Entri Populer

Selasa, 25 Januari 2011

UJIAN KESABARAN

saat menanti hujan reda, apa
yang biasa dirasakan orang?
Terasa lama? Mungkin. Hujan
mengguyur selama tiga puluh
menit saja serasa tiga puluh jam
lamanya atau mungkin malah lebih. Inilah rasanya ujian
kesabaran itu. Banyak orang mengatakan,
kesabaran ada batasnya. Bila
ujian kesabaran diibaratkan
dengan menanti hujan reda,
apakah orang akan
menumpahkan kekesalan itu pada rintik-rintik air hujan yang
tengah menerpa bumi? Sedang
hujan hanyalah merupakan
makhluk ‘ pendiam’ yang tidak akan mungkin menghiraukan
rintihan kekesalan orang. Ia
mengguyur ke bumi atas
perintah-Nya. Tak peduli orang
mengeluh kesal kepadanya, atau
bahkan memaki akan kedatangannya yang tak
kunjung pergi. Sayangnya, hujan terlalu biasa
untuk dikeluhkan orang. Di awal
kedatangannya, orang akan
nyeletuk berujar, “Yah… hujan deh!” Disadari atau tidak, kalimat pertama yang muncul ini sudah
menunjukkan betapa awal ujian
kesabaran itu sudah
terpatahkan oleh rasa tidak
bersyukurnya akan turunnya
nikmat hujan. Belum lagi di benaknya masih
membayangkan bagaimana nasib
jemuran bajunya di rumah. Sudah
pasti akan basah kuyub, setelah
sebelumnya tak sempat
‘ diselamatkan’ dari guyuran air hujan. Terbetik pula bagaimana
nasib kendaraannya yang
berkilau lantaran baru dicuci
kemarin sore, lagi-lagi harus
terkena cipratan air hujan yang
bercampur tanah. Al hasil, kotorlah sudah. Ini baru contoh sederhana, belum
contoh-contoh lain yang amat
menguji kesabaran. Misalnya
ketika urusan duniawi yang
menurutnya sangat urgen untuk
segera dikerjakan, namun terpaksa harus tertunda
lantaran hujan. Di saat air hujan semakin deras
mengguyur, tak kunjung reda,
saat inilah kesabaran orang
benar-benar berada di titik
kulminasi. Terbayang di
benaknya, berapa kerugian yang didapat karena urusan
duniawinya banyak yang
terbengkalai. Saat itu juga, emosi
kian tak terbendung. Umpatan-
umpatan kekesalan pun keluar
dari mulutnya. Dihardiklah hujan, sebagai pelampiasan kekesalan,
seolah hujan adalah makhluk
serupa dengannya. َوُهَو يِذَّلا ُلِسْرُي َحاَيِّرلا اًرْشُب َنْيَب ْيَدَي ِهِتَمْحَر ىَّتَح اَذِإ ْتَّلَقَأ اًباَحَس الاَقِث ُهاَنْقُس ٍدَلَبِل ٍتِّيَم اَنْلَزْنَأَف ِهِب َءاَمْلا اَنْجَرْخَأَف ِهِب ْنِم ِّلُك ِتاَرَمَّثلا َكِلَذَك ُجِرْخُن ىَتْوَمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُرَّكَذَت “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami
membangkitkan orang-orang
yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.“(QS Al A’ raaf 57) Hujan diturunkan sebagai
pembawa berita gembira, namun
yang terjadi justru malah
sebaliknya. Orang malah berkeluh
kesah dengan hadirnya hujan.
Tak ada sedikit rona bahagia di rautnya lantaran datangnya
hujan tengah menghambat
urusan duniawinya. Tidak
tahukah orang, untuk apa hujan
diturunkan? ُهَّللاَو َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم اَيْحَأَف ِهِب َضْرألا َدْعَب اَهِتْوَم َّنِإ يِف َكِلَذ ًةَيآل ٍمْوَقِل َنوُعَمْسَي “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah
matinya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang- orang yang mendengarkan
(pelajaran).” (QS An-Nahl 65) Bayangkan jika hujan tidak
diturunkan ke bumi, tidak akan
mungkin ada kehidupan di sini.
Bumi akan mengering, dan semua
makhluk hidup akan mati. Dalam
ayat lain Allah juga berfirman. َوُه يِذَّلا َلَزْنَأ َنِم ِءاَمَّسلا ًءاَم ْمُكَل ُهْنِم ٌباَرَش ُهْنِمَو ٌرَجَش ِهيِف َنوُميِسُت Dia-lah, Yang telah menurunkan
air hujan dari langit untuk kamu,
sebahagiannya menjadi minuman
dan sebahagiannya
(menyuburkan) tumbuh-
tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu
menggembalakan ternakmu.” (QS An-Nahl 10) Hujan yang membawa berkah,
menghidupkan serta
menyuburkan tanaman-tanaman
yang hijau lagi banyak buahnya.
Inilah ibarat ujian kesabaran itu,
layaknya menanti hujan reda. Menanti memerlukan kesabaran
yang teramat berat, terlebih
ketika harus merelakan hal-hal
yang menyangkut duniawi. Hujan yang dinyana sebagai
penghambat pada urusan
duniawi, sesungguhnya
merupakan berkah dari-Nya.
Kehadirannya akan menghijaukan
tanaman hingga menghasilkan buah yang ranum, menghasilkan
mata air yang jernih yang
sangat bermanfaat bagi semua
makhluk yang hidup di bumi ini. Demikian halnya dengan ujian
kesabaran itu. Meski dinyana
sebagai sesuatu yang pahit
dirasa, atau bahkan berat didaki,
namun sesungguhnya Allah akan
menghadiahi surga bagi para hamba-Nya yang sabar. ْمَأ ْمُتْبِسَح نَأ ْاوُلُخْدَت َةَّنَجْلا اَّمَلَو ِمَلْعَي ُهّللا َنيِذَّلا ْاوُدَهاَج ْمُكنِم َمَلْعَيَو
َنيِرِباَّصلا Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-
orang yang berjihad diantaramu
dan belum nyata orang-orang
yang sabar. (QS Ali Imran 142) Ujian dari Allah tak hanya berupa
kesedihan, tapi juga mencakup
kebahagiaan. Sayangnya, ketika
orang diuji dengan kebahagiaan,
orang lupa jika itu hanyalah
sebuah ujian. Ketika mendapat kebahagiaan, orang malah
berpikir bahwa itu adalah
keberuntungan. Padahal,
keberuntungan di dunia ini
hanyalah merupakan tipuan. الْيَكِل اْوَسْأَت ىَلَع اَم ْمُكَتاَف الَو اوُحَرْفَت اَمِب ْمُكاَتآ ُهَّللاَو ال ُّبِحُي َّلُك ٍلاَتْخُم ٍروُخَف “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-
Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan
diri.” (QS Al Hadiid 23) Seperti halnya ketika menanti
hujan reda. Meski hujan
mengguyur deras, tak kunjung
reda, hingga menyebabkan
banjir, tanah longsor ataupun
bencana lainnya, kesabaran haruslah selalu ada pada jiwa
tiap-tiap orang yang beriman.
Bagaimanapun hujan adalah
berkah dari-Nya, meski
kehadirannya terkadang
mendatangkan bencana, namun ini hanyalah ujian bagi para
hamba-Nya agar bersyukur. اَّم ُلَعْفَي ُهّللا ْمُكِباَذَعِب نِإ ْمُتْرَكَش ْمُتنَمآَو َناَكَو ُهّللا ًارِكاَش ًاميِلَع “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan
Allah adalah Maha Mensyukuri
lagi Maha Mengetahui.” (QS An- Nisaa’ 147) Maka bersabarlah, karena Allah
beserta orang-orang yang
sabar. Ujian kesabaran itu ibarat
menanti hujan reda. Terasa lama
untuk dinanti redanya, hingga
terpikir bahwa hujan hanyalah penghambat yang banyak
memberi mudharat pada urusan
duniawi. Namun, tidak bagi orang-orang
yang bersabar. Ia akan memaknai
hujan sebagai berkah dari-Nya,
berapapun lamanya dan
banyaknya curah hujan yang
diturunkan. Sekalipun mendatangkan bencana, maka ia
akan tetap bersabar, karena di
balik ujian pastilah mengandung
hikmah. Dan semestinyalah, orang-orang
yang beriman akan mengambil
hikmah di balik cobaan itu. Ia
akan senantiasa bersabar dan
bersyukur di kala sedih ataupun
bahagia. Karena segala sesuatu di dunia ini hanyalah merupakan
ujian dari-Nya, agar nyatalah
siapa sesungguhnya hamba-
hamba-Nya yang terpilih itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar