Segala puji bagi Allah, shalawat
dan salam semoga senantiasa
tercurah kepada Rasulullah
Muhammad SAW. keluarga,
sahabat dan seluruh pengikutnya
yang selalu sabar di jalan-Nya. Pernahkah anda melihat orang
mabuk, mabuk karena minuman
keras, atau mabuk karena obat
bius, tentu kesadaran-nya
menjadi hilang dan bahkan bisa
tidak sadar sama sekali. Baik apa yang dilakukan olehnya atau apa
yang dilakukan oleh orang lain
padanya maka tidak akan dapat
direspon dengan tepat dan
benar. Allah SWT memberitahu kepada
kita tentang bahaya mabuk
dunia, seberapa besar
kemabukan kita kepada
kehidupan dunia akan dapat
diukur dengan firman Allah yang artinya . Sesungguhnya orang yang
tidak mengharapkan (tidak
percaya akan) pertemuan
dengan Kami, dan merasa
puas dengan kehidupan di
dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan
itu dan orang-orang yang
melalaikan ayat-ayat kami,
(QS. 10:7)
mereka itu tempatnya ialah
neraka, disebabkan apa yang selalu mereka
kerjakan. (QS. 10:8) . Salah satu bahaya besar bagi
orang-orang yang sedang mabuk
dunia adalah kehilangan
kesadaran untuk mempersiapkan
dan menggapai kebahagiaan
mereka di akherat. Mungkin saja ilmu agama sedikit mereka miliki
namun kemauan dan kesadaran
untuk berbuat hal-hal yang
membawa kepada kebahagiaan
kehidupan di akherat sangat-
sangat minim bahkan tidak ada. Mereka lebih suka hidup
bersenang-senang melampaoi
batas dan ditipu oleh syaitan dan
angan-angan kosong belaka. Diantara tanda-tandanya adalah
mereka sangat memandang
rendah tentang pengamalan
agama dan memandang rendah
orang-orang beriman . Dan tinggalkanlah orang-
orang yang menjadikan
agama mereka sebagai main
main dan sendau gurau, dan
mereka telah ditipu oleh
kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka)
dengan al-Qur’ an itu agar masing-masing diri tidak
dijerumuskan ke dalam
neraka, karena
perbuatannya sendiri. Tidak
akan ada baginya pelindung
dan tidak (pula) pemberi syafa’ at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus
dengan segala macam
tebusan-pun, niscaya tidak
akan diterima itu
daripadanya. Mereka itulah
orang-orang yang dijerumuskan ke dalam
neraka, disebabkan
perbuatan mereka sendiri.
Bagi mereka (disediakan)
minuman dari air yang
sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan
kekafiran mereka dahulu.
(QS. 6:70) Kehidupan dunia dijadikan
indah dalam pandangan
orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina
orang-orang yang beriman.
Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia
dari pada mereka di hari
Kiamat. Dan Allah memberi
rezki kepada orang-orang
yang dikehendaki-Nya
tanpa batas. (QS. 2:212) (yaitu) orang-orang yang
menjadikan agama mereka
sebagai main-main atau
senda gurau, dan kehidupan
dunia telah menipu
mereka”. Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami
melupakan mereka
sebagaimana mereka
melupakan pertemuan
mereka dengan hari ini, dan
(sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-
ayat Kami. (QS. 7:51) . Dalam dinamika maju mundurnya peradaban manusia, naik turunnya kejayaan dan kemunduran bangsa-bangsa di muka bumi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadarannya dalam memegang teguh pengamalan agama yang benar, kesung- sungguhan mereka mentaati kepada Allah Tuhan pemilik segala sumber Kebenaran. Bangsa-bangsa yang bersusah
payah mendidik diri untuk
mengikuti kedisiplinan dalam
kebenaran maka secara perlahan
mereka akan menjadi bangsa
yang maju dan jaya, sebaliknya bangsa-bangsa yang sudah mulai
menempuh jalan kelalaian,
kelengahan dengan bersenang-
senang memperturutkan hawa
nafsu, secara perlahan tapi pasti
mereka sedang menuju jalan turun menuju kemunduran dan
kehancuran. Bila berbagai pelanggaran
kebenaran telah terjadi diantara
mereka, maka mereka tidak lagi
suka untuk saling tolong-
menolong dan saling kuat
menguatkan, atau saling mengasihi diantara mereka,
namun yang terjadi adalah
mereka malah akan saling
memusuhi, saling mengutuk,
saling mencaci, saling menjegal,
saling menghambat, dan saling menghancurkan. Banyaknya masalah hukum yang
bertumpuk-tumpuk di negri kita,
dan sekaligus munculnya
berbagai penyimpangan yang
oleh aparat-aparat penegak
hukum tanpa diwarnai dengan rasa malu dan menyesal,
merupakan sinyal merah, sinyal
bahaya yang sudah
mengkhawatirkan. Kita sudah
memasuki fase bahaya. Pendiri bangsa kita telah
mewariskan sebuah simbul
berdera yang sarat makna, yaitu
bendera merah putih perlambang
sebuah ungkapan berani karena benar. Orang memiliki keberanian karena membela
kebenaran yang harus
ditegakkan. Keberanian diatas
kesucian, keberanian dengan
berdasar akhlaq dan moral yang
mulia. Namun yang muncul di hari ini banyak orang yang berani
membela orang-orang yang
salah. Dan berani melakukan
kesalahan tanpa lagi mengingat
balasan-balsan dosa yang akan
diterima. Wal hasil benarlah pepatah “ayam mati di lumbung padi”. Ketika manusia telah meninggalkan cakrawala
kebahagiaan kehidupan akherat
yang luas dan mulia maka
manusia akan masuk kedalam
kehinaan dan kehancuran. Orang-orang yang selalu ingat
kehidupan akherat dan berbuat
dengan akhlaq-akhlaq mulia,
akan menjadi manusia yang
sadar dalam mengisi kehidupan
dunia dengan kebaikan-kebaikan yang akan dibawanya ke
akherat kelak. Sebaliknya orang yang sedang
mabuk dengan kehidupan dunia,
dan terus memuja hawa
nafsunya, telah menjadi mabuk
dan lalai dengan segala apa yang
diperbuatnya. Pebuatan jahat dan kelicikan yang terus
menerus membuahkan dosa
terus menerus dilakukan dan
semakin hari semakin banyak
membuahkan dosa-dosa yang
menutupi hatinya dan menjadikan mereka menuju akherat tanpa
bekal kebaikan, bahkan dengan
memikul dosa yang bertimbun-
timbun. Walaupun umur sudah tinggal sebentar namun tetap saja lupa dengan amal-amal kebaikan… .Na’ udzubillahi min dzalika… . Wallahu a’ lam
Entri Populer
-
Kemewahan dan gemerlapnya dunia telah mampu memperdaya banyak manusia. Membelokkan mereka dari penghambaan kepada Alllah menuju pengagungan ...
-
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini d...
-
Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan ...
-
saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga ...
-
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para istri ...
-
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35...
-
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacakan firman Allah berikut ini; "Mereka menjadikan para pendeta, dan rahib-...
-
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya y...
-
Sungguh keadaan kaum muslimin di zaman kita sekarang ini telah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian kaum muslimin terjerum...
-
Adalah Abdullah bin Umar ra, seorang sahabat nabi SAW yang kala itu masih remaja. Didalam sebuah mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat....
Kamis, 24 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
Rasulullah Tidak Pernah Mensunnahkan Atau Memerintahkan Ummatnya Untuk Melakukan Kirim Pahala Bacaan Qur'an [Tafsir Ibnu Katsir]
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35 ( ْﻡَﺃ ْﻢَﻟ ْﺄَّﺒَﻨُﻳ ﺎَﻤِﺑ ﻲِﻓ ِﻒُﺤُﺻ ﻰَﺳﻮُﻣ ) 36 ( َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇَﻭ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻓَﻭ ) 37 ( ﺎَّﻟَﺃ ُﺭِﺰَﺗ ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ َﺭْﺯِﻭ ﻯَﺮْﺧُﺃ ) 38 ( ْﻥَﺃَﻭ َﺲْﻴَﻟ ِﻥﺎَﺴْﻧِﺈْﻠِﻟ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻣ ﻰَﻌَﺳ ) 39 ( َّﻥَﺃَﻭ ُﻪَﻴْﻌَﺳ َﻑْﻮَﺳ ﻯَﺮُﻳ ) 40 ( َّﻢُﺛ ُﻩﺍَﺰْﺠُﻳ َﺀﺍَﺰَﺠْﻟﺍ ﻰَﻓْﻭَﺄْﻟﺍ ) 41 ( } َﻥﺎَﺤْﺒُﺴَﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻦﻴِﺣ َﻥﻮُﺴْﻤُﺗ َﻦﻴِﺣَﻭ ﻥﻮُﺤِﺒْﺼُﺗ { ] ﻡﻭﺮﻟﺍ : 17 [ ﻰﺘﺣ ﻢﺘﺧ ﺔﻳﻵﺍ . ﻩﺍﻭﺭﻭ ﻦﺑﺍ ﺮﻳﺮﺟ ﻦﻋ ﻲﺑﺃ ﺐْﻳَﺮُﻛ ، ﻦﻋ ﻦﻳِﺪْﺷِﺭ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ، ﻦﻋ ) 1 ( ﻥﺎَّﺑَﺯ ، ﻪﺑ ) 2 ( . ﻢﺛ ﻉﺮﺷ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻦﻴﺒﻳ ﺎﻣ ﻥﺎﻛ ﻩﺎﺣﻭﺃ ﻲﻓ ﻒﺤﺻ ﻢﻴﻫﺍﺮﺑﺇ ﻰﺳﻮﻣﻭ ﻝﺎﻘﻓ : } ﻻَﺃ ُﺭِﺰَﺗ ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ َﺭْﺯِﻭ ﻯَﺮْﺧُﺃ { ﻱﺃ : ﻞﻛ ﺲﻔﻧ ﺖﻤﻠﻇ ﺎﻬﺴﻔﻧ ﺮﻔﻜﺑ ﻭﺃ ﺀﻲﺷ ﻦﻣ ﺏﻮﻧﺬﻟﺍ ﺎﻤﻧﺈﻓ ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺎﻫﺭﺯﻭ ، ﻻ ﻪﻠﻤﺤﻳ ﺎﻬﻨﻋ ﺪﺣﺃ ، ﺎﻤﻛ ﻝﺎﻗ : } ْﻥِﺇَﻭ ُﻉْﺪَﺗ ٌﺔَﻠَﻘْﺜُﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺎَﻬِﻠْﻤِﺣ ﻻ ْﻞَﻤْﺤُﻳ ُﻪْﻨِﻣ ٌﺀْﻲَﺷ ْﻮَﻟَﻭ َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫ ﻰَﺑْﺮُﻗ { ] ﺮﻃﺎﻓ : 18 [ ، } ْﻥَﺃَﻭ َﺲْﻴَﻟ ِﻥﺎَﺴْﻧﻺِﻟ ﻻِﺇ ﺎَﻣ ﻰَﻌَﺳ { ﻱﺃ : ﺎﻤﻛ ﻻ ﻞﻤﺤﻳ ﻪﻴﻠﻋ ﺭﺯﻭ ﻩﺮﻴﻏ ، ﻚﻟﺬﻛ ﻻ ﻞﺼﺤﻳ ﻦﻣ ﺮﺟﻷﺍ ﻻﺇ ﺎﻣ ﺐﺴﻛ ﻮﻫ ﻪﺴﻔﻨﻟ . ﻦﻣﻭ ﻩﺬﻫﻭ ﺔﻳﻵﺍ ﺔﻤﻳﺮﻜﻟﺍ ﻂﺒﻨﺘﺳﺍ ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ، ﻪﻤﺣﺭ ﻪﻠﻟﺍ ، ﻦﻣﻭ ﻪﻌﺒﺗﺍ ﻥﺃ ﺓﺀﺍﺮﻘﻟﺍ ﻻ ﻞﺼﻳ ﺀﺍﺪﻫﺇ ﺎﻬﺑﺍﻮﺛ ﻰﻟﺇ ؛ﻰﺗﻮﻤﻟﺍ ﻪﻧﻷ ﺲﻴﻟ ﻦﻣ ﻢﻬﻠﻤﻋ ﻻﻭ ؛ﻢﻬﺒﺴﻛ ﺍﺬﻬﻟﻭ ﻢﻟ ﺏﺪﻨﻳ ﻪﻴﻟﺇ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﺘﻣﺃ ﻻﻭ ﻢﻬﺜﺣ ﻪﻴﻠﻋ ، ﻻﻭ ﻢﻫﺪﺷﺭﺃ ﻪﻴﻟﺇ ﺺﻨﺑ ﻻﻭ ﺀﺎﻤﻳﺇ ، ﻢﻟﻭ ﻞﻘﻨﻳ ﻚﻟﺫ ﻦﻋ ﺪﺣﺃ ﻦﻣ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ، ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻬﻨﻋ ، ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ ، ﺏﺎﺑﻭ ﺕﺎﺑﺮﻘﻟﺍ ﺮﺼﺘﻘﻳ ﻪﻴﻓ ﻰﻠﻋ ﺹﻮﺼﻨﻟﺍ ، ﻻﻭ ﻑﺮﺼﺘﻳ ﻪﻴﻓ ﻉﺍﻮﻧﺄﺑ ﺔﺴﻴﻗﻷﺍ ﺀﺍﺭﻵﺍﻭ ، ﺎﻣﺄﻓ ﺀﺎﻋﺪﻟﺍ ﺔﻗﺪﺼﻟﺍﻭ ﻙﺍﺬﻓ ﻊﻤﺠﻣ ﻰﻠﻋ ﺎﻤﻬﻟﻮﺻﻭ ، ﺹﻮﺼﻨﻣﻭ ﻦﻣ ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﺎﻤﻬﻴﻠﻋ . ﺎﻣﺃﻭ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ ﻱﺬﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ﻢﻠﺴﻣ ﻲﻓ ﻪﺤﻴﺤﺻ ، ﻦﻋ ﻲﺑﺃ ﺓﺮﻳﺮﻫ ﻝﺎﻗ : ﻝﺎﻗ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ : " ﺍﺫﺇ ﺕﺎﻣ ﻥﺎﺴﻧﻹﺍ ﻊﻄﻘﻧﺍ ﻪﻠﻤﻋ ﻻﺇ ﻦﻣ ﺙﻼﺛ : ﻦﻣ ﺪﻟﻭ ﺢﻟﺎﺻ ﻮﻋﺪﻳ ﻪﻟ ، ﻭﺃ ﺔﻗﺪﺻ ﺔﻳﺭﺎﺟ ﻦﻣ ﻩﺪﻌﺑ ، ﻭﺃ ﻢﻠﻋ ﻊﻔﺘﻨﻳ ﻪﺑ " ) 3 ( ، ﻩﺬﻬﻓ ﺔﺛﻼﺜﻟﺍ ﻲﻓ ﺔﻘﻴﻘﺤﻟﺍ ﻲﻫ ﻦﻣ ﻪﻴﻌﺳ ﻩﺪﻛﻭ ﻪﻠﻤﻋﻭ ، ﺎﻤﻛ ﺀﺎﺟ ﻲﻓ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ : " ﻥﺇ ﺐﻴﻃﺃ ﺎﻣ ﻞﻛﺃ ﻞﺟﺮﻟﺍ ﻦﻣ ﻪﺒﺴﻛ ، ﻥﺇﻭ ﻩﺪﻟﻭ ﻦﻣ ﻪﺒﺴﻛ " ) 4 ( . ﺔﻗﺪﺼﻟﺍﻭ ﺔﻳﺭﺎﺠﻟﺍ ﻒﻗﻮﻟﺎﻛ ﻩﻮﺤﻧﻭ ﻲﻫ ﻦﻣ ﺭﺎﺛﺁ ﻪﻠﻤﻋ ﻪﻔﻗﻭﻭ ، ﺪﻗﻭ ﻝﺎﻗ ﻰﻟﺎﻌﺗ : } ﺎَّﻧِﺇ ُﻦْﺤَﻧ ﻲِﻴْﺤُﻧ ﻰَﺗْﻮَﻤْﻟﺍ ُﺐُﺘْﻜَﻧَﻭ ﺎَﻣ ﺍﻮُﻣَّﺪَﻗ ﻢُﻫَﺭﺎَﺛﺁَﻭ { ) 5 ( ﺔﻳﻵﺍ ] ﺲﻳ : 12 [ . ﻢﻠﻌﻟﺍﻭ ﻱﺬﻟﺍ ﻩﺮﺸﻧ ﻲﻓ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻯﺪﺘﻗﺎﻓ ﻪﺑ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻩﺪﻌﺑ ﻮﻫ ﺎﻀﻳﺃ ﻦﻣ ﻪﻴﻌﺳ ﻪﻠﻤﻋﻭ ، ﺖﺒﺛﻭ ﻲﻓ ﺢﻴﺤﺼﻟﺍ : " ﻦﻣ ﺎﻋﺩ ﻰﻟﺇ ﻯﺪﻫ ﻥﺎﻛ ﻪﻟ ﻦﻣ ﺮﺟﻷﺍ ﻞﺜﻣ ﺭﻮﺟﺃ ﻦﻣ ﻪﻌﺒﺗﺍ ، ﻦﻣ ﺮﻴﻏ ﻥﺃ ﺺﻘﻨﻳ ﻦﻣ ﻢﻫﺭﻮﺟﺃ ﺎﺌﻴﺷ " . ﻪﻟﻮﻗﻭ : } َّﻥَﺃَﻭ ُﻪَﻴْﻌَﺳ َﻑْﻮَﺳ ﻯَﺮُﻳ { ﻱﺃ : ﻡﻮﻳ ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ، ﺎﻤﻛ ﻝﺎﻗ ﻰﻟﺎﻌﺗ : } ِﻞُﻗَﻭ ﺍﻮُﻠَﻤْﻋﺍ ﻯَﺮَﻴَﺴَﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻜَﻠَﻤَﻋ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍَﻭ َﻥﻭُّﺩَﺮُﺘَﺳَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻢِﻟﺎَﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ ِﺓَﺩﺎَﻬَّﺸﻟﺍَﻭ ْﻢُﻜُﺌِّﺒَﻨُﻴَﻓ ﺎَﻤِﺑ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﺗ { ] ﺔﺑﻮﺘﻟﺍ : 105 [ ﻱﺃ : ﻢﻛﺮﺒﺨﻴﻓ ﻪﺑ ، ﻢﻜﻳﺰﺠﻳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﺗﺃ ﺀﺍﺰﺠﻟﺍ ، ﻥﺇ ﺍﺮﻴﺧ ﺮﻴﺨﻓ ، ﻥﺇﻭ ﺍﺮﺷ ﺮﺸﻓ . ﺍﺬﻜﻫﻭ ﻝﺎﻗ ﺎﻨﻫﺎﻫ : } َّﻢُﺛ ُﻩﺍَﺰْﺠُﻳ َﺀﺍَﺰَﺠْﻟﺍ ﻰَﻓْﻭﻷﺍ { ﻱﺃ : ﺮﻓﻭﻷﺍ . _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ) 1 ( ﻲﻓ ﻡ : " ﻦﺑ " . ) 2 ( ﺮﻴﺴﻔﺗ ﻱﺮﺒﻄﻟﺍ ) 27/43 ( ﻩﺍﻭﺭﻭ ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ ﻲﻓ ﻢﺠﻌﻤﻟﺍ ﺮﻴﺒﻜﻟﺍ ) 20/192 ( ﻦﻣ ﻼﻛ ﻦﻴﻘﻳﺮﻄﻟﺍ ﻝﺎﻗﻭ ﻲﻤﺜﻴﻬﻟﺍ ﻲﻓ ﻊﻤﺠﻤﻟﺍ ) 10/117 ( : " ﻪﻴﻓ ﺀﺎﻔﻌﺿ ﺍﻮﻘﺛﻭ " . ﺖﻠﻗ ﻲﻓ ﻰﻟﻭﻷﺍ : ﻦﺑﺍ ﺔﻌﻴﻬﻟ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ﻲﻓﻭ ﺔﻴﻧﺎﺜﻟﺍ : ﻦﻳﺪﺷﺭ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ﺎﻤﻬﻴﻓﻭ : ﻥﺎﻳﺯ ﻦﺑ ﺪﺋﺎﻓ ﻮﻫﻭ ﻒﻴﻌﺿ . ) 3 ( ﺢﻴﺤﺻ ﻢﻠﺴﻣ ﻢﻗﺮﺑ ) 1631 ( . ) 4 ( ﻩﺍﻭﺭ ﺪﻤﺣﺃ ﻲﻓ ﺪﻨﺴﻤﻟﺍ ) 6/31 ( ﻮﺑﺃﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ﻢﻗﺮﺑ ) 3528 ( ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ﻢﻗﺮﺑ ) 1358 ( ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻲﻓ ﻦﻨﺴﻟﺍ ) 7/240 ( ﻦﻣ ﺚﻳﺪﺣ ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻬﻨﻋ / ﻝﺎﻗﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ : " ﺍﺬﻫ ﺚﻳﺪﺣ ﻦﺴﺣ ﺢﻴﺤﺻ ". ARTI BERBAHASA INDONESIA Dari ayat ini pula Imam Syafi'i dan
para pengikutnya menyimpulkan
bahwa pengiriman pahala bacaan
Al Qur'an itu tidak akan sampai
kepada orang yang sudah
meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha
mereka. Oleh karena itu,
Rasulullah tidak pernah
mensunnahkan atau
memerintahkan ummatnya untuk
melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah
membimbing ummatnya berbuat
demikian, baik dalam bentuk nash
maupun melalui isyarat. Dan
perbuatan itu juga tidak pernah
dinukil dari para sahabat. ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ Sekirannya hal itu merupakan suatu hal yang
baik, niscaya mereka akan
mendahului kita semua dalam
mengamalkannya. Dan cara-cara
mendekatkan diri kepada Allah
harus didasarkan pada nash- nash, tidak boleh berdasarkan
pada berbagai qiyas dan
pendapat semata. Sedangkan
do'a dan amal jariyah sudah
menjadi kesepakatan para ulama
dan ketetapan nash syari'at bahwa hal itu akan sampai
kepada si mayit.
para pengikutnya menyimpulkan
bahwa pengiriman pahala bacaan
Al Qur'an itu tidak akan sampai
kepada orang yang sudah
meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha
mereka. Oleh karena itu,
Rasulullah tidak pernah
mensunnahkan atau
memerintahkan ummatnya untuk
melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah
membimbing ummatnya berbuat
demikian, baik dalam bentuk nash
maupun melalui isyarat. Dan
perbuatan itu juga tidak pernah
dinukil dari para sahabat. ﻮﻟﻭ ﻥﺎﻛ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻧﻮﻘﺒﺴﻟ ﻪﻴﻟﺇ Sekirannya hal itu merupakan suatu hal yang
baik, niscaya mereka akan
mendahului kita semua dalam
mengamalkannya. Dan cara-cara
mendekatkan diri kepada Allah
harus didasarkan pada nash- nash, tidak boleh berdasarkan
pada berbagai qiyas dan
pendapat semata. Sedangkan
do'a dan amal jariyah sudah
menjadi kesepakatan para ulama
dan ketetapan nash syari'at bahwa hal itu akan sampai
kepada si mayit.
Fanatik Buta Kepada Kyai, Habib, Tuan Guru dan Dampak Negatifnya
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam membacakan firman
Allah berikut ini; "Mereka
menjadikan para pendeta, dan
rahib-rahibnya sebagai tuhan
selain Allah...(QS. At Taubah : 31), Adi bin Hatim berkata: "Kami dulu
orang-orang Nasrani tidak
menyembah mereka [para
pendeta dan pemuka agama
Nasrani]. Kemudian Rasulullah
berkata : "Bukankah mereka
menghalalkan apa yang
diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah, lalu kalian
mengikutinya ? Jawab Adi bin Hatim : "Ya, benar. Kata Nabi : "Itulah bentuk
penyembahan [kalian]
terhadap mereka" . (HR. Tirmidzi dari Adi bin Hatim). *Adi
bin Hatim sebelum masuk Islam,
beliau dahulunya beragama
Nasrani. Fanatik terhadap kyai, Habib,
ulama, atau ustadz memang
telah mendarah daging dalam
tubuh umat ini. Yang jadi masalah
bukanlah sekedar mengikuti
pendapat orang yang berilmu. Namun yang menjadi masalah
adalah ketika pendapat para
ulama tersebut jelas-jelas
menyelisihi Al Qur’ an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian.
Yang penting kata mereka ‘ sami’ na wa atho’ na’ (apa yang dikatakan oleh kyai kami, tetap
kami dengar dan kami taat).
Entah pendapat kyai tersebut
merupakan perbuatan syirik
atau bid’ ah, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru
kami. Fenomena Fanatik Buta Fanatik -dalam bahasa Arab
disebut ta’ ashub - adalah sikap mengikuti seseorang tanpa
mengetahui dalilnya, selalu
menganggapnya benar, dan
membelanya secara membabi
buta. Fanatik terhadap kyai,
ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi
sejak dahulu seperti yang terjadi
di kalangan para pengikut
madzhab (ada 4 madzhab yang
terkenal yaitu Hanafi, Hanbali,
Maliki, dan Syafi’ i). Di mana para pengikut madzhab tersebut
mengklaim bahwa kebenaran
hanya pada pihak mereka
sendiri, sedangkan kebathilan
adalah pada pihak (madzhab)
yang lain. Banyak contoh yang dapat
diambil dari para pengikut
madzhab tersebut. Di antara
contoh perkataan bathil di
antara mereka adalah ucapan
Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di
kalangan Hanafiyyah). Beliau
mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut
madzhab kami (Hanafiyyah),
maka harus diselewengkan
maknanya atau dihapus
hukumnya.” Syaikh Al Albani rahimahullah juga
mengisahkan, bahwa ada
seorang bermadzhab Hanafiyah
mengharamkan pria dari
kalangan mereka menikah
dengan wanita bermadzhab Syafi’ iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli
kitab dianalogikan dengan wanita
Yahudi dan Nasrani!! Hal ini masih
terjadi hingga sekarang. Seperti
ada seorang bermadzhab Hanafi
dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani
Umayyah di Damaskus, dia
mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’ i, niscaya aku akan nikahkan dia
dengan anak perempuanku!” Imam Adz Dzahabi dalam Siyar
A’ lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad
bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid
Abdullah selama 60 puluh tahun
lamanya. Beliau bermadzhab
Syafi’ i dan melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam sholat
diambil alih oleh seseorang yang
bermadzhab Maliki dan tidak
melakukan qunut shubuh. Karena
hal ini menyelisihi tradisi
masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan
imam yang tidak melakukan
qunut shubuh ini, seraya
berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”. Inilah contoh yang terjadi di
kalangan pengikut madzhab.
Begitu juga yang terjadi pada
umat Islam sekarang ini, banyak
sekali di antara mereka membela
secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru
mereka (seperti membela
kesyirikan, kebid’ ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan
guru-guru tersebut), padahal
jelas-jelas bertentangan dengan
ayat dan hadits yang shohih. Mempertentangkan
Perkataan Allah dan Rasul-
Nya dengan Perkataan
Kyai/Ulama. Banyak dari umat Islam saat ini,
apabila dikatakan kepada
mereka, “Allah telah berfirman” atau kita sampaikan “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam telah bersabda …” , mereka malah menjawab, “Namun, kyai/ustadz kami berkata demikian …” . Apakah mereka belum pernah
mendengar firman Allah (yang
artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-
Nya” (Al Hujurat : 1) Yaitu janganlah kalian mendahulukan
perkataan siapapun dari
perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dan perhatikan pula ayat
selanjutnya dari surat ini. Allah
Ta’ ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak
hapus (pahala) amalanmu,
sedangkan kamu tidak
menyadari.” (Al Hujurot : 2). Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam
I’ lamul Muwaqi’ in mengatakan, “Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara Rasul
saja dapat menyebabkan
terhapusnya amalan
mereka. Lantas bagaimana
kiranya dengan
mendahulukan pendapat, akal, perasaan, politik, dan
pengetahuan di atas ajaran
rasul. Bukankah ini lebih
layak sebagai penghapus
amalan mereka “ Ibnu ‘ Abbas radiyallahu ‘ anhuma mengatakan, “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari
langit. Aku ,‘ Rasulullah bersabda demikian lantas
kalian membantahnya
dengan mengatakan, ‘ Abu Bakar dan Umar berkata
demikian.’ “ (Shohih. HR. Ahmad) . Dari perkataan ini, wajib bagi
seorang muslim jika dia
mendengar hadits Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam dan dia paham maksudnya/penjelasannya dari
ahli ilmu, tidaklah boleh bagi dia
menolak hadits tersebut karena
perkataan seorang pun. Tidak
boleh dia menentangnya karena
perkataan Abu Bakar dan Umar - radiyallahu ‘ anhuma- (yang telah kita ketahui bersama kedudukan
mereka berdua), atau sahabat
Nabi yang lain, atau orang-orang
di bawah mereka, apalagi dengan
perkataan seorang kyai atau
ustadz. Dan para ulama juga telah sepakat bahwa
barangsiapa yang telah
mendapatkan penjelasan dari
hadits Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak boleh
baginya meninggalkan hadits
tersebut dikarenakan perkataan
seorang pun, siapa pun dia. Dan
perkataan seperti ini selaras
dengan perkataan Imam Syafi’ i - semoga Alloh merahmati beliau-.
Beliau rahimahullah mengatakan; “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang
telah jelas baginya ajaran
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak halal
baginya untuk
meninggalkannya karena
perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul
Kutub Al ‘ Arobi. Lihat juga Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil
‘ Aqoid wal Ahkam, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy
Syamilah) Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Seandainya Musa hadir di
tengah kalian dan kalian
mengikutinya dan
meninggalkanku, maka
sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang
lurus. Sekiranya Musa hidup
kembali dan menjumpai
kenabianku, dia pasti
mengikutiku.” (Hasan, HR. Ad Darimi dan Ahmad). Maksudnya apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti Musa, seorang Nabi
yang mulia yang pernah diajak
bicara oleh Allah, maka kita akan
tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat
saudara sekalian, apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti para kyai, habib, tokoh
agama, ustadz, mubaligh,
cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila
dibandingkan Nabi Musa ‘ alaihis salaam??! Renungkanlah hal ini. Dampak Fanatik Buta Fanatik memunculkan berbagai
dampak negatif yang sangat
berbahaya bagi pribadi secara
khusus dan masyarakat secara
umum. Berikut ini kami paparkan
beberapa dampak yang terjadi karena fanatik buta. [1] Memejamkan mata
dari dalil yang kuat dan
berpegang dengan dalil
yang rapuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan,
“Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak
mendalami Al Qur’ an dan As Sunnah kecuali segilintir
orang saja. Sandaran
mereka hanyalah hadit-
hadits yang rapuh atau
hikayat-hikayat dari para
tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong.” [2] Merubah dalil untuk
membela pendapatnya Contohnya adalah atsar
tentang qunut shubuh yang
diriwayatkan oleh Ahmad,
Ibnu Majah, Tirmidzi, dan
beliau menshahihkannya. Dari
Malik Al Asyja’ i radiyallahu ‘ anhu berkata, “Saya pernah bertanya kepada
ayahku,’ Wahai ayahku! Sesungguhnya engkau
pernah sholat di belakang
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar,
Utsman, dan Ali di sini -di
Kufah-. Apakah mereka
melakukan qunut shubuh?’ Jawab beliau,’ Wahai anakku, itu merupakan perkara
muhdats (perkara baru yang
diada-adakan dalam agama -
pen)’ “ . Tetapi seorang tokoh
bermadzhab Syafi’ i di Mesir malah mengganti hadits
tersebut dengan lafadz yang
artinya, ‘ Wahai anakku, ceritakanlah (kata muhdats
diganti dengan fahaddits
yang berarti ceritakanlah-
pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga mengatakan, “Sholatnya orang yang meninggalkan
qunut shubuh secara
sengaja, maka sholatnya
batal yaitu tidak sah.” Sungguh perbuatan tokoh ini
dikarenakan sikap fanatik
beliau pada madzhabnya
yang mengakar kuat pada
dirinya. Tetapi lihatlah
perbedaan yang sangat menonjol dengan orang yang
mengikuti kebenaran,
walaupun madzhabnya sama
dengan tokoh fanatik di
atas. Beliau -Abul Hasan Al
Kurjiy Asy Syafi’ i- tidak pernah melakukan qunut
shubuh dan beliau pernah
berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu (yaitu
qunut shubuh,-pen).” [3] Sering memalsukan
hadits Di antara hadits palsu hasil
rekayasa orang-orang yang
fanatik madzhab untuk
membela madzhabnya, yaitu
dari Ahmad bin Abdilllah bin
Mi’ dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang pada umatku seorang yang
bernama Muhammad bin Idris
(yakni Imam Syafi’ i-pen), dia lebih berbahaya bagi umatku
daripada Iblis. Dan akan
datang pada umatku
seorang bernama Abu
Hanifah, dia adalah pelita
umatku”. Hadits ini selain palsu, juga
bertentangan dengan nash
yang menyatakan bahwa
pelita umat ini adalah Nabi
Muhammad shollallohu ‘ alaihi wa sallam, sebagaimana yang
terdapat dalam surat Al
Ahzab ayat 46. [4] Menfatwakan bahwa
taqlid hukumnya wajib Para fanatisme madzhab
atau kelompok akan
menyerukan kepada
pengikutnya tentang
kewajiban taqlid yaitu
mengambil pendapat seseorang tanpa mengetahui
dalilnya. Hal ini sebagaimana yang
diwajibkan organisasi Islam
terbesar di Indonesia. Salah
seorang tokoh organisasi
tersebut mengatakan,
“Sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang
sebagian besar umat Islam di
seluruh dunia yang termasuk
dalam golongan Ahlus Sunnah
wal Jama’ ah membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi
orang yang tidak memenuhi
syarat untuk berijtihad …” Ini adalah ucapan yang bathil.
Tidak pernah ada kewajiban
seperti ini dari Allah,
Rasulullah, sampai-sampai
imam madzhab sekalipun.
Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala
benar dan kadangkala juga
salah. Seringkali para imam
madzhab berpegang pada
suatu pendapat dan beliau
meralat pendapatnya tersebut. Dan para imam itu
sendiri melarang untuk taqlid
kepadanya, sebagaimana
Imam Syafi’ i rahimahullah (imam madzhab yang
organisasi ini ikuti)
mengatakan; “Setiap yang aku katakan, kemudian ada
hadits shahih yang
menyelisihinya, maka
hadits Nabi tersebut
lebih utama untuk
diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. Janganlah Menolak
Kebenaran Sesungguhnya Allah telah
mengutus para rasul untuk
segenap manusia. Allah mengutus
para rasul untuk mendakwahi
manusia agar mereka beribadah
dan menyembah kepada Allah semata. Akan tetapi kebanyakan
mereka mendustakan rasul-rasul
utusan Alloh itu; mereka tolak
kebenaran yang dibawanya,
yaitu ketauhidan. Akhirnya
mereka pun menemui kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya ada kesombongan
meskipun sebesar biji sawi.” Kemudian beliau
melanjutkan hadits ini
dengan berkata,
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang
lain.” (HR. Muslim) Berdasarkan hadits di atas, tidak
diperbolehkan bagi seorang
mukmin menolak kebenaran atau
nasehat yang disampaikan
kepadanya. Karena jika demikian
berarti mereka telah menyerupai orang-orang kafir dan telah
menjerumuskan dirinya ke dalam
sifat sombong yang bisa
menghalanginya masuk surga.
Maka, sikap hikmah (yaitu sikap
menerima kebenaran dan tidak meremehkan siapapun yang
menyampaikannya -pen) menjadi
senjata yang ampuh bagi
seorang mukmin yang selalu siap
digunakan. Maka dari itu, kita
wajib menerima kebenaran dari siapapun datangnya, bahkan dari
setan sekalipun. Ya Allah, tunjukilah -
dengan izin-Mu- bagi
kami pada kebenaran
dalam perkara yang
kami perselisihkan.
Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki siapa
yang Engkau kehendaki
ke jalan yang lurus. [Disarikan oleh Abu Isma'il
Muhammad Abduh Tuasikal dari
Majalah Al Furqon ed.11/Th.II, At
Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhid-
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, al
Firqotun Najiyah-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu] Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ Tulisan di masa silam, wisma MTI,
Pogung Kidul Repost by Anwar Baru Belajar [Gambar buku di atas ; Ditulis
oleh Hartono Ahmad Jaiz dan
Abduh Zulfidar Akaha, penerbit
Pustaka Al Kautsar] Ilustrasi : Dialoq antara seorang Kyai
atau Habib dengan seorang
anggota jama'ah pengajian
[sebutlah si fulan]. Fulan : [si fulan berkata kepada Kyai atau Habib] Pak Yai… atau Bib… Tolong saya diberi amalan, yang dengan
amalan itu saya bisa ini… .bisa itu… ..! Kyai / Habib : Silahkan amalkan bacaan ini…… ..dibaca sekian kali…… .[misalnya 1000 x] Seandainya perintah si Kyai
atau Habib tersebut
menyalahi tuntunan
Rasulullah dan tidak pernah
dicontohkan oleh Rasulullah,
maka si Kyai atau si Habib tersebut telah membuat syari'at baru, dan bagi si fulan yang telah menuruti
perintah si Kyai atau Habib
tersebut secara tidak sadar
telah menuhankannya. Yang berhak membuat
syari'at dalam agama
hanyalah Allah. Adapun
melakukan ibadah adalah
dengan cara
ittiba' (mengikuti) Rasulullah dalam beribadah kepada
Allah.
Wasallam membacakan firman
Allah berikut ini; "Mereka
menjadikan para pendeta, dan
rahib-rahibnya sebagai tuhan
selain Allah...(QS. At Taubah : 31), Adi bin Hatim berkata: "Kami dulu
orang-orang Nasrani tidak
menyembah mereka [para
pendeta dan pemuka agama
Nasrani]. Kemudian Rasulullah
berkata : "Bukankah mereka
menghalalkan apa yang
diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah, lalu kalian
mengikutinya ? Jawab Adi bin Hatim : "Ya, benar. Kata Nabi : "Itulah bentuk
penyembahan [kalian]
terhadap mereka" . (HR. Tirmidzi dari Adi bin Hatim). *Adi
bin Hatim sebelum masuk Islam,
beliau dahulunya beragama
Nasrani. Fanatik terhadap kyai, Habib,
ulama, atau ustadz memang
telah mendarah daging dalam
tubuh umat ini. Yang jadi masalah
bukanlah sekedar mengikuti
pendapat orang yang berilmu. Namun yang menjadi masalah
adalah ketika pendapat para
ulama tersebut jelas-jelas
menyelisihi Al Qur’ an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian.
Yang penting kata mereka ‘ sami’ na wa atho’ na’ (apa yang dikatakan oleh kyai kami, tetap
kami dengar dan kami taat).
Entah pendapat kyai tersebut
merupakan perbuatan syirik
atau bid’ ah, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru
kami. Fenomena Fanatik Buta Fanatik -dalam bahasa Arab
disebut ta’ ashub - adalah sikap mengikuti seseorang tanpa
mengetahui dalilnya, selalu
menganggapnya benar, dan
membelanya secara membabi
buta. Fanatik terhadap kyai,
ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi
sejak dahulu seperti yang terjadi
di kalangan para pengikut
madzhab (ada 4 madzhab yang
terkenal yaitu Hanafi, Hanbali,
Maliki, dan Syafi’ i). Di mana para pengikut madzhab tersebut
mengklaim bahwa kebenaran
hanya pada pihak mereka
sendiri, sedangkan kebathilan
adalah pada pihak (madzhab)
yang lain. Banyak contoh yang dapat
diambil dari para pengikut
madzhab tersebut. Di antara
contoh perkataan bathil di
antara mereka adalah ucapan
Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di
kalangan Hanafiyyah). Beliau
mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut
madzhab kami (Hanafiyyah),
maka harus diselewengkan
maknanya atau dihapus
hukumnya.” Syaikh Al Albani rahimahullah juga
mengisahkan, bahwa ada
seorang bermadzhab Hanafiyah
mengharamkan pria dari
kalangan mereka menikah
dengan wanita bermadzhab Syafi’ iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli
kitab dianalogikan dengan wanita
Yahudi dan Nasrani!! Hal ini masih
terjadi hingga sekarang. Seperti
ada seorang bermadzhab Hanafi
dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani
Umayyah di Damaskus, dia
mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’ i, niscaya aku akan nikahkan dia
dengan anak perempuanku!” Imam Adz Dzahabi dalam Siyar
A’ lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad
bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid
Abdullah selama 60 puluh tahun
lamanya. Beliau bermadzhab
Syafi’ i dan melakukan qunut shubuh. Setelah itu imam sholat
diambil alih oleh seseorang yang
bermadzhab Maliki dan tidak
melakukan qunut shubuh. Karena
hal ini menyelisihi tradisi
masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan
imam yang tidak melakukan
qunut shubuh ini, seraya
berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”. Inilah contoh yang terjadi di
kalangan pengikut madzhab.
Begitu juga yang terjadi pada
umat Islam sekarang ini, banyak
sekali di antara mereka membela
secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru
mereka (seperti membela
kesyirikan, kebid’ ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan
guru-guru tersebut), padahal
jelas-jelas bertentangan dengan
ayat dan hadits yang shohih. Mempertentangkan
Perkataan Allah dan Rasul-
Nya dengan Perkataan
Kyai/Ulama. Banyak dari umat Islam saat ini,
apabila dikatakan kepada
mereka, “Allah telah berfirman” atau kita sampaikan “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam telah bersabda …” , mereka malah menjawab, “Namun, kyai/ustadz kami berkata demikian …” . Apakah mereka belum pernah
mendengar firman Allah (yang
artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mendahului Allah dan Rasul-
Nya” (Al Hujurat : 1) Yaitu janganlah kalian mendahulukan
perkataan siapapun dari
perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dan perhatikan pula ayat
selanjutnya dari surat ini. Allah
Ta’ ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan
suaramu melebihi suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara yang
keras, sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak
hapus (pahala) amalanmu,
sedangkan kamu tidak
menyadari.” (Al Hujurot : 2). Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam
I’ lamul Muwaqi’ in mengatakan, “Apabila mengeraskan suara mereka di atas suara Rasul
saja dapat menyebabkan
terhapusnya amalan
mereka. Lantas bagaimana
kiranya dengan
mendahulukan pendapat, akal, perasaan, politik, dan
pengetahuan di atas ajaran
rasul. Bukankah ini lebih
layak sebagai penghapus
amalan mereka “ Ibnu ‘ Abbas radiyallahu ‘ anhuma mengatakan, “Hampir saja kalian akan dihujani hujan batu dari
langit. Aku ,‘ Rasulullah bersabda demikian lantas
kalian membantahnya
dengan mengatakan, ‘ Abu Bakar dan Umar berkata
demikian.’ “ (Shohih. HR. Ahmad) . Dari perkataan ini, wajib bagi
seorang muslim jika dia
mendengar hadits Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam dan dia paham maksudnya/penjelasannya dari
ahli ilmu, tidaklah boleh bagi dia
menolak hadits tersebut karena
perkataan seorang pun. Tidak
boleh dia menentangnya karena
perkataan Abu Bakar dan Umar - radiyallahu ‘ anhuma- (yang telah kita ketahui bersama kedudukan
mereka berdua), atau sahabat
Nabi yang lain, atau orang-orang
di bawah mereka, apalagi dengan
perkataan seorang kyai atau
ustadz. Dan para ulama juga telah sepakat bahwa
barangsiapa yang telah
mendapatkan penjelasan dari
hadits Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak boleh
baginya meninggalkan hadits
tersebut dikarenakan perkataan
seorang pun, siapa pun dia. Dan
perkataan seperti ini selaras
dengan perkataan Imam Syafi’ i - semoga Alloh merahmati beliau-.
Beliau rahimahullah mengatakan; “Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang
telah jelas baginya ajaran
Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam, maka tidak halal
baginya untuk
meninggalkannya karena
perkataan yang lainnya.” (Madarijus Salikin, 2/335, Darul
Kutub Al ‘ Arobi. Lihat juga Al Haditsu Hujjatun bi Nafsihi fil
‘ Aqoid wal Ahkam, Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 79, Asy
Syamilah) Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Seandainya Musa hadir di
tengah kalian dan kalian
mengikutinya dan
meninggalkanku, maka
sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang
lurus. Sekiranya Musa hidup
kembali dan menjumpai
kenabianku, dia pasti
mengikutiku.” (Hasan, HR. Ad Darimi dan Ahmad). Maksudnya apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti Musa, seorang Nabi
yang mulia yang pernah diajak
bicara oleh Allah, maka kita akan
tersesat dari jalan yang lurus. Lantas bagaimana pendapat
saudara sekalian, apabila kita
meninggalkan sunnah Nabi dan
mengikuti para kyai, habib, tokoh
agama, ustadz, mubaligh,
cendekiawan dan sebagainya yang sangat jauh bila
dibandingkan Nabi Musa ‘ alaihis salaam??! Renungkanlah hal ini. Dampak Fanatik Buta Fanatik memunculkan berbagai
dampak negatif yang sangat
berbahaya bagi pribadi secara
khusus dan masyarakat secara
umum. Berikut ini kami paparkan
beberapa dampak yang terjadi karena fanatik buta. [1] Memejamkan mata
dari dalil yang kuat dan
berpegang dengan dalil
yang rapuh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan,
“Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak
mendalami Al Qur’ an dan As Sunnah kecuali segilintir
orang saja. Sandaran
mereka hanyalah hadit-
hadits yang rapuh atau
hikayat-hikayat dari para
tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi bohong.” [2] Merubah dalil untuk
membela pendapatnya Contohnya adalah atsar
tentang qunut shubuh yang
diriwayatkan oleh Ahmad,
Ibnu Majah, Tirmidzi, dan
beliau menshahihkannya. Dari
Malik Al Asyja’ i radiyallahu ‘ anhu berkata, “Saya pernah bertanya kepada
ayahku,’ Wahai ayahku! Sesungguhnya engkau
pernah sholat di belakang
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar,
Utsman, dan Ali di sini -di
Kufah-. Apakah mereka
melakukan qunut shubuh?’ Jawab beliau,’ Wahai anakku, itu merupakan perkara
muhdats (perkara baru yang
diada-adakan dalam agama -
pen)’ “ . Tetapi seorang tokoh
bermadzhab Syafi’ i di Mesir malah mengganti hadits
tersebut dengan lafadz yang
artinya, ‘ Wahai anakku, ceritakanlah (kata muhdats
diganti dengan fahaddits
yang berarti ceritakanlah-
pen) [!]‘ Dan tokoh ini juga mengatakan, “Sholatnya orang yang meninggalkan
qunut shubuh secara
sengaja, maka sholatnya
batal yaitu tidak sah.” Sungguh perbuatan tokoh ini
dikarenakan sikap fanatik
beliau pada madzhabnya
yang mengakar kuat pada
dirinya. Tetapi lihatlah
perbedaan yang sangat menonjol dengan orang yang
mengikuti kebenaran,
walaupun madzhabnya sama
dengan tokoh fanatik di
atas. Beliau -Abul Hasan Al
Kurjiy Asy Syafi’ i- tidak pernah melakukan qunut
shubuh dan beliau pernah
berkata,”Tidak ada hadits shohih tentang hal itu (yaitu
qunut shubuh,-pen).” [3] Sering memalsukan
hadits Di antara hadits palsu hasil
rekayasa orang-orang yang
fanatik madzhab untuk
membela madzhabnya, yaitu
dari Ahmad bin Abdilllah bin
Mi’ dan dari Anas secara marfu’ : “Akan datang pada umatku seorang yang
bernama Muhammad bin Idris
(yakni Imam Syafi’ i-pen), dia lebih berbahaya bagi umatku
daripada Iblis. Dan akan
datang pada umatku
seorang bernama Abu
Hanifah, dia adalah pelita
umatku”. Hadits ini selain palsu, juga
bertentangan dengan nash
yang menyatakan bahwa
pelita umat ini adalah Nabi
Muhammad shollallohu ‘ alaihi wa sallam, sebagaimana yang
terdapat dalam surat Al
Ahzab ayat 46. [4] Menfatwakan bahwa
taqlid hukumnya wajib Para fanatisme madzhab
atau kelompok akan
menyerukan kepada
pengikutnya tentang
kewajiban taqlid yaitu
mengambil pendapat seseorang tanpa mengetahui
dalilnya. Hal ini sebagaimana yang
diwajibkan organisasi Islam
terbesar di Indonesia. Salah
seorang tokoh organisasi
tersebut mengatakan,
“Sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang
sebagian besar umat Islam di
seluruh dunia yang termasuk
dalam golongan Ahlus Sunnah
wal Jama’ ah membenarkan adanya kewajiban taqlid bagi
orang yang tidak memenuhi
syarat untuk berijtihad …” Ini adalah ucapan yang bathil.
Tidak pernah ada kewajiban
seperti ini dari Allah,
Rasulullah, sampai-sampai
imam madzhab sekalipun.
Karena pendapat imam madzhab itu kadangkala
benar dan kadangkala juga
salah. Seringkali para imam
madzhab berpegang pada
suatu pendapat dan beliau
meralat pendapatnya tersebut. Dan para imam itu
sendiri melarang untuk taqlid
kepadanya, sebagaimana
Imam Syafi’ i rahimahullah (imam madzhab yang
organisasi ini ikuti)
mengatakan; “Setiap yang aku katakan, kemudian ada
hadits shahih yang
menyelisihinya, maka
hadits Nabi tersebut
lebih utama untuk
diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. Janganlah Menolak
Kebenaran Sesungguhnya Allah telah
mengutus para rasul untuk
segenap manusia. Allah mengutus
para rasul untuk mendakwahi
manusia agar mereka beribadah
dan menyembah kepada Allah semata. Akan tetapi kebanyakan
mereka mendustakan rasul-rasul
utusan Alloh itu; mereka tolak
kebenaran yang dibawanya,
yaitu ketauhidan. Akhirnya
mereka pun menemui kebinasaan. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam
hatinya ada kesombongan
meskipun sebesar biji sawi.” Kemudian beliau
melanjutkan hadits ini
dengan berkata,
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang
lain.” (HR. Muslim) Berdasarkan hadits di atas, tidak
diperbolehkan bagi seorang
mukmin menolak kebenaran atau
nasehat yang disampaikan
kepadanya. Karena jika demikian
berarti mereka telah menyerupai orang-orang kafir dan telah
menjerumuskan dirinya ke dalam
sifat sombong yang bisa
menghalanginya masuk surga.
Maka, sikap hikmah (yaitu sikap
menerima kebenaran dan tidak meremehkan siapapun yang
menyampaikannya -pen) menjadi
senjata yang ampuh bagi
seorang mukmin yang selalu siap
digunakan. Maka dari itu, kita
wajib menerima kebenaran dari siapapun datangnya, bahkan dari
setan sekalipun. Ya Allah, tunjukilah -
dengan izin-Mu- bagi
kami pada kebenaran
dalam perkara yang
kami perselisihkan.
Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki siapa
yang Engkau kehendaki
ke jalan yang lurus. [Disarikan oleh Abu Isma'il
Muhammad Abduh Tuasikal dari
Majalah Al Furqon ed.11/Th.II, At
Tamhiid li Syarhi Kitaabit Tauhid-
Syaikh Sholeh Alu Syaikh, al
Firqotun Najiyah-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu] Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ Tulisan di masa silam, wisma MTI,
Pogung Kidul Repost by Anwar Baru Belajar [Gambar buku di atas ; Ditulis
oleh Hartono Ahmad Jaiz dan
Abduh Zulfidar Akaha, penerbit
Pustaka Al Kautsar] Ilustrasi : Dialoq antara seorang Kyai
atau Habib dengan seorang
anggota jama'ah pengajian
[sebutlah si fulan]. Fulan : [si fulan berkata kepada Kyai atau Habib] Pak Yai… atau Bib… Tolong saya diberi amalan, yang dengan
amalan itu saya bisa ini… .bisa itu… ..! Kyai / Habib : Silahkan amalkan bacaan ini…… ..dibaca sekian kali…… .[misalnya 1000 x] Seandainya perintah si Kyai
atau Habib tersebut
menyalahi tuntunan
Rasulullah dan tidak pernah
dicontohkan oleh Rasulullah,
maka si Kyai atau si Habib tersebut telah membuat syari'at baru, dan bagi si fulan yang telah menuruti
perintah si Kyai atau Habib
tersebut secara tidak sadar
telah menuhankannya. Yang berhak membuat
syari'at dalam agama
hanyalah Allah. Adapun
melakukan ibadah adalah
dengan cara
ittiba' (mengikuti) Rasulullah dalam beribadah kepada
Allah.
Selasa, 01 Februari 2011
Dusta adalah Pangkal Semua Kejahatan
Imam Muslim pernah
meriwayatkan sebuah hadist
tentang Pentingnya kejujuran
dan dusta yang menyatakan
bahwa Rasulullah saw pernah
bersabda ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 591] Namun sayang banyak orang
meremehkan peringatan
tersebut. Mereka terlanjur biasa
berdusta, sehingga kejujuran
semakin langka. Padahal
pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu
berusaha menutupi
kedustaannya dengan berbagai
macam cara. Sehingga sebuah
dusta berpotensi melahirkan
banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga
berpotensi melahirkan
kecurangan, kekerasan,
kejahatan, bahkan pembunuhan
yang semuanya itu merupakan
bentuk kedurhakaan (ketidak- taatan) kepada Allah. Kasus Bibit-Chandra yang
melibatkan KPK, Mabes Polri, dan
Kejaksaan Agung menjadi
semakin ruwet karena ada
pihak-pihak yang berdusta. AW
berniat menyuap sejumlah pejabat KPK dan merasa uang
suapnya sudah sampai kepada
mereka. Sedang para pejabat
KPK mengklaim tidak ada
seorangpun yang menerima uang
suap itu. Pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain
merupakan indikasi adanya
kedustaan. Dugaan rekayasa
kriminalisasi KPK yang mengarah
ke penutupan lembaga itu
terungkap dalam rekaman pembicaraan AW dan OYG. Bahkan
dalam rekaman tersebut sempat
disinggung nama RI1. Sedang RI1
sendiri dengan tegas
membantahnya. Maka dapat
dipastikan ada pihak yang berdusta. Kasus yang
membengkak menjadi masalah
nasional tersebut mengundang
perhatian Presiden SBY
membentuk Tim Pencari Fakta
untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dibalik
kedustaan. Saudaraku, sebagai orang
beriman kita mestinya menyadari
Allah mengawasi seluruh aktifitas
hidup kita. Ketika mendefinisikan
ihsan Rasulullah saw mengatakan ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َناَك ُّيِبَّنلا ص اًزِراَب اًمْوَي ِساَّنلِل ُهاَتَاَف ٌلُجَر َلاَقَف : اَم ؟ُناَمْيِالْا َلاَق : ُناَمْيِالَْا ْنَا َنِمْؤُت ِهللاِب َو ِهِتَكِئَالَم َو ِهِئاَقِلِب َو ِهِلُسُر َو َنِمْؤُت ِثْعَبلْاِب . َلاَق : اَم ؟ُمَالْسِالْا َلاَق : ُمَالْسِالْاَ ْنَا َدُبْعَت َهللا َو َال َكِرْشُت ِهِب َو َمْيِقُت َةَالَّصلا َو َيّدَؤُت َةاَكَّزلا َةَضْوُرْفَملْا َو َمْوُصَت َناَضَمَر . َلاَق : َو اَم ؟ُناَسْحِالْا َلاَق : ْنَا َدُبْعَت َهللا َكَّنَاَك ُهاَرَت ، ْنِاَف ْمَل ْنُكَت ُهاَرَت ُهَّنِاَف َكاَرَي . َلاَق : ىَتَم ؟ُةَعاَّسلا َلاَق : اَم ُلُؤْسَملْا َمَلْعَاِب َنِم ِلِئاَّسلا َو َكُرِبْخُاَس ْنَع اَهِطاَرْشَا . اَذِا ِتَدَلَو ُةَمَالْا اَهَّبَر َو اَذِا َلَواَطَت ُةاَعُر ِلِبِالْا ُمْهُبلْا ىِف ِناَيْنُبلْا ىِف ٍسْمَخ َال َّنُهُمَلْعَي َّالِا ُهللا . َّمُث َالَت ُّيِبَّنلا ص } َّنِا َهللا هَدْنِع ُمْلِع ِةَعاَّسلا { َّمُث َرَبْدَا . َلاَقَف : ُهْوُّدُر ْمَلَف اْوَرَي اًئْيَش . َلاَقَف : اَذه ُلْيِرْبِج َءاَج ُمّلَعُي َساَّنلا ْمُهَنْيِد . ىراخبلا Dari Abu Hurairah RA, ia
berkata : Pada suatu hari
Rasulullah SAW berada di tengah-
tengah shahabatnya, lalu ada
seorang laki-laki datang seraya
bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, bertemu dengan-
Nya, (iman kepada) rasul-rasul-
Nya, dan kamu percaya kepada
hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak
mensekutukan-Nya, kamu
mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardlukan dan
puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat- Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”. Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
bertanya ?. Namun aku
beritahukan kepadamu tentang
tanda-tandanya. Yaitu : apabila
budak perempuan melahirkan
tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-
mewah dan bermegah-megah
dengan bangunan rumahnya.
Dalam lima hal tidak ada yang
mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca
ayat yang artinya
(Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya
lah pengetahuan tentang hari
qiyamat). Kemudian oang yang
bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi,
lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk
mengajar manusia tentang
agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18] Rasulullah saw mengingatkan
bahwa Allah selalu hadir dalam
seluruh aktifitas hidup kita.
Kehadiran Allah itulah yang akan
menumbuhkan pengawasan
melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat
yang muncul karena iman kepada
Allah dan hari akhir itu akan
menjaga setiap muslim untuk
tidak melanggar aturan Allah dan
Rasul-Nya termasuk larangan berdusta. Apalagi Allah sendiri berfirman:
“Nahnu aqrabu ilaihi min hablil- warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.)
Andai setiap orang Islam
berkomitmen kuat untuk tidak
berdusta, maka sudah lebih dari
88% dari populasi negeri ini
berkontribusi positif terhadap pencegahan terjadinya kasus-
kasus serupa. Andai semua orang tidak
berdusta, maka berbagai
persoalan korupsi, kolusi, dan
nepotisme akan segera bisa kita
tuntasan. Andai tidak ada dusta,
sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu
terjadi. Kita terlalu banyak
membuang energi, yang
seharusnya bisa dipergunakan
untuk mempercepat
pembangunan negeri. Dalam hadis yang sama Rasulullah
saw mengingatkan: ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Sumber kebaikan yang akan
membawa kepada keberhasilan
dunia akherat adalah jujur.
Sedang pangkal kejahatan
adalah dusta. Maka demi
kejayaan bangsa ini, mari kita bangun komitmen bersama untuk
meninggalkan dusta dan
memegang teguh nilai-nilai
kejujuran. Di atas landasan kejujuran inilah
keadilan kita tegakkan,
kemakmuran dan kesejehteraan
kita upayakan. Bukan tidak
mungkin Allah akan
menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang
tata titi tentrem kerta raharja
gemah ripah loh jinawi di bawah
naungan dan ampunan Ilahi.
Semoga Allah memudahkan hati
kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.
meriwayatkan sebuah hadist
tentang Pentingnya kejujuran
dan dusta yang menyatakan
bahwa Rasulullah saw pernah
bersabda ْنَع ىِبَا ٍرْكَب ِقْيّدّصلا ضر َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب ، ُهَّنِاَف َعَم ّرِبلْا َو اَمُه ىِف ِةَّنَجلْا . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا ، ُهَّنِاَف َعَم ِرْوُجُفلْا َو اَمُه ىِف ِراَّنلا . نبا نابح ىف هحيحص ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia
berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama
kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya,
dalam Targhib wat Tarhib juz 3,
hal. 591] Namun sayang banyak orang
meremehkan peringatan
tersebut. Mereka terlanjur biasa
berdusta, sehingga kejujuran
semakin langka. Padahal
pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu
berusaha menutupi
kedustaannya dengan berbagai
macam cara. Sehingga sebuah
dusta berpotensi melahirkan
banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga
berpotensi melahirkan
kecurangan, kekerasan,
kejahatan, bahkan pembunuhan
yang semuanya itu merupakan
bentuk kedurhakaan (ketidak- taatan) kepada Allah. Kasus Bibit-Chandra yang
melibatkan KPK, Mabes Polri, dan
Kejaksaan Agung menjadi
semakin ruwet karena ada
pihak-pihak yang berdusta. AW
berniat menyuap sejumlah pejabat KPK dan merasa uang
suapnya sudah sampai kepada
mereka. Sedang para pejabat
KPK mengklaim tidak ada
seorangpun yang menerima uang
suap itu. Pernyataan yang saling bertentangan satu sama lain
merupakan indikasi adanya
kedustaan. Dugaan rekayasa
kriminalisasi KPK yang mengarah
ke penutupan lembaga itu
terungkap dalam rekaman pembicaraan AW dan OYG. Bahkan
dalam rekaman tersebut sempat
disinggung nama RI1. Sedang RI1
sendiri dengan tegas
membantahnya. Maka dapat
dipastikan ada pihak yang berdusta. Kasus yang
membengkak menjadi masalah
nasional tersebut mengundang
perhatian Presiden SBY
membentuk Tim Pencari Fakta
untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dibalik
kedustaan. Saudaraku, sebagai orang
beriman kita mestinya menyadari
Allah mengawasi seluruh aktifitas
hidup kita. Ketika mendefinisikan
ihsan Rasulullah saw mengatakan ْنَع ىِبَا َةَرْيَرُه َلاَق : َناَك ُّيِبَّنلا ص اًزِراَب اًمْوَي ِساَّنلِل ُهاَتَاَف ٌلُجَر َلاَقَف : اَم ؟ُناَمْيِالْا َلاَق : ُناَمْيِالَْا ْنَا َنِمْؤُت ِهللاِب َو ِهِتَكِئَالَم َو ِهِئاَقِلِب َو ِهِلُسُر َو َنِمْؤُت ِثْعَبلْاِب . َلاَق : اَم ؟ُمَالْسِالْا َلاَق : ُمَالْسِالْاَ ْنَا َدُبْعَت َهللا َو َال َكِرْشُت ِهِب َو َمْيِقُت َةَالَّصلا َو َيّدَؤُت َةاَكَّزلا َةَضْوُرْفَملْا َو َمْوُصَت َناَضَمَر . َلاَق : َو اَم ؟ُناَسْحِالْا َلاَق : ْنَا َدُبْعَت َهللا َكَّنَاَك ُهاَرَت ، ْنِاَف ْمَل ْنُكَت ُهاَرَت ُهَّنِاَف َكاَرَي . َلاَق : ىَتَم ؟ُةَعاَّسلا َلاَق : اَم ُلُؤْسَملْا َمَلْعَاِب َنِم ِلِئاَّسلا َو َكُرِبْخُاَس ْنَع اَهِطاَرْشَا . اَذِا ِتَدَلَو ُةَمَالْا اَهَّبَر َو اَذِا َلَواَطَت ُةاَعُر ِلِبِالْا ُمْهُبلْا ىِف ِناَيْنُبلْا ىِف ٍسْمَخ َال َّنُهُمَلْعَي َّالِا ُهللا . َّمُث َالَت ُّيِبَّنلا ص } َّنِا َهللا هَدْنِع ُمْلِع ِةَعاَّسلا { َّمُث َرَبْدَا . َلاَقَف : ُهْوُّدُر ْمَلَف اْوَرَي اًئْيَش . َلاَقَف : اَذه ُلْيِرْبِج َءاَج ُمّلَعُي َساَّنلا ْمُهَنْيِد . ىراخبلا Dari Abu Hurairah RA, ia
berkata : Pada suatu hari
Rasulullah SAW berada di tengah-
tengah shahabatnya, lalu ada
seorang laki-laki datang seraya
bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, bertemu dengan-
Nya, (iman kepada) rasul-rasul-
Nya, dan kamu percaya kepada
hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak
mensekutukan-Nya, kamu
mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardlukan dan
puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat- Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”. Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang
bertanya ?. Namun aku
beritahukan kepadamu tentang
tanda-tandanya. Yaitu : apabila
budak perempuan melahirkan
tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-
mewah dan bermegah-megah
dengan bangunan rumahnya.
Dalam lima hal tidak ada yang
mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca
ayat yang artinya
(Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya
lah pengetahuan tentang hari
qiyamat). Kemudian oang yang
bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi,
lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk
mengajar manusia tentang
agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18] Rasulullah saw mengingatkan
bahwa Allah selalu hadir dalam
seluruh aktifitas hidup kita.
Kehadiran Allah itulah yang akan
menumbuhkan pengawasan
melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat
yang muncul karena iman kepada
Allah dan hari akhir itu akan
menjaga setiap muslim untuk
tidak melanggar aturan Allah dan
Rasul-Nya termasuk larangan berdusta. Apalagi Allah sendiri berfirman:
“Nahnu aqrabu ilaihi min hablil- warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.)
Andai setiap orang Islam
berkomitmen kuat untuk tidak
berdusta, maka sudah lebih dari
88% dari populasi negeri ini
berkontribusi positif terhadap pencegahan terjadinya kasus-
kasus serupa. Andai semua orang tidak
berdusta, maka berbagai
persoalan korupsi, kolusi, dan
nepotisme akan segera bisa kita
tuntasan. Andai tidak ada dusta,
sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu
terjadi. Kita terlalu banyak
membuang energi, yang
seharusnya bisa dipergunakan
untuk mempercepat
pembangunan negeri. Dalam hadis yang sama Rasulullah
saw mengingatkan: ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Sumber kebaikan yang akan
membawa kepada keberhasilan
dunia akherat adalah jujur.
Sedang pangkal kejahatan
adalah dusta. Maka demi
kejayaan bangsa ini, mari kita bangun komitmen bersama untuk
meninggalkan dusta dan
memegang teguh nilai-nilai
kejujuran. Di atas landasan kejujuran inilah
keadilan kita tegakkan,
kemakmuran dan kesejehteraan
kita upayakan. Bukan tidak
mungkin Allah akan
menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang
tata titi tentrem kerta raharja
gemah ripah loh jinawi di bawah
naungan dan ampunan Ilahi.
Semoga Allah memudahkan hati
kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.
Senin, 31 Januari 2011
Manusia Berkarakter Tinggi Dalam Islam
Segala puji hanya bagi Allah,
shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW,
keluarga, sahabat dan seluruh
pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuknya. Karakter mulia pada pribadi
seseorang atau sering disebut
dengan manusia yang
berkepribadian, atau dalam
bahasa sederhana yang lebih
luas sering dikatakan sebagai manusia yang ber- adab. Atau dalam bahasa pergaulan
dikatakan manusia beretika dan
manusia yang bersopan santun. Dalam zaman modern, ketika
manusia otaknya semakin dibikin
sibuk dngan berbagai macam
kesibukan ilmu dan teknologi,
maka manusia modern kehilangan
waktu untuk membangun kepribadiannya. Apalagi zaman
serba cepat yang dibantu
dengan bantuan komputer yang
super cepat, manusia sering
tidak mampu untuk
menggunakan alat itu untuk membangun pribadi yang lebih
mulia dan beradap, namun sering
hanyut mengikuti bujukan
hawanafsunya untuk selalu dan
selalu bersikap salah, salah dan
salah dan akhirnya menjadi robot-robot bernyawa. Ibarat
tanah-tanah hidup yang
bergentayangan kesana kemari
dengan aktifitas yang tidak
berkwalitas dan merusak diri
serta merusak lingkungannya. . 1. Manusia yang ber-Etika
benar kepada Allah. Membangun karakter dapat
dimulai dengan menyadarkan
manusia, bahwa dirinya adalah
makhluq ciptaan Allah SWT dan
memiliki kewajiban beribadah
kepada Allah SWT. Para orangtua-lah yang harus
menyadarkan bayi-bayi yang
dilahirkannya untuk memahami
kenapa anaknya lahir di dunia
dan untuk apa dia dilahirkan.
Beberapa firman Allah yang perlu direnungi antara lain, yang
artinya
. Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia
dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. (QS.
23:12)
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). (QS.
23:13)
Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik. (QS. 23:14) .
Manusia yang memiliki etika dan
sopan santun kepada Allah Tuhan
yang telah menciptakannya
tentu akan berusaha bersyukur
dan berterimakasih kepada Allah, nikmat-nikmat Allah yang
dicurahkan kepada mereka
menjadi daya dorong untuk rajin
beribadah kepada Allah, rajin
mendidik diri untuk mengetahui
petunjuknya dan rajin mendidik diri untuk menjalankan perintah-
Nya dan menjaui larangan-Nya. Zaman modern, zaman penuh
teknologi canggih, banyak muncul
manusia-manusia atheis, sebuah
bukti bahwa banyak manusia
modern yang tidak beretika dan
tidak punya sopan santun kepada yang telah
menciptakannya. Bagi Allah hal
tersebut tidak merugikan sama
sekali namun akan menjadi
kerugian yang besar bagi diri
manusia sendiri. . Dan kepunyaan Allah-lah
apa yang di langit dan yang
di bumi, dan sungguh Kami
telah memerintahkan
kepada orang-orang yang
diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;
bertaqwalah kepada Allah.
Tetapi jika kamu kafir maka
(ketahuilah), sesungguhnya
apa yang di langit dan apa
yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah
Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (QS. 4:131) Jika kamu kafir maka
sesungguhnya Allah tidak
memerlukan (iman)mu dan
Dia tidak meridhai kekafiran
bagi hamba-Nya; dan jika
kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu
kesyukuranmu itu; dan
seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang
lain.Kemudian kepada
Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan.Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang
tersimpan dalam (dada)mu.
(QS. 39:7) .
Dan (ingatlah juga), takala
Tuhanmu
mema’ lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Dan Musa berkata:”Jika kamu dan orang-orang yang ada di
muka bumi semuanya
mengingkari (nikmat Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya
lagi Maha Terpuji”. (QS. 14:8) Mendidik anak-anak kita untuk
tekun beribadah dan mengetahui
aturan-aturan yang ada dalam
Al-Qur’ an dan As-Sunnah adalah wujud syukurnya para Orang tua
kepada Allah. Bila para orang tua
sudah bisa mendidik anak-
anaknya untuk belajar aturan-
aturan Allah dan Rasulnya, dan
anaknya telah nampak bersemanat untuk beribadah
kedaNya, itu semua adlah wujud
nyata bahwa anaknya memiliki
sopansanukepada Allah Tuhan
yang telah menciptakan mereka.
Ketinggian, iman dan amal sholihnya serta ketaqwaannya
kepada Allah adalah ukuran
kemuliaan karakter seorang
manusia.
. 2. Beretika dengan sesama
manusia Sikap mulia yang harus segera
nampak pada seorang anak
manusia adalah sikap sopan
santun kepada orang tuanya.
Sikap Mulia kepada orang tuanya
adalah jalan pertama membangun sikap mulia kepada orang lain.
. Kami perintahkan kepada
manusia supaya berbuat
baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula)
.Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga
apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdo’ a:”Ya Tuhanku, tunjukilah aku
untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku da
kepada ibu bapakku dan
supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang
Engkau ridhai; berilah
kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada
anak cucuku.Sesungguhnya
aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang-orang
yang berserah diri”. (QS. 46:15) Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang
ibubapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepada-
Ku dan kepada dua orang
ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14) .
Sering dikatakan orangtua-lah
yang “ mengukir” jiwa dan raga seorang anak. Bila orang
tua sudah memiliki kepribadian
yang mulia dan tinggi, maka
tangung jawab yang pertama
adalah diarahkan kepada anak-
anaknya. Orang tua yang sholih dan sholihah dan perpendidikan
biasanya akan pula memiliki
anak-anak yang memiliki pribadi
yang sama. Karena orang tua
akan mengajari degan teliti dan
telaten setiap langkah yang dilakukan oleh anak-anak dalam
kehidupan sehari-hari. Berbahagialah para orang tua
yang tidak membiarkan anak-
anaknya bergaul dengan
sumber-sumber kejahatan, baik
dalam pergaulan dengan manusia
atau pula sarana-sarana kehidupan semacam SIARAN TELEVISI dan MULTIMEDIA
HIBURAN yang berisi dengan campur aduk antara kebaikan
dan kejahatan. Jiwa yang masih
rapuh dapat dipastikan lebih
suka menempuh jalan-jalan yang
disenangi hawa nafsu. Dan bila
diperbuat maka dipastikan sopan santun dan etika anak tersebut
akan jatuh dan menjadi manusia
berkwalitas sopan-santun yang
rendah dan hina sebagaimana
tingkah laku binantang yang
tidak berhati-dan berakal. . Terangkanlah kepadaku
tentang orang yang
menjadikan hawa nafsunya
sebagai Ilahnya.Maka
apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
atau apakah kamu mengira
bahwa kebanyakan mereka
itu mendengar atau
memahami.Mereka itu tidak
lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya
dari binatang ternak itu).
(QS. 25:44) .
Bila manusia telah suka di
tempat-tempat yang rendah,
maka dapat dikatakan manusia
telah turun derajad. Dan pasti
sifat-sifat mulia yang dimilikinya akan terhapus dan akan
tergantikan dengan sifat-sifat
buruk yang akan merugikan bagi
dirinya dan bagi orang lain. Dan
ini semua menjadi sumber
kesusahan dan kekacauan pergaulan diantara manusia.
. Mereka diliputi kehinaan di
mana saja mereka berada,
kecuali jika mereka
berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan mereka
kembali mendapat
kemurkaan dari Allah dan
mereka diliputi kerendahan.
Yang demikian itu karena
mereka kafir kepada ayat- ayat Allah dan membunuh
para nabi tanpa alasan
yang benar. Yang demikian
itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui
batas. (QS. 3:112) .
Bila manusia sudah menolak
sumber-sumber keselamatan dan
kebahagiaan, tentu akan
mendapatkan hal ang sebaliknya,
yaitu kesulitan, kesusahan dan siksaan. . 3. Beretika kepada Alam
Lingkungan .
Alam raya sungguh amat luas tak
terbatas, namun hingga saat ini
ilmu manusia belum menemukan
tempat sejenis bumi yang dapat
ditempati oleh manusia, atau manusia belum juga dapat
menciptakan pesawat ruang
angkasa yang membawa manusia
kesana. Para ahli sudah memprediksi, bila
perilaku manusia tetap saja
seperti sekarang ini,
menggunakan alam, meng-
ekplorasi alam untuk bermewah-
mewah memanjakan diri di dunia ini, dan milyaran manusia yang
diatas bumi ini bergerak kearah
yang sama, yaitu ingin hidup
bermanja-manja, bersenang-
senang tanpa batas. Maka bumi
kan menjadi hunian yang tidak lagi nyaman bagi umat manusia. Para ahli sudah sering membuat
animasi-animasi apa yang terjadi
jika segala ekosistem di bumi
menjadi rusak, dalam bahasa
mudah mereka mengatakan,
manusia bisa memproduksi dan memiliki berbagai macam sarana-
sarana kemewahan, namun
kemewahan itu tidak ada
gunanya karena tidak lagi
nyaman di huni. Bukti-bukti awal sudah nampak
mengemuka dihadapan umat
manusia. Secara materiil misalnya,
sudah sering terjadi kebakaran
hutan akibat musim kering yang
sangat ekstrim, atau badai yang menghancurkan dengan banjir
dan tanah longsor. Atau badai
salju yang melumpuhkan. Secara
nyata Es di kutup-kutup dunia
benar-benar telah mencair dan
telah pula banjir akibat pasang naik air laut sudah semakin
sering terjadi. Ada lagi keanehan yang
kontradiktif dan menggelikan.
Masih ada-ada saja di hari ini
orang-orang yang memasang
sesaji kepada sesuatu yang tidak
jelas dengan tujuan agar alam tidak rusak, karena mereka
menyangka bahwa kerusakan
alam ini dilakukan oleh makhluq-
makluq ghaib. Sehingga dengan
sesaji yang diberikan itu
kerusakan alam lingkungan dapat teratasi. Namun disisi lain lagi manusia
tetap saja mengkonsumsi budaya
serakah, budaya mengumbar
hawa nafsu dan budaya merusak
lingkungan. Sungguh kebodohan
yang bertumpuk-tumpuk yang pasti kerusakan-kerusakan itu
akan terus berjalan dan tidak
memiliki jalan keluar dan jalan
penyelesaian. Yang telah merusak alam adalah
manusia, dan pasti yang akan
menderita akibat buruknya juga
mansia, sebagaimana firman Allah
. Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut
disebabkan karena
perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang
benar). (QS. 30:41) .
Ketika manusia kehilangan etika
kepada Allah Tuhan Sang Maha
Pencipta maka dua hal lagi, yaitu
etika kepada sesama manusia
dan etika kepada alam lingkungan menjadi rusak dan
kacau balau. Karena kerusakan
tersebut mengakibatkan pula
kerusakan jiwa yang
berkepanjangan bagi umat
manusia dan manusia kemudian menjadi manusia-manusia yang
berlepribadian rusak dan kacau
balau. Dapat disimpulkan, bahwa yang
bisa memperbaiki keadaan
kekacauan di zaman hari ini pada
masing-masing manusia adalah,
dengan menyadarkan manusia
kembali kepada tujuan yang sebenarnya tentang terciptanya
manusia di alam dunia dan di bumi
ini. Ketika jiwa-jiwa manusia sudah terus berlatih dan berlatih untuk bisa ber sopan santun kepada Allah dan terus berusaha memiliki sopan santun yang tinggi dan mulia, maka manusia akan memiliki jiwa yang mulia dan agung. Dan manusia-manusia yang semacam inilah yang dapat hidup di muka bumi unuk selalu berbuat kebaikan dan memperkecil dari sikap-sikap merusak, baik merusak diri, merusak orang lain, atau merusak alam lingkungan… . Wallahu a’ lam
shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW,
keluarga, sahabat dan seluruh
pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuknya. Karakter mulia pada pribadi
seseorang atau sering disebut
dengan manusia yang
berkepribadian, atau dalam
bahasa sederhana yang lebih
luas sering dikatakan sebagai manusia yang ber- adab. Atau dalam bahasa pergaulan
dikatakan manusia beretika dan
manusia yang bersopan santun. Dalam zaman modern, ketika
manusia otaknya semakin dibikin
sibuk dngan berbagai macam
kesibukan ilmu dan teknologi,
maka manusia modern kehilangan
waktu untuk membangun kepribadiannya. Apalagi zaman
serba cepat yang dibantu
dengan bantuan komputer yang
super cepat, manusia sering
tidak mampu untuk
menggunakan alat itu untuk membangun pribadi yang lebih
mulia dan beradap, namun sering
hanyut mengikuti bujukan
hawanafsunya untuk selalu dan
selalu bersikap salah, salah dan
salah dan akhirnya menjadi robot-robot bernyawa. Ibarat
tanah-tanah hidup yang
bergentayangan kesana kemari
dengan aktifitas yang tidak
berkwalitas dan merusak diri
serta merusak lingkungannya. . 1. Manusia yang ber-Etika
benar kepada Allah. Membangun karakter dapat
dimulai dengan menyadarkan
manusia, bahwa dirinya adalah
makhluq ciptaan Allah SWT dan
memiliki kewajiban beribadah
kepada Allah SWT. Para orangtua-lah yang harus
menyadarkan bayi-bayi yang
dilahirkannya untuk memahami
kenapa anaknya lahir di dunia
dan untuk apa dia dilahirkan.
Beberapa firman Allah yang perlu direnungi antara lain, yang
artinya
. Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia
dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. (QS.
23:12)
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). (QS.
23:13)
Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk
yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik. (QS. 23:14) .
Manusia yang memiliki etika dan
sopan santun kepada Allah Tuhan
yang telah menciptakannya
tentu akan berusaha bersyukur
dan berterimakasih kepada Allah, nikmat-nikmat Allah yang
dicurahkan kepada mereka
menjadi daya dorong untuk rajin
beribadah kepada Allah, rajin
mendidik diri untuk mengetahui
petunjuknya dan rajin mendidik diri untuk menjalankan perintah-
Nya dan menjaui larangan-Nya. Zaman modern, zaman penuh
teknologi canggih, banyak muncul
manusia-manusia atheis, sebuah
bukti bahwa banyak manusia
modern yang tidak beretika dan
tidak punya sopan santun kepada yang telah
menciptakannya. Bagi Allah hal
tersebut tidak merugikan sama
sekali namun akan menjadi
kerugian yang besar bagi diri
manusia sendiri. . Dan kepunyaan Allah-lah
apa yang di langit dan yang
di bumi, dan sungguh Kami
telah memerintahkan
kepada orang-orang yang
diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu;
bertaqwalah kepada Allah.
Tetapi jika kamu kafir maka
(ketahuilah), sesungguhnya
apa yang di langit dan apa
yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah
Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. (QS. 4:131) Jika kamu kafir maka
sesungguhnya Allah tidak
memerlukan (iman)mu dan
Dia tidak meridhai kekafiran
bagi hamba-Nya; dan jika
kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu
kesyukuranmu itu; dan
seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang
lain.Kemudian kepada
Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan.Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui apa yang
tersimpan dalam (dada)mu.
(QS. 39:7) .
Dan (ingatlah juga), takala
Tuhanmu
mema’ lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Dan Musa berkata:”Jika kamu dan orang-orang yang ada di
muka bumi semuanya
mengingkari (nikmat Allah), maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya
lagi Maha Terpuji”. (QS. 14:8) Mendidik anak-anak kita untuk
tekun beribadah dan mengetahui
aturan-aturan yang ada dalam
Al-Qur’ an dan As-Sunnah adalah wujud syukurnya para Orang tua
kepada Allah. Bila para orang tua
sudah bisa mendidik anak-
anaknya untuk belajar aturan-
aturan Allah dan Rasulnya, dan
anaknya telah nampak bersemanat untuk beribadah
kedaNya, itu semua adlah wujud
nyata bahwa anaknya memiliki
sopansanukepada Allah Tuhan
yang telah menciptakan mereka.
Ketinggian, iman dan amal sholihnya serta ketaqwaannya
kepada Allah adalah ukuran
kemuliaan karakter seorang
manusia.
. 2. Beretika dengan sesama
manusia Sikap mulia yang harus segera
nampak pada seorang anak
manusia adalah sikap sopan
santun kepada orang tuanya.
Sikap Mulia kepada orang tuanya
adalah jalan pertama membangun sikap mulia kepada orang lain.
. Kami perintahkan kepada
manusia supaya berbuat
baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula)
.Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga
apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdo’ a:”Ya Tuhanku, tunjukilah aku
untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku da
kepada ibu bapakku dan
supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang
Engkau ridhai; berilah
kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada
anak cucuku.Sesungguhnya
aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang-orang
yang berserah diri”. (QS. 46:15) Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang
ibubapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepada-
Ku dan kepada dua orang
ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14) .
Sering dikatakan orangtua-lah
yang “ mengukir” jiwa dan raga seorang anak. Bila orang
tua sudah memiliki kepribadian
yang mulia dan tinggi, maka
tangung jawab yang pertama
adalah diarahkan kepada anak-
anaknya. Orang tua yang sholih dan sholihah dan perpendidikan
biasanya akan pula memiliki
anak-anak yang memiliki pribadi
yang sama. Karena orang tua
akan mengajari degan teliti dan
telaten setiap langkah yang dilakukan oleh anak-anak dalam
kehidupan sehari-hari. Berbahagialah para orang tua
yang tidak membiarkan anak-
anaknya bergaul dengan
sumber-sumber kejahatan, baik
dalam pergaulan dengan manusia
atau pula sarana-sarana kehidupan semacam SIARAN TELEVISI dan MULTIMEDIA
HIBURAN yang berisi dengan campur aduk antara kebaikan
dan kejahatan. Jiwa yang masih
rapuh dapat dipastikan lebih
suka menempuh jalan-jalan yang
disenangi hawa nafsu. Dan bila
diperbuat maka dipastikan sopan santun dan etika anak tersebut
akan jatuh dan menjadi manusia
berkwalitas sopan-santun yang
rendah dan hina sebagaimana
tingkah laku binantang yang
tidak berhati-dan berakal. . Terangkanlah kepadaku
tentang orang yang
menjadikan hawa nafsunya
sebagai Ilahnya.Maka
apakah kamu dapat menjadi
pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
atau apakah kamu mengira
bahwa kebanyakan mereka
itu mendengar atau
memahami.Mereka itu tidak
lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya
dari binatang ternak itu).
(QS. 25:44) .
Bila manusia telah suka di
tempat-tempat yang rendah,
maka dapat dikatakan manusia
telah turun derajad. Dan pasti
sifat-sifat mulia yang dimilikinya akan terhapus dan akan
tergantikan dengan sifat-sifat
buruk yang akan merugikan bagi
dirinya dan bagi orang lain. Dan
ini semua menjadi sumber
kesusahan dan kekacauan pergaulan diantara manusia.
. Mereka diliputi kehinaan di
mana saja mereka berada,
kecuali jika mereka
berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan mereka
kembali mendapat
kemurkaan dari Allah dan
mereka diliputi kerendahan.
Yang demikian itu karena
mereka kafir kepada ayat- ayat Allah dan membunuh
para nabi tanpa alasan
yang benar. Yang demikian
itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui
batas. (QS. 3:112) .
Bila manusia sudah menolak
sumber-sumber keselamatan dan
kebahagiaan, tentu akan
mendapatkan hal ang sebaliknya,
yaitu kesulitan, kesusahan dan siksaan. . 3. Beretika kepada Alam
Lingkungan .
Alam raya sungguh amat luas tak
terbatas, namun hingga saat ini
ilmu manusia belum menemukan
tempat sejenis bumi yang dapat
ditempati oleh manusia, atau manusia belum juga dapat
menciptakan pesawat ruang
angkasa yang membawa manusia
kesana. Para ahli sudah memprediksi, bila
perilaku manusia tetap saja
seperti sekarang ini,
menggunakan alam, meng-
ekplorasi alam untuk bermewah-
mewah memanjakan diri di dunia ini, dan milyaran manusia yang
diatas bumi ini bergerak kearah
yang sama, yaitu ingin hidup
bermanja-manja, bersenang-
senang tanpa batas. Maka bumi
kan menjadi hunian yang tidak lagi nyaman bagi umat manusia. Para ahli sudah sering membuat
animasi-animasi apa yang terjadi
jika segala ekosistem di bumi
menjadi rusak, dalam bahasa
mudah mereka mengatakan,
manusia bisa memproduksi dan memiliki berbagai macam sarana-
sarana kemewahan, namun
kemewahan itu tidak ada
gunanya karena tidak lagi
nyaman di huni. Bukti-bukti awal sudah nampak
mengemuka dihadapan umat
manusia. Secara materiil misalnya,
sudah sering terjadi kebakaran
hutan akibat musim kering yang
sangat ekstrim, atau badai yang menghancurkan dengan banjir
dan tanah longsor. Atau badai
salju yang melumpuhkan. Secara
nyata Es di kutup-kutup dunia
benar-benar telah mencair dan
telah pula banjir akibat pasang naik air laut sudah semakin
sering terjadi. Ada lagi keanehan yang
kontradiktif dan menggelikan.
Masih ada-ada saja di hari ini
orang-orang yang memasang
sesaji kepada sesuatu yang tidak
jelas dengan tujuan agar alam tidak rusak, karena mereka
menyangka bahwa kerusakan
alam ini dilakukan oleh makhluq-
makluq ghaib. Sehingga dengan
sesaji yang diberikan itu
kerusakan alam lingkungan dapat teratasi. Namun disisi lain lagi manusia
tetap saja mengkonsumsi budaya
serakah, budaya mengumbar
hawa nafsu dan budaya merusak
lingkungan. Sungguh kebodohan
yang bertumpuk-tumpuk yang pasti kerusakan-kerusakan itu
akan terus berjalan dan tidak
memiliki jalan keluar dan jalan
penyelesaian. Yang telah merusak alam adalah
manusia, dan pasti yang akan
menderita akibat buruknya juga
mansia, sebagaimana firman Allah
. Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut
disebabkan karena
perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang
benar). (QS. 30:41) .
Ketika manusia kehilangan etika
kepada Allah Tuhan Sang Maha
Pencipta maka dua hal lagi, yaitu
etika kepada sesama manusia
dan etika kepada alam lingkungan menjadi rusak dan
kacau balau. Karena kerusakan
tersebut mengakibatkan pula
kerusakan jiwa yang
berkepanjangan bagi umat
manusia dan manusia kemudian menjadi manusia-manusia yang
berlepribadian rusak dan kacau
balau. Dapat disimpulkan, bahwa yang
bisa memperbaiki keadaan
kekacauan di zaman hari ini pada
masing-masing manusia adalah,
dengan menyadarkan manusia
kembali kepada tujuan yang sebenarnya tentang terciptanya
manusia di alam dunia dan di bumi
ini. Ketika jiwa-jiwa manusia sudah terus berlatih dan berlatih untuk bisa ber sopan santun kepada Allah dan terus berusaha memiliki sopan santun yang tinggi dan mulia, maka manusia akan memiliki jiwa yang mulia dan agung. Dan manusia-manusia yang semacam inilah yang dapat hidup di muka bumi unuk selalu berbuat kebaikan dan memperkecil dari sikap-sikap merusak, baik merusak diri, merusak orang lain, atau merusak alam lingkungan… . Wallahu a’ lam
Sabtu, 29 Januari 2011
Rusaknya Akhlaq Membawa Kehancuran Bangsa
Seorang cendekiawan muslim
yang terkenal “Imam Asy-Syauki” mengatakan, mengatakan :
“Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya, bila rusak
akhlaqnya maka rusaklah bangsa
itu”
َو اَمَّنِا ُمَمُالْا ُقَالْخَالْا اَم ْتَيِقَب ْنِاَف ْوُمُه ْتَبَهَذ ْمُهُقَالْخَا اْوُبَهَذ
Apabila akhlaqnya rusak, maka
rusaklah bangsa itu”. Perlu kita cermati ucapan tersebut, serta
kita perhatikan tanda-tanda
rusaknya akhlaq berdasarkan
petunjuk-petunjuk Rasulullah
SAW dan Allah SWT, antara lain : Pertama, Banyaknya
kejahatan dan perbuatan
jahat, serta merosotnya
nilai keislaman pada bangsa
itu. Rasulullah SAW bersabda,
َّنِا َشْحَفلْا َو َشُّحَفَّتلا اَسْيَل َنِم ِمَالْسِالْا ىِف ٍءْيَش َو َّنِا َنَسْحَا ِساَّنلا اًمَالْسِا ْمُهُنَسْحَا اًقُلُخ . ىذمرتل
ا “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama
sekali bukan ajaran Islam, dan
bahwasanya orang yang paling
baik Islamnya ialah yang paling
baik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi] Kedua, suka berdebat. Ujung-ujungnya hawa nafsu yang
akan menguasai dirinya,
sedangkan hawa nafsu itu akan
mengarah kepada kejahatan. اَمَو ُئِّرَبُأ يِسْفَن َّنِإ َسْفَّنلا ٌةَراَّمأل ِءوُّسلاِب الِإ اَم َمِحَر يِّبَر َّنِإ يِّبَر ٌروُفَغ ٌميِحَر ” dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf : 53]. Rasulullah SAW bersabda, اوُرَذ َءاَرِملْا َّنِاَف َلَّوَا اَم ىِناَهَن ُهْنَع ىّبَر َدْعَب ِةَداَبِع ِناَثْوَالْا ُءاَرِملْا . ىناربطلا “Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali
disampaikan kepadaku oleh
Tuhanku setelah menyembah
berhala adalah perdebatan.” [HR. Thabrani] Ketiga, penyakit dengki dan
suka permusuhan serta
hilangnya rasa kasih
sayang. Sabda Rosululloh SAW, ِنَع ِنْبا ِرْيَبُّزلا ضر َّنَا َلْوُسَر ِهللا َلاَق : َّبَد ْمُكْيَلِا ُءاَد ِمَمُالْا ْمُكَلْبَق . ُءاَضْغَبْلَا َو ُدَسَحلْا ، َو ُءاَضْغَبلْا َيِه ُةَقِلاَحلْا ، َسْيَل ُةَقِلاَح ِرْعَّشلا ، َو ْنِكل ُةَقِلاَح ِنْيّدلا ، َو ْىِذَّلا ىِسْفَن ِهِدَيِب َال َنْوُلُخْدَت َةَّنَجلْا ىَّتَح اْوُنِمْؤُت ، َو َال اْوُنِمْؤُت ىَّتَح اْوُّباَحَت . َالَا ْمُكُئّبَنُا اَمِب ُتِبْثُي ْمُكَل ؟َكِلذ اوُشْفَا َمَالَّسلا ْمُكَنْيَب . رازبلا دانساب ديج Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjangkiti kepada kalian
penyakit ummat-ummat sebelum
kalian. Yaitu kebencian dan
kedengkian. Kebencian itu adalah
pencukur. Bukan pencukur
rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kamu sekalian tidak
akan masuk surga sehingga
kalian beriman. Dan kalian tidak
beriman sehingga saling
mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa
memantapkan kalian pada yang
demikian itu ? Yaitu tebarkanlah
salam diantara kalian”. [HR. Al- Bazzar dengan sanad jayyid] Kalau kita perhatikan petunjuk-
petunjuk di atas, tanda-tanda
rusaknya akhlaq bangsa ini
sudah nampak jelas, dari
kalangan bawah sampai kalangan
atas, bahkan para wakil rakyat yang mulia pun sudah
menunjukkan rusaknya akhlaq
pada mereka. Disaksikan jutaan mata, baik
rakyat Indonesia sendiri, maupun
mata dunia, tawuran dalam
persidangan dan sesekali
terdengar suara seperti urakan
(orang-orang yang tidak berpendidikan), sudah tidak ada
rasa malu lagi, walaupun sangat
memuakkan dan memprihatinkan
bagi rakyat bangsa ini yang
melihatnya. Tawuran antar mahasiswa/
rakyat dengan aparat penegak
hukum (polisi, kejaksaan, dan
satpol PP) terjadi dimana-mana.
Korupsi yang dilakukan oleh
Bupati, Gubernur, Lembaga Tinggi Negara dan mafia peradilan
merupakan kejahatan yang kita
saksikan lewat layar kaca, sudah
menjadi hal yang biasa. Yang kita saksikan semua itu
menunjukkan telah rusaknya
akhlaq bangsa ini, dan kalau kita
tidak menyadari, kehancuran
bangsa ini tinggal tunggu
saatnya saja. Mari kita perhatikan petunjuk
Allah dalam QS. Al-Israa’ : 16, اَذِإَو اَنْدَرَأ ْنَأ َكِلْهُن ًةَيْرَق اَنْرَمَأ اَهيِفَرْتُم اوُقَسَفَف اَهيِف َّقَحَف اَهْيَلَع ُلْوَقْلا اَهاَنْرَّمَدَف اًريِمْدَت yang artinya “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup
mewah/para pejabat tinggi
negara di negeri itu (supaya
mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah
sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan
(ketentuan Kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya“. Oleh karena itu marilah kita
bangun akhlaq bangsa ini sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-
Nya agar bangsa ini selamat dari
kehancuran yang tidak kita
inginkan bersama. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini
dengan petunjuk-Nya, aamiin.
yang terkenal “Imam Asy-Syauki” mengatakan, mengatakan :
“Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya, bila rusak
akhlaqnya maka rusaklah bangsa
itu”
َو اَمَّنِا ُمَمُالْا ُقَالْخَالْا اَم ْتَيِقَب ْنِاَف ْوُمُه ْتَبَهَذ ْمُهُقَالْخَا اْوُبَهَذ
Apabila akhlaqnya rusak, maka
rusaklah bangsa itu”. Perlu kita cermati ucapan tersebut, serta
kita perhatikan tanda-tanda
rusaknya akhlaq berdasarkan
petunjuk-petunjuk Rasulullah
SAW dan Allah SWT, antara lain : Pertama, Banyaknya
kejahatan dan perbuatan
jahat, serta merosotnya
nilai keislaman pada bangsa
itu. Rasulullah SAW bersabda,
َّنِا َشْحَفلْا َو َشُّحَفَّتلا اَسْيَل َنِم ِمَالْسِالْا ىِف ٍءْيَش َو َّنِا َنَسْحَا ِساَّنلا اًمَالْسِا ْمُهُنَسْحَا اًقُلُخ . ىذمرتل
ا “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama
sekali bukan ajaran Islam, dan
bahwasanya orang yang paling
baik Islamnya ialah yang paling
baik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi] Kedua, suka berdebat. Ujung-ujungnya hawa nafsu yang
akan menguasai dirinya,
sedangkan hawa nafsu itu akan
mengarah kepada kejahatan. اَمَو ُئِّرَبُأ يِسْفَن َّنِإ َسْفَّنلا ٌةَراَّمأل ِءوُّسلاِب الِإ اَم َمِحَر يِّبَر َّنِإ يِّبَر ٌروُفَغ ٌميِحَر ” dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” [QS. Yusuf : 53]. Rasulullah SAW bersabda, اوُرَذ َءاَرِملْا َّنِاَف َلَّوَا اَم ىِناَهَن ُهْنَع ىّبَر َدْعَب ِةَداَبِع ِناَثْوَالْا ُءاَرِملْا . ىناربطلا “Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali
disampaikan kepadaku oleh
Tuhanku setelah menyembah
berhala adalah perdebatan.” [HR. Thabrani] Ketiga, penyakit dengki dan
suka permusuhan serta
hilangnya rasa kasih
sayang. Sabda Rosululloh SAW, ِنَع ِنْبا ِرْيَبُّزلا ضر َّنَا َلْوُسَر ِهللا َلاَق : َّبَد ْمُكْيَلِا ُءاَد ِمَمُالْا ْمُكَلْبَق . ُءاَضْغَبْلَا َو ُدَسَحلْا ، َو ُءاَضْغَبلْا َيِه ُةَقِلاَحلْا ، َسْيَل ُةَقِلاَح ِرْعَّشلا ، َو ْنِكل ُةَقِلاَح ِنْيّدلا ، َو ْىِذَّلا ىِسْفَن ِهِدَيِب َال َنْوُلُخْدَت َةَّنَجلْا ىَّتَح اْوُنِمْؤُت ، َو َال اْوُنِمْؤُت ىَّتَح اْوُّباَحَت . َالَا ْمُكُئّبَنُا اَمِب ُتِبْثُي ْمُكَل ؟َكِلذ اوُشْفَا َمَالَّسلا ْمُكَنْيَب . رازبلا دانساب ديج Dari Ibnu Zubair RA, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjangkiti kepada kalian
penyakit ummat-ummat sebelum
kalian. Yaitu kebencian dan
kedengkian. Kebencian itu adalah
pencukur. Bukan pencukur
rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di
tangan-Nya, kamu sekalian tidak
akan masuk surga sehingga
kalian beriman. Dan kalian tidak
beriman sehingga saling
mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa
memantapkan kalian pada yang
demikian itu ? Yaitu tebarkanlah
salam diantara kalian”. [HR. Al- Bazzar dengan sanad jayyid] Kalau kita perhatikan petunjuk-
petunjuk di atas, tanda-tanda
rusaknya akhlaq bangsa ini
sudah nampak jelas, dari
kalangan bawah sampai kalangan
atas, bahkan para wakil rakyat yang mulia pun sudah
menunjukkan rusaknya akhlaq
pada mereka. Disaksikan jutaan mata, baik
rakyat Indonesia sendiri, maupun
mata dunia, tawuran dalam
persidangan dan sesekali
terdengar suara seperti urakan
(orang-orang yang tidak berpendidikan), sudah tidak ada
rasa malu lagi, walaupun sangat
memuakkan dan memprihatinkan
bagi rakyat bangsa ini yang
melihatnya. Tawuran antar mahasiswa/
rakyat dengan aparat penegak
hukum (polisi, kejaksaan, dan
satpol PP) terjadi dimana-mana.
Korupsi yang dilakukan oleh
Bupati, Gubernur, Lembaga Tinggi Negara dan mafia peradilan
merupakan kejahatan yang kita
saksikan lewat layar kaca, sudah
menjadi hal yang biasa. Yang kita saksikan semua itu
menunjukkan telah rusaknya
akhlaq bangsa ini, dan kalau kita
tidak menyadari, kehancuran
bangsa ini tinggal tunggu
saatnya saja. Mari kita perhatikan petunjuk
Allah dalam QS. Al-Israa’ : 16, اَذِإَو اَنْدَرَأ ْنَأ َكِلْهُن ًةَيْرَق اَنْرَمَأ اَهيِفَرْتُم اوُقَسَفَف اَهيِف َّقَحَف اَهْيَلَع ُلْوَقْلا اَهاَنْرَّمَدَف اًريِمْدَت yang artinya “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup
mewah/para pejabat tinggi
negara di negeri itu (supaya
mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah
sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan
(ketentuan Kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya“. Oleh karena itu marilah kita
bangun akhlaq bangsa ini sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-
Nya agar bangsa ini selamat dari
kehancuran yang tidak kita
inginkan bersama. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini
dengan petunjuk-Nya, aamiin.
Rabu, 26 Januari 2011
Pemerintah yang Baik, Memiliki Pembantu Baik Pula
Imam Abu Dawud meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw bersabda
jika Allah menghendaki kebaikan
atas satu Pemerintah, maka
Pemerintah itu akan diberi
pembantu yang baik, jika lupa diingatkan dan jika ingat dibantu.
Seorang Pemimpin yang
bertanggung jawab akan
senantiasa sibuk memikirkan
kemajuan dan kesejahteraan
umatnya. Tugas dan kesibukannya yang banyak
menjadikannya kadang lupa
melaksanakan sesuatu. اَذِا َداَرَا ُهللا ِرْيِمَالْاِب اًرْيَخ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍقْدِص ، ْنِا َيِسَن ُهَرَّكَذ َو ْنِا َرَكَذ ُهَناَعَا . َو اَذِا َداَرَا ِهِب َرْيَغ َكِلذ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍءْوُس ، ْنِا َيِسَن ْمَل ُهْرّكَذُي َو ْنِا َرَكَذ ْمَل ُهْنِعُي . وبا دواد Jika Allah menghendaki kebaikan
seorang penguasa, maka
diberinya pembantu (menteri)
yang baik (jujur), jika lupa
diingatkan dan jika ingat dibantu.
Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah
memberi padanya pembantu
(menteri) yang jelek (tidak jujur)
, jika lupa tidak diingatkan, jika
ingat tidak dibantu. [HR. Abu
Dawud] Andai dibiarkan lupa, maka dia
akan termasuk lalai dalam
melaksanakan tugas. Apa jadinya
kalau tugas yang dilupakannya
itu menyangkut keamanan dan
kesejahteraan orang banyak. Tentu dia akan mengalami
kesulitan dalam bertanggung-
jawab di hadapan Allah. Seorang
Pemimpin betapapun hebatnya,
tidak akan mampu melaksanakan
semua tugasnya sendiri. Sebagian tugas akan
didelegasikan kepada para
pembantunya. Tentu saja
Pemimpin akan berprestasi jika
dia dibantu oleh para pembantu
yang baik. Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa pembantu yang
baik adalah yang siap
mengingatkan bila Pemimpinnya
lupa. Sayang sekali sekarang ini
banyak pembantu yang bersikap
ABS (Asal Bapak Senang). Orang- orang seperti ini tidak memiliki
keberanian untuk menegur atau
mengingatkan pemimipin mereka. Terhadap hal-hal yang sekiranya
tidak disukai oleh Pemimpin,
mereka akan mengambil sikap
diam. Sebaliknya terhadap hal-hal
yang menyenangkan pemimpin,
mereka akan mengingatkan dengan muka manis. Meskipun
Pemimpin telah berbuat maksiat
para pembantu tidak berani
mengingatkan. Mereka lebih suka
mengambil sikap diam. Mencari
amannya sendiri. Aman dari kemarahan Pemimpin yang
mungkin berakibat terhadap
pencopotan posisinya. Disamping selalu siap
mengingatkan Pemimpin, seorang
pembantu yang baik selalu siap
membantu pelaksanaan tugas
Pemimpinnya. Dia akan curahkan
seluruh potensinya untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dalam melaksanakan tugas
tersebut. Setiap tugas yang
diserahkan kepadanya akan
disikapi sebagai satu kesempatan
yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal shaleh. Dia laksanakan tugas itu karena
Allah, bukan karena Pemimpin.
Meskipun secara lahiriyah
Pemimpin yang memberi tugas,
tetapi secara batiniyah dia
merasa bertanggung-jawab kepada Allah atas keberhasilan
pelaksanaan tugas tersebut.
Para pembantu yang seperti
inilah yang bisa diandalkan oleh
seorang Pemimpin untuk
melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Sebaliknya dalam hadist yang
sama dikisahkan bahwa bila Allah
menghendaki kejelakan seorang
Pemimpin, maka dia diberi
pembantu yang jelek. Tanda-
tandanya adalah bila Pemimpinnya lupa, maka dia tidak
mengingatkan. Di akan mengambil
sikap pura-pura lupa. Meskipun
dia ingat, dia akan berlindung diri
dengan mengambil sikap seperti
itu. Dia khawatir, kalau mengingatkan malah diperintah
untuk melaksanakan tugas itu.
Kemalasan sebagai satu bentuk
ketidak-ikhlasan ini pulalah yang
menyebabkan seorang pembantu
yang jelek tidak membantu pelaksanaan tugas Pemimpinnya,
meskipun dia tahu, mampu, dan
benar-benar iingat akan tugas
tersebut. Kalau kita melakukan
perenungan terhadap perjalanan
Pemerintahan selama ini, maka
kita akan mendapatkan bahwa
mayoritas pembantu Pemerintah
adalah orang-orang jelek. Artinya kalau kecenderungan
model kehidupan Pemerintahan di
negeri ini dilanjutkan, maka
bukan kebaikan yang didapat,
namun kejelekan. Banyak aparat penegak hukum
sejak dari kejaksaan, kepolisian,
sampai kehakiman bermasalah.
Banyak anggota parlemen
bermasalah. Banyak pemimpin
eksekutif bermasalah. Negeri ini memerlukan Pemimpin yang baik
yang dibantu oleh para
pembantu yang baik pula. Tentu
saja para pembantu yang
memiliki kapasitas intelektual
yang memadai dan integritas moral yang handal. Bukan para
pembantu yang maju tak gentar membela yang
bayar.
bahwa Rasulullah saw bersabda
jika Allah menghendaki kebaikan
atas satu Pemerintah, maka
Pemerintah itu akan diberi
pembantu yang baik, jika lupa diingatkan dan jika ingat dibantu.
Seorang Pemimpin yang
bertanggung jawab akan
senantiasa sibuk memikirkan
kemajuan dan kesejahteraan
umatnya. Tugas dan kesibukannya yang banyak
menjadikannya kadang lupa
melaksanakan sesuatu. اَذِا َداَرَا ُهللا ِرْيِمَالْاِب اًرْيَخ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍقْدِص ، ْنِا َيِسَن ُهَرَّكَذ َو ْنِا َرَكَذ ُهَناَعَا . َو اَذِا َداَرَا ِهِب َرْيَغ َكِلذ َلَعَج ُهَل َرْيِزَو ٍءْوُس ، ْنِا َيِسَن ْمَل ُهْرّكَذُي َو ْنِا َرَكَذ ْمَل ُهْنِعُي . وبا دواد Jika Allah menghendaki kebaikan
seorang penguasa, maka
diberinya pembantu (menteri)
yang baik (jujur), jika lupa
diingatkan dan jika ingat dibantu.
Dan jika Allah menghendaki sebaliknya dari itu, maka Allah
memberi padanya pembantu
(menteri) yang jelek (tidak jujur)
, jika lupa tidak diingatkan, jika
ingat tidak dibantu. [HR. Abu
Dawud] Andai dibiarkan lupa, maka dia
akan termasuk lalai dalam
melaksanakan tugas. Apa jadinya
kalau tugas yang dilupakannya
itu menyangkut keamanan dan
kesejahteraan orang banyak. Tentu dia akan mengalami
kesulitan dalam bertanggung-
jawab di hadapan Allah. Seorang
Pemimpin betapapun hebatnya,
tidak akan mampu melaksanakan
semua tugasnya sendiri. Sebagian tugas akan
didelegasikan kepada para
pembantunya. Tentu saja
Pemimpin akan berprestasi jika
dia dibantu oleh para pembantu
yang baik. Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa pembantu yang
baik adalah yang siap
mengingatkan bila Pemimpinnya
lupa. Sayang sekali sekarang ini
banyak pembantu yang bersikap
ABS (Asal Bapak Senang). Orang- orang seperti ini tidak memiliki
keberanian untuk menegur atau
mengingatkan pemimipin mereka. Terhadap hal-hal yang sekiranya
tidak disukai oleh Pemimpin,
mereka akan mengambil sikap
diam. Sebaliknya terhadap hal-hal
yang menyenangkan pemimpin,
mereka akan mengingatkan dengan muka manis. Meskipun
Pemimpin telah berbuat maksiat
para pembantu tidak berani
mengingatkan. Mereka lebih suka
mengambil sikap diam. Mencari
amannya sendiri. Aman dari kemarahan Pemimpin yang
mungkin berakibat terhadap
pencopotan posisinya. Disamping selalu siap
mengingatkan Pemimpin, seorang
pembantu yang baik selalu siap
membantu pelaksanaan tugas
Pemimpinnya. Dia akan curahkan
seluruh potensinya untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dalam melaksanakan tugas
tersebut. Setiap tugas yang
diserahkan kepadanya akan
disikapi sebagai satu kesempatan
yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal shaleh. Dia laksanakan tugas itu karena
Allah, bukan karena Pemimpin.
Meskipun secara lahiriyah
Pemimpin yang memberi tugas,
tetapi secara batiniyah dia
merasa bertanggung-jawab kepada Allah atas keberhasilan
pelaksanaan tugas tersebut.
Para pembantu yang seperti
inilah yang bisa diandalkan oleh
seorang Pemimpin untuk
melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Sebaliknya dalam hadist yang
sama dikisahkan bahwa bila Allah
menghendaki kejelakan seorang
Pemimpin, maka dia diberi
pembantu yang jelek. Tanda-
tandanya adalah bila Pemimpinnya lupa, maka dia tidak
mengingatkan. Di akan mengambil
sikap pura-pura lupa. Meskipun
dia ingat, dia akan berlindung diri
dengan mengambil sikap seperti
itu. Dia khawatir, kalau mengingatkan malah diperintah
untuk melaksanakan tugas itu.
Kemalasan sebagai satu bentuk
ketidak-ikhlasan ini pulalah yang
menyebabkan seorang pembantu
yang jelek tidak membantu pelaksanaan tugas Pemimpinnya,
meskipun dia tahu, mampu, dan
benar-benar iingat akan tugas
tersebut. Kalau kita melakukan
perenungan terhadap perjalanan
Pemerintahan selama ini, maka
kita akan mendapatkan bahwa
mayoritas pembantu Pemerintah
adalah orang-orang jelek. Artinya kalau kecenderungan
model kehidupan Pemerintahan di
negeri ini dilanjutkan, maka
bukan kebaikan yang didapat,
namun kejelekan. Banyak aparat penegak hukum
sejak dari kejaksaan, kepolisian,
sampai kehakiman bermasalah.
Banyak anggota parlemen
bermasalah. Banyak pemimpin
eksekutif bermasalah. Negeri ini memerlukan Pemimpin yang baik
yang dibantu oleh para
pembantu yang baik pula. Tentu
saja para pembantu yang
memiliki kapasitas intelektual
yang memadai dan integritas moral yang handal. Bukan para
pembantu yang maju tak gentar membela yang
bayar.
ISLAM MENJADI ASING KEMBALI
Sebelum
kedatangan Islam, bangsa Arab
terkenal sebagai bangsa padang
pasir yang yang suka berperang,
saling menyerang dan menjadikan
tawanan dan budak belian pihak yang kalah perang. Membunuh
anak perempuan merupakan hal
yang biasa. Meminum minuman
keras, berjudi, berdusta, dan
berzina sudah menjadi kebiasaan. Menyembah berhala menjadi
ritual yang kental dalam
keseharian. Tidak ada panas,
tidak ada hujan, tidak ada
halilintar yang menyambar, tiba-
tiba mereka dikejutkan oleh Muhammad SAW yang menyeru
untuk meninggalkan kebiasaan
buruk mereka. Beliau menyeru manusia untuk
bertauhid dan meninggalkan
syirik termasuk menyembah
berhala. Beliau menyeru manusia
untuk berpegang teguh pada
agama Allah dan tidak bercerai berai. Beliau memuliakan wanita.
Melarang membunuh nyawa
kecuali dalam keadaan tertentu,
termasuk melarang mencabut
nyawa sendiri. Beliau melarang umat Islam
meminum minuman keras, berjudi,
berdusta, dan berzina. Sudah
pasti ajaran yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW mereka
pandang dengan sebelah mata. Mereka merasa ajaran itu asing
karena banyak hal yang mereka
gemari justru dilarang. Memang benar bahwa datangnya
Islam itu pada mulanya asing,
seperti apa yang pernah
diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah SAW bersabda: َّنِا َمَالْسِالْا َأَدَب اًبْيِرَغ َو ُدْوُعَيَس اًبْيِرَغ اَمَك َأَدَب ، ىَبْوُطَف ِءاَبَرُغْلِل . َلْيِق : اَي َلْوُسَر ِهللا ، َو اَم ؟ُءاَبَرُغلْا َلاَق : َنْيِذَّلَا َنْوُحِلْصُي َدْنِع ِداَسَف ِساَّنلا . و ىف ةياور ، َلاَقَف : َنْيِذَّلَا َنْوُيْحُي اَم َتاَمَا ُساَّنلا ْنِم ىِتَّنُس . ملسم و نبا هجام و ىناربطلا “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing
(tidak umum), dan akan kembali
dengan asing lagi seperti pada
mulanya datang. Maka
berbahagialah bagi orang-orang
yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang
yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya
manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-
orang yang asing), beliau
menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-
apa yang telah dimatikan
manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani] “Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’ uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing
seperti datangnya.) Sebagai
akibatnya orang yang
mengamalkan ajaran Islam akan
terasing di tengah-tengah
masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan
dan terkucilkan. Akan tetapi Rasulullah SAW
menggembirakan orang-orang
yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang- orang yang terasing.) Siapakah
orang-orang yang terasing itu?
Menurut sebuah hadist yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim
mereka itu adalah orang-orang
yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia. Dalam hadist lain disebutkan
mereka itu adalah orang-orang
yang menghidupkan sunnah
Rasulullah SAW di saat orang-
orang lain mematikannya. Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu
Wahab, beliau SAW bersabda : ىَبْوُط ِءاَبَرُغْلِل َنْيِذَّلا َنْوُكِسْمُي َباَتِك ِهللا َنْيِح ُكَرْتُي َو َنْوُلَمْعَي ِةَّنُّسلاِب َنْيِح ىَفْطُت . Kebahagiaan bagi orang-orang
yang asing, yaitu mereka yang
berpegang teguh dengan kitab
Allah ketika ditinggalkan orang
banyak dan mengerjakan dengan
sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak. Saat ini di negeri ini sulit mencari
orang yang jujur, padahal
mayoritas penduduk beragama
Islam dan Islam mengajarkan
kejujuran. Dalam berbagai
persidangan kita saksikan banyaknya saksi maupun
tersangka yang mengubah-ubah
kesaksian, seolah-olah mereka
belum pernah disumpah. Maka wajar kalau ada orang
yang mengatakan bahwa hukum
bisa dibeli. Saat ini di negeri ini
sulit mencari wakil rakyat yang
amanah, meskipun mayoritas
wakil rakyat beragama Islam dan Islam mengajarkan sikap amanah.
Yang banyak adalah wakil rakyat
yang sibuk memikirkan
bagaimana caranya
mempermainkan aturan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi merasa
bertanggung jawab terhadap
Allah. Saat ini di negeri ini Islam
telah kembali asing meskipun
berada di tengah masyarakat
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun
berbahagialah orang yang asing,
karena menegakkan sunnah di
masa seperti ini Allah menjanjikan
pahala 50 kali pahala para
sahabat Rasulullah SAW. ْنَع ىِبَا َةَّيَمُا ّيِناَبْعَّشلا ، َلاَق : ُتْلَأَس اَبَا َةَبَلْعَث َّيِنَشُخلْا ُتْلُقَف : اَي اَبَا َةَبَلْعَث ، َفْيَك ُلْوُقَت ىِف ِهِذه ِةَيالْا ْمُكْيَلَع ْمُكَسُفْنَا . َلاَق : اَمَا َو ِهللا ْدَقَل َتْلَأَس اَهْنَع اًرْيِبَخ ُتْلَأَس اَهْنَع َلْوُسَر ِهللا ص َلاَقَف : ْلَب اْوُرِمَتْئِا ِفْوُرْعَملْاِب َو اْوَهاَنَت ِنَع ِرَكْنُملْا ىَّتَح اَذِا َتْيَأَر اًّحُش اًعاَطُم َو ىًوَه اًعَبَّتُم َو اَيْنُد ًةَرَثْؤُم َباَجْعِاَف ّلُك ىِذ ٍيْأَر ِهِيْأَرِب َكْيَلَعَف ىِنْعَي َكِسْفَنِب َو ْعَد َكْنَع َّماَوَعلْا ، َّنِاَف ْنِم ْمُكِئاَرَو َماَّيَا ِرْبَّصلا . ُرْبَّصلا ِهْيِف ُلْثِم ٍضْبَق ىَلَع ِرْمَجلْا ، ِلِماَعْلِل ْمِهْيِف ُلْثِم ِرْجَا َنْيِسْمَخ ًالُجَر َنْوُلَمْعَي َلْثِم ِهِلَمَع . َو ىِناَداَز ُهُرْيَغ . اَي َلْوُسَر ِهللا ، ُرْجَا َنْيِسْمَخ ؟ْمُهْنِم َلاَق : ُرْجَا َنْيِسْمَخ ْمُكْنِم . وبا دواد Dari Abu Umayyah Asy-Sya‘ baniy, ia berkata : Saya pernah
bertanya kepada Abu Tsa‘ labah, aku bertanya, “Hai Abu Tsa‘ labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ‘ alaikum anfusakum ? - Al- Maaidah : 105“. Ia berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan
sesuatu yang aku pernah
menanyakannya kepada
Rasulullah SAW“, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma‘ ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat
kebakhilan ditha‘ ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah
mewarnai, dan orang bangga
dengan pendapatnya, maka wajib
atasmu (yakni menjaga dirimu),
tinggalkanlah keumuman orang,
karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran.
Shabar pada waktu itu seperti
orang yang menggenggam bara
api. Bagi orang yang melakukan
(amar ma‘ ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari
itu akan mendapat pahala lima
puluh orang yang beramal
seperti dia“. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku
selain dia, ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima
puluh orang dari mereka ?“. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian“. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123] Semoga Allah memilih kita menjadi
bagian dari para penegak sunnah
Rasulullah SAW, sehingga berhak
mendapatkan janji-Nya, aamiin.
kedatangan Islam, bangsa Arab
terkenal sebagai bangsa padang
pasir yang yang suka berperang,
saling menyerang dan menjadikan
tawanan dan budak belian pihak yang kalah perang. Membunuh
anak perempuan merupakan hal
yang biasa. Meminum minuman
keras, berjudi, berdusta, dan
berzina sudah menjadi kebiasaan. Menyembah berhala menjadi
ritual yang kental dalam
keseharian. Tidak ada panas,
tidak ada hujan, tidak ada
halilintar yang menyambar, tiba-
tiba mereka dikejutkan oleh Muhammad SAW yang menyeru
untuk meninggalkan kebiasaan
buruk mereka. Beliau menyeru manusia untuk
bertauhid dan meninggalkan
syirik termasuk menyembah
berhala. Beliau menyeru manusia
untuk berpegang teguh pada
agama Allah dan tidak bercerai berai. Beliau memuliakan wanita.
Melarang membunuh nyawa
kecuali dalam keadaan tertentu,
termasuk melarang mencabut
nyawa sendiri. Beliau melarang umat Islam
meminum minuman keras, berjudi,
berdusta, dan berzina. Sudah
pasti ajaran yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW mereka
pandang dengan sebelah mata. Mereka merasa ajaran itu asing
karena banyak hal yang mereka
gemari justru dilarang. Memang benar bahwa datangnya
Islam itu pada mulanya asing,
seperti apa yang pernah
diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah SAW bersabda: َّنِا َمَالْسِالْا َأَدَب اًبْيِرَغ َو ُدْوُعَيَس اًبْيِرَغ اَمَك َأَدَب ، ىَبْوُطَف ِءاَبَرُغْلِل . َلْيِق : اَي َلْوُسَر ِهللا ، َو اَم ؟ُءاَبَرُغلْا َلاَق : َنْيِذَّلَا َنْوُحِلْصُي َدْنِع ِداَسَف ِساَّنلا . و ىف ةياور ، َلاَقَف : َنْيِذَّلَا َنْوُيْحُي اَم َتاَمَا ُساَّنلا ْنِم ىِتَّنُس . ملسم و نبا هجام و ىناربطلا “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing
(tidak umum), dan akan kembali
dengan asing lagi seperti pada
mulanya datang. Maka
berbahagialah bagi orang-orang
yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang
yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya
manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-
orang yang asing), beliau
menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-
apa yang telah dimatikan
manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani] “Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’ uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing
seperti datangnya.) Sebagai
akibatnya orang yang
mengamalkan ajaran Islam akan
terasing di tengah-tengah
masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan
dan terkucilkan. Akan tetapi Rasulullah SAW
menggembirakan orang-orang
yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang- orang yang terasing.) Siapakah
orang-orang yang terasing itu?
Menurut sebuah hadist yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim
mereka itu adalah orang-orang
yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia. Dalam hadist lain disebutkan
mereka itu adalah orang-orang
yang menghidupkan sunnah
Rasulullah SAW di saat orang-
orang lain mematikannya. Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu
Wahab, beliau SAW bersabda : ىَبْوُط ِءاَبَرُغْلِل َنْيِذَّلا َنْوُكِسْمُي َباَتِك ِهللا َنْيِح ُكَرْتُي َو َنْوُلَمْعَي ِةَّنُّسلاِب َنْيِح ىَفْطُت . Kebahagiaan bagi orang-orang
yang asing, yaitu mereka yang
berpegang teguh dengan kitab
Allah ketika ditinggalkan orang
banyak dan mengerjakan dengan
sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak. Saat ini di negeri ini sulit mencari
orang yang jujur, padahal
mayoritas penduduk beragama
Islam dan Islam mengajarkan
kejujuran. Dalam berbagai
persidangan kita saksikan banyaknya saksi maupun
tersangka yang mengubah-ubah
kesaksian, seolah-olah mereka
belum pernah disumpah. Maka wajar kalau ada orang
yang mengatakan bahwa hukum
bisa dibeli. Saat ini di negeri ini
sulit mencari wakil rakyat yang
amanah, meskipun mayoritas
wakil rakyat beragama Islam dan Islam mengajarkan sikap amanah.
Yang banyak adalah wakil rakyat
yang sibuk memikirkan
bagaimana caranya
mempermainkan aturan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Mereka tidak lagi merasa
bertanggung jawab terhadap
Allah. Saat ini di negeri ini Islam
telah kembali asing meskipun
berada di tengah masyarakat
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun
berbahagialah orang yang asing,
karena menegakkan sunnah di
masa seperti ini Allah menjanjikan
pahala 50 kali pahala para
sahabat Rasulullah SAW. ْنَع ىِبَا َةَّيَمُا ّيِناَبْعَّشلا ، َلاَق : ُتْلَأَس اَبَا َةَبَلْعَث َّيِنَشُخلْا ُتْلُقَف : اَي اَبَا َةَبَلْعَث ، َفْيَك ُلْوُقَت ىِف ِهِذه ِةَيالْا ْمُكْيَلَع ْمُكَسُفْنَا . َلاَق : اَمَا َو ِهللا ْدَقَل َتْلَأَس اَهْنَع اًرْيِبَخ ُتْلَأَس اَهْنَع َلْوُسَر ِهللا ص َلاَقَف : ْلَب اْوُرِمَتْئِا ِفْوُرْعَملْاِب َو اْوَهاَنَت ِنَع ِرَكْنُملْا ىَّتَح اَذِا َتْيَأَر اًّحُش اًعاَطُم َو ىًوَه اًعَبَّتُم َو اَيْنُد ًةَرَثْؤُم َباَجْعِاَف ّلُك ىِذ ٍيْأَر ِهِيْأَرِب َكْيَلَعَف ىِنْعَي َكِسْفَنِب َو ْعَد َكْنَع َّماَوَعلْا ، َّنِاَف ْنِم ْمُكِئاَرَو َماَّيَا ِرْبَّصلا . ُرْبَّصلا ِهْيِف ُلْثِم ٍضْبَق ىَلَع ِرْمَجلْا ، ِلِماَعْلِل ْمِهْيِف ُلْثِم ِرْجَا َنْيِسْمَخ ًالُجَر َنْوُلَمْعَي َلْثِم ِهِلَمَع . َو ىِناَداَز ُهُرْيَغ . اَي َلْوُسَر ِهللا ، ُرْجَا َنْيِسْمَخ ؟ْمُهْنِم َلاَق : ُرْجَا َنْيِسْمَخ ْمُكْنِم . وبا دواد Dari Abu Umayyah Asy-Sya‘ baniy, ia berkata : Saya pernah
bertanya kepada Abu Tsa‘ labah, aku bertanya, “Hai Abu Tsa‘ labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ‘ alaikum anfusakum ? - Al- Maaidah : 105“. Ia berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan
sesuatu yang aku pernah
menanyakannya kepada
Rasulullah SAW“, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma‘ ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat
kebakhilan ditha‘ ati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah
mewarnai, dan orang bangga
dengan pendapatnya, maka wajib
atasmu (yakni menjaga dirimu),
tinggalkanlah keumuman orang,
karena akan datang di belakang kalian hari-hari keshabaran.
Shabar pada waktu itu seperti
orang yang menggenggam bara
api. Bagi orang yang melakukan
(amar ma‘ ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari
itu akan mendapat pahala lima
puluh orang yang beramal
seperti dia“. Perawi berkata : Dan menambahkan kepadaku
selain dia, ia berkata, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima
puluh orang dari mereka ?“. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian“. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 123] Semoga Allah memilih kita menjadi
bagian dari para penegak sunnah
Rasulullah SAW, sehingga berhak
mendapatkan janji-Nya, aamiin.
Selasa, 25 Januari 2011
A K H L A K
Globalisasi telah membawa
dampak buruk berupa masuknya
berbagai jenis narkoba ke negari
kita. Sangsi yang lebih ringan
dari negeri tetangga,
menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan negeri
ini sorga bagi pemasaran
produknya. Menurut Badan
Narkotika Nasional (BNN) saat ini
tercatat ada 3,6 juta pecandu
narkoba. Yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi. Tidak
kurang 41 orang meninggal
setiap hari karena penyalah-
gunaan narkoba. Trilyunan rupiah
per tahun harus dikeluarkan oleh
Pemerintah untuk menangani narkoba. Derasnya arus informasi dan
komunikasi ternyata juga
membawa dampak negatif yang
lain, seperti penyalah-gunaan
seksual. Semakin lancarnya arus
transportasi manusia antar negara, juga menyebabkan
semakin pesatnya penyebaran
HIV/AIDS. Lagi-lagi Pemerintah
harus menyisihkan trilyunan
rupiah untuk mengatasi dampak
HIV/AIDS. Penyalah-gunaan narkoba dan
penyalah-gunaan seksual hanya
bisa diatasi secara efektif
dengan pembangunan akhlak
seluruh komponen bangsa.
Sayang pembangunan akhlak bangsa ini tidak menjadi prioritas
utama, sehingga berbagai
prestasi pembangunan fisik yang
dicapai digerogoti oleh orang-
orang yang rusak akhlaknya. KKN
tumbuh subur dimana-mana. Meskipun kaya, negara ini bisa
bangkrut karenanya. Anggaran
pemerintah yang bocor, harta
milik negara yang dikuras
koruptor, kekayaan alam yang
dibawa lari pencuri dari luar negeri, dan bahan tambang yang
dikeruk perusahaan asing lebih
dari cukup untuk memakmurkan
bangsa. Saudaraku, jangan tunda lagi
untuk membangun akhlak sendiri.
Gunakan kesempatan Ramadhan
tahun ini untuk memperbaiki diri.
Perbaikilah akhlak kita kepada
Allah, tingkatkan ketakwaan, taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Selalu segarkan
dalam ingatan bahwa kita ini
hanyalah pelayan, budak, dan
hamba Allah. Seorang budak
tidak patut kiranya bermaksiat kepada Tuhannya. Allah yang
memegang kunci keberuntungan
dan kebuntungan kita dalam
kehidupan kekal, kelak di
akherat. Demi keberuntungan
pegang erat dan perkuatlah hablum minalloohi. Perbaiki akhlak kita kepada
sesama. Kepada yang lebih tua
kita menghormat, kepada yang
lebih muda kita menyayanginya.
Tanamkan di dalam diri, bahwa
yang paling mulia di antara manusia adalah yang bertakwa.
“Inna akramakum ‘ indalloohi atqookum“. … .Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
adalah orang yang bertakwa… ( QS Al Hujurat 49 : 13). Yang menjadi pejabat jangan
sombong dan merasa besar
kepada rakyat jelata. Orang
sombong tidak akan masuk
surga. Namun bagi rakyat juga
jangan merasa minder dan merasa rendah diri kepada para
pejabat. Karena minder dan
merasa rendah diri termasuk
syirik. Dekatkan diri dengan
orang-orang beriman,
tumbuhkan kasih sayang sesama mereka. Jaga jarak dengan
orang-orang yang memilih jalan
kekafiran dari pada keimanan.
Pegang erat dan perkuatlah
hablum minannaasi. Hanya dengan memegang erat
hablum minalloohi (tali agama
Allah) dan hablum minannaasi (tali
perjanjian dengan manusia),
maka orang beriman akan
terhindar dari kehinaan Mereka diliputi kehinaan di mana
saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka
diliputi kerendahan. Yang
demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi tanpa
alasan yang benar. Yang
demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui batas.
(QS Ali Imran 3: 112). Sambil memperkuat diri, mari kita
tingkatkan dakwah kepada
orang-orang di sekitar kita. Tak
peduli kaya atau miskin, pejabat
atau rakyat, tua atau muda,
kita ajak mereka untuk bertaubat, kembali ke jalan Allah,
jalan kebaikan dan kebenaran. Kita sambut limpahan ampunan
Allah, karena Allah berjanji akan
mengampuni dosa-dosa
semuanya Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS Az Zumar 39: 53). Kita sadarkan mereka agar lebih
peduli terhadap perbaikan akhlak
bangsa. Masa depan negeri ini
tergantung kualitas akhlak para
penghuninya, tergantung akhlak
bangsanya. Mari kita arahkan pembangunan
negeri ini dengan
mengedepankan pembangunan
jiwa, pembangunan akhlak.
Sebagaimana tercermin dalam
lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah bandannya,
untuk Indonesia Raya“. Membangun jiwa hendaknya lebih
diutamakan dari pada badan.
Semoga Allah memudahkan
langkah kita untuk memperbaiki
diri dan memperbaiki akhlak
bangsa ini, Aamiin.
dampak buruk berupa masuknya
berbagai jenis narkoba ke negari
kita. Sangsi yang lebih ringan
dari negeri tetangga,
menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan negeri
ini sorga bagi pemasaran
produknya. Menurut Badan
Narkotika Nasional (BNN) saat ini
tercatat ada 3,6 juta pecandu
narkoba. Yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi. Tidak
kurang 41 orang meninggal
setiap hari karena penyalah-
gunaan narkoba. Trilyunan rupiah
per tahun harus dikeluarkan oleh
Pemerintah untuk menangani narkoba. Derasnya arus informasi dan
komunikasi ternyata juga
membawa dampak negatif yang
lain, seperti penyalah-gunaan
seksual. Semakin lancarnya arus
transportasi manusia antar negara, juga menyebabkan
semakin pesatnya penyebaran
HIV/AIDS. Lagi-lagi Pemerintah
harus menyisihkan trilyunan
rupiah untuk mengatasi dampak
HIV/AIDS. Penyalah-gunaan narkoba dan
penyalah-gunaan seksual hanya
bisa diatasi secara efektif
dengan pembangunan akhlak
seluruh komponen bangsa.
Sayang pembangunan akhlak bangsa ini tidak menjadi prioritas
utama, sehingga berbagai
prestasi pembangunan fisik yang
dicapai digerogoti oleh orang-
orang yang rusak akhlaknya. KKN
tumbuh subur dimana-mana. Meskipun kaya, negara ini bisa
bangkrut karenanya. Anggaran
pemerintah yang bocor, harta
milik negara yang dikuras
koruptor, kekayaan alam yang
dibawa lari pencuri dari luar negeri, dan bahan tambang yang
dikeruk perusahaan asing lebih
dari cukup untuk memakmurkan
bangsa. Saudaraku, jangan tunda lagi
untuk membangun akhlak sendiri.
Gunakan kesempatan Ramadhan
tahun ini untuk memperbaiki diri.
Perbaikilah akhlak kita kepada
Allah, tingkatkan ketakwaan, taati perintah-Nya dan jauhi
larangan-Nya. Selalu segarkan
dalam ingatan bahwa kita ini
hanyalah pelayan, budak, dan
hamba Allah. Seorang budak
tidak patut kiranya bermaksiat kepada Tuhannya. Allah yang
memegang kunci keberuntungan
dan kebuntungan kita dalam
kehidupan kekal, kelak di
akherat. Demi keberuntungan
pegang erat dan perkuatlah hablum minalloohi. Perbaiki akhlak kita kepada
sesama. Kepada yang lebih tua
kita menghormat, kepada yang
lebih muda kita menyayanginya.
Tanamkan di dalam diri, bahwa
yang paling mulia di antara manusia adalah yang bertakwa.
“Inna akramakum ‘ indalloohi atqookum“. … .Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
adalah orang yang bertakwa… ( QS Al Hujurat 49 : 13). Yang menjadi pejabat jangan
sombong dan merasa besar
kepada rakyat jelata. Orang
sombong tidak akan masuk
surga. Namun bagi rakyat juga
jangan merasa minder dan merasa rendah diri kepada para
pejabat. Karena minder dan
merasa rendah diri termasuk
syirik. Dekatkan diri dengan
orang-orang beriman,
tumbuhkan kasih sayang sesama mereka. Jaga jarak dengan
orang-orang yang memilih jalan
kekafiran dari pada keimanan.
Pegang erat dan perkuatlah
hablum minannaasi. Hanya dengan memegang erat
hablum minalloohi (tali agama
Allah) dan hablum minannaasi (tali
perjanjian dengan manusia),
maka orang beriman akan
terhindar dari kehinaan Mereka diliputi kehinaan di mana
saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali
(perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka
diliputi kerendahan. Yang
demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi tanpa
alasan yang benar. Yang
demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan melampaui batas.
(QS Ali Imran 3: 112). Sambil memperkuat diri, mari kita
tingkatkan dakwah kepada
orang-orang di sekitar kita. Tak
peduli kaya atau miskin, pejabat
atau rakyat, tua atau muda,
kita ajak mereka untuk bertaubat, kembali ke jalan Allah,
jalan kebaikan dan kebenaran. Kita sambut limpahan ampunan
Allah, karena Allah berjanji akan
mengampuni dosa-dosa
semuanya Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang malampaui batas
terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS Az Zumar 39: 53). Kita sadarkan mereka agar lebih
peduli terhadap perbaikan akhlak
bangsa. Masa depan negeri ini
tergantung kualitas akhlak para
penghuninya, tergantung akhlak
bangsanya. Mari kita arahkan pembangunan
negeri ini dengan
mengedepankan pembangunan
jiwa, pembangunan akhlak.
Sebagaimana tercermin dalam
lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah bandannya,
untuk Indonesia Raya“. Membangun jiwa hendaknya lebih
diutamakan dari pada badan.
Semoga Allah memudahkan
langkah kita untuk memperbaiki
diri dan memperbaiki akhlak
bangsa ini, Aamiin.
MEMEGANG TEGUH ALQURAN DAN AS-SUNAH
Keterpurukan dan kondisi umat
Islam saat ini, bukan disebabkan
karena kehebatan dan kemajuan
umat lain. Namun disebabkan oleh
kesalahan kita sendiri dalam
memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Sebagian pemuka agama ada
yang berperilaku seperti perilaku
pemuka agama Yahudi dan
Nasrani. Mereka menyembunyikan yang
haq, karena alasan yang bersifat
pribadi. Bahkan sebagian yang
lain menyembunyikannya karena
alasan rejeki. Padahal Ar Razaq
itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang
barakah kalau jalannya dengan
menyembunyikan yang haq?
Sebagian yang lain suka
mencampur adukkan yang haq
dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas
mana yang halal dan mana yang
haram. Kebenaran yang
seharusnya disampaikan dengan
jelas menjadi kabur, kelihatan
samar-samar. Sedangkan sebagian besar
rakyat jelata malas mempelajari
kebenaran langsung dari
sumbernya Al Qur’ an dan As Sunnah. Sehingga apa yang
mereka dapatkan kebatilan yang
dipoles sehingga seolah-olah
nampak benar. Yang mereka
jadikan rujukan hanya mitos,
tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’ an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat
menjamin kebenaran dari
ketiganya? Tidak ada sama
sekali. Apalagi sebagian yang lain lebih
suka hiburan, foya-foya, dan
memuaskan hawa nafsu dari
pada menuntut ilmu. Panggung-
panggung hiburan yang
menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi
oleh anak-anak muda, laki-laki
maupun perempuan yang
bercampur baur. Sedang
pengajian yang mengajarkan Al
Qur’ an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka
tidak suka dibimbing untuk
menjadi bangsa yang maju
terpimpin. Mereka lebih suka
hidup bebas untuk memuaskan
hawa nafsu. Maka tidak heran kalau yang
kita lihat bukan kemajuan tapi
kemerosotan, bukan prestasi
tapi dekadensi, bukan kehidupan
yang aman, tenteram, damai,
dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh
kebencian dan kedengkian. Bagaimana kita dapat
memperbaiki-nya? Sudahkah kita
terlambat untuk berbuat? Tidak
ada kata terlambat untuk
bertaubat. Selama hayat masih
dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah
tetap akan menghargai
pertaubatan kita. Sebagai orang
awam sebaiknya segera kita
berusaha untuk mempelajari Al
Qur’ an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan
tersesat dalam beramal.
Rasulullah saw berwasiat dalam
sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil
Barr : “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang
kamu tidak akan sesat selama
kamu berpegang teguh kepada
keduanya, yaitu Kitab Allah dan
Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’ an dan As Sunnah segera kita amalkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan inilah yang memungkinkan
terjadinya proses perubahan
karakter kita yang jelek manjadi
baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak
menjadi ikhlas. Dalam hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Hakim dari Hudzaifah
Rasulullah saw berpesan: Duru
ma’ a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian
beredar bersama kitab Allah
kemana saja dia beredar).
Rasulullah saw mengajak kita
semua untuk senantiasa
mengikuti Al Qur’ an. Menjadikan Al Qur’ an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan
menjadikannya sebagai rujukan
atas kebenaran, karena Al
Qur’ an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakangnya (TQS
41: 42). اَذَهَو ٌباَتِك ُهاَنْلَزْنَأ ٌكَراَبُم ُهوُعِبَّتاَف اوُقَّتاَو ْمُكَّلَعَل َنوُمَحْرُت Dan Al Qur’ an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang
diberkati, maka ikutilah dia dan
bertakwalah agar kamu diberi
rahmat (TQS 6: 155) Ayat yang dikutip di atas
mengingatkan kepada kita semua
untuk mengikutinya, mengikuti
aturan, tata kehidupan dan nilai-
nilai moral yang diajarkan Allah di
dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita
mendapatkan kasih sayang-Nya. Begitu pentingnya bertakwa
sehingga beliau saw juga
berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.)
Umat ini terpuruk dan hina
karena jauh dari cinta dan kasih
sayang-Nya. Untuk itu hanya
dengan kembali bertaat kepada-
Nya dan mengikuti sunnah nabi- Nya kita akan mendapatkan
cinta dan kasih sayangnya (QS 3:
31). Bahkan dengan jalan
berbuat taat kepada Allah dan
Rasul-Nya inilah kita akan
mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi
sebaliknya kalau kita durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya yang
akan kita peroleh tiada lain
kecuali neraka dan siksa yang
menghinakan (QS 4: 14). Sebagai tokoh masyarakat,
pemuka agama, atau orang yang
dituakan di lingkungannya,
hendaklah kita berusaha untuk
senantiasa meningkatkan
kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan
senantiasa mengoreksi pikiran,
ucapan, dan amalan kita dengan
ayat-ayat Al Qur’ an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita
syukuri dengan terus
meningkatkan diri dan apa yang
tidak sesuai segera kita
tinggalkan. Dunia ini bergerak dengan cepat,
anak muda maju dengan pesat
didukung oleh berbagai fasilitas
baru seperti CD, komputer,
televisi, dan internet. Sebagai
orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup
ilmu yang dimiliki, maka kita akan
tertinggal dari yang muda. Bukan
masanya lagi kita
memperdebatkan khilafiyyah.
Dengan semangat kembali kepada Al Qur’ an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati.
Lana a’ maluna walakum a’ malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang
tidak bisa mari kita sama-sama
bekerja
Islam saat ini, bukan disebabkan
karena kehebatan dan kemajuan
umat lain. Namun disebabkan oleh
kesalahan kita sendiri dalam
memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Sebagian pemuka agama ada
yang berperilaku seperti perilaku
pemuka agama Yahudi dan
Nasrani. Mereka menyembunyikan yang
haq, karena alasan yang bersifat
pribadi. Bahkan sebagian yang
lain menyembunyikannya karena
alasan rejeki. Padahal Ar Razaq
itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang
barakah kalau jalannya dengan
menyembunyikan yang haq?
Sebagian yang lain suka
mencampur adukkan yang haq
dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas
mana yang halal dan mana yang
haram. Kebenaran yang
seharusnya disampaikan dengan
jelas menjadi kabur, kelihatan
samar-samar. Sedangkan sebagian besar
rakyat jelata malas mempelajari
kebenaran langsung dari
sumbernya Al Qur’ an dan As Sunnah. Sehingga apa yang
mereka dapatkan kebatilan yang
dipoles sehingga seolah-olah
nampak benar. Yang mereka
jadikan rujukan hanya mitos,
tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’ an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat
menjamin kebenaran dari
ketiganya? Tidak ada sama
sekali. Apalagi sebagian yang lain lebih
suka hiburan, foya-foya, dan
memuaskan hawa nafsu dari
pada menuntut ilmu. Panggung-
panggung hiburan yang
menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi
oleh anak-anak muda, laki-laki
maupun perempuan yang
bercampur baur. Sedang
pengajian yang mengajarkan Al
Qur’ an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka
tidak suka dibimbing untuk
menjadi bangsa yang maju
terpimpin. Mereka lebih suka
hidup bebas untuk memuaskan
hawa nafsu. Maka tidak heran kalau yang
kita lihat bukan kemajuan tapi
kemerosotan, bukan prestasi
tapi dekadensi, bukan kehidupan
yang aman, tenteram, damai,
dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh
kebencian dan kedengkian. Bagaimana kita dapat
memperbaiki-nya? Sudahkah kita
terlambat untuk berbuat? Tidak
ada kata terlambat untuk
bertaubat. Selama hayat masih
dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah
tetap akan menghargai
pertaubatan kita. Sebagai orang
awam sebaiknya segera kita
berusaha untuk mempelajari Al
Qur’ an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan
tersesat dalam beramal.
Rasulullah saw berwasiat dalam
sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil
Barr : “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang
kamu tidak akan sesat selama
kamu berpegang teguh kepada
keduanya, yaitu Kitab Allah dan
Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’ an dan As Sunnah segera kita amalkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan inilah yang memungkinkan
terjadinya proses perubahan
karakter kita yang jelek manjadi
baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak
menjadi ikhlas. Dalam hadist yang diriwayatkan
oleh Imam Hakim dari Hudzaifah
Rasulullah saw berpesan: Duru
ma’ a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian
beredar bersama kitab Allah
kemana saja dia beredar).
Rasulullah saw mengajak kita
semua untuk senantiasa
mengikuti Al Qur’ an. Menjadikan Al Qur’ an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan
menjadikannya sebagai rujukan
atas kebenaran, karena Al
Qur’ an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakangnya (TQS
41: 42). اَذَهَو ٌباَتِك ُهاَنْلَزْنَأ ٌكَراَبُم ُهوُعِبَّتاَف اوُقَّتاَو ْمُكَّلَعَل َنوُمَحْرُت Dan Al Qur’ an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang
diberkati, maka ikutilah dia dan
bertakwalah agar kamu diberi
rahmat (TQS 6: 155) Ayat yang dikutip di atas
mengingatkan kepada kita semua
untuk mengikutinya, mengikuti
aturan, tata kehidupan dan nilai-
nilai moral yang diajarkan Allah di
dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita
mendapatkan kasih sayang-Nya. Begitu pentingnya bertakwa
sehingga beliau saw juga
berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.)
Umat ini terpuruk dan hina
karena jauh dari cinta dan kasih
sayang-Nya. Untuk itu hanya
dengan kembali bertaat kepada-
Nya dan mengikuti sunnah nabi- Nya kita akan mendapatkan
cinta dan kasih sayangnya (QS 3:
31). Bahkan dengan jalan
berbuat taat kepada Allah dan
Rasul-Nya inilah kita akan
mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi
sebaliknya kalau kita durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya yang
akan kita peroleh tiada lain
kecuali neraka dan siksa yang
menghinakan (QS 4: 14). Sebagai tokoh masyarakat,
pemuka agama, atau orang yang
dituakan di lingkungannya,
hendaklah kita berusaha untuk
senantiasa meningkatkan
kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan
senantiasa mengoreksi pikiran,
ucapan, dan amalan kita dengan
ayat-ayat Al Qur’ an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita
syukuri dengan terus
meningkatkan diri dan apa yang
tidak sesuai segera kita
tinggalkan. Dunia ini bergerak dengan cepat,
anak muda maju dengan pesat
didukung oleh berbagai fasilitas
baru seperti CD, komputer,
televisi, dan internet. Sebagai
orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup
ilmu yang dimiliki, maka kita akan
tertinggal dari yang muda. Bukan
masanya lagi kita
memperdebatkan khilafiyyah.
Dengan semangat kembali kepada Al Qur’ an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati.
Lana a’ maluna walakum a’ malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang
tidak bisa mari kita sama-sama
bekerja
KATAKAN YANG BENAR SEKALIPUN PAHIT
Kemewahan dan gemerlapnya
dunia telah mampu memperdaya
banyak manusia. Membelokkan
mereka dari penghambaan
kepada Alllah menuju
pengagungan kepada harta dunia. Pola kehidupan
materialistis telah menyeret
banyak orang untuk bangga,
cinta dan menghamba kepada
harta, tahta dan wanita. Mereka
yang licik menggunakan akalnya untuk mbrobosi aturan agar
mendapatkan keuntungan. Mereka yang kuat/berkuasa
menggunakan ototnya untuk
mengeruk kekayaan tanpa kenal
halal haram. Mereka sikut kanan
kiri, mereka singkirkan orang-
orang yang baik, mereka tendang orang-orang yang
berpotensi yang mereka anggap
akan mengancam posisinya.
Mereka rangkul kroni-kroni dan
orang-orang yang bermental ABS
(Asal Bapak Senang) untuk meneguhkan kedudukannya. Mereka kedepankan kebengisan
untuk menunjukkan bahwa dialah
yang berkuasa. Mereka sebarkan
intimidasi agar orang tidak
mengusik kemaksiatan yang
sedang mereka nikmati. Mereka tampilkan kebijakan tangan besi
terhadap orang yang lemah dan
tidak berdaya untuk melakukan
perlawanan. Prita Mulyasari yang di meja
hijaukan karena curhat melalui
email di Jakarta, mbah Minah
yang mengambil 3 biji kakao di
Banyumas, Basar dan Kholik yang
mengambil satu biji semangka di Kediri menjadi bukti pendekatan
tangan besi yang dilakukan oleh
orang kuat terhadap yang
lemah. Sedang mereka yang
membawa lari milyaran bahkan
trilyunan uang rakyat, menghirup udara segar di
berbagai belahan dunia. Sedang
yang masuk penjarapun mampu
membeli perlakuan khusus, kamar
khusus, dan fasilitas khusus
selama tidak ada kunjungan pejabat tinggi. Para pengusaha dan pejabat
menjadi hamba harta dunia
Hukum dan keadilan bisa mereka
perjual belikan. Mafia peradilan
dan makelar kasus merajalela.
Maka pantas kalau Rasulullah saw pernah memberitakan
bahwa di antara tiga hakim, ada
dua yang masuk neraka dan
hanya satu yang masuk sorga.
Dalam situasi seperti ini
kebanyakan manusia menjadi takut mendapatkan resiko yang
berat untuk menyuarakan
kebenaran. Padahal Islam
mengajarkan kepada kita semua
bahwa kehidupan dunia ini hanya
sementara. Sedang yang kekal adalah kehidupan akherat. Maka
mestinya kita tidak takut
mendapatkan resiko dalam
kehidupan yang hanya
sementara ini, tetapi lebih takut
mendapatkan resiko dalam kehidupan yang kekal di akherat. Imam Baihaqi meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw pernah
berpesan kepada Abu Dzar Al
Ghifari agar mencintai orang
miskin dan lemah dan supaya
mengatakan yang benar meskipun pahit. ْنَع ىِبَا ٍّرَذ ضر َلاَق : ىِناَصْوَا ىِلْيِلَخ ص ٍلاَصِخِب َنِم ِرْيَخلْا . ىِناَصْوَا ْنَا َال َرُظْنَا ىَلِا ْنَم َوُه ىِقْوَف ، َو ْنَا َرُظْنَا ْنَم َوُه ىِنْوُد . َو ىِناَصْوَا ِّبُحِب ِنْيِكاَسَملْا َو ِّوُنُّدلا ْمُهْنِم ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َلِصَا ىِمِحَر َو ْنِا ْتَرَبْدَا ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َال َفاَخَا ىِف ِهللا َةَمْوَل ٍمِءَال ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َلْوُقَا َّقَحلْا َو ْنِا َناَك اًّرُم ، َو ىِناَصْوَا ْنَا َرِثْكُا ْنِم َال َلْوَح َو َال َةَّوُق َّالِا ِهللاِب . اَهَّنِاَف ٌزْنَك ْنِم ِزْوُنُك ِةَّنَجلْا . ىناربطلا و نبا نابح ىف هحيحص و ظفللا هل ، ىف بيغرتلا و بيهرتلا Dari Abu Dzarr RA, ia berkata,
“Kekasihku Rasulullah SAW mewashiyatkan kepadaku
dengan beberapa kebaikan.
Beliau mewashiyatkan kepadaku
agar tidak melihat kepada orang
yang diatasku dan supaya aku
melihat kepada orang yang di bawahku. Beliau mewashiyatkan kepadaku
supaya mencintai orang-
orang miskin dan orang-
orang yang lemah. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar
aku menyambung hubungan
sanak saudaraku meskipun
mereka berpaling. Beliau
mewashiyatkan kepadaku supaya
karena Allah aku tidak takut celaan orang yang mencela. Beliau mewashiyatkan
kepadaku supaya aku
mengatakan yang benar
meskipun pahit (akibatnya). Dan beliau mewashiyatkan
kepadaku supaya memperbanyak
ucapan “Laa haula walaa quwwata illa billaah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali atas
pertolongan Allah), karena
ucapan itu merupakan simpanan
dari simpanan-simpanan surga”. [HR. Thabrani dan Ibnu Hibban di
dalam shahihnya dan lafadh ini
baginya, dalam Targhib wat
Tarhib 3: 337] Sebagai pemeluk agama Islam,
kita telah dimuliakan Allah
dengan iman. Allah telah membeli
diri dan harta kita dengan sorga
[QS. At-Taubah : 111]. َّنِإ َهَّللا ىَرَتْشا َنِم َنيِنِمْؤُمْلا ْمُهَسُفْنَأ ْمُهَلاَوْمَأَو َّنَأِب ُمُهَل َةَّنَجْلا َنوُلِتاَقُي يِف ِليِبَس ِهَّللا َنوُلُتْقَيَف َنوُلَتْقُيَو اًدْعَو ِهْيَلَع اًّقَح يِف ِةاَرْوَّتلا ِليِجْنإلاَو ِنآْرُقْلاَو ْنَمَو ىَفْوَأ ِهِدْهَعِب َنِم ِهَّللا اوُرِشْبَتْساَف ُمُكِعْيَبِب يِذَّلا ْمُتْعَياَب ِهِب َكِلَذَو َوُه ُزْوَفْلا ُميِظَعْلا “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk
mereka. mereka berperang pada
jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil
dan Al Quran. dan siapakah yang
lebih menepati janjinya (selain)
daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
Itulah kemenangan yang besar.” Maka tidak layak bagi kita untuk
membeo, mengamini kedzoliman
para penguasa terhadap orang-
orang yang lemah. Kita harus
berani tampil di barisan depan
dalam menyuarakan kebenaran. Bangsa ini sedang diseret oleh
para penguasa dan pengusaha
kaya yang jahat menuju
kehancuran untuk kepentingan
pribadi mereka masing-masing.
Siapa lagi kalau bukan kita yang harus tampil di depan
membelokkan arah kehidupan
bangsa ini menuju jalan
keselamatan dengan
memperjuangkan dan
menegakkan kebenaran. Semangat para facebookers
dalam membela Bibit S Riyanto
dan Chandra M Chamsyah dan
para pengumpul koin untuk
mendukung Prita Mulyasari patut
kita hargai. Cara-cara damai untuk memperjuangkan
kebenaran yang mereka lakukan
patut kita acungi jempol. Mari
kita jaga lentera kebenaran
yang sudah terang menyala ini
demi kejayaan bangsa. Di depan badai mungkin
menghadang. Namun dengan
kebersamaan dan persatuan
yang lemah akan menjadi kuat,
yang kecil akan menjadi besar,
yang berat akan menjadi ringan, dan yang sulit akan menjadi
mudah. Dalam kebersamaan yang
pahitpun akan terasa menjadi
manis. Semoga Allah menguatkan
hati kita semua untuk senantiasa
berkata yang benar meskipun akibatnya terasa pahit.
4 AMANAH ISTIMEWA
Sudah sewajarnya dan memang
itu adalah sunnatullah, ketika
seseorang berjalan menuju
syurga PASTI akan menemui
rintangan dan halangan.
Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau
beranggapan neraka hanyalah
sebagai cerita fiktif dari
Rosululloh SAW, maka menuju
kesana terasa mudah, ringan,
nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun. Manusia atau lazimnya dalam Al
Qur’ an disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama
bahwa hidup didunia adalah
sebagai lading pencarian bekal
hidup di akherat. Kehidupan
akherat yang abadi, penuh
dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan
buruk, nikmat atau siksa. Sebagai orang beriman yang
sedang berusaha KERAS menuju
taqwa, kita diberi amanah, dan
ciri-ciri manusia bertaqwa adalah
mampu mengemban amanah
dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah
untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT, menjadi
khalifah di muka bumi dan
berdakwah kepada yang ma’ ruf serta menjauhi dengan sangat
semua hal kemungkaran. اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع ُتاَواَمَّسلا ُضْرألاَو ْتَّدِعُأ َنيِقَّتُمْلِل - ١٣٣ َنيِذَّلا َنوُقِفْنُي يِف ِءاَّرَّسلا ِءاَّرَّضلاَو َنيِمِظاَكْلاَو َظْيَغْلا َنيِفاَعْلاَو ِنَع ِساَّنلا ُهَّللاَو ُّبِحُي َنيِنِسْحُمْلا - ١٣٤ َنيِذَّلاَو اَذِإ اوُلَعَف ًةَشِحاَف ْوَأ اوُمَلَظ ْمُهَسُفْنَأ اوُرَكَذ َهَّللا اوُرَفْغَتْساَف ْمِهِبوُنُذِل ْنَمَو ُرِفْغَي َبوُنُّذلا الِإ ُهَّللا ْمَلَو اوُّرِصُي ىَلَع اَم اوُلَعَف ْمُهَو َنوُمَلْعَي - ١٣٥ 133. dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema’ afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau Menganiaya
diri sendiri[229], mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. [229] Yang dimaksud perbuatan
keji (faahisyah) ialah dosa besar
yang mana mudharatnya tidak
hanya menimpa diri sendiri tetapi
juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana
mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau
kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135) Dari berbagai amanat dan
kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang
terasa berat dan susah
untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau
sulit) dan Allah SWT memberikan
derajat yang mulia jika kita bisa
melaksanakannya dengan baik
dan maksimal. Empat Amanat
yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut
adalah : 1. Memberi Maaf ketika
Marah … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’ afkan (kesalahan) orang. Seringkali kita merasakan
sesaknya dada, panasnya pikiran
dan tergesanya indera-indera
lainnya dalam memutuskan
sesuatu ketika sedang marah. Marah dalam hal baikpun perlu
control management, karena
seperti yang telah disampaikan
dalam kajian bahwa marah
adalah jalan favorit syetan
untuk gencar membisiki manusia. Nah, ketika kondisi seperti itu
terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika
emosi marah terjadi, kadang kita
malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri
ini dengan sesuatu yang lebih
dholim. Dipukul sekali rasanya ingin
membalas dengan pukulan
berkali-kali dengan dalih agar
jera. Berkata buruk dan kasar
karena merasa didholimi, dan
terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk
yang kita terima. Itulah sebabnya
memberikan maaf ketika marah
sepertinya sulit diwujudkan.
Padahal Allah SWT telah
mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih
baik, dan itulah ciri-ciri hati
manusia taqwa. Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan
waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW
dalam sirah selalu mencontohkan
untuk memberikan maaf dengan
atau tanpa permintaan dari sang
pelaku. Dan dalam ilmu psikologi,
memberikan maaf akan
memberikan rasa tentram di hati
dan memberikan kesejukan dalam
bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah tidak ada manusia
yang bersih dari dosa?? Jadi
seseorang yang bersalah kepada
kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa
melakukan hal yang sama. 2. Berderma ketika Miskin … (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, Kenapa hal ini berat dilakukan?
Karena banyak sekali diantara
kita menganggap status miskin
adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah.
Untuk makanpun susah, apalagi
harus berbagi dengan orang lain. Ketika kita dan keluarga ini
miskin seolah-seolah semua yang
tersisa adalah barang berharga.
Jadi imposible untuk
memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek
kedermawanan bukan sebagai
subjek. Maka betul sekali! Bahwa
ketika miskin atau susah, itulah
kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq
sedekah. Tetapi bagi sebagain
orang yang nilai keimanannya
kebih mantap, kemiskinan bukan
menjadi masalah. Semua harta
adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki
kepada hambanya bahkan
dengan tiba-tibapun. Tidak ada istilah merasa bahwa
“saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih
susah dari kita. Nikmat Iman dan
kesehatan adalah sesuatu yang
tidak ternilai apalagi untuk
diuangkan. Allah Maha Kaya,
tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang
secara maksimal mendermakan
hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk
kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh
SAW bukanlah seseorang yang
kaya? Dan bagi yang kaya,
kebakhilan dan kesombongan
mengancam dirimu dan tidak ada
jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena
itulah jalan yang lurus menuju
syurga. 3. Meninggalkan yang Haram
dan Dholim ketika sendirian … Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya. Jika engkau tidak bisa
melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”… ( [HR. Muslim juz 1, hal. 40] Hal ketiga yang susah dilakukan
adalah meninggalkan kedholiman
ketika sendirian. Bukankah kita
setiap tahun selama sebulan
(ramadhan) kita ditempa untuk
jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya
diketahui oleh kita sendiri dan
Allah SWT. Meninggalkan kedholiman atau
kemaksiatan secara bersama-
sama di lingkungan sholeh adalah
mudah, selain malu kepada Allah
SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain. Tetapi ketika sendirian, syetan
lebih hebat lagi beraksi.
Menjadikan akal sehat kita lupa,
sesuatu yang haram ‘ dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-
jelas maksiyat bisa dilakukan
dengan ringan dengan dalih tidak
ada yang melihat, tidak ada yang
dirugikan, darurat dan
sebagainya. Ingatlah selalu bahwa Allah
itu Maha Melihat, Maha
Tahu, Tidak Tidur dan
semua yang bergerak
didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar
daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT
Hadir sebagai yang ketiga. Ketika
kita sendiri, Allah menjadi yang
kedua. Maka betul sekali bahwa
tingkatan ihsan adalah tertinggi,
dimana kita selalu merasa dilihat
oleh Allah SWT sehingga apa yang
dilakukan dan apa yang
disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang
dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT. 4. Berkata jujur kepada
siapapun ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Lawannya jujur adalah dusta,
pembohong. Berkata benar dan
jujur kepada teman-teman
sefaham di barisan kita mungkin
hal yang sangat mudah. Tetapi berkata benar dan jujur
kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan
adalah hal yang sulit. Kita harus
berani mengatakan bahwa itu
salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang
yang kita cintai atau seseorang
yang kita hormati. Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘ oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti
itu”…” saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman,
harus berani berkata benar
kepada siapapun dan dengan
resiko apapun. Kejujuran yag
menyakitkan lebih baik daripada
kebohongan yang menipu dan menyenangkan. Keberanian Abu bakar
mengatakan kebenaran 100%
terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru,
padahal hampir semua penduduk
Mekah tidak percaya dan
menertawakan Rosululloh SAW
sebagai yang mengada-adakan
cerita bohong. Keberanian seorang anak
gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab
mencoba merayu ingin membeli
domba diantara ratusan yang
ada. Dan dipastikan itu tidak
akan diketahui oleh siapapun
termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan
berani. Keberanian pemimpin Turki ketika
mengatakan kebohongan dan
kekejian negara Israel dalam
dialog dengan pemimpinnya
langsung ketika event negara-
negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah
dicari, padahal saat itu tidak
satu negarapun yang berani
menyinggung ataupun membahas
perkara ’ sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the
real terrorist). Jadi saatnya kita harus berlaku
dan berkata jujur, kapanpun- dimanapun dan kepada
siapapun. Semoga kita termasuk manusia
yang mampu memegang amanah.
Amiin
itu adalah sunnatullah, ketika
seseorang berjalan menuju
syurga PASTI akan menemui
rintangan dan halangan.
Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau
beranggapan neraka hanyalah
sebagai cerita fiktif dari
Rosululloh SAW, maka menuju
kesana terasa mudah, ringan,
nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun. Manusia atau lazimnya dalam Al
Qur’ an disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama
bahwa hidup didunia adalah
sebagai lading pencarian bekal
hidup di akherat. Kehidupan
akherat yang abadi, penuh
dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan
buruk, nikmat atau siksa. Sebagai orang beriman yang
sedang berusaha KERAS menuju
taqwa, kita diberi amanah, dan
ciri-ciri manusia bertaqwa adalah
mampu mengemban amanah
dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah
untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT, menjadi
khalifah di muka bumi dan
berdakwah kepada yang ma’ ruf serta menjauhi dengan sangat
semua hal kemungkaran. اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع ُتاَواَمَّسلا ُضْرألاَو ْتَّدِعُأ َنيِقَّتُمْلِل - ١٣٣ َنيِذَّلا َنوُقِفْنُي يِف ِءاَّرَّسلا ِءاَّرَّضلاَو َنيِمِظاَكْلاَو َظْيَغْلا َنيِفاَعْلاَو ِنَع ِساَّنلا ُهَّللاَو ُّبِحُي َنيِنِسْحُمْلا - ١٣٤ َنيِذَّلاَو اَذِإ اوُلَعَف ًةَشِحاَف ْوَأ اوُمَلَظ ْمُهَسُفْنَأ اوُرَكَذ َهَّللا اوُرَفْغَتْساَف ْمِهِبوُنُذِل ْنَمَو ُرِفْغَي َبوُنُّذلا الِإ ُهَّللا ْمَلَو اوُّرِصُي ىَلَع اَم اوُلَعَف ْمُهَو َنوُمَلْعَي - ١٣٥ 133. dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema’ afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau Menganiaya
diri sendiri[229], mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. [229] Yang dimaksud perbuatan
keji (faahisyah) ialah dosa besar
yang mana mudharatnya tidak
hanya menimpa diri sendiri tetapi
juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana
mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau
kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135) Dari berbagai amanat dan
kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang
terasa berat dan susah
untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau
sulit) dan Allah SWT memberikan
derajat yang mulia jika kita bisa
melaksanakannya dengan baik
dan maksimal. Empat Amanat
yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut
adalah : 1. Memberi Maaf ketika
Marah … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’ afkan (kesalahan) orang. Seringkali kita merasakan
sesaknya dada, panasnya pikiran
dan tergesanya indera-indera
lainnya dalam memutuskan
sesuatu ketika sedang marah. Marah dalam hal baikpun perlu
control management, karena
seperti yang telah disampaikan
dalam kajian bahwa marah
adalah jalan favorit syetan
untuk gencar membisiki manusia. Nah, ketika kondisi seperti itu
terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika
emosi marah terjadi, kadang kita
malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri
ini dengan sesuatu yang lebih
dholim. Dipukul sekali rasanya ingin
membalas dengan pukulan
berkali-kali dengan dalih agar
jera. Berkata buruk dan kasar
karena merasa didholimi, dan
terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk
yang kita terima. Itulah sebabnya
memberikan maaf ketika marah
sepertinya sulit diwujudkan.
Padahal Allah SWT telah
mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih
baik, dan itulah ciri-ciri hati
manusia taqwa. Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan
waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW
dalam sirah selalu mencontohkan
untuk memberikan maaf dengan
atau tanpa permintaan dari sang
pelaku. Dan dalam ilmu psikologi,
memberikan maaf akan
memberikan rasa tentram di hati
dan memberikan kesejukan dalam
bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah tidak ada manusia
yang bersih dari dosa?? Jadi
seseorang yang bersalah kepada
kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa
melakukan hal yang sama. 2. Berderma ketika Miskin … (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, Kenapa hal ini berat dilakukan?
Karena banyak sekali diantara
kita menganggap status miskin
adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah.
Untuk makanpun susah, apalagi
harus berbagi dengan orang lain. Ketika kita dan keluarga ini
miskin seolah-seolah semua yang
tersisa adalah barang berharga.
Jadi imposible untuk
memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek
kedermawanan bukan sebagai
subjek. Maka betul sekali! Bahwa
ketika miskin atau susah, itulah
kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq
sedekah. Tetapi bagi sebagain
orang yang nilai keimanannya
kebih mantap, kemiskinan bukan
menjadi masalah. Semua harta
adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki
kepada hambanya bahkan
dengan tiba-tibapun. Tidak ada istilah merasa bahwa
“saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih
susah dari kita. Nikmat Iman dan
kesehatan adalah sesuatu yang
tidak ternilai apalagi untuk
diuangkan. Allah Maha Kaya,
tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang
secara maksimal mendermakan
hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk
kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh
SAW bukanlah seseorang yang
kaya? Dan bagi yang kaya,
kebakhilan dan kesombongan
mengancam dirimu dan tidak ada
jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena
itulah jalan yang lurus menuju
syurga. 3. Meninggalkan yang Haram
dan Dholim ketika sendirian … Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya. Jika engkau tidak bisa
melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”… ( [HR. Muslim juz 1, hal. 40] Hal ketiga yang susah dilakukan
adalah meninggalkan kedholiman
ketika sendirian. Bukankah kita
setiap tahun selama sebulan
(ramadhan) kita ditempa untuk
jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya
diketahui oleh kita sendiri dan
Allah SWT. Meninggalkan kedholiman atau
kemaksiatan secara bersama-
sama di lingkungan sholeh adalah
mudah, selain malu kepada Allah
SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain. Tetapi ketika sendirian, syetan
lebih hebat lagi beraksi.
Menjadikan akal sehat kita lupa,
sesuatu yang haram ‘ dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-
jelas maksiyat bisa dilakukan
dengan ringan dengan dalih tidak
ada yang melihat, tidak ada yang
dirugikan, darurat dan
sebagainya. Ingatlah selalu bahwa Allah
itu Maha Melihat, Maha
Tahu, Tidak Tidur dan
semua yang bergerak
didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar
daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT
Hadir sebagai yang ketiga. Ketika
kita sendiri, Allah menjadi yang
kedua. Maka betul sekali bahwa
tingkatan ihsan adalah tertinggi,
dimana kita selalu merasa dilihat
oleh Allah SWT sehingga apa yang
dilakukan dan apa yang
disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang
dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT. 4. Berkata jujur kepada
siapapun ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Lawannya jujur adalah dusta,
pembohong. Berkata benar dan
jujur kepada teman-teman
sefaham di barisan kita mungkin
hal yang sangat mudah. Tetapi berkata benar dan jujur
kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan
adalah hal yang sulit. Kita harus
berani mengatakan bahwa itu
salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang
yang kita cintai atau seseorang
yang kita hormati. Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘ oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti
itu”…” saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman,
harus berani berkata benar
kepada siapapun dan dengan
resiko apapun. Kejujuran yag
menyakitkan lebih baik daripada
kebohongan yang menipu dan menyenangkan. Keberanian Abu bakar
mengatakan kebenaran 100%
terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru,
padahal hampir semua penduduk
Mekah tidak percaya dan
menertawakan Rosululloh SAW
sebagai yang mengada-adakan
cerita bohong. Keberanian seorang anak
gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab
mencoba merayu ingin membeli
domba diantara ratusan yang
ada. Dan dipastikan itu tidak
akan diketahui oleh siapapun
termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan
berani. Keberanian pemimpin Turki ketika
mengatakan kebohongan dan
kekejian negara Israel dalam
dialog dengan pemimpinnya
langsung ketika event negara-
negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah
dicari, padahal saat itu tidak
satu negarapun yang berani
menyinggung ataupun membahas
perkara ’ sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the
real terrorist). Jadi saatnya kita harus berlaku
dan berkata jujur, kapanpun- dimanapun dan kepada
siapapun. Semoga kita termasuk manusia
yang mampu memegang amanah.
Amiin
UJIAN KESABARAN
saat menanti hujan reda, apa
yang biasa dirasakan orang?
Terasa lama? Mungkin. Hujan
mengguyur selama tiga puluh
menit saja serasa tiga puluh jam
lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian
kesabaran itu. Banyak orang mengatakan,
kesabaran ada batasnya. Bila
ujian kesabaran diibaratkan
dengan menanti hujan reda,
apakah orang akan
menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang
tengah menerpa bumi? Sedang
hujan hanyalah merupakan
makhluk ‘ pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan
rintihan kekesalan orang. Ia
mengguyur ke bumi atas
perintah-Nya. Tak peduli orang
mengeluh kesal kepadanya, atau
bahkan memaki akan kedatangannya yang tak
kunjung pergi. Sayangnya, hujan terlalu biasa
untuk dikeluhkan orang. Di awal
kedatangannya, orang akan
nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah
menunjukkan betapa awal ujian
kesabaran itu sudah
terpatahkan oleh rasa tidak
bersyukurnya akan turunnya
nikmat hujan. Belum lagi di benaknya masih
membayangkan bagaimana nasib
jemuran bajunya di rumah. Sudah
pasti akan basah kuyub, setelah
sebelumnya tak sempat
‘ diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana
nasib kendaraannya yang
berkilau lantaran baru dicuci
kemarin sore, lagi-lagi harus
terkena cipratan air hujan yang
bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah. Ini baru contoh sederhana, belum
contoh-contoh lain yang amat
menguji kesabaran. Misalnya
ketika urusan duniawi yang
menurutnya sangat urgen untuk
segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda
lantaran hujan. Di saat air hujan semakin deras
mengguyur, tak kunjung reda,
saat inilah kesabaran orang
benar-benar berada di titik
kulminasi. Terbayang di
benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan
duniawinya banyak yang
terbengkalai. Saat itu juga, emosi
kian tak terbendung. Umpatan-
umpatan kekesalan pun keluar
dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan,
seolah hujan adalah makhluk
serupa dengannya. َوُهَو يِذَّلا ُلِسْرُي َحاَيِّرلا اًرْشُب َنْيَب ْيَدَي ِهِتَمْحَر ىَّتَح اَذِإ ْتَّلَقَأ اًباَحَس الاَقِث ُهاَنْقُس ٍدَلَبِل ٍتِّيَم اَنْلَزْنَأَف ِهِب َءاَمْلا اَنْجَرْخَأَف ِهِب ْنِم ِّلُك ِتاَرَمَّثلا َكِلَذَك ُجِرْخُن ىَتْوَمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُرَّكَذَت “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang
yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’ raaf 57) Hujan diturunkan sebagai
pembawa berita gembira, namun
yang terjadi justru malah
sebaliknya. Orang malah berkeluh
kesah dengan hadirnya hujan.
Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya
hujan tengah menghambat
urusan duniawinya. Tidak
tahukah orang, untuk apa hujan
diturunkan? ُهَّللاَو َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم اَيْحَأَف ِهِب َضْرألا َدْعَب اَهِتْوَم َّنِإ يِف َكِلَذ ًةَيآل ٍمْوَقِل َنوُعَمْسَي “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah
matinya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang- orang yang mendengarkan
(pelajaran).” (QS An-Nahl 65) Bayangkan jika hujan tidak
diturunkan ke bumi, tidak akan
mungkin ada kehidupan di sini.
Bumi akan mengering, dan semua
makhluk hidup akan mati. Dalam
ayat lain Allah juga berfirman. َوُه يِذَّلا َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم ْمُكَل ُهْنِم ٌباَرَش ُهْنِمَو ٌرَجَش ِهيِف َنوُميِسُت Dia-lah, Yang telah menurunkan
air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman
dan sebahagiannya
(menyuburkan) tumbuh-
tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10) Hujan yang membawa berkah,
menghidupkan serta
menyuburkan tanaman-tanaman
yang hijau lagi banyak buahnya.
Inilah ibarat ujian kesabaran itu,
layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran
yang teramat berat, terlebih
ketika harus merelakan hal-hal
yang menyangkut duniawi. Hujan yang dinyana sebagai
penghambat pada urusan
duniawi, sesungguhnya
merupakan berkah dari-Nya.
Kehadirannya akan menghijaukan
tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan
mata air yang jernih yang
sangat bermanfaat bagi semua
makhluk yang hidup di bumi ini. Demikian halnya dengan ujian
kesabaran itu. Meski dinyana
sebagai sesuatu yang pahit
dirasa, atau bahkan berat didaki,
namun sesungguhnya Allah akan
menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar. ْمَأ ْمُتْبِسَح نَأ ْاوُلُخْدَت َةَّنَجْلا اَّمَلَو ِمَلْعَي ُهّللا َنيِذَّلا ْاوُدَهاَج ْمُكنِم َمَلْعَيَو
َنيِرِباَّصلا Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad diantaramu
dan belum nyata orang-orang
yang sabar. (QS Ali Imran 142) Ujian dari Allah tak hanya berupa
kesedihan, tapi juga mencakup
kebahagiaan. Sayangnya, ketika
orang diuji dengan kebahagiaan,
orang lupa jika itu hanyalah
sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah
berpikir bahwa itu adalah
keberuntungan. Padahal,
keberuntungan di dunia ini
hanyalah merupakan tipuan. الْيَكِل اْوَسْأَت ىَلَع اَم ْمُكَتاَف الَو اوُحَرْفَت اَمِب ْمُكاَتآ ُهَّللاَو ال ُّبِحُي َّلُك ٍلاَتْخُم ٍروُخَف “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-
Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan
diri.” (QS Al Hadiid 23) Seperti halnya ketika menanti
hujan reda. Meski hujan
mengguyur deras, tak kunjung
reda, hingga menyebabkan
banjir, tanah longsor ataupun
bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa
tiap-tiap orang yang beriman.
Bagaimanapun hujan adalah
berkah dari-Nya, meski
kehadirannya terkadang
mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para
hamba-Nya agar bersyukur. اَّم ُلَعْفَي ُهّللا ْمُكِباَذَعِب نِإ ْمُتْرَكَش ْمُتنَمآَو َناَكَو ُهّللا ًارِكاَش ًاميِلَع “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.” (QS An- Nisaa’ 147) Maka bersabarlah, karena Allah
beserta orang-orang yang
sabar. Ujian kesabaran itu ibarat
menanti hujan reda. Terasa lama
untuk dinanti redanya, hingga
terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak
memberi mudharat pada urusan
duniawi. Namun, tidak bagi orang-orang
yang bersabar. Ia akan memaknai
hujan sebagai berkah dari-Nya,
berapapun lamanya dan
banyaknya curah hujan yang
diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia
akan tetap bersabar, karena di
balik ujian pastilah mengandung
hikmah. Dan semestinyalah, orang-orang
yang beriman akan mengambil
hikmah di balik cobaan itu. Ia
akan senantiasa bersabar dan
bersyukur di kala sedih ataupun
bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan
ujian dari-Nya, agar nyatalah
siapa sesungguhnya hamba-
hamba-Nya yang terpilih itu.
yang biasa dirasakan orang?
Terasa lama? Mungkin. Hujan
mengguyur selama tiga puluh
menit saja serasa tiga puluh jam
lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian
kesabaran itu. Banyak orang mengatakan,
kesabaran ada batasnya. Bila
ujian kesabaran diibaratkan
dengan menanti hujan reda,
apakah orang akan
menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang
tengah menerpa bumi? Sedang
hujan hanyalah merupakan
makhluk ‘ pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan
rintihan kekesalan orang. Ia
mengguyur ke bumi atas
perintah-Nya. Tak peduli orang
mengeluh kesal kepadanya, atau
bahkan memaki akan kedatangannya yang tak
kunjung pergi. Sayangnya, hujan terlalu biasa
untuk dikeluhkan orang. Di awal
kedatangannya, orang akan
nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah
menunjukkan betapa awal ujian
kesabaran itu sudah
terpatahkan oleh rasa tidak
bersyukurnya akan turunnya
nikmat hujan. Belum lagi di benaknya masih
membayangkan bagaimana nasib
jemuran bajunya di rumah. Sudah
pasti akan basah kuyub, setelah
sebelumnya tak sempat
‘ diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana
nasib kendaraannya yang
berkilau lantaran baru dicuci
kemarin sore, lagi-lagi harus
terkena cipratan air hujan yang
bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah. Ini baru contoh sederhana, belum
contoh-contoh lain yang amat
menguji kesabaran. Misalnya
ketika urusan duniawi yang
menurutnya sangat urgen untuk
segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda
lantaran hujan. Di saat air hujan semakin deras
mengguyur, tak kunjung reda,
saat inilah kesabaran orang
benar-benar berada di titik
kulminasi. Terbayang di
benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan
duniawinya banyak yang
terbengkalai. Saat itu juga, emosi
kian tak terbendung. Umpatan-
umpatan kekesalan pun keluar
dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan,
seolah hujan adalah makhluk
serupa dengannya. َوُهَو يِذَّلا ُلِسْرُي َحاَيِّرلا اًرْشُب َنْيَب ْيَدَي ِهِتَمْحَر ىَّتَح اَذِإ ْتَّلَقَأ اًباَحَس الاَقِث ُهاَنْقُس ٍدَلَبِل ٍتِّيَم اَنْلَزْنَأَف ِهِب َءاَمْلا اَنْجَرْخَأَف ِهِب ْنِم ِّلُك ِتاَرَمَّثلا َكِلَذَك ُجِرْخُن ىَتْوَمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُرَّكَذَت “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang
yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’ raaf 57) Hujan diturunkan sebagai
pembawa berita gembira, namun
yang terjadi justru malah
sebaliknya. Orang malah berkeluh
kesah dengan hadirnya hujan.
Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya
hujan tengah menghambat
urusan duniawinya. Tidak
tahukah orang, untuk apa hujan
diturunkan? ُهَّللاَو َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم اَيْحَأَف ِهِب َضْرألا َدْعَب اَهِتْوَم َّنِإ يِف َكِلَذ ًةَيآل ٍمْوَقِل َنوُعَمْسَي “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah
matinya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang- orang yang mendengarkan
(pelajaran).” (QS An-Nahl 65) Bayangkan jika hujan tidak
diturunkan ke bumi, tidak akan
mungkin ada kehidupan di sini.
Bumi akan mengering, dan semua
makhluk hidup akan mati. Dalam
ayat lain Allah juga berfirman. َوُه يِذَّلا َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم ْمُكَل ُهْنِم ٌباَرَش ُهْنِمَو ٌرَجَش ِهيِف َنوُميِسُت Dia-lah, Yang telah menurunkan
air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman
dan sebahagiannya
(menyuburkan) tumbuh-
tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10) Hujan yang membawa berkah,
menghidupkan serta
menyuburkan tanaman-tanaman
yang hijau lagi banyak buahnya.
Inilah ibarat ujian kesabaran itu,
layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran
yang teramat berat, terlebih
ketika harus merelakan hal-hal
yang menyangkut duniawi. Hujan yang dinyana sebagai
penghambat pada urusan
duniawi, sesungguhnya
merupakan berkah dari-Nya.
Kehadirannya akan menghijaukan
tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan
mata air yang jernih yang
sangat bermanfaat bagi semua
makhluk yang hidup di bumi ini. Demikian halnya dengan ujian
kesabaran itu. Meski dinyana
sebagai sesuatu yang pahit
dirasa, atau bahkan berat didaki,
namun sesungguhnya Allah akan
menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar. ْمَأ ْمُتْبِسَح نَأ ْاوُلُخْدَت َةَّنَجْلا اَّمَلَو ِمَلْعَي ُهّللا َنيِذَّلا ْاوُدَهاَج ْمُكنِم َمَلْعَيَو
َنيِرِباَّصلا Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad diantaramu
dan belum nyata orang-orang
yang sabar. (QS Ali Imran 142) Ujian dari Allah tak hanya berupa
kesedihan, tapi juga mencakup
kebahagiaan. Sayangnya, ketika
orang diuji dengan kebahagiaan,
orang lupa jika itu hanyalah
sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah
berpikir bahwa itu adalah
keberuntungan. Padahal,
keberuntungan di dunia ini
hanyalah merupakan tipuan. الْيَكِل اْوَسْأَت ىَلَع اَم ْمُكَتاَف الَو اوُحَرْفَت اَمِب ْمُكاَتآ ُهَّللاَو ال ُّبِحُي َّلُك ٍلاَتْخُم ٍروُخَف “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-
Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan
diri.” (QS Al Hadiid 23) Seperti halnya ketika menanti
hujan reda. Meski hujan
mengguyur deras, tak kunjung
reda, hingga menyebabkan
banjir, tanah longsor ataupun
bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa
tiap-tiap orang yang beriman.
Bagaimanapun hujan adalah
berkah dari-Nya, meski
kehadirannya terkadang
mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para
hamba-Nya agar bersyukur. اَّم ُلَعْفَي ُهّللا ْمُكِباَذَعِب نِإ ْمُتْرَكَش ْمُتنَمآَو َناَكَو ُهّللا ًارِكاَش ًاميِلَع “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.” (QS An- Nisaa’ 147) Maka bersabarlah, karena Allah
beserta orang-orang yang
sabar. Ujian kesabaran itu ibarat
menanti hujan reda. Terasa lama
untuk dinanti redanya, hingga
terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak
memberi mudharat pada urusan
duniawi. Namun, tidak bagi orang-orang
yang bersabar. Ia akan memaknai
hujan sebagai berkah dari-Nya,
berapapun lamanya dan
banyaknya curah hujan yang
diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia
akan tetap bersabar, karena di
balik ujian pastilah mengandung
hikmah. Dan semestinyalah, orang-orang
yang beriman akan mengambil
hikmah di balik cobaan itu. Ia
akan senantiasa bersabar dan
bersyukur di kala sedih ataupun
bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan
ujian dari-Nya, agar nyatalah
siapa sesungguhnya hamba-
hamba-Nya yang terpilih itu.
Langganan:
Postingan (Atom)