Entri Populer

Selasa, 18 Januari 2011

JANGAN CELAKAI DIRI SENDIRI

Segala puji hanya bagi Allah,
shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah
Muhammad SAW, keluarga,
sahabat dan seluruh pengikutnya
yang mengikuti jalan petunjuknya. Alhamdulillah atas
segala nikmat dan karunianya
kepada kita semua. Alhamdulillah, Allah telah
menggambarkan tentang
pentingnya iman dan taqwa didalam hati manusia, disebabkan
dengan iman dan taqwa akan
terwujud, kebahagiaan,
ketenteraman dan kedamaian
bagi kehidupan pribadi seseorang
atau pula kehidupan masyarakat kecil atau semesta masyarakat. Di kehidupan akherat manusia
yang tidak memiliki iman dan
taqwa akan memiliki amal baik
yang sangat sedikit, karena
hidupnya diisi dengan amal-amal
yang buruk. Timbangan pada hari itu
ialah kebenaran (keadilan),
maka barangsiapa berat
timbangan kebaikannya,
maka mereka itulah orang-
orang yang beruntung. (QS. 7:8)
Dan siapa yang ringan
timbangan kebaikannya,
maka itulah orang-orang
yang merugikan dirinya
sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-
ayat Kami. (QS. 7:9) Ketika iman dan taqwa tidak
terjaga dalam diri manusia, maka
sifat-sifat syaitan akan
menguasai diri manusia, manusia
menjadi lupa dengan amal-amal
sholih yang harus dipersiapkan untuk menjadi bekal kembali
kepada Allah, sehingga kembali
kepada Allah di akherat dengan
sangat menyesali diri Sesungguhnya orang-orang
yang kafir dan mati sedang
mereka tetap dalam
kekafirannya, maka
tidaklah akan diterima dari
seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi,
walaupun dia menebus diri
dengan emas (yang
sebanyak itu). Bagi mereka
itulah siksa yang pedih dan
sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS.
3:91) Iman dan taqwa di dalam diri
manusia senantiasa dinamis, bila
manusia mengisi kehidupan
dengan keta’ atan kepada Allah dan Rasulnya maka keimanan dan
ketaqwaan akan meningkat. Dan
sebaliknya jika manusia mengisi
waktu hidupnya dengan dosa
dan pelanggaran maka keimanan
dan ketaqwaan semakin menipis dan bisa hilang. Manusia-manusia beriman dan
bertaqwa akan melihat orang
lain adalah sebagai obyek untuk
memperbanyak amal kebaikan,
rasa kasih sayang dan rasa
taqwa kepada Allah menyatu dalam diri seseorang sehingga
ingin berbuat baik kepada orang
lain, karena perbuatan baik itu
akan kembali kepada dirinya
sendiri. Orang yang sudah membiarkan
syaitan dan hawanafsu
menguasai dirinya cenderung
memiliki sifat yang sulit
dikendalikan dan destruktif.
Berbagai penyakit hati dalam bahasa jawa disebutkan “iri, dengki, srei, dahwen, open,
panasten”, sifat iri, pendengki, suka menghalang-halangi, suka
mengacau, suka memiliki yang
bukan haknya, hati yang mudah
panas dan marah, dan sederet
sifat-sifat buruk tumbuh subur
menjamur dalam hati orang- orang yang telah bersahabat
dengan syaitan. ……………… ..Dan barangsiapa yang mengambil syaitan itu
menjadi temannya, maka
syaitan itu teman yang
seburuk-buruknya. (QS.
4:38) ………… Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi
pelindung selain Allah, maka
sesungguhnya ia menderita
kerugian yang nyata. (QS.
4:119) Sesungguhnya syaitan itu
bermaksud hendak
menimbulkan permusuhan
dan kebencian diantara
kamu dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat;
maka berhentilah kamu
(dari mengerjakan
pekerjaan itu). (QS. 5:91) Makanlah dari rezki yang
telah diberikan Allah
kepadamu, dan janganlah
kamu mengikuti langkah-
langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,
(QS. 6:142) . ▲ Menyantuni Orang lain, tuk mengasihi diri sendiri Ada kata-kata seloroh yang
sudah menjadi rahasia umum “dipersulit saja bisa, kenapa dipermudah?”, banyak kabirul umah, yang telah
meresap kedalam hati mereka
tentang sikap yang demikian.
Padahal di dalam Islam dikatakan “kabirul ummah qodimuhum”, maksudnya pembesar suatu kaum adalah
pelayan mereka. Bahwa islam mengajarkan dan
memerintah para orang-orang
besar dari suatu kaum, bahwa
mereka adalah pelayan-pelayan
umat. Pelayan yang memberikan
penyantunan kepada umat dengan suka hati dan kasih
sayang. Sebagaimana orang tua
melayani anak-anak yang
menjadi tanggungannya. Yang
kuat menyantuni yang lemah. Tata masyarakat yang demikian
tidak akan pernah terwujud
didalam kehidupan umat manusia,
kecuali hati masing-masing
manusianya dihiasi dengan iman
dan taqwa. Dengan iman dan taqwa para orang-orang
penyantun adalah manusia-
manusia yang berderajad tinggi
dan mulia disisi Allah, baik di dunia
dan di akherat. Sesungguhnya Ibrahim itu
benar-benar seorang yang
penyantun lagi penghiba
dan suka kembali kepada
Allah. (QS. 11:75) ……… Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada
orang-orang yang berbuat
baik. (QS. 7:56) ……… .Tidak ada jalan sedikitpun untuk
mengalahkan orang-orang
yang berbuat baik, Dan
Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang, (QS. 9:91) …… .Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat
baik, (QS. 9:120) Bagi orang-orang yang
berbuat baik, ada pahala
yang terbaik (surga) dan
tambahannya. ………… ..(QS. 10:26) …… ..Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa
yang Kami kehendaki dan
Kami tidak menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang
berbuat baik. (QS. 12:56) Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan beramal
saleh, bagi mereka adalah
surga Firdaus menjadi
tempat tinggal. (QS. 18:107) Para pembesar umat, para
pemimpin umat, para penguasa
umat, memiliki kesempatan yang
besar untuk mendapatkan
kebahagiaan yang luar biasa di
dunia dan di akherat. Seseorang yang berbuat ikhlas kepada Allah
dalam amal sholihnya, di dunia
akan memiliki nama yang harum,
dan di akherat akan
mendapatkan jannah, surga yang
penuh dengan kesenangan, kebahagiaan, dan kemuliaan di
sisi Allah. Allah Tuhan yang Maha
Penyantun Perkataan yang baik dan
pemberian ma’ af lebih baik dari sedekah yang diiringi
dengan sesuatu yang
menyakitkan (perasaan si
penerima). Allah Maha Kaya
lagi Maha Penyantun. (QS.
2:263) Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-
orang yang berbuat
kerusakan. (QS. 28:77) Betapa Allah Tuhan Yang Maha
Penyantun, telah menyantuni
kita dengan berbagai fasilitas
dan kenikmatan hidup. Kita
diperintah untuk bersyukur dan
menyantuni orang lain yang ujung-ujungnya kebaikan itu
akan kembali kepada masing-
masing diri. Bila semesta umat manusia telah memahami makna dan keuntungan menyantuni orang lain maka pasti umat manusia akan berlomba-lomba menyantuni orang lain. Dan janji-janji Allah tentang balasan di dunia dan di akherat pasti akan diberikan dengan dikontan. Dakwah yang menjelas-jelaskan
manusia untuk menjauhi syaitan
dan sekaligus mengajak manusia
untuk bersegera berlari kepada
Allah sesuatu yang sangat
dibutuhkan dizaman ini. Bila manusia masih saja berteman dan berlindung kepada syaitan, maka selamanya hati umat manusia akan terpaling dan jauh dari saling menyantuni dan saling mengasihi. Tersebarnya kemaksiyatan
kepada Allah, menunjukkan
betapa manusia masih
terbelenggu dengan tipudaya
syaitan, sehingga masih tersesat
dalam memahami makna hidup. Yang menguntungkan dianggap
merugikan, sedang yang sangat
merugikan dianggap sangat
menguntungkan. Dengan cara menyusahkan orang lain
berarti manusia masih suka
mencelakai dan menyulitkan
dirinya sendiri, namun
terpulas dihati merasa
sangat-sangat beruntung. Wallahu a’ lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar