hidup dan
tidak mendahulukan kepentingan
anak laki-laki daripada dirinya,
Maka Allah memasukkannya
kedalam surga.” (Az-Zawajir, 2/54) Wasiat Rasulullah tentang
Wanita Rasulullah SAW bersabda, Carilah
nasihat tentang wanita, karena
wanita itu diciptakan dari tulang
rusuk, dan sesungguhnya yang
paling bengkok dari tulang rusuk
ialah yang paling tinggi. Jika engkau bersikeras
meluruskannya, tentu engkau
akan mematahkannya, dan jika
engkau membiarkannya, maka ia
tetap saja bengkok. Maka carilah
nasihat tentang wanita.” (Diriwayatkan Al- Bukhary dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.
Sekali-kali engkau dapat
meluruskannya dengan cara
apapun. Jika engkau merasa
puas dengannya, maka engkau
akan merasa puas dengannya dan pada dirinya tetap ada yang
bengkok, dan jika engkau
bersikeras meluruskannya, tentu
engkau akan mematahkannya,
dan patahnya ialah taklaknya.” Dalam riwayat Ibnu Majah
disebutkan, “Ingatlah carilah nasihat yang baik bagi manusia,
karena mereka merupakan
tawanan disisi kalian. Kalian tidak
berkuasa sedikit pun terhadap
mereka selain yang demikian itu,
kecuali jika mereka melakukan kekejian secara nyata. Jika
mereka melakukannya, maka
hindarilah mereka ditempat tidur
dan pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak menyakitkan.
Jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-
cari jalan untuk menyempitkan
mereka. Ingatlah, sesungguhnya
kalian mempunyai hak atas istri
kalian dan istri kalian mempunyai
hak atas kalian. Hak kalian atas mereka, janganlah mereka
membawa orang yang tidak
kalian sukai ke tempat tidur
kalian, dan tidak diperkenankan
bagi orang yang kalian benci
berada dirumah kalian. Ingatlah, hak mereka atas kalian, ialah
hendaknya kalian berbuat baik
kepada mereka dalam pakaian
dan makanan mereka.” Dalam riwayat At-Thirmidzy
disebutkan, “Siapa yang mempunyai dua istri lalu dia tidak
berbuat adil di antara mereka
berdua, maka dia datang pada
hari kiamat, sedang lambungnya
dalam keadaan turun.” (Az- Zawajir, Ibnu Hajar, 2/32).
Muhammad Khalil Al-Khathib
para wanita di dalam masjid. Aku
juga ada ditengah mereka. Beliau
mendengar perkataan mereka.
Lalu beliau bersabda, “Wahai para wanita, kalian adalah
mayoritas kayu bakar neraka.” Aku berseru kepada beliau, dan
aku termasuk wanita yang
berani berkata dihadapan beliau,
“Wahai Rasulullah, mengapa begitu?” Beliau menjawab, “Sebab kalian tidak bersyukur jika diberi,
kalian tidak sabar jika tidak
ditimpa musibah dan kalian
mengeluh jika tidak diberi rizki.
Janganlah kalian mengingkari
orang-orang yang telah memberi nikmat.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengingkari orang-
orang yang telah memberi
nikmat itu?” Beliau menjawab, “Seorang wanita menjadi istri seorang laki-
laki dan sudah melahirkan dua
atau tiga anaknya, lalu dia
berkata kepada suami, ’ Aku tidak melihat satu kebaikan pun
pada dirimu’ .” (Diriwayatkan Ath-Thabrany, di dalamnya ada
Syahr bin Hausyab, dia dha’ if dan sebagian ada yang
mentsiqatkanya). Berbuat Baik kepada
Wanita Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempunyai tiga anak
putrid lalu dia bersabar atas
cobaan, kesempitan dan
kelapangan mereka, maka Allah
memasukkannya ke dalam surga,
karena kasih sayangnya kepada mereka.” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan dua anak putri wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Begitu pula dengan dua anak putri.” Ada pula yang bertanya,
“Bagaimana dengan satu anak putri (Diriwayatkan Al-Hakim dan
dia menshahihkannnya).
Ibnu Hiban meriwayatkan di
dalam Shahih-Nya, bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mengasuh dua atau tiga
orang anak putri, dua atau tiga
orang saudara putri, hingga
mereka menikah atau dia mati
meninggalkan mereka, maka aku
dan dia berada disurga seperti dua jari ini”, lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan
jari tengah.
Ath-Thabrany dan Asy-
Syaikhany mentakhrij yang
serupa dengan ini, “Tangan yang diatas (yang memberi) lebih baik
daripada tangan yang dibawah
(yang diberi), dan mulailah dari
orang-orang yang seharusnya
engkau cukupi kebutuhannya,
yaitu ibumu, ayahmu, saudaramu laki-laki dan wanita, orang yang
lebih dekat dengan dirimu, lalu
berikutnya lagi.” Abu Daud dan Al-Hakim
meriwayatkan, “Siapa yang memiliki anak putri dan dia tidak
menguburnya hidup-hidup dan
tidak mendahulukan kepentingan
anak laki-laki daripada dirinya,
Maka Allah memasukkannya
kedalam surga.” (Az-Zawajir, 2/54) Wasiat Rasulullah tentang
Wanita Rasulullah SAW bersabda, Carilah
nasihat tentang wanita, karena
wanita itu diciptakan dari tulang
rusuk, dan sesungguhnya yang
paling bengkok dari tulang rusuk
ialah yang paling tinggi. Jika engkau bersikeras
meluruskannya, tentu engkau
akan mematahkannya, dan jika
engkau membiarkannya, maka ia
tetap saja bengkok. Maka carilah
nasihat tentang wanita.” (Diriwayatkan Al- Bukhary dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.
Sekali-kali engkau dapat
meluruskannya dengan cara
apapun. Jika engkau merasa
puas dengannya, maka engkau
akan merasa puas dengannya dan pada dirinya tetap ada yang
bengkok, dan jika engkau
bersikeras meluruskannya, tentu
engkau akan mematahkannya,
dan patahnya ialah taklaknya.” Dalam riwayat Ibnu Majah
disebutkan, “Ingatlah carilah nasihat yang baik bagi manusia,
karena mereka merupakan
tawanan disisi kalian. Kalian tidak
berkuasa sedikit pun terhadap
mereka selain yang demikian itu,
kecuali jika mereka melakukan kekejian secara nyata. Jika
mereka melakukannya, maka
hindarilah mereka ditempat tidur
dan pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak menyakitkan.
Jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-
cari jalan untuk menyempitkan
mereka. Ingatlah, sesungguhnya
kalian mempunyai hak atas istri
kalian dan istri kalian mempunyai
hak atas kalian. Hak kalian atas mereka, janganlah mereka
membawa orang yang tidak
kalian sukai ke tempat tidur
kalian, dan tidak diperkenankan
bagi orang yang kalian benci
berada dirumah kalian. Ingatlah, hak mereka atas kalian, ialah
hendaknya kalian berbuat baik
kepada mereka dalam pakaian
dan makanan mereka.” Dalam riwayat At-Thirmidzy
disebutkan, “Siapa yang mempunyai dua istri lalu dia tidak
berbuat adil di antara mereka
berdua, maka dia datang pada
hari kiamat, sedang lambungnya
dalam keadaan turun.” (Az- Zawajir, Ibnu Hajar, 2/32).
Muhammad Khalil Al-Khathib
BILA ISTRI KUFUR KEPADA SUAMI
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan
Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para
istri maupun ibu sebagai pendidik dan juga ukhti muslimah lainnya yang sedang
mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan,… tulisan dibawah ini selayaknya
menjadi bahan renungan bagi kita bersama … .. Wahai ukhti muslimah,..wahai para istri yang sedang membina biduk rumah tangga bersama suami tercinta,… tentunya engkau sangat ingin dijuluki sebagai simpanan yang paling baik diatas muka bumi ini sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Ingatlah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu simpanan yang paling baik bagi seseorang? Yaitu wanita shalihah, jika suami memandangnya, maka dia membuatnya senang, jika suami menyuruhnya maka dia menaatinya dan jika suami tidak ada disisinya maka dia menjaganya “(HR.Abu Dawud) Alangkah berbahagianya seorang suami bila mendapati istrinya termasuk seorang wanita shalihah karena ia adalah sebaik- baik perhiasan diatas muka bumi.Perhiasan yang tidak ternilai.Dan, juga betapa bahagianya sang istri bila mendapati suaminya yang ia cintai senang terhadap dirinya dan meredhainya karena dengan keridhoan suaminya itu maka apabila ia mati tidak ada balasan yang terbaik baginya melainkan surga Allah yang seluas langit dan bumi dimana ia bisa memasukinya dari pintu manapun yang ia kehendakinya. Coba ukhti
simak hadits berikut dibawah ini : Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, dia bercerita, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Wanita mana saja yang meninggal sedang suaminya meridhainya maka akan masuk surga” (HR.Ibnu Majah,Tirmidzi, dan Hakim, Dan Al-Hakim mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih) Sabda Beliau yang lainnya: “Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu, dan berpuasa bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya, menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya,”masuklah kamu kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki”(HR.Imam Ahmad dan Nasa’ i. Semua perawi hadits ini tsiqah) Karena itu tidak boleh hilang dari benak kita bahwa memahami ajaran agama yang lurus ini dengan kesadaran dan ketaatan kepada suami merupakan bagian yang dapat memasukkan seorang wanita muslimah ke dalam surga. Akan tetapi kita dapati kenyataan dewasa ini sedikit sekali seorang istri yang taat kepada suaminya dan mensyukuri
pemberian suami kepada dirinya (kecuali yang dirahmati Allah). Selalu saja merasa kurang dan tidak cukup.Sehingga suami yang sudah lelah bekerja seharian jarang disambut dengan senyuman mesra karena kecilnya penghasilan sang suami.Dia tidak sadar telah menjerumuskan dirinya dalam bahaya besar yaitu bahwa Allah tidak sudi memandang dirinya akibat dari ketidak peduliannya terhadap rasa syukurnya atas apa yang diberikan suami kepadanya baik nafkah ataupun yang lainnya.Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sabdakan: “Allah tidak akan memandang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal ia butuh kepadanya”(HR.Al-Hakim dalam Mustadraknya, beliau mengatakan isnad hadits ini adalah shahih) Hendaklah seorang istri mengingat hadits diatas dengan baik dalam pikirannya agar ketika ia lupa mengucapkan syukur (terima kasih) kepada suaminya segera beristighfar kepada Allah Ta’ ala dan segera mengucapkan ucapan syukur kepada suaminya untuk menghindarkan dirinya dari kemurkaan Allah. Yang demikian itu karena wanita muslimah yang telah dibekali dengan ilmu agama sadar dan selalu menepati janji dan tidak mengenal kufur terhadap nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya karena dia mendapatkan petunjuk dari agamanya yang menyelamatkan dirinya dari kebobrokan moral akhlak wanita-wanita kafir yang tidak pernah mengakui kebaikan-
kebaikan yang suami mereka berikan.Ironisnya wanita-wanita muslimah dewasa ini diantara mereka ada yang berperilaku demikian. Mungkin hadits dibawah ini patut untuk dicamkan, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Pernah diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata kebanyakan dari penghuninya adalah wanita yang suka berbuat kufur. Ditanyakan kepada beliau,”Apakah mereka berbuat kufur terhadap Allah? Beliau menjawab,”Mereka berbuat kufur terhadap keluarga dan kufur terhadap kebaikan.Apabila engkau senantiasa berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka lalu mendapatkan perlakuan buruk darimu, niscaya akan mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”(Hadits Muttafaq Alaih) Sedangkan dari Asma binti Yazid radhiyallahu anha dia menceritakan: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah berjalan melalui kami sedang kami semuanya adalah wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:’ Jauhilah oleh kalian kufur terhadap orang yang berbuat kebaikan’ Lalu kami bertanya “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kufur terhadap orang-orang yang berbuat kebaikan itu?” Maka beliau menjawab:”Mungkin salah seorang diantara kalian ada yang lama hidup menjanda bersama orangtuanya, lalu Allah Azza wa Jalla memberikannya seorang suami, darinya dia memberikan harta dan keturunan.Kemudian suatu saat dia marah dan mengatakan, “Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali darinya meskipun hanya satu hari”(HR.Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits shahih) Hadits-hadits diatas menegaskan tentang kufurnya seorang wanita terhadap kebaikan yang terkandung didalamnya kufur terhadap kenikmatan sekaligus penghinaan terhadap nafkah yang diberikan suami. Nabi Shalallahu alaihi wassalam telah menerangkan dengan jelas dan baik supaya salah seorang dari wanita-wanita itu tidak ada alasan dihadapan Allah Ta’ ala pada saat Dia menanyakan tentang muamalahnya dengan sang suami, “Apakah engkau berbuat baik kepadanya ataukah
engkau mengkufuri nikmatnya dan meremehkan pemberian nafkahnya?(1) Jelaslah sudah bagaimana seorang istri bisa menjadi kufur dihadapan Allah. Hendaklah dari sekarang kita menyadari dan meninggalkan perbuatan tersebut karena hal itu merupakan penyebab disiksanya wanita dineraka pada hari kiamat kelak. Semoga Allah senantiasa menjaga istri-istri muslimah sehingga
rumah-rumah mereka dipenuhi dengan cahaya keimanan dan menjadikan mereka
termasuk dalam golongan orang- orang yang bersyukur. Amin, karena sesungguhnya sedikit sekali golongan yang bersyukur itu sebagaimana firman-Nya: “Dan sedikit sekali dari hamba- hamba-Ku yang bersyukur”(Saba:13) wallahu ‘ alam bish-shawwab. catatan kaki: (1).30 Larangan wanita, hal:63 Maraji’ : 1. Al-Qur’ an ,Depag 2.Jati Diri Wanita Muslimah, Pustaka Al-Kautsar
Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para
istri maupun ibu sebagai pendidik dan juga ukhti muslimah lainnya yang sedang
mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan,… tulisan dibawah ini selayaknya
menjadi bahan renungan bagi kita bersama … .. Wahai ukhti muslimah,..wahai para istri yang sedang membina biduk rumah tangga bersama suami tercinta,… tentunya engkau sangat ingin dijuluki sebagai simpanan yang paling baik diatas muka bumi ini sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Ingatlah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu simpanan yang paling baik bagi seseorang? Yaitu wanita shalihah, jika suami memandangnya, maka dia membuatnya senang, jika suami menyuruhnya maka dia menaatinya dan jika suami tidak ada disisinya maka dia menjaganya “(HR.Abu Dawud) Alangkah berbahagianya seorang suami bila mendapati istrinya termasuk seorang wanita shalihah karena ia adalah sebaik- baik perhiasan diatas muka bumi.Perhiasan yang tidak ternilai.Dan, juga betapa bahagianya sang istri bila mendapati suaminya yang ia cintai senang terhadap dirinya dan meredhainya karena dengan keridhoan suaminya itu maka apabila ia mati tidak ada balasan yang terbaik baginya melainkan surga Allah yang seluas langit dan bumi dimana ia bisa memasukinya dari pintu manapun yang ia kehendakinya. Coba ukhti
simak hadits berikut dibawah ini : Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, dia bercerita, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda : “Wanita mana saja yang meninggal sedang suaminya meridhainya maka akan masuk surga” (HR.Ibnu Majah,Tirmidzi, dan Hakim, Dan Al-Hakim mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih) Sabda Beliau yang lainnya: “Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu, dan berpuasa bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya, menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya,”masuklah kamu kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki”(HR.Imam Ahmad dan Nasa’ i. Semua perawi hadits ini tsiqah) Karena itu tidak boleh hilang dari benak kita bahwa memahami ajaran agama yang lurus ini dengan kesadaran dan ketaatan kepada suami merupakan bagian yang dapat memasukkan seorang wanita muslimah ke dalam surga. Akan tetapi kita dapati kenyataan dewasa ini sedikit sekali seorang istri yang taat kepada suaminya dan mensyukuri
pemberian suami kepada dirinya (kecuali yang dirahmati Allah). Selalu saja merasa kurang dan tidak cukup.Sehingga suami yang sudah lelah bekerja seharian jarang disambut dengan senyuman mesra karena kecilnya penghasilan sang suami.Dia tidak sadar telah menjerumuskan dirinya dalam bahaya besar yaitu bahwa Allah tidak sudi memandang dirinya akibat dari ketidak peduliannya terhadap rasa syukurnya atas apa yang diberikan suami kepadanya baik nafkah ataupun yang lainnya.Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sabdakan: “Allah tidak akan memandang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal ia butuh kepadanya”(HR.Al-Hakim dalam Mustadraknya, beliau mengatakan isnad hadits ini adalah shahih) Hendaklah seorang istri mengingat hadits diatas dengan baik dalam pikirannya agar ketika ia lupa mengucapkan syukur (terima kasih) kepada suaminya segera beristighfar kepada Allah Ta’ ala dan segera mengucapkan ucapan syukur kepada suaminya untuk menghindarkan dirinya dari kemurkaan Allah. Yang demikian itu karena wanita muslimah yang telah dibekali dengan ilmu agama sadar dan selalu menepati janji dan tidak mengenal kufur terhadap nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya karena dia mendapatkan petunjuk dari agamanya yang menyelamatkan dirinya dari kebobrokan moral akhlak wanita-wanita kafir yang tidak pernah mengakui kebaikan-
kebaikan yang suami mereka berikan.Ironisnya wanita-wanita muslimah dewasa ini diantara mereka ada yang berperilaku demikian. Mungkin hadits dibawah ini patut untuk dicamkan, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Pernah diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata kebanyakan dari penghuninya adalah wanita yang suka berbuat kufur. Ditanyakan kepada beliau,”Apakah mereka berbuat kufur terhadap Allah? Beliau menjawab,”Mereka berbuat kufur terhadap keluarga dan kufur terhadap kebaikan.Apabila engkau senantiasa berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka lalu mendapatkan perlakuan buruk darimu, niscaya akan mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”(Hadits Muttafaq Alaih) Sedangkan dari Asma binti Yazid radhiyallahu anha dia menceritakan: “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah berjalan melalui kami sedang kami semuanya adalah wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami dan berkata:’ Jauhilah oleh kalian kufur terhadap orang yang berbuat kebaikan’ Lalu kami bertanya “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kufur terhadap orang-orang yang berbuat kebaikan itu?” Maka beliau menjawab:”Mungkin salah seorang diantara kalian ada yang lama hidup menjanda bersama orangtuanya, lalu Allah Azza wa Jalla memberikannya seorang suami, darinya dia memberikan harta dan keturunan.Kemudian suatu saat dia marah dan mengatakan, “Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali darinya meskipun hanya satu hari”(HR.Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits shahih) Hadits-hadits diatas menegaskan tentang kufurnya seorang wanita terhadap kebaikan yang terkandung didalamnya kufur terhadap kenikmatan sekaligus penghinaan terhadap nafkah yang diberikan suami. Nabi Shalallahu alaihi wassalam telah menerangkan dengan jelas dan baik supaya salah seorang dari wanita-wanita itu tidak ada alasan dihadapan Allah Ta’ ala pada saat Dia menanyakan tentang muamalahnya dengan sang suami, “Apakah engkau berbuat baik kepadanya ataukah
engkau mengkufuri nikmatnya dan meremehkan pemberian nafkahnya?(1) Jelaslah sudah bagaimana seorang istri bisa menjadi kufur dihadapan Allah. Hendaklah dari sekarang kita menyadari dan meninggalkan perbuatan tersebut karena hal itu merupakan penyebab disiksanya wanita dineraka pada hari kiamat kelak. Semoga Allah senantiasa menjaga istri-istri muslimah sehingga
rumah-rumah mereka dipenuhi dengan cahaya keimanan dan menjadikan mereka
termasuk dalam golongan orang- orang yang bersyukur. Amin, karena sesungguhnya sedikit sekali golongan yang bersyukur itu sebagaimana firman-Nya: “Dan sedikit sekali dari hamba- hamba-Ku yang bersyukur”(Saba:13) wallahu ‘ alam bish-shawwab. catatan kaki: (1).30 Larangan wanita, hal:63 Maraji’ : 1. Al-Qur’ an ,Depag 2.Jati Diri Wanita Muslimah, Pustaka Al-Kautsar
JANGAN BERDUSTA
Jujur adalah sifat yang terpuji,
sedangkan berdusta atau
bohong adalah sifat tercela.
Jujur akan membawa kebaikan
dan kebaikan akan membawa ke syurga. Sebaliknya, bohong akan
membawa kepada kedurhakaan,
dan kedurhakaan akan menjerat
pelakunya ke neraka. Oleh
Karena itu Allah menyuruh kita
supaya berlaku jujur dan menjanjikannya dengan pahala
yang besar, sebagaimana firman-
Nya didalam QS.Al Ahzab : 70-71 اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمآ اوُقَّتا َهَّللا اوُلوُقَو الْوَق اًديِدَس ) ٧٠ ( ْحِلْصُي ْمُكَل ْمُكَلاَمْعَأ ْرِفْغَيَو ْمُكَل ْمُكَبوُنُذ ْنَمَو ِعِطُي َهَّللا ُهَلوُسَرَو ْدَقَف َزاَف اًزْوَف اًميِظَع 70. Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu
kepada Allah dan Katakanlah
Perkataan yang benar, 71. niscaya Allah memperbaiki
bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-
dosamu. dan Barangsiapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya,
Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang
besar. Allah juga menyuruh kita supaya
bertaqwa dan berada bersama
orang-orang yang benar. Fiman
Allah SWT dalam QS. At
Taubah :119 اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمآ اوُقَّتا َهَّللا اوُنوُكَو َعَم َنيِقِداَّصلا 119. Hai orang-orang yang
beriman bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah kamu
bersama orang-orang yang
benar. Rusaknya dunia ini adalah karena
kebohongan. Orang-orang
musyrik yang menganggap Allah
punya sekutu, punya anak
adalah termasuk orang-orang
yang berbuat kedustaan dan mereka termasuk orang-orang
yang sangat dhalim. Allah SWT
berfirman dalam QS.Yunus: 17 ْنَمَف ُمَلْظَأ ِنَّمِم ىَرَتْفا ىَلَع ِهَّللا اًبِذَك ْوَأ َبَّذَك ِهِتاَيآِب ُهَّنِإ ال ُحِلْفُي َنوُمِرْجُمْلا 17. Maka siapakah yang lebih
zalim daripada orang yang
mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah atau
mendustakan ayat-ayatNya?
Sesungguhnya, Tiadalah beruntung orang-orang yang
berbuat dosa. Dan juga Allah berfirman di dalam
QS.An Nahl : 105 اَمَّنِإ يِرَتْفَي َبِذَكْلا َنيِذَّلا ال َنوُنِمْؤُي ِتاَيآِب ِهَّللا َكِئَلوُأَو ُمُه َنوُبِذاَكْلا 105. Sesungguhnya yang
mengada-adakan kebohongan,
hanyalah orang-orang yang
tidak beriman kepada ayat-ayat
Allah, dan mereka Itulah orang-
orang pendusta. Dan juga dalam firman-Nya di
QS.An Nahl : 116 الَو اوُلوُقَت اَمِل ُفِصَت ُمُكُتَنِسْلَأ َبِذَكْلا اَذَه ٌلالَح اَذَهَو ٌماَرَح اوُرَتْفَتِل ىَلَع ِهَّللا َبِذَكْلا َّنِإ َنيِذَّلا َنوُرَتْفَي ىَلَع ِهَّللا َبِذَكْلا ال َنوُحِلْفُي 116. dan janganlah kamu
mengatakan terhadap apa yang
disebut-sebut oleh lidahmu
secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah Tiadalah
beruntung. Dan orang-orang Yahudi dilaknat
oleh Allah SWT karena
mengadakan kebohongan dengan
mengatakan Uzair adalah putera
Allah. Begitu pula orang-orang
Nasrani, mereka mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah putera
Allah. Allah SWT berfirman didalam
QS.At Taubah : 30-31 ِتَلاَقَو ُدوُهَيْلا ٌرْيَزُع ُنْبا ِهَّللا ِتَلاَقَو ىَراَصَّنلا ُحيِسَمْلا ُنْبا ِهَّللا َكِلَذ ْمُهُلْوَق ْمِهِهاَوْفَأِب َنوُئِهاَضُي َلْوَق َنيِذَّلا اوُرَفَك ْنِم ُلْبَق ُمُهَلَتاَق ُهَّللا ىَّنَأ َنوُكَفْؤُي ) ٣٠ ( اوُذَخَّتا ْمُهَراَبْحَأ ْمُهَناَبْهُرَو اًباَبْرَأ ْنِم ِنوُد ِهَّللا َحيِسَمْلاَو َنْبا َمَيْرَم اَمَو اوُرِمُأ الِإ اوُدُبْعَيِل اًهَلِإ اًدِحاَو ال َهَلِإ الِإ َوُه ُهَناَحْبُس اَّمَع َنوُكِرْشُي ) ٣١ ) 30. orang-orang Yahudi berkata:
“Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka
dengan mulut mereka, mereka
meniru Perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Dilaknati
Allah mereka , bagaimana mereka
sampai berpaling? 31. mereka menjadikan orang-
orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai Tuhan selain
Allah dan (juga mereka
mempertuhankan) Al masih
putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan
yang Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan. Dan berbohong adalah sifat
orang-orang yang munafik.
Firman Allah SWT didalam QS.Al
Baqarah : 8-10) َنِمَو ِساَّنلا ْنَم ُلوُقَي اَّنَمآ ِهَّللاِب ِمْوَيْلاِبَو ِرِخآلا اَمَو ْمُه َنيِنِمْؤُمِب ) ٨ ( َنوُعِداَخُي َهَّللا َنيِذَّلاَو اوُنَمآ اَمَو َنوُعَدْخَي الِإ ْمُهَسُفْنَأ اَمَو َنوُرُعْشَي ) ٩ ( يِف ْمِهِبوُلُق ٌضَرَم ُمُهَداَزَف ُهَّللا اًضَرَم ْمُهَلَو ٌباَذَع ٌميِلَأ اَمِب اوُناَك َنوُبِذْكَي ) ١٠ ) 8. di antara manusia ada yang
mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu
Sesungguhnya bukan orang-
orang yang beriman. 9. mereka hendak menipu Allah
dan orang-orang yang beriman,
Padahal mereka hanya menipu
dirinya sendiri sedang mereka
tidak sadar. 10. dalam hati mereka ada
penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka
siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta. Didalam hadist juga banyak
disebutkan pentingnya berbuat
jujur dan supaya menjauhi
berbuat dusta. Diantaranya
sebagai berikut : ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga.
Dan jauhkanlah dirimu dari dusta,
karena dusta itu bersama
kedurhakaan, dan keduanya di
neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, juz 5, hal. 368, no.
5743] ْنَع َةَداَبُع ِنْب ِتِماَّصلا ضر َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : اْوُنَمْضِا ِىل اًّتِس ْنِم ْمُكِسُفْنَا ، ْنَمْضَا ُمُكَل َةَّنَجلْا . اْوُقُدْصُا اَذِا ْمُتْثَّدَح ، َو اْوُفْوَا اَذِا ْمُتْدَعَو ، َو اْوُّدَا اَذِا ْمُتْنِمُتْئا ، َو اْوُظَفْحا ْمُكَجْوُرُف ، َو اْوُّضُغ ْمُكَراَصْبَا ، َو اْوُّفُك ْمُكَيِدْيَا . دمحا و نبا ىبا ايندلا و نبا نابح ىف هحيحص و مكاحلا و ىقهيبلا ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari ‘ Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW
bersabda, “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara
dari dirimu, niscaya aku menjamin
surga bagimu : 1. Jujurlah apabila
kamu berbicara, 2.
Sempurnakanlah (janjimu) apabila
kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4.
Jagalah kemaluanmu, 5.
Tundukkanlah pandanganmu (dari
ma’ shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak
baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid- Dunya, Ibnu Hibban di dalam
shahihnya, Hakim dan Baihaqi,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 587] ِنَع ِنَسَحلْا ِنْب ّيِلَع ضر َلاَق : ُتْظِفَح ْنِم ِلْوُسَر ِهللا ص : ْعَد اَم َكُبْيِرُي َىلِا اَم َال َكُبْيِرُي . َّنِاَف َقْدّصلا ٌةَنْيِنْأَمُط ، َو َبِذَكلْا ٌةَبْيِر . ىذمرتلا و لاق ثيدح نسح حيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Hasan bin Ali RA ia berkata :
Saya hafal dari Rasulullah SAW
(beliau bersabda), “Tinggalkan apa-apa yang meragukanmu
(berpindahlah) kepada apa-apa
yang tidak meragukanmu,
karena jujur itu adalah
ketenangan dan dusta itu adalah
keraguan”. [HR. Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih, di
dalam At-Targhiib wat Tarhiib,
juz 3, hal. 589] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ا ? ُةَي ِقِفاَنُملْا ٌثَالَث . اَذِا َثَّدَح َبَذَك َو اَذِا َدَعَو َفَلْخَا َو اَذِا َنِمُتْئا َناَخ . ىراخبلا Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Tanda kemunafiqan itu ada tiga hal,
yaitu : 1. Apabila berbicara ia
berdusta, 2. Apabila berjanji
menyelisihi dan 3. Apabila diberi
amanat ia khianat”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14] ْنَع ِدْبَع ِهللا ِنْب وٍرْمَع َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : ٌعَبْرَا ْنَم َّنُك ِهْيِف َناَك اًقِفاَنُم اًصِلاَخ ، َو ْنَم ْتَناَك ِهْيِف ٌةَلْصَخ َّنُهْنِم ْتَناَك ِهْيِف ٌةَلْصَخ َنِم ِقاَفّنلا ىَّتَح اَهَعَدَي . اَذِا َنِمُتْئا َناَخ ، َو اَذِا َثَّدَح َبَذَك ، َو اَذِا َدَهاَع َرَدَغ ، َو اَذِا َمَصاَخ َرَجَف . ىراخبلا 1 : 14 Dari Abdullah bin ‘ Amr bahwasanya Nabi SAW bersabda,
“Ada empat hal barangsiapa yang empat hal itu ada padanya
maka ia adalah orang munafiq
yang sebenarnya. Dan
barangsiapa ada padanya satu
bagian dari yang empat hal itu
berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia
meninggalkannya, yaitu : 1.
Apabila diberi amanat ia khianat,
2. Apabila berbicara ia berdusta,
3. Apabila berjanji menyelisihi dan
4. Apabila bertengkar ia curang”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14] ْنَع ِدْبَع ِهللا ِنْب ٍرِماَع ضر َلاَق : ىِنْتَعَد ىّمُا اًمْوَي َو ُلْوُسَر ِهللا ص ٌدِعاَق ىِف اَنِتْيَب . ْتَلاَقَف : اَه َلَاعَت َكِطْعُا ، َلاَقَف َاَهل ُلْوُسَر ِهللا ص : اَم ِتْدَرَا ْنَا ِهْيِطْعُت ، ْتَلاَق : ُتْدَرَا ْنَا ُهَيِطْعُا اًرْمَت ، َلاَقَف اَهَل ُلْوُسَر ِهللا ص اَمَا ِكَّنِا ْوَل ْمَل ِهْيِطْعُت اًئْيَش ْتَبِتُك ِكْيَلَع ٌةَبْذَك . ? Dari Abdullah bin ‘ Amir RA ia berkata, “Pada suatu hari ibu saya memanggil saya, pada
waktu itu Rasulullah SAW sedang
duduk di rumah kami. Ibu saya
berkata, “Kesinilah ! kamu saya beri”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah betul engkau akan memberinya ?”. Ibu saya berkata, “Saya akan memberinya kurma”. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada ibu saya,
“Ketahuilah, sesungguhnya kamu jika tidak memberi sesuatu
kepadanya niscaya kamu dicatat
dusta”. [HR. Abu Dawud Juz 4, hal 298 no.4991, dlaif karena dalam
sanadnya ada perawi yang tidak
disebutkan namanya] Demikianlah, semoga Allah SWT
menjadikan kita orang-orang
yang jujur dan menjaga kita dari
berbuat dusta. Aamiin
sedangkan berdusta atau
bohong adalah sifat tercela.
Jujur akan membawa kebaikan
dan kebaikan akan membawa ke syurga. Sebaliknya, bohong akan
membawa kepada kedurhakaan,
dan kedurhakaan akan menjerat
pelakunya ke neraka. Oleh
Karena itu Allah menyuruh kita
supaya berlaku jujur dan menjanjikannya dengan pahala
yang besar, sebagaimana firman-
Nya didalam QS.Al Ahzab : 70-71 اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمآ اوُقَّتا َهَّللا اوُلوُقَو الْوَق اًديِدَس ) ٧٠ ( ْحِلْصُي ْمُكَل ْمُكَلاَمْعَأ ْرِفْغَيَو ْمُكَل ْمُكَبوُنُذ ْنَمَو ِعِطُي َهَّللا ُهَلوُسَرَو ْدَقَف َزاَف اًزْوَف اًميِظَع 70. Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu
kepada Allah dan Katakanlah
Perkataan yang benar, 71. niscaya Allah memperbaiki
bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-
dosamu. dan Barangsiapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya,
Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang
besar. Allah juga menyuruh kita supaya
bertaqwa dan berada bersama
orang-orang yang benar. Fiman
Allah SWT dalam QS. At
Taubah :119 اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمآ اوُقَّتا َهَّللا اوُنوُكَو َعَم َنيِقِداَّصلا 119. Hai orang-orang yang
beriman bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah kamu
bersama orang-orang yang
benar. Rusaknya dunia ini adalah karena
kebohongan. Orang-orang
musyrik yang menganggap Allah
punya sekutu, punya anak
adalah termasuk orang-orang
yang berbuat kedustaan dan mereka termasuk orang-orang
yang sangat dhalim. Allah SWT
berfirman dalam QS.Yunus: 17 ْنَمَف ُمَلْظَأ ِنَّمِم ىَرَتْفا ىَلَع ِهَّللا اًبِذَك ْوَأ َبَّذَك ِهِتاَيآِب ُهَّنِإ ال ُحِلْفُي َنوُمِرْجُمْلا 17. Maka siapakah yang lebih
zalim daripada orang yang
mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah atau
mendustakan ayat-ayatNya?
Sesungguhnya, Tiadalah beruntung orang-orang yang
berbuat dosa. Dan juga Allah berfirman di dalam
QS.An Nahl : 105 اَمَّنِإ يِرَتْفَي َبِذَكْلا َنيِذَّلا ال َنوُنِمْؤُي ِتاَيآِب ِهَّللا َكِئَلوُأَو ُمُه َنوُبِذاَكْلا 105. Sesungguhnya yang
mengada-adakan kebohongan,
hanyalah orang-orang yang
tidak beriman kepada ayat-ayat
Allah, dan mereka Itulah orang-
orang pendusta. Dan juga dalam firman-Nya di
QS.An Nahl : 116 الَو اوُلوُقَت اَمِل ُفِصَت ُمُكُتَنِسْلَأ َبِذَكْلا اَذَه ٌلالَح اَذَهَو ٌماَرَح اوُرَتْفَتِل ىَلَع ِهَّللا َبِذَكْلا َّنِإ َنيِذَّلا َنوُرَتْفَي ىَلَع ِهَّللا َبِذَكْلا ال َنوُحِلْفُي 116. dan janganlah kamu
mengatakan terhadap apa yang
disebut-sebut oleh lidahmu
secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah Tiadalah
beruntung. Dan orang-orang Yahudi dilaknat
oleh Allah SWT karena
mengadakan kebohongan dengan
mengatakan Uzair adalah putera
Allah. Begitu pula orang-orang
Nasrani, mereka mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah putera
Allah. Allah SWT berfirman didalam
QS.At Taubah : 30-31 ِتَلاَقَو ُدوُهَيْلا ٌرْيَزُع ُنْبا ِهَّللا ِتَلاَقَو ىَراَصَّنلا ُحيِسَمْلا ُنْبا ِهَّللا َكِلَذ ْمُهُلْوَق ْمِهِهاَوْفَأِب َنوُئِهاَضُي َلْوَق َنيِذَّلا اوُرَفَك ْنِم ُلْبَق ُمُهَلَتاَق ُهَّللا ىَّنَأ َنوُكَفْؤُي ) ٣٠ ( اوُذَخَّتا ْمُهَراَبْحَأ ْمُهَناَبْهُرَو اًباَبْرَأ ْنِم ِنوُد ِهَّللا َحيِسَمْلاَو َنْبا َمَيْرَم اَمَو اوُرِمُأ الِإ اوُدُبْعَيِل اًهَلِإ اًدِحاَو ال َهَلِإ الِإ َوُه ُهَناَحْبُس اَّمَع َنوُكِرْشُي ) ٣١ ) 30. orang-orang Yahudi berkata:
“Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka
dengan mulut mereka, mereka
meniru Perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Dilaknati
Allah mereka , bagaimana mereka
sampai berpaling? 31. mereka menjadikan orang-
orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai Tuhan selain
Allah dan (juga mereka
mempertuhankan) Al masih
putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan
yang Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia.
Maha suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan. Dan berbohong adalah sifat
orang-orang yang munafik.
Firman Allah SWT didalam QS.Al
Baqarah : 8-10) َنِمَو ِساَّنلا ْنَم ُلوُقَي اَّنَمآ ِهَّللاِب ِمْوَيْلاِبَو ِرِخآلا اَمَو ْمُه َنيِنِمْؤُمِب ) ٨ ( َنوُعِداَخُي َهَّللا َنيِذَّلاَو اوُنَمآ اَمَو َنوُعَدْخَي الِإ ْمُهَسُفْنَأ اَمَو َنوُرُعْشَي ) ٩ ( يِف ْمِهِبوُلُق ٌضَرَم ُمُهَداَزَف ُهَّللا اًضَرَم ْمُهَلَو ٌباَذَع ٌميِلَأ اَمِب اوُناَك َنوُبِذْكَي ) ١٠ ) 8. di antara manusia ada yang
mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu
Sesungguhnya bukan orang-
orang yang beriman. 9. mereka hendak menipu Allah
dan orang-orang yang beriman,
Padahal mereka hanya menipu
dirinya sendiri sedang mereka
tidak sadar. 10. dalam hati mereka ada
penyakit, lalu ditambah Allah
penyakitnya; dan bagi mereka
siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta. Didalam hadist juga banyak
disebutkan pentingnya berbuat
jujur dan supaya menjauhi
berbuat dusta. Diantaranya
sebagai berikut : ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga.
Dan jauhkanlah dirimu dari dusta,
karena dusta itu bersama
kedurhakaan, dan keduanya di
neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, juz 5, hal. 368, no.
5743] ْنَع َةَداَبُع ِنْب ِتِماَّصلا ضر َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : اْوُنَمْضِا ِىل اًّتِس ْنِم ْمُكِسُفْنَا ، ْنَمْضَا ُمُكَل َةَّنَجلْا . اْوُقُدْصُا اَذِا ْمُتْثَّدَح ، َو اْوُفْوَا اَذِا ْمُتْدَعَو ، َو اْوُّدَا اَذِا ْمُتْنِمُتْئا ، َو اْوُظَفْحا ْمُكَجْوُرُف ، َو اْوُّضُغ ْمُكَراَصْبَا ، َو اْوُّفُك ْمُكَيِدْيَا . دمحا و نبا ىبا ايندلا و نبا نابح ىف هحيحص و مكاحلا و ىقهيبلا ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari ‘ Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW
bersabda, “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara
dari dirimu, niscaya aku menjamin
surga bagimu : 1. Jujurlah apabila
kamu berbicara, 2.
Sempurnakanlah (janjimu) apabila
kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4.
Jagalah kemaluanmu, 5.
Tundukkanlah pandanganmu (dari
ma’ shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak
baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid- Dunya, Ibnu Hibban di dalam
shahihnya, Hakim dan Baihaqi,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 587] ِنَع ِنَسَحلْا ِنْب ّيِلَع ضر َلاَق : ُتْظِفَح ْنِم ِلْوُسَر ِهللا ص : ْعَد اَم َكُبْيِرُي َىلِا اَم َال َكُبْيِرُي . َّنِاَف َقْدّصلا ٌةَنْيِنْأَمُط ، َو َبِذَكلْا ٌةَبْيِر . ىذمرتلا و لاق ثيدح نسح حيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Hasan bin Ali RA ia berkata :
Saya hafal dari Rasulullah SAW
(beliau bersabda), “Tinggalkan apa-apa yang meragukanmu
(berpindahlah) kepada apa-apa
yang tidak meragukanmu,
karena jujur itu adalah
ketenangan dan dusta itu adalah
keraguan”. [HR. Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih, di
dalam At-Targhiib wat Tarhiib,
juz 3, hal. 589] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ا ? ُةَي ِقِفاَنُملْا ٌثَالَث . اَذِا َثَّدَح َبَذَك َو اَذِا َدَعَو َفَلْخَا َو اَذِا َنِمُتْئا َناَخ . ىراخبلا Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Tanda kemunafiqan itu ada tiga hal,
yaitu : 1. Apabila berbicara ia
berdusta, 2. Apabila berjanji
menyelisihi dan 3. Apabila diberi
amanat ia khianat”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14] ْنَع ِدْبَع ِهللا ِنْب وٍرْمَع َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : ٌعَبْرَا ْنَم َّنُك ِهْيِف َناَك اًقِفاَنُم اًصِلاَخ ، َو ْنَم ْتَناَك ِهْيِف ٌةَلْصَخ َّنُهْنِم ْتَناَك ِهْيِف ٌةَلْصَخ َنِم ِقاَفّنلا ىَّتَح اَهَعَدَي . اَذِا َنِمُتْئا َناَخ ، َو اَذِا َثَّدَح َبَذَك ، َو اَذِا َدَهاَع َرَدَغ ، َو اَذِا َمَصاَخ َرَجَف . ىراخبلا 1 : 14 Dari Abdullah bin ‘ Amr bahwasanya Nabi SAW bersabda,
“Ada empat hal barangsiapa yang empat hal itu ada padanya
maka ia adalah orang munafiq
yang sebenarnya. Dan
barangsiapa ada padanya satu
bagian dari yang empat hal itu
berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia
meninggalkannya, yaitu : 1.
Apabila diberi amanat ia khianat,
2. Apabila berbicara ia berdusta,
3. Apabila berjanji menyelisihi dan
4. Apabila bertengkar ia curang”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 14] ْنَع ِدْبَع ِهللا ِنْب ٍرِماَع ضر َلاَق : ىِنْتَعَد ىّمُا اًمْوَي َو ُلْوُسَر ِهللا ص ٌدِعاَق ىِف اَنِتْيَب . ْتَلاَقَف : اَه َلَاعَت َكِطْعُا ، َلاَقَف َاَهل ُلْوُسَر ِهللا ص : اَم ِتْدَرَا ْنَا ِهْيِطْعُت ، ْتَلاَق : ُتْدَرَا ْنَا ُهَيِطْعُا اًرْمَت ، َلاَقَف اَهَل ُلْوُسَر ِهللا ص اَمَا ِكَّنِا ْوَل ْمَل ِهْيِطْعُت اًئْيَش ْتَبِتُك ِكْيَلَع ٌةَبْذَك . ? Dari Abdullah bin ‘ Amir RA ia berkata, “Pada suatu hari ibu saya memanggil saya, pada
waktu itu Rasulullah SAW sedang
duduk di rumah kami. Ibu saya
berkata, “Kesinilah ! kamu saya beri”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah betul engkau akan memberinya ?”. Ibu saya berkata, “Saya akan memberinya kurma”. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada ibu saya,
“Ketahuilah, sesungguhnya kamu jika tidak memberi sesuatu
kepadanya niscaya kamu dicatat
dusta”. [HR. Abu Dawud Juz 4, hal 298 no.4991, dlaif karena dalam
sanadnya ada perawi yang tidak
disebutkan namanya] Demikianlah, semoga Allah SWT
menjadikan kita orang-orang
yang jujur dan menjaga kita dari
berbuat dusta. Aamiin
Selasa, 18 Januari 2011
TIDAK TAKUTKAH ENGKAU
Adalah Abdullah bin Umar ra, seorang sahabat nabi SAW yang
kala itu masih remaja. Didalam
sebuah mimpinya, dia berjumpa
dengan dua malaikat. Tanpa
berkata apa apa, dua malaikat
itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka.
Dalam mimpinya, neraka itu bagai
sumur yang menyalakan api
berkobar kobar. Luar biasa
panasnya. Di dalam neraka itu,
dia melihat orang orang yang telah dikenalnya. Mereka
terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara pedihnya . Menyaksikan neraka yang
mengerikan dan menakutkan itu,
Abdullah bin Umar seketika
berdoa, “A’ udzubillahi minannaazi. Aku berlindung kepada Allah dari
api neraka.” Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain.
Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka!” Pagi harinya, Abdullah bin Umar
menangis mengingat mimpi yang
dialaminya. Lalu, dia pergi ke
rumah Hafshah binti Umar, istri
Rasulullah saw. Dia menceritakan
perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas. Setelah itu, Hafsah
menemui Nabi SAW dan
menceritakan mimpi saudara
kandungnya itu pada beliau.
Seketika itu, beliau bersabda,
“Sebaik baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau
melakukan shalat malam!” Mendengar sabda Nabi SAW itu,
Hafshah bergembira. Dia langsung
menemui adiknya, Abdullah bin
Umar dan berkata,
“Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik baik lelaki jika kau
mau shalat malam. Dalam mimpimu
itu, malaikat yang terakhir kau
temui mengatakan bahwa kau
belum terjaga dari api neraka.
Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin
terselamatkan dari api neraka,
dirikanlah salat tahajud setiap
malam. Jangan kau sia siakan
waktu sepertiga malam; waktu di
mana Allah Swt memanggil manggil hamba Nya; waktu ketika
Allah mendengar doa hamba
Nya.” Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak
pernah meninggalkan shalat
tahajud sampai akhir hayatnya.
Bahkan, kerap kali dia
menghabiskan waktu malamnya
untuk shalat dan menangis di hadapan Allah Swt. Setiap kali
mengingat mimpinya itu, dia
menangis. Dia berdoa kepada
Allah agar diselamatkan dari api
neraka. Berikut ini adalah kabar kedahsyatan di Neraka. Naudzubillah jika seseorang tidak percaya akan adanya syurga dan neraka. Atau Seseorang yang merasa yakin kuat di Neraka karena hanya sebentar saja, padahal 1 hari sama dengan ribuan tahun sehingga dia bermalas-malas menuju taqwa. Atau Seseorang yang yakin bahwa Allah Maha Penyayang kog, tidak mungkin hamba-Nya sendiri kog disiksa dst dan berbagai pemikiran lainnya ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ىَتْؤُي َمَّنَهَجِب ٍذِئَمْوَي اَهَل َنْوُعْبَس َفْلَا ٍماَمِز َعَم ّلُك ٍماَمِز َنْوُعْبَس َفْلَا ٍكَلَم اَهَنْوُّرُجَي . ملسم 4 :
2184 Dari ‘ Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari itu Jahannam didatangkan,
ia mempunyai tujuh puluh ribu
kendali dan setiap satu kendali
dipegang oleh tujuh puluh ribu
malaikat yang menariknya”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : ْمُكُراَن ِهِذه ىِتَّلا ُدِقْوُي ُنْبا َمَدآ ٌءْزُج ْنِم َنْيِعْبَس اًءْزُج ْنِم ّرَح َمَّنَهَج . اْوُلاَق : َو ِهللا ، ْنِا ْتَناَك ًةَيِفاَكَل اَي َلْوُسَر ِهللا . َلاَق : اَهَّنِاَف ْتَلّضُف اَهْيَلَع ٍةَعْسِتِب َو َنْيّتِس اًءْزُج ، اَهُّلُك ُلْثِم اَهّرَح . ملسم 4 :
2184 Dari Abu Hurairah, bahwasanya
Nabi SAW bersabda, “Apimu ini, yang dinyalakan oleh anak Adam
(manusia) adalah sepertujuh
puluh dari panasnya Jahannam”. Para shahabat berkata, “Demi Allah, meskipun begitu api ini
sudah cukup (untuk memasak dll)
, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya panas api Jahannam itu melebihi panasnya
api ini dengan enam puluh
sembilan bagian, masing-masing
panasnya sama dengan api ini”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : اَّنُك َعَم ِلْوُسَر ِهللا ص ْذِا َعِمَس ًةَبْجَو َلاَقَف ُّيِبَّنلا ص : َنْوُرْدَت اَم ؟اَذه َلاَق : اَنْلُق : ُهللا َو ُهُلْوُسَر ُمَلْعَا . َلاَق : اَذه ٌرَجَح َيِمُر ِهِب ىِف ِراَّنلا ُذْنُم َنْيِعْبَس اًفْيِرَخ ، َوُهَف ىِوْهَي ىِف ِراَّنلا ، َنآلْا ىَّتَح ىَهَتْنا ىَلِا اَهِرْعَق . ملسم 4 : 2184 Dari Abu Hurairah, ia berkata :
Kami dahulu sedang bersama
Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau
mendengar suara benda jatuh,
maka beliau bertanya, “Tahukah kamu, suara apa ini ?”. (Abu Hurairah berkata) Kami berkata,
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Itu adalah batu yang dilemparkan ke
neraka sejak tujuh puluh musim,
ia meluncur turun di neraka,
sekarang baru sampai di
dasarnya”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ِنَع ِنَسَحلْا َلاَق : َلاَق ُةَبْتُع ُنْب َناَوْزَغ : ىَلَع اَنِرَبْنِم اَذه ِرَبْنِم ِةَرْصَبلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َّنِا َةَرْخَّصلا َةَمْيِظَعلْا ىَقْلُتَل ْنِم ِرْيِفَش َمَّنَهَج ىِوْهَتَف اَهْيِف َنْيِعْبَس اًماَع . َو اَم ىِضْفُت ىَلِا اَهِراَرَق . َلاَق : َو َناَك ُرَمُع ُلْوُقَي : اْوُرِثْكَا َرْكِذ ِراَّنلا ، َّنِاَف اَهَّرَح ٌدْيِدَش . َو َّنِا اَهَرْعَق ٌدْيِعَب . َو َّنِا اَهَعِماَقَم ٌدْيِدَح . ىذمرتلا 4 : 104 Dari Hasan, ia berkata : ‘ Utbah bin Ghazwan berkata di atas
mimbar kita ini, yaitu mimbar
Bashrah dari Nabi SAW, beliau
bersabda, “Sesungguhnya batu yang besar dilemparkan dari bibir
Jahannam, lalu jatuh di dalamnya
tujuh puluh tahun belum sampai
dasarnya”. ‘ Utbah berkata : ‘ Umar berkata, “Perbanyaklah ingat kepada neraka, karena
sesungguhnya panasnya amat
sangat, sesungguhnya dasarnya
sangat dalam dan sesungguhnya
alat pemukulnya terbuat dari
besi”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 104] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ِنَع ّيِبَّنلا ص يِف ِهِلْوَق ) ِلْهُمْلاَك ( َلاَق : ِرَكَعَك ِتْيَّزلا ، اَذِاَف ُهَبَّرَق ىَلِا ِهِهْجَو ْتَطَقَس ُةَوْرَف ِهِهْجَو ِهْيِف . ىذمرتلا 4 : 105 Dari Abu Sa’ id, dari Nabi SAW dalam menafsiri firman Allah
[Kalmuhli], beliau bersabda,
“Seperti keruhnya minyak, lalu apabila orang kafir mendekatkan
air tersebut ke wajahnya,
jatuhlah kulit mukanya di
dalamnya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 105] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َّنِا َمْيِمَحلْا ُّبَصُيَل ىَلَع ْمِهِسْوُءُر ُذُفْنَيَف ُمْيِمَحلْا ىَّتَح َصُلْخَي ىَلِا ِهِفْوَج ، َتِلْسَيَف اَم ىِف ِهِفْوَج ىَّتَح َقُرْمَي ْنِم ِهْيَمَدَق َو َوُه ُرْهَّصلا ، َّمُث ُداَعُي اَمَك َناَك . ىذمرتلا 4 : 106 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Sesungguhnya air mendidih disiramkan diatas
kepala mereka, lalu air yang
mendidih itu menembus hingga di
perutnya, kemudian memotong-
motong apa yang ada di dalam
perutnya, hingga keluar dari kedua telapak kakinya dalam
keadaan cair, kemudian
dikembalikan seperti semula”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 106] ْنَع ىِبَا َةَماَمُا ِنَع ّيِبَّنلا ص ىِف ِهِلْوَق ) ىقْسُيَو ْنِم ٍءآَم ٍدْيِدَص هُعَّرَجَتَّي ( َلاَق : ُبَّرَقُي ىَلِا ِهْيِف ُهُهَرْكَيَف ، اَذِاَف َيِنْدُا ُهْنِم ىَوَش ُهَهْجَو َو ْتَعَقَو ُةَوْرَف ِهِسْأَر . اَذِاَف ُهَبِرَش َعَّطَق ُهَءاَعْمَا ىَّتَح َجُرْخَت ْنِم ِهِرُبُد . ُلْوُقَي ُهللا َكَراَبَت َو ىَلاَعَت ) اْوُقُسَو ًءآَم اًمْيِمَح َعَّطَقَف ْمُهَءآَعْمَا ( َو ُلْوُقَي ) َو ْنِا اْوُثْيِغَتْسَّي اْوُثاَغُي ٍءآَمِب ِلْهُملْاَك ىِوْشَي َهْوُجُولْا ، َسْئِب ُباَرَّشلا ، َو ْتَءآَس اًقَفَتْرُم ( . ىذمرتلا 4 : 106 Dari Abu Umamah, dari Nabi SAW
dalam menafsiri firman Allah [Dia
diberi minum dengan air
bercampur nanah dan darah. Dia
akan meminumnya (QS. Ibrahim :
16-17)] Beliau bersabda, “Air yang bercampur nanah itu
didekatkan pada mulutnya, lalu ia
membencinya. Apabila nanah itu
didekatkan kepadanya, maka
nanah itu membakar mukanya
(karena panasnya) dan jatuhlah kulit kepalanya, apabila ia
meminumnya, maka memotong-
motong ususnya hingga keluar
dari duburnya”. Allah berfirman, “Mereka diberi minuman dari air yang mendidih hingga memotong-
motong ususnya (QS. Muhamad :
15)). Dia berfirman, “Dan apabila mereka minta tolong, niscaya
akan ditolong dengan air yang
menyerupai minyak yang keruh
yang memanggang muka, itulah
seburuk-buruk minuman, dan
neraka itu seburuk-buruk tempat kediaman (QS. Al-Kahfi :
29)”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 106] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ّيِرْدُخلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ) ِلْهُمْلاَك ( َلاَق : ِرَكَعَك ِتْيَّزلا ، اَذِاَف َبّرُق ِهْيَلِا ْتَطَقَس ُةَوْرَف ِهِهْجَو ِهْيِف . َو اَذهِب ِداَنْسِالْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ُقِداَرُسَل ِراَّنلا ُةَعَبْرَا ٍرُدُج ُفَثِك ّلُك ٍراَدِج ُةَرْيِسَم َنْيِعَبْرَا ًةَنَس . َو اَذهِب ِداَنْسِالْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ْوَل َّنَا اًوْلَد ْنِم ٍقاَّسَغ ُقاَرْهُي ىِف اَيْنُّدلا َنَتْنَألَ ُلْهَا اَيْنُّدلا . ىذمرتلا 4 : 107 Dari Abu Sa’ id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda dalam
menafsiri firman Allah [Kalmuhli],
“Seperti minyak yang keruh, apabila didekatkan kepada
mukanya, niscaya jatuhlah kulit
mukanya di dalamnya”. Dan dengan sanad ini pula, dari Nabi
SAW, beliau bersabda, “Sungguh yang mengelilingi neraka itu
empat tembok tebal, setiap
tembok itu perjalanan empat
puluh tahun”. Dan dengan sanad ini pula, dari Nabi SAW, beliau
bersabda, “Seandainya satu timba berisi nanah dari penghuni
neraka dituangkan di dunia
niscaya penduduk dunia menjadi
busuk baunya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 107] ِنَع ِنْبا ٍساَّبَع َّنَا َلْوُسَر ِهللا ص َأَرَق ِهِذه َةَيآلْا ) اوُقَّتِا َهللا َّقَح هِتاَقُت َو َال َّنُتْوُمَت َّالِا َو ْمُتْنَا َنْوُمِلْسُّم ( َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْوَل َّنَا ًةَرْطَق َنِم ِمْوُّقَّزلا ْتَرِطُق ىِف ِراَد اَيْنُّدلا ْتَدَسْفَالَ ىَلَع ِلْهَا اَيْنُّدلا ْمُهَشِياَعَم ، َفْيَكَف ْنَمِب ُنْوُكَي ؟ُهُماَعَط ىذمرتلا 4 : 107 Dari Ibnu ‘ Abbas bahwasanya Rasulullah SAW membaca ayat ini
(Bertaqwalah kepada Allah
dengan taqwa yang sebenar-
benarnya dan janganlah kamu
mati kecuali dalam keadaan Islam)
. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seandainya satu tetes dari pohon zaqqum dijatuhkan di
dunia, niscaya merusak
penghidupan penghuni dunia, lalu
bagaimana dengan orang yang
pohon zaqqum menjadi
makanannya ?”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 107] ْنَع ىِبَا ِءاَدْرَّدلا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ىَقْلُي ىَلَع ِلْهَا ِراَّنلا ُعْوُجلْا ُلِدْعَيَف اَم ْمُه ِهْيِف َنِم ِباَذَعلْا َنْوُثْيِغَتْسَيَف َنْوُثاَغُيَف ٍماَعَطِب ْنِم ٍعْيِرَض ، َال ُنِمْسُي َو َال ىِنْغُي ْنِم ٍعْوُج ، َنْوُثْيِغَتْسَيَف ِماَعَّطلاِب َنْوُثاَغُيَف ٍماَعَطِب ىِذ ٍةَّصُغ ، َنْوُرُكْذَيَف ْمُهَّنَا اْوُناَك َنْوُزْيِجُي َصَصُغلْا ىِف اَيْنُّدلا ِباَرَّشلاِب َنْوُثْيِغَتْسَيَف ِباَرَّشلاِب ُعَفْدُيَف ُمِهْيَلِا ُمْيِمَحلْا ِبْيِلَالَكِب ِدْيِدَحلْا . اَذِاَف ْتَنَد ْنِم ْمِهِهْوُجُو ْتَوَش ْمُهَهْوُجُو اَذِاَف ْتَلَخَد ْمُهَنْوُطُب ْتَعَّطَق اَم ىِف ْمِهِنْوُطُب . َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا َةَنَزَخ َمَّنَهَج . َنْوُلْوُقَيَف : ) ْمَلَا ُكَت ْمُكْيِتْأَت ْمُكُلُسُر ِتنّيَبلْاِب اْوُلاَق ىلَب ، اْوُلاَق اْوُعْداَف َو اَم ُءآَعُد َنْيِرِفكلْا َّالِا ْيِف ٍللَض ( َلاَق : َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا اًكِلاَم . َنْوُلْوُقَيَف ) اَي ُكِلاَم ِضْقَيِل اَنْيَلَع َكُّبَر ( َلاَق : ْمُهُبْيِجُيَف ) ْمُكَّنِا َنْوُثِكاَم ( َلاَق : ُشَمْعَالْا : ُتْئّبُن َّنَا َنْيَب ْمِهِئاَعُد َو َنْيَب ِةَباَجِا ٍكِلاَم ْمُهاَّيِا َفْلَا ٍماَع . َلاَق : َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا ْمُكَّبَر . َالَف َدَحَا ٌرْيَخ ْنِم ْمُكّبَر . َنْوُلْوُقَيَف : ) اَنَّبَر ْتَبَلَغ اَنْيَلَع اَنُتَوْقِش َو اَّنُك اًمْوَق َنْيّلاَض ، اَنَّبَر اَنْجِرْخَا اَهْنِم ْنِاَف اَنْدُع اَّنِاَف َنْوُمِلظ ( َلاَق : ْمُهُبْيِجُيَف ) اْوُئَسْخِا اَهْيِف َو َال ِنْوُمّلَكُت ( َلاَق : َدْنِعَف َكِلذ اْوُسِئَي ْنِم ّلُك ٍرْيَخ َو َدْنِع َكِلذ َنْوُذُخْأَي ىِف ِرْيِفَّزلا َو ِةَرْسَحلْا َو ِلْيَولْا . ىذمرتلا 4 : 108 Dari Abud Darda’ , ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Lapar dicampakkan kepada penghuni
neraka, maka siksa lapar
membandingi siksa lain yang telah
menimpa mereka, lalu mereka
minta tolong, maka ditolong
dengan makanan berupa pohon yang berduri, yang tidak
menggemukkan dan tidak
menghilangkan lapar, lalu minta
tolong untuk diberi makanan lagi,
maka ditolong dengan makanan
yang tersendat di kerongkongan, lalu mereka
menyebutkan bahwasanya
mereka dahulu di dunia apabila
makanan tersendat di
kerongkonan lalu mengikutinya
dengan minum, lalu mereka minta tolong untuk diberi minuman,
maka air yang mendidih
diserahkan kepada mereka
dengan penyapit besi. Apalagi bila
air panas itu dekat dengan muka
mereka, niscaya membakar wajah mereka, apabila air itu
masuk di perut mereka, niscaya
air itu memotong-motong apa
yang ada di perut mereka, lalu
mereka berkata, “Mintalah kepada para penjaga neraka
Jahannam”. Kemudian penjaga Jahannam berkata, “Apakah para Rasul tidak datang
kepadamu dengan membawa
keterangan ?”. Mereka menjawab, “Sudah”. Para penjaga Jahannam berkata,
“Mintalah, dan tiada permintaan orang-orang kafir kecuali dalam
kesesatan (QS. Al-Mu’ min : 50)”. Nabi SAW bersabda : Mereka
berkata, “Mintalah kepada malaikat Malik !”. Mereka berkata, “Hai Malik, mintakanlah kepada Tuhanmu agar Dia
mematikan kami !”. Beliau SAW bersabda : Malaikat menjawab,
“Sesungguhnya kamu tetap hidup terus (QS. Az-Zukhruf : 77)
”. Al-A’ masy berkata : Aku diberitahu bahwa jarak waktu
antara permintaan mereka dan
antara jawaban Malik kepada
mereka adalah seribu tahun.
Beliau SAW bersabda : Mereka
berkata, “Mintalah Tuhanmu, karena tidak ada seorangpun
yang lebih baik daripada
Tuhanmu !”. Lalu mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, nasib buruk telah mendahului
kami dan sungguh kami kaum
yang tersesat. Wahai Tuhan
kami, keluarkanlah kami dari
neraka, lalu jika kami kembali
(dalam kesesatan), sungguh kami orang-orang yang dhalim”. Beliau bersabda : Allah menjawab
mereka, “Pergilah padanya dan jangan bicara kepada-Ku (QS. Al-
Mu’ minuun : 106-108)”. Beliau bersabda : Pada saat itu mereka
putus asa dari segala usaha
yang dapat menyelamatkan
mereka dan pada saat itu pula
mereka memulai dalam suara
yang keras, penyesalan dan kecelakaan”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 108] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ّيِرْدُخلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ) َو ْمُه اَهْيِف َنْوُحِلاَك ( َلاَق : ِهْيِوْشَت ُراَّنلا ُصَّلَقَتَف ُهُتَفَش اَيْلُعلْا ىَّتَح َغُلْبَت َطَسَو ِهِسْأَر َو ىِخْرَتْسَت ُهُتَفَش ىَلْفُّسلا ىَّتَح َبِرْضَت ُهَتَّرُس .
ىذمرتلا Dari Abu Sa’ id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Para penghuni neraka di neraka
bermuka muram”. Beliau bersabda, “Mukanya dibakar api neraka, lalu bibirnya yang atas
tersingsing hingga sampai di
tengah kepalanya dan bibirnya
yang bawah turun hingga
menghantam pusarnya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 109] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َدِقْوُا ىَلَع ِراَّنلا َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّرَمْحا َّمُث َدِقْوُا اَهْيَلَع َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّضَيْبا َّمُث َدِقْوُا اَهْيَلَع َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّدَوْسا َيِهَف ُءاَدْوَس ٌةَمِلْظُم . ىذمرتلا 4 :
110 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Dinyalakan atas neraka Jahannam seribu
tahun hingga menjadi merah,
kemudian dinyalakan atasnya
seribu tahun sehingga menjadi
putih, kemudian dinyalakan
atasnya seribu tahun sehingga menjadi hitam, lalu neraka
Jahannam itu hitam pekat”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 110] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ِتَكَتْشا ُراَّنلا ىَلِا اَهّبَر َو ْتَلاَق : َلَكَا ىِضْعَب اًضْعَب ، َلَعَجَف اَهَل ِنْيَسَفَن : اًسَفَن ىِف ِءاَتّشلا َو اًسَفَن ىِف ِفْيَّصلا . اَّمَاَف اَهُسَفَن ىِف ِءاَتّشلا ٌرْيِرَهْمَزَف . َو اَّمَا اَهُسَفَن ىِف ِفْيَّصلا ٌمْوُمَسَف . ىذمرتلا 4 : 111 Dari Abu Hurairah, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda,
“Neraka mengadu kepada Tuhannya dan berkata,
“Sebagian aku memakan bagian yang lain”. Lalu Allah menjadikan baginya dua nafas, satu nafas di
musim dingin, dan nafas yang lain
di musim panas. Adapun nafasnya
di musim dingin adalah sangat
dingin, adapun nafasnya di musim
panas adalah angin yang panas”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 111]
kala itu masih remaja. Didalam
sebuah mimpinya, dia berjumpa
dengan dua malaikat. Tanpa
berkata apa apa, dua malaikat
itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka.
Dalam mimpinya, neraka itu bagai
sumur yang menyalakan api
berkobar kobar. Luar biasa
panasnya. Di dalam neraka itu,
dia melihat orang orang yang telah dikenalnya. Mereka
terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara pedihnya . Menyaksikan neraka yang
mengerikan dan menakutkan itu,
Abdullah bin Umar seketika
berdoa, “A’ udzubillahi minannaazi. Aku berlindung kepada Allah dari
api neraka.” Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain.
Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka!” Pagi harinya, Abdullah bin Umar
menangis mengingat mimpi yang
dialaminya. Lalu, dia pergi ke
rumah Hafshah binti Umar, istri
Rasulullah saw. Dia menceritakan
perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas. Setelah itu, Hafsah
menemui Nabi SAW dan
menceritakan mimpi saudara
kandungnya itu pada beliau.
Seketika itu, beliau bersabda,
“Sebaik baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau
melakukan shalat malam!” Mendengar sabda Nabi SAW itu,
Hafshah bergembira. Dia langsung
menemui adiknya, Abdullah bin
Umar dan berkata,
“Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik baik lelaki jika kau
mau shalat malam. Dalam mimpimu
itu, malaikat yang terakhir kau
temui mengatakan bahwa kau
belum terjaga dari api neraka.
Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin
terselamatkan dari api neraka,
dirikanlah salat tahajud setiap
malam. Jangan kau sia siakan
waktu sepertiga malam; waktu di
mana Allah Swt memanggil manggil hamba Nya; waktu ketika
Allah mendengar doa hamba
Nya.” Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak
pernah meninggalkan shalat
tahajud sampai akhir hayatnya.
Bahkan, kerap kali dia
menghabiskan waktu malamnya
untuk shalat dan menangis di hadapan Allah Swt. Setiap kali
mengingat mimpinya itu, dia
menangis. Dia berdoa kepada
Allah agar diselamatkan dari api
neraka. Berikut ini adalah kabar kedahsyatan di Neraka. Naudzubillah jika seseorang tidak percaya akan adanya syurga dan neraka. Atau Seseorang yang merasa yakin kuat di Neraka karena hanya sebentar saja, padahal 1 hari sama dengan ribuan tahun sehingga dia bermalas-malas menuju taqwa. Atau Seseorang yang yakin bahwa Allah Maha Penyayang kog, tidak mungkin hamba-Nya sendiri kog disiksa dst dan berbagai pemikiran lainnya ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ىَتْؤُي َمَّنَهَجِب ٍذِئَمْوَي اَهَل َنْوُعْبَس َفْلَا ٍماَمِز َعَم ّلُك ٍماَمِز َنْوُعْبَس َفْلَا ٍكَلَم اَهَنْوُّرُجَي . ملسم 4 :
2184 Dari ‘ Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Pada hari itu Jahannam didatangkan,
ia mempunyai tujuh puluh ribu
kendali dan setiap satu kendali
dipegang oleh tujuh puluh ribu
malaikat yang menariknya”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َّنَا َّيِبَّنلا ص َلاَق : ْمُكُراَن ِهِذه ىِتَّلا ُدِقْوُي ُنْبا َمَدآ ٌءْزُج ْنِم َنْيِعْبَس اًءْزُج ْنِم ّرَح َمَّنَهَج . اْوُلاَق : َو ِهللا ، ْنِا ْتَناَك ًةَيِفاَكَل اَي َلْوُسَر ِهللا . َلاَق : اَهَّنِاَف ْتَلّضُف اَهْيَلَع ٍةَعْسِتِب َو َنْيّتِس اًءْزُج ، اَهُّلُك ُلْثِم اَهّرَح . ملسم 4 :
2184 Dari Abu Hurairah, bahwasanya
Nabi SAW bersabda, “Apimu ini, yang dinyalakan oleh anak Adam
(manusia) adalah sepertujuh
puluh dari panasnya Jahannam”. Para shahabat berkata, “Demi Allah, meskipun begitu api ini
sudah cukup (untuk memasak dll)
, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya panas api Jahannam itu melebihi panasnya
api ini dengan enam puluh
sembilan bagian, masing-masing
panasnya sama dengan api ini”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : اَّنُك َعَم ِلْوُسَر ِهللا ص ْذِا َعِمَس ًةَبْجَو َلاَقَف ُّيِبَّنلا ص : َنْوُرْدَت اَم ؟اَذه َلاَق : اَنْلُق : ُهللا َو ُهُلْوُسَر ُمَلْعَا . َلاَق : اَذه ٌرَجَح َيِمُر ِهِب ىِف ِراَّنلا ُذْنُم َنْيِعْبَس اًفْيِرَخ ، َوُهَف ىِوْهَي ىِف ِراَّنلا ، َنآلْا ىَّتَح ىَهَتْنا ىَلِا اَهِرْعَق . ملسم 4 : 2184 Dari Abu Hurairah, ia berkata :
Kami dahulu sedang bersama
Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau
mendengar suara benda jatuh,
maka beliau bertanya, “Tahukah kamu, suara apa ini ?”. (Abu Hurairah berkata) Kami berkata,
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Itu adalah batu yang dilemparkan ke
neraka sejak tujuh puluh musim,
ia meluncur turun di neraka,
sekarang baru sampai di
dasarnya”. [HR. Muslim juz 4 hal. 2184] ِنَع ِنَسَحلْا َلاَق : َلاَق ُةَبْتُع ُنْب َناَوْزَغ : ىَلَع اَنِرَبْنِم اَذه ِرَبْنِم ِةَرْصَبلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َّنِا َةَرْخَّصلا َةَمْيِظَعلْا ىَقْلُتَل ْنِم ِرْيِفَش َمَّنَهَج ىِوْهَتَف اَهْيِف َنْيِعْبَس اًماَع . َو اَم ىِضْفُت ىَلِا اَهِراَرَق . َلاَق : َو َناَك ُرَمُع ُلْوُقَي : اْوُرِثْكَا َرْكِذ ِراَّنلا ، َّنِاَف اَهَّرَح ٌدْيِدَش . َو َّنِا اَهَرْعَق ٌدْيِعَب . َو َّنِا اَهَعِماَقَم ٌدْيِدَح . ىذمرتلا 4 : 104 Dari Hasan, ia berkata : ‘ Utbah bin Ghazwan berkata di atas
mimbar kita ini, yaitu mimbar
Bashrah dari Nabi SAW, beliau
bersabda, “Sesungguhnya batu yang besar dilemparkan dari bibir
Jahannam, lalu jatuh di dalamnya
tujuh puluh tahun belum sampai
dasarnya”. ‘ Utbah berkata : ‘ Umar berkata, “Perbanyaklah ingat kepada neraka, karena
sesungguhnya panasnya amat
sangat, sesungguhnya dasarnya
sangat dalam dan sesungguhnya
alat pemukulnya terbuat dari
besi”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 104] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ِنَع ّيِبَّنلا ص يِف ِهِلْوَق ) ِلْهُمْلاَك ( َلاَق : ِرَكَعَك ِتْيَّزلا ، اَذِاَف ُهَبَّرَق ىَلِا ِهِهْجَو ْتَطَقَس ُةَوْرَف ِهِهْجَو ِهْيِف . ىذمرتلا 4 : 105 Dari Abu Sa’ id, dari Nabi SAW dalam menafsiri firman Allah
[Kalmuhli], beliau bersabda,
“Seperti keruhnya minyak, lalu apabila orang kafir mendekatkan
air tersebut ke wajahnya,
jatuhlah kulit mukanya di
dalamnya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 105] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َّنِا َمْيِمَحلْا ُّبَصُيَل ىَلَع ْمِهِسْوُءُر ُذُفْنَيَف ُمْيِمَحلْا ىَّتَح َصُلْخَي ىَلِا ِهِفْوَج ، َتِلْسَيَف اَم ىِف ِهِفْوَج ىَّتَح َقُرْمَي ْنِم ِهْيَمَدَق َو َوُه ُرْهَّصلا ، َّمُث ُداَعُي اَمَك َناَك . ىذمرتلا 4 : 106 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Sesungguhnya air mendidih disiramkan diatas
kepala mereka, lalu air yang
mendidih itu menembus hingga di
perutnya, kemudian memotong-
motong apa yang ada di dalam
perutnya, hingga keluar dari kedua telapak kakinya dalam
keadaan cair, kemudian
dikembalikan seperti semula”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 106] ْنَع ىِبَا َةَماَمُا ِنَع ّيِبَّنلا ص ىِف ِهِلْوَق ) ىقْسُيَو ْنِم ٍءآَم ٍدْيِدَص هُعَّرَجَتَّي ( َلاَق : ُبَّرَقُي ىَلِا ِهْيِف ُهُهَرْكَيَف ، اَذِاَف َيِنْدُا ُهْنِم ىَوَش ُهَهْجَو َو ْتَعَقَو ُةَوْرَف ِهِسْأَر . اَذِاَف ُهَبِرَش َعَّطَق ُهَءاَعْمَا ىَّتَح َجُرْخَت ْنِم ِهِرُبُد . ُلْوُقَي ُهللا َكَراَبَت َو ىَلاَعَت ) اْوُقُسَو ًءآَم اًمْيِمَح َعَّطَقَف ْمُهَءآَعْمَا ( َو ُلْوُقَي ) َو ْنِا اْوُثْيِغَتْسَّي اْوُثاَغُي ٍءآَمِب ِلْهُملْاَك ىِوْشَي َهْوُجُولْا ، َسْئِب ُباَرَّشلا ، َو ْتَءآَس اًقَفَتْرُم ( . ىذمرتلا 4 : 106 Dari Abu Umamah, dari Nabi SAW
dalam menafsiri firman Allah [Dia
diberi minum dengan air
bercampur nanah dan darah. Dia
akan meminumnya (QS. Ibrahim :
16-17)] Beliau bersabda, “Air yang bercampur nanah itu
didekatkan pada mulutnya, lalu ia
membencinya. Apabila nanah itu
didekatkan kepadanya, maka
nanah itu membakar mukanya
(karena panasnya) dan jatuhlah kulit kepalanya, apabila ia
meminumnya, maka memotong-
motong ususnya hingga keluar
dari duburnya”. Allah berfirman, “Mereka diberi minuman dari air yang mendidih hingga memotong-
motong ususnya (QS. Muhamad :
15)). Dia berfirman, “Dan apabila mereka minta tolong, niscaya
akan ditolong dengan air yang
menyerupai minyak yang keruh
yang memanggang muka, itulah
seburuk-buruk minuman, dan
neraka itu seburuk-buruk tempat kediaman (QS. Al-Kahfi :
29)”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 106] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ّيِرْدُخلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ) ِلْهُمْلاَك ( َلاَق : ِرَكَعَك ِتْيَّزلا ، اَذِاَف َبّرُق ِهْيَلِا ْتَطَقَس ُةَوْرَف ِهِهْجَو ِهْيِف . َو اَذهِب ِداَنْسِالْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ُقِداَرُسَل ِراَّنلا ُةَعَبْرَا ٍرُدُج ُفَثِك ّلُك ٍراَدِج ُةَرْيِسَم َنْيِعَبْرَا ًةَنَس . َو اَذهِب ِداَنْسِالْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ْوَل َّنَا اًوْلَد ْنِم ٍقاَّسَغ ُقاَرْهُي ىِف اَيْنُّدلا َنَتْنَألَ ُلْهَا اَيْنُّدلا . ىذمرتلا 4 : 107 Dari Abu Sa’ id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda dalam
menafsiri firman Allah [Kalmuhli],
“Seperti minyak yang keruh, apabila didekatkan kepada
mukanya, niscaya jatuhlah kulit
mukanya di dalamnya”. Dan dengan sanad ini pula, dari Nabi
SAW, beliau bersabda, “Sungguh yang mengelilingi neraka itu
empat tembok tebal, setiap
tembok itu perjalanan empat
puluh tahun”. Dan dengan sanad ini pula, dari Nabi SAW, beliau
bersabda, “Seandainya satu timba berisi nanah dari penghuni
neraka dituangkan di dunia
niscaya penduduk dunia menjadi
busuk baunya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 107] ِنَع ِنْبا ٍساَّبَع َّنَا َلْوُسَر ِهللا ص َأَرَق ِهِذه َةَيآلْا ) اوُقَّتِا َهللا َّقَح هِتاَقُت َو َال َّنُتْوُمَت َّالِا َو ْمُتْنَا َنْوُمِلْسُّم ( َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْوَل َّنَا ًةَرْطَق َنِم ِمْوُّقَّزلا ْتَرِطُق ىِف ِراَد اَيْنُّدلا ْتَدَسْفَالَ ىَلَع ِلْهَا اَيْنُّدلا ْمُهَشِياَعَم ، َفْيَكَف ْنَمِب ُنْوُكَي ؟ُهُماَعَط ىذمرتلا 4 : 107 Dari Ibnu ‘ Abbas bahwasanya Rasulullah SAW membaca ayat ini
(Bertaqwalah kepada Allah
dengan taqwa yang sebenar-
benarnya dan janganlah kamu
mati kecuali dalam keadaan Islam)
. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seandainya satu tetes dari pohon zaqqum dijatuhkan di
dunia, niscaya merusak
penghidupan penghuni dunia, lalu
bagaimana dengan orang yang
pohon zaqqum menjadi
makanannya ?”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 107] ْنَع ىِبَا ِءاَدْرَّدلا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ىَقْلُي ىَلَع ِلْهَا ِراَّنلا ُعْوُجلْا ُلِدْعَيَف اَم ْمُه ِهْيِف َنِم ِباَذَعلْا َنْوُثْيِغَتْسَيَف َنْوُثاَغُيَف ٍماَعَطِب ْنِم ٍعْيِرَض ، َال ُنِمْسُي َو َال ىِنْغُي ْنِم ٍعْوُج ، َنْوُثْيِغَتْسَيَف ِماَعَّطلاِب َنْوُثاَغُيَف ٍماَعَطِب ىِذ ٍةَّصُغ ، َنْوُرُكْذَيَف ْمُهَّنَا اْوُناَك َنْوُزْيِجُي َصَصُغلْا ىِف اَيْنُّدلا ِباَرَّشلاِب َنْوُثْيِغَتْسَيَف ِباَرَّشلاِب ُعَفْدُيَف ُمِهْيَلِا ُمْيِمَحلْا ِبْيِلَالَكِب ِدْيِدَحلْا . اَذِاَف ْتَنَد ْنِم ْمِهِهْوُجُو ْتَوَش ْمُهَهْوُجُو اَذِاَف ْتَلَخَد ْمُهَنْوُطُب ْتَعَّطَق اَم ىِف ْمِهِنْوُطُب . َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا َةَنَزَخ َمَّنَهَج . َنْوُلْوُقَيَف : ) ْمَلَا ُكَت ْمُكْيِتْأَت ْمُكُلُسُر ِتنّيَبلْاِب اْوُلاَق ىلَب ، اْوُلاَق اْوُعْداَف َو اَم ُءآَعُد َنْيِرِفكلْا َّالِا ْيِف ٍللَض ( َلاَق : َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا اًكِلاَم . َنْوُلْوُقَيَف ) اَي ُكِلاَم ِضْقَيِل اَنْيَلَع َكُّبَر ( َلاَق : ْمُهُبْيِجُيَف ) ْمُكَّنِا َنْوُثِكاَم ( َلاَق : ُشَمْعَالْا : ُتْئّبُن َّنَا َنْيَب ْمِهِئاَعُد َو َنْيَب ِةَباَجِا ٍكِلاَم ْمُهاَّيِا َفْلَا ٍماَع . َلاَق : َنْوُلْوُقَيَف : اْوُعْدُا ْمُكَّبَر . َالَف َدَحَا ٌرْيَخ ْنِم ْمُكّبَر . َنْوُلْوُقَيَف : ) اَنَّبَر ْتَبَلَغ اَنْيَلَع اَنُتَوْقِش َو اَّنُك اًمْوَق َنْيّلاَض ، اَنَّبَر اَنْجِرْخَا اَهْنِم ْنِاَف اَنْدُع اَّنِاَف َنْوُمِلظ ( َلاَق : ْمُهُبْيِجُيَف ) اْوُئَسْخِا اَهْيِف َو َال ِنْوُمّلَكُت ( َلاَق : َدْنِعَف َكِلذ اْوُسِئَي ْنِم ّلُك ٍرْيَخ َو َدْنِع َكِلذ َنْوُذُخْأَي ىِف ِرْيِفَّزلا َو ِةَرْسَحلْا َو ِلْيَولْا . ىذمرتلا 4 : 108 Dari Abud Darda’ , ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Lapar dicampakkan kepada penghuni
neraka, maka siksa lapar
membandingi siksa lain yang telah
menimpa mereka, lalu mereka
minta tolong, maka ditolong
dengan makanan berupa pohon yang berduri, yang tidak
menggemukkan dan tidak
menghilangkan lapar, lalu minta
tolong untuk diberi makanan lagi,
maka ditolong dengan makanan
yang tersendat di kerongkongan, lalu mereka
menyebutkan bahwasanya
mereka dahulu di dunia apabila
makanan tersendat di
kerongkonan lalu mengikutinya
dengan minum, lalu mereka minta tolong untuk diberi minuman,
maka air yang mendidih
diserahkan kepada mereka
dengan penyapit besi. Apalagi bila
air panas itu dekat dengan muka
mereka, niscaya membakar wajah mereka, apabila air itu
masuk di perut mereka, niscaya
air itu memotong-motong apa
yang ada di perut mereka, lalu
mereka berkata, “Mintalah kepada para penjaga neraka
Jahannam”. Kemudian penjaga Jahannam berkata, “Apakah para Rasul tidak datang
kepadamu dengan membawa
keterangan ?”. Mereka menjawab, “Sudah”. Para penjaga Jahannam berkata,
“Mintalah, dan tiada permintaan orang-orang kafir kecuali dalam
kesesatan (QS. Al-Mu’ min : 50)”. Nabi SAW bersabda : Mereka
berkata, “Mintalah kepada malaikat Malik !”. Mereka berkata, “Hai Malik, mintakanlah kepada Tuhanmu agar Dia
mematikan kami !”. Beliau SAW bersabda : Malaikat menjawab,
“Sesungguhnya kamu tetap hidup terus (QS. Az-Zukhruf : 77)
”. Al-A’ masy berkata : Aku diberitahu bahwa jarak waktu
antara permintaan mereka dan
antara jawaban Malik kepada
mereka adalah seribu tahun.
Beliau SAW bersabda : Mereka
berkata, “Mintalah Tuhanmu, karena tidak ada seorangpun
yang lebih baik daripada
Tuhanmu !”. Lalu mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, nasib buruk telah mendahului
kami dan sungguh kami kaum
yang tersesat. Wahai Tuhan
kami, keluarkanlah kami dari
neraka, lalu jika kami kembali
(dalam kesesatan), sungguh kami orang-orang yang dhalim”. Beliau bersabda : Allah menjawab
mereka, “Pergilah padanya dan jangan bicara kepada-Ku (QS. Al-
Mu’ minuun : 106-108)”. Beliau bersabda : Pada saat itu mereka
putus asa dari segala usaha
yang dapat menyelamatkan
mereka dan pada saat itu pula
mereka memulai dalam suara
yang keras, penyesalan dan kecelakaan”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 108] ْنَع ىِبَا ٍدْيِعَس ّيِرْدُخلْا ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : ) َو ْمُه اَهْيِف َنْوُحِلاَك ( َلاَق : ِهْيِوْشَت ُراَّنلا ُصَّلَقَتَف ُهُتَفَش اَيْلُعلْا ىَّتَح َغُلْبَت َطَسَو ِهِسْأَر َو ىِخْرَتْسَت ُهُتَفَش ىَلْفُّسلا ىَّتَح َبِرْضَت ُهَتَّرُس .
ىذمرتلا Dari Abu Sa’ id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Para penghuni neraka di neraka
bermuka muram”. Beliau bersabda, “Mukanya dibakar api neraka, lalu bibirnya yang atas
tersingsing hingga sampai di
tengah kepalanya dan bibirnya
yang bawah turun hingga
menghantam pusarnya”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 109] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه ِنَع ّيِبَّنلا ص َلاَق : َدِقْوُا ىَلَع ِراَّنلا َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّرَمْحا َّمُث َدِقْوُا اَهْيَلَع َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّضَيْبا َّمُث َدِقْوُا اَهْيَلَع َفْلَا ٍةَنَس ىَّتَح ْتَّدَوْسا َيِهَف ُءاَدْوَس ٌةَمِلْظُم . ىذمرتلا 4 :
110 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW,
beliau bersabda, “Dinyalakan atas neraka Jahannam seribu
tahun hingga menjadi merah,
kemudian dinyalakan atasnya
seribu tahun sehingga menjadi
putih, kemudian dinyalakan
atasnya seribu tahun sehingga menjadi hitam, lalu neraka
Jahannam itu hitam pekat”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 110] ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ِتَكَتْشا ُراَّنلا ىَلِا اَهّبَر َو ْتَلاَق : َلَكَا ىِضْعَب اًضْعَب ، َلَعَجَف اَهَل ِنْيَسَفَن : اًسَفَن ىِف ِءاَتّشلا َو اًسَفَن ىِف ِفْيَّصلا . اَّمَاَف اَهُسَفَن ىِف ِءاَتّشلا ٌرْيِرَهْمَزَف . َو اَّمَا اَهُسَفَن ىِف ِفْيَّصلا ٌمْوُمَسَف . ىذمرتلا 4 : 111 Dari Abu Hurairah, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda,
“Neraka mengadu kepada Tuhannya dan berkata,
“Sebagian aku memakan bagian yang lain”. Lalu Allah menjadikan baginya dua nafas, satu nafas di
musim dingin, dan nafas yang lain
di musim panas. Adapun nafasnya
di musim dingin adalah sangat
dingin, adapun nafasnya di musim
panas adalah angin yang panas”. [HR. Tirmidzi juz 4 hal. 111]
Langganan:
Postingan (Atom)