Entri Populer

Selasa, 18 Januari 2011

KETIKA JILBAB HANYA SEBAGAI HIASAN

Seorang perempuan muda
berjilbab mini tengah
mengambil bolpoin yang
jatuh di lantai.
Secara mengejutkan, pakaian yang
tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.

Na’ udzubillahi min dzalik,
jika contoh yang dilukiskan itu sudah menjadi gambaran dari muslimah-muslimah sekarang ini. Niatnya memang baik, menutup aurat yang sudah menjadi kewajiban
bagi setiap muslimah.

Hanya saja, seringkali aurat yang ditutup tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dituntunkan oleh
Islam.

Lihatlah, betapa banyak
perempuan-perempuan yang
mengaku beragama Islam,
mengenakan jilbab, tetapi masih
mempertontonkan bentuk lekuk
tubuhnya.

Salah bergerak sedikit, bagian tubuhnya bisa kelihatan.

Mininya jilbab yang
dikenakan seringkali malah
membuat rambutnya yang
panjang menjuntai keluar.

Kasus lain, ketika para ibu yang
menghadiri walimahan
mengenakan jilbab, namun lengan
kebayanya masih transparan.
Usai walimahan, biasanya mereka
menanggalkan jilbab seolah-olah jilbab hanyalah sebagai asesoris
untuk walimahan saja.

Sama halnya dengan para siswi
atau mahasiswi yang sekolah
atau kuliah di sekolah atau
universitas Islam yang
mewajibkan untuk mengenakan
jilbab, mau tidak mau mereka harus mengenakan jilbab ketika
berada di lingkungan sekolah
atau kampus.

Di luar itu, mereka
dengan mudahnya tanpa beban
membiarkan rambutnya tidak
tertutup oleh jilbab.

Bahkan, ada juga sebagian
mengenakan jilbab hanya karena
merasa lebih cantik jika berjilbab.
Rambutnya yang kurang bagus
untuk diperlihatkan, terpaksa
harus ditutupi.

Jilbab modis yang dikenakan bisa mengalihkan penampilannya, hingga ia terlihat lebih mempesona dengan
berjilbab.

Sesempit inikah makna jilbab bagi
para wanita muslimah?

Amat sangat disayangkan jika jilbab
hanya diartikan sebagai asesoris
semata. Kewajiban Berjilbab Perintah berjilbab sudah jelas
terdapat dalam QS.An Nuur : 31

ْلُقَو ِتاَنِمْؤُمْلِل َنْضُضْغَي ْنِم َّنِهِراَصْبَأ َنْظَفْحَيَو َّنُهَجوُرُف الَو َنيِدْبُي َّنُهَتَنيِز الِإ اَم َرَهَظ اَهْنِم َنْبِرْضَيْلَو َّنِهِرُمُخِب ىَلَع َّنِهِبوُيُج الَو َنيِدْبُي َّنُهَتَنيِز الِإ َّنِهِتَلوُعُبِل ْوَأ َّنِهِئاَبآ ْوَأ ِءاَبآ َّنِهِتَلوُعُب ْوَأ َّنِهِئاَنْبَأ ْوَأ ِءاَنْبَأ َّنِهِتَلوُعُب ْوَأ َّنِهِناَوْخِإ ْوَأ يِنَب َّنِهِناَوْخِإ ْوَأ يِنَب َّنِهِتاَوَخَأ ْوَأ َّنِهِئاَسِن ْوَأ اَم ْتَكَلَم َّنُهُناَمْيَأ ِوَأ َنيِعِباَّتلا ِرْيَغ يِلوُأ ِةَبْرإلا َنِم ِلاَجِّرلا ِوَأ ِلْفِّطلا َنيِذَّلا ْمَل اوُرَهْظَي ىَلَع ِتاَرْوَع ِءاَسِّنلا الَو َنْبِرْضَي َّنِهِلُجْرَأِب َمَلْعُيِل اَم َنيِفْخُي ْنِم َّنِهِتَنيِز اوُبوُتَو ىَلِإ ِهَّللا اًعيِمَج اَهُّيَأ َنوُنِمْؤُمْلا ْمُكَّلَعَل َنوُحِلْفُت “

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah
mereka Menampakkan
perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya.
dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah
Menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah
suami mereka, atau putera- putera mereka, atau putera-
putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki
mereka, atau putera-putera
saudara lelaki mereka, atau
putera-putera saudara perempuan mereka, atau
wanita-wanita Islam, atau budak-
budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang
tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak- anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. dan
janganlah mereka memukulkan
kakinyua agar diketahui
perhiasan yang mereka
sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai
orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung” Dari ayat tersebut nampak jelas,
bahwa setiap wanita muslimah,
dalam hal ini adalah semua
wanita yang mengimani agama
Islam, diwajibkan mengenakan
jilbab. Konteks jilbab disini tidak hanya menutup rambutnya saja,
melainkan menjulurkan jilbab
hingga ke bagian dadanya. Sudah
pasti, jilbab yang dikenakan
haruslah lebar, tidak mini dan
bisa menutupi bagian-bagian tubuh yang harus dijaga.” Pakaian yang dikenakan pun
harus lapang, tidak menonjolkan
bagian tubuhnya.

Sebagaimana halnya firman Allah dalam QS Al
Ahzab 59,

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak diganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”

Arti ‘ jilbab’ dalam ayat tersebut ialah jilbab yang sejenis baju
kurung yang lapang yang dapat
menutup kepala hingga dada.

Ayat tersebut juga semakin
memperjelas bahwa jilbab tak
hanya digunakan untuk menutupi kepala saja (dalam artian
rambut) namun juga digunakan
untuk menutupi bagian
tubuhnya, termasuk dada.

Jika mengenakan jilbab yang mini
dimana umumnya jilbab diikatkan ke leher, ini berarti tidak sesuai
dengan apa yang dimaksudkan
dalam ayat ini.
Lalu bagaimana dengan jilbab
modis?

Umumnya, jilbab modis
kebanyakan tidak sesuai dengan
apa yang dituntunkan dalam Al-
Qur’ an.

Seringkali karena alasan modis, jilbab yang dikenakan
justru meninggalkan unsur
syar’ i-nya.

Jilbab dibuat sedemikian rupa sehingga bagian
dada yang seharusnya tertutupi,
justru malah kelihatan.

Bukan berarti Islam melarang
para wanita muslimah untuk
tampil modis.

Tak ada salahnya
modis, asalkan jilbab atau
pakaian yang dikenakan sesuai
dengan yang telah diperintahkan oleh Allah dalam QS An Nuur 31
dan QS Al Ahzab 59.

Batasan-batasan Berjilbab tak hanya dilakukan ketika kita berada di luar rumah saja.

Meskipun di dalam rumah,
jika disana terdapat orang-
orang yang bukan mahrom kita,
maka wanita muslimah harus tetap mengenakan jilbabnya.

Soal batasan-batasan siapa saja
yang memperbolehkan wanita
muslimah membuka jilbabnya
dijelaskan oleh Allah dalam QS An
Nuur 31, “… Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada
suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami
mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera
suami mereka, atau saudara- saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki
mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita Islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki
yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-
anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita.
Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, hai orang-orang
yang beriman supaya kamu
beruntung.” Sebagai Cermin Menjaga

Hati Terkadang orang berseloroh,
“Berjilbab, kok gitu sih?”
Kebanyakan masyarakat awam
selalu berpikir bahwa wanita
yang mengenakan jilbab diartikan
sebagai orang yang kadar
imannya kuat.

Tidak heran jika dalam kenyataannya masih banyak didapati wanita-wanita
berjilbab yang masih melakukan
hal-hal yang melanggar agama,
termasuk berzina (nau’ dzubillah).

Fakta yang banyak terjadi di
masa sekarang ini, banyak
wanita yang sudah mengenakan
jilbab, namun akhlaqnya tak
berbeda jauh dengan mereka
yang belum mengenakan jilbab, bahkan lebih parah dari mereka.

Berjilbab, tapi masih hobi
pacaran, berdua-duaan dengan
sang kekasih entah di tempat
yang sepi atau ramai.

Bahkan,sudah bukan hal yang tabu lagi jika mereka saling berciuman di
tempat umum.

Astaghfirullah. Pemandangan yang membuat kita tersayat ketika kita
mendapati wanita-wanita
berjilbab, dengan tanpa
bebannya membonceng di atas
sepeda motor yang ditunggangi oleh laki-laki yang bukan
mahromnya.

Jarak mereka begitu
dekat, bahkan terlalu mepet
dengan tubuh laki-laki itu.

Padahal, ia sudah mengenakan
jilbab. Inilah yang membuat sebagian besar wanita-wanita yang
beragama Islam enggan
mengenakan jilbab.
Mereka merasa belum pantas untuk
menjilbabi hatinya.

Mereka takut, jika mereka berjilbab nanti,mereka tidak bisa menjaga
jilbabnya.

Mereka lebih berpikir
untuk tidak mengenakan jilbab
karena takut tidak bisa menjaga
akhlaqnya.

Padahal menutup aurat itu
hukumnya adalah wajib bagi
setiap wanita yang beriman.

Siap atau tidak siap, setiap wanita
muslimah diharuskan menutup
auratnya.

Jika merasa belum pantas menjilbabi hati, justru
dengan jilbablah, kita bisa
menjadikannya sebagai cermin
untuk menata diri.

Karena jilbab merupakan
identitas kita sebagai seorang
muslimah, sebagai hamba-Nya
yang taat, tentu kita akan selalu
menjaga jilbab, jangan sampai
jilbab yang kita kenakan justru malah menimbulkan fitnah.

Nantinya, jilbab ini akan
membawa kita pada perubahan
sikap, tingkah laku serta
perbuatan kita sehari-hari ke
jalan yang diridloi-Nya.

Yah, jilbab sebagai alat untuk
menjaga hati, bukan menjaga
hati terlebih dulu, kemudian baru
mengenakan jilbab.

Karena menutup aurat hukumnya adalah wajib, maka dengan mengenakan jilbab sekaligus menjilbabi hati adalah hal yang harus kita lakukan sebagai seorang
muslimah.

Tunggu apa lagi? Jangan ragu-
ragu untuk mengenakan jilbab.
Jadikan jilbab sebagai cermin
menjaga hati dan tidak
menjadikannya sebagai asesoris
belaka.

Keep istiqomah!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar