Entri Populer

Selasa, 18 Januari 2011

TIKUS BERDASI SI PINTAR MINUS MORAL

Bukan rahasia lagi bahwa para
pelaku kejahatan kelas bawah
atau kasus-kasus kejahatan
tingkat ‘ rendahan’ seperti pencuri ayam, pencuri sepeda,
atau pencuri kabel listrik PLN,
pencuri rel KA, pencuri Semangka
secara hukum kasus-kasusnya
ditindak tegas tanpa pandang
bulu, tanpa pilih kasih dan tebang pilih. Berbeda dengan kasus-kasus
kejahatan kelas tinggi yang
sering disamarkan, seperti
korupsi yang dilakukan para
koruptor di DPR , di Bank
Indonesia, di Departemen Pemerintahan, di BUMN atau
swasta dsb, yang menurut
banyak pengamat dilakukan
orang-orang yang berhubungan
erat dengan lingkaran
kekuasaan/kewenangan . Para koruptor itulah yang saya
sebut dengan istilah ” Pencuri Berdasi”. Sebagai masyarakat saya sering bertanya , mengapa
para penegak hukum masih
tertatih-tatih dalam mengadili
kasus-kasus kejahatan para
Pencuri Berdasi itu. Keraguan
dan tidak tuntasnya dalam memperkarakan kasus-kasus
kelas tinggi oleh “Pencuri Berdasi” itu memberikan kesan kepada masyarakat, bahwa para
penegak hukum itu tidak adil.
Bagaimana bisa adil kalau
ternyata sebagian para hakim,
jaksa, dan aparat kepolisian juga
terlibat sebagai Pencuri Berdasi. Sangat mengherankan memang,
para koruptor itu bukan
dianggap pencuri tapi disebut
sebagai orang yang menyalahgunakan
wewenang. Persepsi masyarakat tentang pejabat,
yang dilambangkan dengan
pakaian orang berdasi itu sering
masih disangka sebagai orang
yang jauh dari sifat jahat.
Barangkali juga para Pencuri Berdasi itu tampak di
masyarakat kita sebagai orang
yang suka memberi, menolong,
menyumbang dalam kegiatan
sosial kemasyarakatannya.
Barangkali juga, setiap tahun Umroh dan Naik Haji. Dan dari dulu hingga kini
masyarakat masih melihat bahwa
kemiskinan dan segala bentuk
kemelaratan hidup itu sebagai biang keladi tindak
kriminalitas. Penilaian masyarakat terhadap orang
miskin itu memang tidak adil
sama sekali. Semua kelakuannya
dicurigai. Keberadaannya selalu
disangka buruk. Pekerjaannya
dinilai rendah. Senyumnya dianggap meremehkan orang.
Omongannya ditanggapi sombong.
Kasihan banget memang orang
miskin itu, hampir semua orang
tidak pernah memihak hidupnya,
termasuk orang miskin sendiri. Perlakuan yang sulit walu hisup
sudah pahit. Siapakah koruptor atau Pencuri
Berdasi itu? dan siapakah orang
yang merasa hina bila hidup
dalam kemiskinan itu? Barangkali
jawabnya ada pada diri kita
sendiri dan tidak usahlah kita tuduh siapapun, mungkin kita
semua yang bersalah. Koreksilah
diri kita masing-masing pada hari
ini, esok pagi, dan entah lusa
nanti. Hisablah setiap amal sampai
mati menjelang nanti. Jadilah pejabat yang amanah, penegak
hukum yang adil, dan warga
masyarakat yang tulus menerima
kebenaran. Mudah-mudahan
moral bangsa ini selamat dari
kehancuran generasinya. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi
saw bersabda: “Barang siapa mencari peradilan bagi kaum
muslimin hingga ia
mendapatkannya, kemudian
keadilannya mengalahkan
kecurangannya, maka baginya
surga, dan barang siapa yang kecurangannya mengalahkan
keadilannya, maka baginya
neraka”. (HR. Abu Dawud). Berkata Abu Dzar: “Aku berkata, wahai Rasulullah, tidak engkau
mengangkat aku sebagai
gubernur? Kata Abudzar: ” Rasulullah menepuk tanganku
dengan tangan beliau, kemudian
kata beliau: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya itu adalah amanah
dan sesungguhnya pada hari
kiamat jabatan itu adalah
kehinaan dan penyesalan, kecuali
bagi orang yang mengambilnya
menurut haknya dan menunaikan yang wajib baginya di dalamnya.
” (HR. Muslim). Amanah itu beban berat yang
menuntut pengurusan hak-hak
manusia dengan cara yang dapat
memenuhi tuntutan mereka.
Uang rakyat adalah hak rakyat
untuk digunakan sebagai amanah yang dibebankan kepada pejabat
dalam menegakkan
kesejahteraan dan keadilan.
Uang rakyat bukan untuk
dikorupsi, dengan alasan apapun. Pejabat yang lupa dengan
amanahnya itu adalah kehinaan
dan penyesalan di akherat nanti, dihari tidak ada
pertolongan kecuali
pertolongan Allah. Sesungguhnya kalau mau
merenungkan dengan hati bersih,
jadi pejabat itu cobaan yang paling berat karena
tanggung jawabnya abadi, dan atasannya saat menjabat
besok di hari kiamat akan
berlepas diri. Padahal saat
didunia pejabat itu sering mengikuti atasannya tanpa pertimbangan benar atau salah
menurut Allah. Allah telah memberikan contoh
terbaik hambaNya untuk menjadi
hakim, sebagaimana firmannya: اَي ُدُواَد اَّنِإ َكاَنْلَعَج ًةَفيِلَخ يِف ِضْرألا ْمُكْحاَف َنْيَب ِساَّنلا ِّقَحْلاِب الَو ِعِبَّتَت ىَوَهْلا َكَّلِضُيَف ْنَع ِليِبَس ِهَّللا َّنِإ َنيِذَّلا َنوُّلِضَي ْنَع ِليِبَس ِهَّللا ْمُهَل ٌباَذَع ٌديِدَش اَمِب اوُسَن َمْوَي ِباَسِحْلا “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan (perkara) di
antara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan
Allah. Sesungguhnya orang-orang
yang sesat dari jalan Allah akan
mendapat adzab yang berat,
karena mereka melupakan hari
perhitungan“. (QS Shaad : 38 : 26). Semoga menjadi perenungan bagi
siapapun yang pernah, hampir,
akan atau berpotensi melakukan
korupsi. Bertaubatlah!, jauhi
jangan menunggu sampai dibalik
jeruji sampai mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar