Sudah sewajarnya dan memang
itu adalah sunnatullah, ketika
seseorang berjalan menuju
syurga PASTI akan menemui
rintangan dan halangan.
Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau
beranggapan neraka hanyalah
sebagai cerita fiktif dari
Rosululloh SAW, maka menuju
kesana terasa mudah, ringan,
nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun. Manusia atau lazimnya dalam Al
Qur’ an disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama
bahwa hidup didunia adalah
sebagai lading pencarian bekal
hidup di akherat. Kehidupan
akherat yang abadi, penuh
dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan
buruk, nikmat atau siksa. Sebagai orang beriman yang
sedang berusaha KERAS menuju
taqwa, kita diberi amanah, dan
ciri-ciri manusia bertaqwa adalah
mampu mengemban amanah
dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah
untuk menghambakan diri
kepada Allah SWT, menjadi
khalifah di muka bumi dan
berdakwah kepada yang ma’ ruf serta menjauhi dengan sangat
semua hal kemungkaran. اوُعِراَسَو ىَلِإ ٍةَرِفْغَم ْنِم ْمُكِّبَر ٍةَّنَجَو اَهُضْرَع ُتاَواَمَّسلا ُضْرألاَو ْتَّدِعُأ َنيِقَّتُمْلِل - ١٣٣ َنيِذَّلا َنوُقِفْنُي يِف ِءاَّرَّسلا ِءاَّرَّضلاَو َنيِمِظاَكْلاَو َظْيَغْلا َنيِفاَعْلاَو ِنَع ِساَّنلا ُهَّللاَو ُّبِحُي َنيِنِسْحُمْلا - ١٣٤ َنيِذَّلاَو اَذِإ اوُلَعَف ًةَشِحاَف ْوَأ اوُمَلَظ ْمُهَسُفْنَأ اوُرَكَذ َهَّللا اوُرَفْغَتْساَف ْمِهِبوُنُذِل ْنَمَو ُرِفْغَي َبوُنُّذلا الِإ ُهَّللا ْمَلَو اوُّرِصُي ىَلَع اَم اوُلَعَف ْمُهَو َنوُمَلْعَي - ١٣٥ 133. dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan mema’ afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau Menganiaya
diri sendiri[229], mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari
pada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui. [229] Yang dimaksud perbuatan
keji (faahisyah) ialah dosa besar
yang mana mudharatnya tidak
hanya menimpa diri sendiri tetapi
juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana
mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau
kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135) Dari berbagai amanat dan
kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang
terasa berat dan susah
untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau
sulit) dan Allah SWT memberikan
derajat yang mulia jika kita bisa
melaksanakannya dengan baik
dan maksimal. Empat Amanat
yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut
adalah : 1. Memberi Maaf ketika
Marah … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’ afkan (kesalahan) orang. Seringkali kita merasakan
sesaknya dada, panasnya pikiran
dan tergesanya indera-indera
lainnya dalam memutuskan
sesuatu ketika sedang marah. Marah dalam hal baikpun perlu
control management, karena
seperti yang telah disampaikan
dalam kajian bahwa marah
adalah jalan favorit syetan
untuk gencar membisiki manusia. Nah, ketika kondisi seperti itu
terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika
emosi marah terjadi, kadang kita
malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri
ini dengan sesuatu yang lebih
dholim. Dipukul sekali rasanya ingin
membalas dengan pukulan
berkali-kali dengan dalih agar
jera. Berkata buruk dan kasar
karena merasa didholimi, dan
terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk
yang kita terima. Itulah sebabnya
memberikan maaf ketika marah
sepertinya sulit diwujudkan.
Padahal Allah SWT telah
mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih
baik, dan itulah ciri-ciri hati
manusia taqwa. Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan
waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW
dalam sirah selalu mencontohkan
untuk memberikan maaf dengan
atau tanpa permintaan dari sang
pelaku. Dan dalam ilmu psikologi,
memberikan maaf akan
memberikan rasa tentram di hati
dan memberikan kesejukan dalam
bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah tidak ada manusia
yang bersih dari dosa?? Jadi
seseorang yang bersalah kepada
kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa
melakukan hal yang sama. 2. Berderma ketika Miskin … (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, Kenapa hal ini berat dilakukan?
Karena banyak sekali diantara
kita menganggap status miskin
adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah.
Untuk makanpun susah, apalagi
harus berbagi dengan orang lain. Ketika kita dan keluarga ini
miskin seolah-seolah semua yang
tersisa adalah barang berharga.
Jadi imposible untuk
memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek
kedermawanan bukan sebagai
subjek. Maka betul sekali! Bahwa
ketika miskin atau susah, itulah
kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq
sedekah. Tetapi bagi sebagain
orang yang nilai keimanannya
kebih mantap, kemiskinan bukan
menjadi masalah. Semua harta
adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki
kepada hambanya bahkan
dengan tiba-tibapun. Tidak ada istilah merasa bahwa
“saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih
susah dari kita. Nikmat Iman dan
kesehatan adalah sesuatu yang
tidak ternilai apalagi untuk
diuangkan. Allah Maha Kaya,
tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang
secara maksimal mendermakan
hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk
kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh
SAW bukanlah seseorang yang
kaya? Dan bagi yang kaya,
kebakhilan dan kesombongan
mengancam dirimu dan tidak ada
jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena
itulah jalan yang lurus menuju
syurga. 3. Meninggalkan yang Haram
dan Dholim ketika sendirian … Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-
Nya. Jika engkau tidak bisa
melihat-Nya, maka ketahuilah
bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”… ( [HR. Muslim juz 1, hal. 40] Hal ketiga yang susah dilakukan
adalah meninggalkan kedholiman
ketika sendirian. Bukankah kita
setiap tahun selama sebulan
(ramadhan) kita ditempa untuk
jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya
diketahui oleh kita sendiri dan
Allah SWT. Meninggalkan kedholiman atau
kemaksiatan secara bersama-
sama di lingkungan sholeh adalah
mudah, selain malu kepada Allah
SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain. Tetapi ketika sendirian, syetan
lebih hebat lagi beraksi.
Menjadikan akal sehat kita lupa,
sesuatu yang haram ‘ dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-
jelas maksiyat bisa dilakukan
dengan ringan dengan dalih tidak
ada yang melihat, tidak ada yang
dirugikan, darurat dan
sebagainya. Ingatlah selalu bahwa Allah
itu Maha Melihat, Maha
Tahu, Tidak Tidur dan
semua yang bergerak
didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar
daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT
Hadir sebagai yang ketiga. Ketika
kita sendiri, Allah menjadi yang
kedua. Maka betul sekali bahwa
tingkatan ihsan adalah tertinggi,
dimana kita selalu merasa dilihat
oleh Allah SWT sehingga apa yang
dilakukan dan apa yang
disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang
dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT. 4. Berkata jujur kepada
siapapun ْنَع ِدْبَع ِهللا َلاَق : َلاَق ُلْوُسَر ِهللا ص : ْمُكْيَلَع ِقْدّصلاِب َّنِاَف َقْدّصلا ىِدْهَي َىلِا ّرِبلْا َو َّنِا َّرِبلْا ىِدْهَي َىلِا ِةَّنَجلْا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُقُدْصَي َو ىَّرَحَتَي َقْدّصلا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًقْيّدِص . َو ْمُكاَّيِا َو َبِذَكلْا َّنِاَف َبِذَكلْا ىِدْهَي َىلِا ِرْوُجُفلْا َو َّنِا َرْوُجُفلْا ىِدْهَي َىلِا ِراَّنلا . َو اَم ُلاَزَي ُلُجَّرلا ُبِذْكَي َو ىَّرَحَتَي َبِذَكلْا ىَّتَح َبَتْكُي َدْنِع ِهللا اًباَّذَك . ملسم Dari ‘ Abdullah (bin Mas’ ud), ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur
itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke
surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan
memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu
dari dusta, karena sesungguhnya
dusta itu membawa kepada
kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta
dan memilih yang dusta sehingga
dicatat di sisi Allah sebagai
pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013] Lawannya jujur adalah dusta,
pembohong. Berkata benar dan
jujur kepada teman-teman
sefaham di barisan kita mungkin
hal yang sangat mudah. Tetapi berkata benar dan jujur
kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan
adalah hal yang sulit. Kita harus
berani mengatakan bahwa itu
salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang
yang kita cintai atau seseorang
yang kita hormati. Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘ oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti
itu”…” saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman,
harus berani berkata benar
kepada siapapun dan dengan
resiko apapun. Kejujuran yag
menyakitkan lebih baik daripada
kebohongan yang menipu dan menyenangkan. Keberanian Abu bakar
mengatakan kebenaran 100%
terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru,
padahal hampir semua penduduk
Mekah tidak percaya dan
menertawakan Rosululloh SAW
sebagai yang mengada-adakan
cerita bohong. Keberanian seorang anak
gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab
mencoba merayu ingin membeli
domba diantara ratusan yang
ada. Dan dipastikan itu tidak
akan diketahui oleh siapapun
termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan
berani. Keberanian pemimpin Turki ketika
mengatakan kebohongan dan
kekejian negara Israel dalam
dialog dengan pemimpinnya
langsung ketika event negara-
negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah
dicari, padahal saat itu tidak
satu negarapun yang berani
menyinggung ataupun membahas
perkara ’ sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the
real terrorist). Jadi saatnya kita harus berlaku
dan berkata jujur, kapanpun- dimanapun dan kepada
siapapun. Semoga kita termasuk manusia
yang mampu memegang amanah.
Amiin
Entri Populer
-
Kemewahan dan gemerlapnya dunia telah mampu memperdaya banyak manusia. Membelokkan mereka dari penghambaan kepada Alllah menuju pengagungan ...
-
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini d...
-
Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan ...
-
saat menanti hujan reda, apa yang biasa dirasakan orang? Terasa lama? Mungkin. Hujan mengguyur selama tiga puluh menit saja serasa tiga ...
-
Bagaimana kedudukan seorang istri menjadi kufur dihadapan Allah?? Sebuah pertanyaan penting yang harus diketahui jawabannya oleh para istri ...
-
TEKS ASLI BAHASA ARAB َﺖْﻳَﺃَﺮَﻓَﺃ ﻱِﺬَّﻟﺍ ﻰَّﻟَﻮَﺗ ) 33 ( ﻰَﻄْﻋَﺃَﻭ ﺎًﻠﻴِﻠَﻗ ﻯَﺪْﻛَﺃَﻭ ) 34 ( ُﻩَﺪْﻨِﻋَﺃ ُﻢْﻠِﻋ ِﺐْﻴَﻐْﻟﺍ َﻮُﻬَﻓ ﻯَﺮَﻳ ) 35...
-
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam membacakan firman Allah berikut ini; "Mereka menjadikan para pendeta, dan rahib-...
-
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya y...
-
Sungguh keadaan kaum muslimin di zaman kita sekarang ini telah sampai pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Sebagian kaum muslimin terjerum...
-
Adalah Abdullah bin Umar ra, seorang sahabat nabi SAW yang kala itu masih remaja. Didalam sebuah mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar